Langsung ke konten utama

Dapet curhatan kawan....

Ada yang curhat hari ini, cerita spesialnya bagian ini, nama gw samarkan. pesannya maaf kalau ada typo.



Apa pendapat loe tentang cowok pncerita, tukang curhat atau nulis dairy? Aneh? Nggak keren? Cupu? Nggak ada yang salahkan harusnya, loe bisa lihat Raditya Dika, seorang blogger, novelis, dan waktu kecil dia nulis dairy akhirnya dia sukses sperti saat ini. selain itu ada juga penulis cerita cowok lainnya kayak Andrea Hirata, Darwis Darwis Tere Liye, dan masih banyak lagi. Tapi entah kenapa kadang kesan pertama dari cewek ketika tahu kalau ada cowok kayak gitu pasti kalau nggak bilang “ihh aneh” atau “cupu banget sih,” kalau nggak “letoy deh cin”. Selalu kelihatan aneh, padahal cerita itu hak setiap manusia nggak mandang itu cewek atau cowok. Lagian cara kita kaum cowok cerita beda sama kaum cewek, cowok itu akan terkesan santai nggak bakalan treak-treak sambil tangannya gerak-gerak alay.

Gw adalah salah satu cowok tukang curhat, pencerita, dan nulis dairy. Sorry apapun yang gw tulis itu ada maknanya, mengandung hikmah dan itu berarti adalah moment terbaik dan patut gw kenang. Misalnya kejadian waktu di SMA atau kuliah atau waktu gw kecil.

Tapi diantara semua perjalanan hidup yang gw lalui, diantara tulisan dairy yang tiap harinya gw baca ada 3 kejadian yang gw jadiin the best moment waktu di SMA.


2.    Patah Hati Menyakitkan



Sejak kejadian HUT sekolah waktu itu akhirya gw punya gandengan buat pulang. Hubungan itu pun berjalan dengan baik. Memang kita jarang malmingan tapi telpon-telponan pada malam minggu itu bisa mengganti acara malming di luar. Buktinya dengan rutinitas itu umur hubungan gw dan Lala hingga 2 bulan dan dimasa-masa itu gw mulai memberanikan diri untuk mengajak pergi jalan-jalan atau sekedar makan bareng.



Berdasarkan kesepakatan bersama akhirnya kita menyatakan bahwa satu minggu minimal ketemuan 1 hari dan kita tentuin pula harinya yaitu hari Rabu. Hal itu terus berlanjut dan berjalan seiring berjalannya waktu, ktawa bareng, nangis bareng, belajar bareng atau sekedar main ke taman.



Akhirnya sampai di hari jadian kita yang ketiga bulan dan waktu itu tepat pada hari Rabu. Gw mengirim pesan ke dia bahwa sepulang sekolah gw ajak dia makan di warung pinggiran favorit kita. Dia mengiyakan dan menyuruh gw menunggu di sana tanpa menjemputnya. Dalam hati gw bilang, “tumben-tumbenan dia mau jalan sendiri ke sini, biasanya dia nggak mau kalau jalan sendirian.” Tapi gw menyangkal semua pemikiran negatif yang akhirnya mengekori kata hati gw. Tapi emang hari-hari sebelumnya hubungan gw mulai nggak beres, dia yang jarang ngangkat telpon, bales pesannya lama, dan rutinitas hari Rabu pun nggak berjalan dengan baik dengan alasan belajar kelompoklah, ada inilah, itulah segala macam.



Sekitar 15 menit gw menunggu sambil mainan gelas di depan gw. Tapi nggak lama kemudian dia datang dengan senyuman yang sma seperti waktu pertama kali dia nembak gw.



“maaf, telat, maaf juga nggak bisa nemenin kamu makan, aku buru-buru soalnya udah ditunggu,” katanya sambil menuding laki-laki di luar warung. “...dan maaf mungkin aku kurang sopan kayak gini, tapi aku takut nyakitin kamu lebih dalem lagi. Aku minta kita udahan, kita putus, kita udah beda dan nggak cocok lagi.” Lanjutnya dengan tatapan sedihnya, sedangkan gw hanya bengong mendengarkan semua ucapannya.



