Langsung ke konten utama

Postingan

BKN #4 Kamu Hanya Belum Mengerti

“Bisa jadi, lo masih hidup alasannya dari orang lain.” ucap Tami dengan tatapan mengawang.  “Jadi, semenyerah apapun lo, pada akhirnya lo tetap hidup. Karena lo bangkit lagi, bangkit lagi, lagi, lagi.” tambahnya. Ia mengulang kata ‘lagi’ sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian.  Kania hanya diam dan menghela napas.  Ia melirik kertas-kertas di atas meja, hasil pemeriksaan medis yang baru saja ia jalani.  “Lo tuh baik sama orang lain, Ni. Sayangnya lo nggak baik juga sama diri lo. Logikanya, karena kebaikan lo ke orang lain, mereka akhirnya doain lo yang baik-baik.”  “Semangat, dong!!! Ini bukan pertama kalinya lo dapet kabar jelek soal kesehatan lo.”  “Kalau tiba-tiba gue mati?”  Kania menyela ucapan Tami.  Matanya jauh memandang ke depan, tepat saat matahari yang mulai berjalan pelan menuruni bukit.  “Ya udah, semua orang juga bakalan mati kok, cuma masalah waktu aja.”  Hening. Hanya suara angin yang menyusu...
Postingan terbaru

BKN #3 Hubungan yang Lama, Berangkat dari Teman

Ada banyak hal di dunia ini, manusia, tumbuhan, cuaca, hewan, udara, keajaiban dunia. Tapi tetep aja cuma males yang mengendap di dalam tubuh gue. Kalau saklar males gue nyala, jangankan gerak, napas aja rasanya, entar dah, tidur dulu.  Dan hal yang paling mengagumkan, gue bisa bertahan sampai usia 28 tahun, dimana sekitar 8 tahunnya gue hidup dengan banyak kemalasan. Rasanya semakin bertambah usia, maka semakin bertambah tuntutan dan lainnya. Pekerjaan, keyakinan, tampilan wajah, pilihan fashion, keuangan, pasangan. Bayangin aja, baru sekali ini hidup, nggak ada yang ngasih contoh gimana-gimana, tiba-tiba disuruh mikirin itu semua bersamaan dalam satu waktu. Ada sih penundaan, tapi paling jeda hitungan bulan, paling lama setahun. Habis itu pasti bakalan ditanyain soal lainnya.  Dan dari kesemuanya itu, menurut gue yang paling menyiksa adalah soal pasangan, karena sampai sekarang gue juga nggak tahu harus mulai darimana untuk memecahkan masalah itu. Satu-satunya pasangan dalam...

BKN #2 Tangis yang Ternyata Sudah Lama Disimpan

Rasanya aneh. Udara jadi terasa kering.  Gue setengah sadar, jalan tanpa benar‑benar tahu mau ke mana.  Waktu itu pukul tujuh malam. Ruang tunggu rumah sakit mulai sepi.  Cuma ada beberapa orang berlalu‑lalang menuju lorong yang lebih dalam, yang entah kenapa gue yakini jauh lebih ramai. Jauh lebih sesak.  Akhirnya gue duduk di salah satu bangku. Berusaha mengatur napas, berharap pikiran gue bisa fokus dan lebih tenang.  Gue lepas masker karena rasanya sesak.  Gue taruh tas kerja, karena rasanya berat.  Tapi ternyata nggak ada yang berubah.  Rasanya masih sama.  Terus gue harus gimana?  Satu pertanyaan itu muncul, tenggelam, lalu muncul lagi di antara ratusan pertanyaan lain yang berisik di kepala gue.  Gue bersandar, mencoba mencerna ulang kejadian beberapa waktu sebelumnya.  Panggilan telepon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa hasil tes kesehatan yang gue lakuin minggu lalu sudah keluar.  Gue nggak benar‑benar paham ...

BKN #1 Bisa nggak sih, kalau nggak usah nikah?

‘Kayaknya kita nggak cocok’   Harusnya itu yang dia bilang ke gue waktu pertemuan kedua itu.   Bukannya malah nekat lanjut dan ujungnya gue lagi yang sakit hati karena berakhirnya hubungan ini.  Harusnya keresahan dan keraguan yang dia rasakan itu jadi bahan obrolan kita dari pagi sampai sebelum tidur.   Bukannya malah hilang tiba-tiba, nggak ada kabar, sampai berbulan-bulan, terus balik lagi seolah nggak ninggalin apa-apa, apalagi ngerasa salah.  Harusnya gue marah waktu dia balik. Karena itu hak gue.   Tapi, gue nahan itu biar dia nggak kabur, dengan harapan dia bakalan cerita dengan sendirinya tentang alasan silent treatment itu, biar hubungan ini tetap berjalan dan baik-baik aja sesuai apa yang kita rencanakan.  Harusnya, gue dengerin komentar Jojo soal dia. Ternyata memang dari awal dia nggak pernah seserius ucapannya sendiri.  Masih ada lagi, harusnya dia bisa berusaha sabar waktu gue minta break 1 minggu. Seenggaknya kal...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

OTEM: DEWASA INI

Nggak nyangka udah1 bulan di tahun 2026 dan gue masih gini-gini aja. Banyak hal yang datang secara dar der dor, tidak sesuai dengan prediksi BMKG. Tapi, ya memang begitulah hidup bekerja, tanpa ada yang tahu kedepannya akan gimana. Tiba-tiba ada temen lamaran, tiba-tiba ada temen nikah, tiba-tiba ada temen yang punya anak, tiba-tiba anaknya sunatan, tiba-tiba ada yang cerai. Udah kayak cuaca ekstrem yang juga sedang terjadi, sebentar panas, ujannya seharian, atau sehari panas, sehari kemudian ujan. Di sini adem ayem, tiba-tiba ada berita daerah lain banjir, tanah longsor, angin topan. Sama halnya dengan kehidupan yang gue alami, pelan-pelan gagal, bangkit, udah mulai fokus ngurus kesehatan diri, eh tiba-tiba asam lambung naik, udah kelar 3 hari, minggu depannya ganti HFMD, alhasil gue hampir seminggu nggak kerja, cuma bisa bantu beberapa kerjaan yang nggak langsung. Beberapa ada yang bilang, 'enak ya, kerjanya dirumah, tetep digaji' - 'enak ya, nggak kerja, bisa leyeh-ley...

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...