“Bisa jadi, lo masih hidup alasannya dari orang lain.” ucap Tami dengan tatapan mengawang. “Jadi, semenyerah apapun lo, pada akhirnya lo tetap hidup. Karena lo bangkit lagi, bangkit lagi, lagi, lagi.” tambahnya. Ia mengulang kata ‘lagi’ sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Kania hanya diam dan menghela napas. Ia melirik kertas-kertas di atas meja, hasil pemeriksaan medis yang baru saja ia jalani. “Lo tuh baik sama orang lain, Ni. Sayangnya lo nggak baik juga sama diri lo. Logikanya, karena kebaikan lo ke orang lain, mereka akhirnya doain lo yang baik-baik.” “Semangat, dong!!! Ini bukan pertama kalinya lo dapet kabar jelek soal kesehatan lo.” “Kalau tiba-tiba gue mati?” Kania menyela ucapan Tami. Matanya jauh memandang ke depan, tepat saat matahari yang mulai berjalan pelan menuruni bukit. “Ya udah, semua orang juga bakalan mati kok, cuma masalah waktu aja.” Hening. Hanya suara angin yang menyusu...
Ada banyak hal di dunia ini, manusia, tumbuhan, cuaca, hewan, udara, keajaiban dunia. Tapi tetep aja cuma males yang mengendap di dalam tubuh gue. Kalau saklar males gue nyala, jangankan gerak, napas aja rasanya, entar dah, tidur dulu. Dan hal yang paling mengagumkan, gue bisa bertahan sampai usia 28 tahun, dimana sekitar 8 tahunnya gue hidup dengan banyak kemalasan. Rasanya semakin bertambah usia, maka semakin bertambah tuntutan dan lainnya. Pekerjaan, keyakinan, tampilan wajah, pilihan fashion, keuangan, pasangan. Bayangin aja, baru sekali ini hidup, nggak ada yang ngasih contoh gimana-gimana, tiba-tiba disuruh mikirin itu semua bersamaan dalam satu waktu. Ada sih penundaan, tapi paling jeda hitungan bulan, paling lama setahun. Habis itu pasti bakalan ditanyain soal lainnya. Dan dari kesemuanya itu, menurut gue yang paling menyiksa adalah soal pasangan, karena sampai sekarang gue juga nggak tahu harus mulai darimana untuk memecahkan masalah itu. Satu-satunya pasangan dalam...