Lebih baik sakit gigi apa sakit hati????
Pertanyaan yang aneh, kalau menurut gue nih nggak dua-duanya.
Kenapa? Karena nggak ada yang mau kena sakit, jadi gue nggak milih dua-duanya.
Kalau memang terpaksanya gue harus memilih, dengan senang hati akan gue milih tanda
tanyanya (?) dan kata-katanya kan gue rubah menjadi lebih baik ngejomblo ato maksa seseorang
buat jadi pacar?? Dan itulah yang ngebuat gue jadi galau plus dilemma, tapi
lupakanlah saja hal ini.
Ketika gue tahu tentang pertanyaan ini, gue sempet memikirkan
jawabannya. Sempet gue jawab ya sakit hatilah…karena kebetulan gue belum pernah
pacaran dan rasa sakit hati yang gue rasakan hanya berlaku sekitar 1 jam. Lah kalau
sakit gigi bisa berhari-hari jadi mendingan sakit hati sejam terus udah.
Tapi kalau untuk orang yang udah lama pacaran mungkin udah ada 1
tahun terus putus pasti sakit hati banget…dan fase penyembuhannya pun cukup
lama kalau nggak salah 1 hari….nggak deng yahh palingga 1 minggu itu udah agak
enakan. Dan kebiasaan orang sakit hati itu dengerin lagunya lagu mellow nanti
nangis sendirian (ngabisin segala macam tissue). Apalagi kalau suasananya ikut
mendukung, mendung menjadi background langitnya, terus terdengar suara Guntur
yang menggelegar, terus tiba-tiba ujan deres banget jadi itu timeing yang tepat
banget buat yang galau.
Hal yang sangat-sangat indah itu ketika kita ketemu sama seseorang
yang bisa ngerubah hidup kita menjadi lebih baik. Dan itulah hal yang gue
tunggu-tunggu selama ini, tapi entah kenapa malah nggak dateng-dateng. Kalau
sekolah aja udah ketemu tapi ujung-ujungnya juga galau lagi, masalahnya di
malah jalan sama orang lain. Hufttttt
Jadi pada intinya pertanyaan di atas jawabannya itu ada di diri
kita masing-masing. Jadi hampir semua pertanyaan tentang kita jawabannya ada di
diri kita sendiri. Jadi hidup kita itu kayak soal bahasa Indonesia. Kita tahu
jawabannya itu ada di bacaan soal tapi kita nggak tahu juga yang mana
jawabannya, sama lah kita tahu jawabannya itu ada di diri kita tapi kita nggak
tahu yang mana jawaban yang kita cari. Jadi kalau kita masih dijauhin sama yang
namanya cowok, coba kita koreksi diri sendiri. Apa sih salah gue?? maka kita
akan tahu apa kesalahan di diri kita.
Intinya kayak gitulah, kita harus koreksi diri dan mulai
beradaptasi dengan keadaan sekitar kita. Jadi biar nggak kaget aja kalau
tiba-tiba ada hal datang kepada kita. Mendinglah kalau baik tapi kalau buruk
kita juga yang ambruk. Dan kita harus tahu di mana hal yang harus kita perbaiki
di diri kita sendiri agar semua jadi bener. Asal kalau emang terpaksanya muka
jangan, itu anugrah cuyyy…jadi kita coba curahkan kecantikan (cewek)
kegantengan (cowok) melalui perbuatan dan sikap. Yahhh kalau orang sadar pasti
itu berhasil, tapi kalau orang sakit ya gagal total yang ada dimaki-maki.
Banyak hal yang harus kita tahu
Tapi kita tak pernah mau mengetahuinya
Sampai akhirnya kita mencoba hal baru
Tapi kita nggak tahu tentang dasarnya
Banyak pertanyaan yang harus kita jawab
Tapi kita tidak tahu apa jawaban yang pas
untuk pertanyaan itu
Banyak kesulitan yang ada di kehidupan
kita
Tapi kita nggak bisa mengatasinya
Kita hanya bisa menangis dan mengeluh
Dan akhirnya masalah itu semakin menjadi
Yang nantinya bikin kita bunuh diri…..
Jadi paling nggak kita sadar, kita tahu tentang hal serenik apapun.
Dokter aja berusah mengetahui bentuk amoba sama bakteri. Masak kita kalah nggak
mau dong…makanya kalau dokter punya kaca pembesar kita juga harus punya untuk
melihat apa sih hal kecil yang dimaksud…dan kalau dokter punya mikroskop kita
wajib punya juga untuk melihat hal yang paling kecil di diri kita tapi itulah
kelebihan kita. OKE nggak?!!! Ajibbbb…..
Kalau kita mencoba mengingat hal yang sudah-sudah pasti jadi ingat
yang namanya kenangan. Dan kenangan itu bisanya identik dengan yang namanya
*cinta*. Iya gue tahu, gue emang nggak pernah pacaran tapi kalau hal cinta gue
juga pernah. Tapi emang nyesek bener kalau ingat hal-hal pahit tentang cinta,
dan kalau Allah mengizinkan gue buat muter waktu sekali aja, pasti gue akan
puter tuh waktu dan gue ngulang-ngulang hal yang bener dan itu indah buat gue.
tapi sayangnya waktu hanya berjalan 1x dan nggak akan putar lagi setelah
semuanya hilang. Tapi namanya juga masa lalu nggak usah dipikirin lagi, buat
itu sebuah pelajaran aja biar di waktu kedepannya nggak keulang.
Saat ini gue emang lagi down banget masalah itu, apalagi kalau
gue denger lagunya Raditya Dika Project yang Atas Sikapmu wahhh
gila tambah down. Itu lagu bikin gue jadi merinding banget, dan itu kena banget
di hati. Gue salut banget sama motivator gue satu ini. Thank’s bang radit.
Rasanya pengen cepet-cepet lulus dan akhirnya gue bisa lupa gitu aja. Ato
pengen cuci otak dan gue bisa jadi yang baru, yang nggak galau, yang kuat akan
galau. tapi gue berharap agar semuanya akan menjadi lebih baik lagi.
Komentar
Posting Komentar