Lama nggak muncul nih, muncul-muncul bawa cerpen karya temen gw, so silakan baca....
Cerita Cinta
By : NoName
Cerita Cinta
By : NoName
“cinta itu sebuah kebutuhan, penyemangat dan kasih sayang
untuk semua.” Ucap Vero sambil menikmati segelas kopinya. Lalu hening, kendaran
dan hujan yang mengisi jeda panjang diantara kita. Aku hanya bisa bermain jari
dan ikut menikmati kopi pesanan dan hujan lebat di kota ini, yang sama lebatnya
dengan perasaan dalam hatiku.
***
Vero, di a adalah orang yang diam-diam aku kagumi. Tidak,
bahkan lebih dari mengagumi aku mencintainya dan menyayanginya. Kita berteman
sejak SMA dan kearan kita dimulai saat hujan sore hari. Yah aku bertemu
dengannya ketika hujan dan itu selalu berlaku hingga sekarang. Sesekali aku
menatapnya yang sedang sibuk mengaduk-aduk kopinya.
Entah berapa lama, tapi aku yakin sudah lebih dari 3 tahun
aku memendam perasaan itu. Vero terkenal pendiam dan tidak peduli dengan
sekitar. Tapi ketika kenal dekat dengannya dia cukup baik dan menyenangkan.
Jeda panjang itu diam-diam terisi oleh kenangan-kenangan
kecil yang sengaja aku simpan, seperti ketika kami saling berpandangan, ketika
kami memakai sepatu secara bersamaan atau sekedar berjalan bersama sewaktu
pulang sekolah. Tapi ketika aku menatap kopi pahit miliknya aku teringat ketika
ada satu temannya yang bilang bahwa dia menyukainya, dan sejak pengungkapan itu
mereka dekat.
“cinta itu alasan...” kataku memecah semua jeda panjang.
Vero melirikku sambil tersenyum dan menghentikan aktivitas mengaduk kopinya.
“gw kira loe bakalan diem, ternyata ngomong juga.”
Komentarnya lalu mengambil posisi duduk rileks.
Kembali hening panjang, hujan juga tak henti-hentinya
menurunkan air malahan semakin deras.
“ada satu pertanyaan sih soal cinta,” kataku lagi.
“apa perlu diungkapin?” tanyaku
“perlu, takutnya kalau nggak diungkapin malah jadi sampah di
hati, dan takutnya suatu ketika bisa muncul lagi.” Jawabnya .
Seketika pandanganku tertuju pada gitar yang ada di panggung
kecil dalam cafe itu. aku ingat bahwa aku sempat membuatkan lagu untuk Vero.
“loe mau nggak dengerin lagu ini? khusus loh buat loe.”
Kataku sambil memeberinya earphone, “tapi loe boleh ngeplay ketika gw pamitan
nanti. Dan loe nggak perlu balikin iPod-nya, soalnya semua lagu di situ buat
loe.” Lanjutku.
Vero hanya menatap gw kebingungan, tapi dia tetap
menerimanya. “makasih ya kopinya, gw seneng temenan sama loe. Kalau loe
seneng juga loe bisa dateng ke airport
besok jam 8 pagi, karena gw bakalan balik ke luar negeri. Atau kalau misalnya
loe mau ngomong sesuatu.” Ucapku sambil berdiri dan berjalan keluar. Entah apa
yang ia lakukan setelah itu, aku terlalu takut untuk menoleh apalagi untuk kembali
dan menyuruhnya segera mendengarkan. Aku memilih pulang dan bersiap-siap untuk
kembali.
***
Tepat pukul 8 pagi, aku menunggu kepastian apakah Vero akan
datang atau nggak. Karena aku yakin ini adalah terakhir kalinya aku akan
melihat Vero. Ada satu hal yang mungkin tidak diketahui semua orang kecuali
keluargaku, dokter di luar negeri memvonis bahwa hidupku hanya tertinggal
beberapa bulan.
Mungkin sebenarnya aku telah tiada jika aku tak ingat Vero, karena sekali lagi bahwa Vero adalah alasan. Alasan aku bisa sampai ke Indonesia, alasan aku masih bertahan dan hidup seperti layaknya orang normal.
Mungkin sebenarnya aku telah tiada jika aku tak ingat Vero, karena sekali lagi bahwa Vero adalah alasan. Alasan aku bisa sampai ke Indonesia, alasan aku masih bertahan dan hidup seperti layaknya orang normal.
Tersisa 5 menit sebelum akhirnya aku take off, dan Vero juga
tidak kelihatan. Mama yang menatapku khawatir mulai tersenyum getir dan
mengajakku untuk segera masuk. Aku langsung membalas dengan senyuman tawar dan
mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba ponselku bergetar, panggilan dari Vero.
“lagu loe bagus, semuanya bagus dan gw suka. Gw ada di
bandara sekarang gw juga lihat leo berdiri di sana. Gw tahu loe bakalan masuk dan
sebentar lagi take off, dan gw....gw hanya bisa bilang makasih atas semuanya,
gw juga senang bisa punya loe, makasih atas semuanya.” Ucapnya panjang lebar
tanpa pembuka.
Aku mencari sosok Vero, tapi bandara sangat ramai saat itu
sampai akhirnya aku hanya bilang, “sama-sama, tapi loe di mana ya?” tanyaku
konyol yang melahirkan tawa riang Vero di luar sana (mungkin).
“hati-hati Rin, gw bakalan rindu sama loe.” Balasnya,
tiba-tiba panggilan terputus dan waktuku untuk berdiri telah habis. Aku hanya
tersenyum dan berharap Vero bisa melihat senyumanku. Sebuah senyuman yang gw
buat seindah mungkin untuk pertama kalinya untuk Vero dan terakhir kalinya pula
untuk Vero.
Ada perasaan lega ketika masuk, aku juga siap apabila mati
saat itu juga. Tapi ternyata Vero masih menjadi alasan aku tetap ada dan hidup
di luar negeri. Dan lagu-lagu untuknya pun masih aku simpan dan kadang aku
dengarkan. Kenangan itu juga tak hilang walaupun memori lain telah hilang.
Komentar
Posting Komentar