Pertama kalinya setelah tenggelam dari blog.....
Hai,
Emmm
maaf sebelumnya karena aku mengirimkan tulisan ini untukmu. Maaf juga apabila
kalimat yang aku tuliskan membuatmu malu atau terluka. Maaf apabila kedatangan
tulisan ini membuatmu marah dan jengkel. Tapi aku ingin mengatakannya sekarang.
Aku
mulai ya, dan berharap kau akan menyimaknya sampai selesai.
Entah
sudah berapa hari terhitung setelah hari itu, hari dimana pertama kali aku
mengagumimu. Aku bingung harus menceritakannya dari mana, tapi yang waktu itu
waktu ketika bersama untuk pertama kalinya, Jumat depan sekolah pakaian olah
raga.
Berlanjut
ke hari-hari selanjutnya aku pikir kekagumanku hanya kagum biasa seperti aku
mengagumi Raditya Dika, atau siapalah, tapi ternyata rasa kagum itu berlanjut
menjadi rasa yang lebih. Aku takut sebenarnya menerima rasa itu dan aku juga
sempat menolaknya, tapi mungkin ketika tidur Tuhan menyelipkan rasa itu sampai
akhirnya aku benar-benar memiliki rasa yang lebih itu, hingga sekarang, detik
dimana aku menuliskan surat ini.
Berkali-kali
aku mencoba untuk meninggalkan rasa itu, ketika melihat kenyataan bahwa kau
tidak akan bisa dekat denganmu. Entah, rasanya aku berada di dunia yang berbeda
denganmu, seakan-akan ada tembok besar yang membuat kita tidak bisa akrab.
Maka
dari itu, sekecil apapun perbuatanmu, kelakuanmu yang ka tujukan padaku aku
sangat bahagia. Seperti waktu kita berada di ruang kelas, aku memberimu saran
dan aku juga mendengarkannya. Apalagi tangan kita yang tidak sengaja
bersentuhan walaupun hanya sedikit, bahkan tak terasa apabila itu bukan tanganku.
Ketika kau melihatku membuat laporan untuk tugas kelompok, ketika kau bertanya
soal pelajaran, ketika kau duduk di belakangku, ketika semuanya, semua hal,
semuanya. Ketika sepatu kita berdampingan, ketika kau memberikanku gunting dan
hampir saja tangan kita bersentuhan, ketika aku puas memandangimu dari bayangan
layar laptop. Masih banyak ketika-ketika lainnya yang ingin aku ucapkan, tapi
aku yakin kau tak akan ingat waktu-waktu itu.
Tapi
sampai akhirnya, waktu benar-benar membuatku mulai lelah. Aku mengejar dan kau
juga yang semakin menjauh. Sampai akhirnya waktu mempertemukan kenyataan pada
hari itu, Jumat lapangan pakaian olah raga volly putri. Entah telingaku atau
memang kau benar berbicara seperti itu. aku lupa kalimat utuhnya, tapi aku
dengar jelas bahwa itu kau tujukan kepada temanku, temanmu juga. Dari hari itu
aku benar-benar kecewa, aku merasa moodku benar-benar hilang. Untung saja ada
libur yang cukup panjang, setidaknya bisa membantuku untuk lupa.
Tumbuhlah
aku dengan jiwa baru tanpa kau, 1 hari, 2 hari aku masih bertahan tapi entah
kenapa kebetulan-kebetulan itu selalu mengajakku kembali mengejarmu. Padahal
kebetuan itu hanya kecil, hanya kecil sekali dan mungkin aku yang salah menilai
sampai akhirnya aku yang kecewa juga. Kebetulan yang dikatakan Guru Bahasa
Jawa, kebetulan yang mungkin seperti yang ku katakan di atas. Aku mulai bimbang
lagi, seakan-akan aku belum memiliki keyakinan yang kuat untuk meninggalkanmu,
bukan lebih tepatnya meninggalkan perasaanku untukmu. Kadang disela-sela kebetulan
menyenangkan itu ada juga kenyataan yang membuatku teguh kembali dengan
keyakinanku. Ketika kau berdua dengan teman perempuanmu, ketika kau mengajaknya
mengobrol dan tertawa. Dan aku hanya bisa melihatmu, melihatmu dari kejauhan
dari lubang-lubang yang dibuat oleh teman-teman lainnya.
Aku
melihatmu bisa tertawa dengannya, padahal dia sudah dimiliki oleh orang lain,
dan itu temanmu. Aku hanya bisa kembali duduk dan menikmati semuanya, seperti
biasa tidak ada apa-apa.
Hemmm,
panjang juga ceritanya. Maaf sekali lagi bila aku telah membebanimu, maaf
apabila semua yang ku tulis ini sangat-sangat tidak menyenangkan untumu. Maaf,
aku hanya bisa mengucapkan kata itu sebelum akhirnya aku pergi.
Sungguh,
aku sangat ingin mengucapkan kata itu untukmu, tapi banyak hal yang aku
pertimbangkan dan membuatku ragu lagi. Tapi jujur, semua yang kau tebak saat
kita berkirim pesan, tebakmu ketika di Facebook semua tebakanmu tentang
pengirim kertas bentuk hati itu adalah benar. Semuanya benar dan itu aku. Aku
hanya malu mengakuinya, aku belum siap untuk kau jauhi saat itu.
Oh
iya, ada satu hal yang belum kau ketahui kertas harapanmu ada di rumahku
sekarang. Aku menyimpannya dan berharap ketika kita bertemu lagi kau akan
seperti itu, seperti tulisan yang ada di kertas harapanmu. Semoga saja kita
akan bertemu lagi, walaupun kadang aku merasa bahwa kita tidak akan bertemu
lagi dalam jangka waktu yang lama.
Aku
juga sudah memberi wejangan ke beberapa orang yang aku percaya. Apabila aku
pergi jauhhhh nanti, aku mau mereka memberitahumu soal perasaanku, tentang
semuanya. Aku ingin kau mau mendengarkannya. Karena aku juga takut kalau
tulisan ini tidak tersampaikan kepadamu.
Aku
bahagia bisa mengagumimu atau bisa memiliki rasa yang lebih ini. aku juga
bahagia bisa bertemu denganmu, orang kedua yang perlu perjuangan lama untuk
bisa mengatakannya. Aku bahagia walaupun tak bisa mendapatkanmu, aku bahagia
walaupun tak bisa langsung mengatakan semuanya secara langsung. Terima kasih.
Maaf.
Ditulis
pada tanggal 22, bulan April, tahun 2015
Akan
dikirim pada hari kelulusan besok
Tertanda,
orang yang mengagumimu sejak hari itu
Jumat,
pakaian olah raga, depan sekolah.
Komentar
Posting Komentar