Lama gw diem tapi gw juga sadar bahwa dia menunggu respon dari gw, “ya udah, silakan, udah ditunggu tuh kasian kelamaan nunggunya. Nunggu tuh nggak enak soalnya dan ngebosenin juga.” Kataku polos dan masih tersenyum menatapnya.



Akhirnya Lala mengangguk dan melepas gelang pemberian gw sewaktu masih jadian. Padahal gw juga nggak minta, gelang itu akhirnya diletakkan dengan hati-hati di depan gw lalu dia berdiri dan keluar tanpa menoleh kembali ke arah gw.



Kepergian Lala mendatangkan pesanan yang gw pesan dari tadi. 2 mangkok berisi soto betawi yang masih panas membuat gw sadar kalau sekarang gw salah memesan jumlah mangkok. Gw melihat ada wanita duduk di samping gw dan akhirnya dengan senang hati gw kasih satu mangkok ke dia. dia hanya membalas dengan senyum dan ucapan terimakasih.



Kepergian Lala juga seolah-olah mendatangkan angin yang berhebus pelan namun menusuk hingga dalam, menyibak tirai penutup dan memperlihatkan kenyataan hubungan gw sekarang. Gw masih merasa fine-fine aja, sampai gw menghabiskan 2 gelas lemon tea dan 1 mangkok soto betawi. Sampai akhirnya gw bayar dan keluar dari warung itu. sampai akhirnya gw pulang dan sampai depan gerbang rumah. Sampai pak Parjo menyapa gw membukakan pintu masuk, sampai akhirnya gw di depan pintu rumah dan berjalan naik ke kamar. Sampai akhirnya gw di pintu tujuan gw, pintu masuk kamar.



Perlahan gw membuka pintu dan masuk, dan setelah itu gw merasakan hawa-hawa nggak beres.



Pandangan pertama kali yang gw lihat adalah lukisan wajah Lala yang bakalan jadi kado ulang tahunnya hari Sabtu besok. Gw beralih pandangan dan akhirnya sampai ke jaket couple hadiah ultah gw dari Lala. Akhirnya gw berjalan menunuduk berharap nggak melihat kenangan tentang Lala lagi, tapi gw baru sadar kalau sedari tadi masih menggenggam gelang dari Lala.



Gw akhirnya tiduran di atas kasur, memandang langit-langit berharap nggak ada wajah Lala yang seolah-olah tergantung di sana. Gw melihat putih warna ternit kamar dan kosong sama halnya dengan hati gw yang kosong pada waktu itu, bedanya warna hati gw bukan putih melainkan gelap. Tak sadar gw terlelap dan entah bermimpi apa.



Entah sampai jam berapa gw tertidur, tapi yang jelas waktu itu udah sore. Nyokap masuk dan menyadarkan gw dengan kepanikkannyayang berlebihan, bahkan bokap juga ikut-ikutan naik ke kamar karena kepanikkan nyokap gw.



“kamu mimpi apa? Kok sembap gitu matanya. Kamu sakit? Flu? Atau baru aja berantem?” berkali-kali nyokap menanyakan hal yang sama sambil menggoyang-goyangkan lengan tanganku.



Gw hanya diam, gw menatap gradasi langit yang sering disebut Magic Hour di luar jendela. Bokap yang melihat gw seperti itu akhirnya mengajak nyokap untuk keluar, memberi waktu untuk gw sendirian. Gw masih memandang pemandangan sore itu dan gw bertanya dalam hati, “kenapa selama gw pacaran sama Lala nggak pernah lihat langit seindah itu, justru ketika gw sendirian langit itu baru muncul...” dan diikuti pertanyaan lainnya. Alhasil gw memilih tidur dan entah kenapa gw nyenyak tidur sore itu.



Sekitar pukul 10 malam gw baru terbangun lagi, gw keluar berniat mengambil air minum ke dapur. Gw hanya melihat nyokap dan asistennya lagi nonton sinetron harimau dan dengan kesadaran akan naluri keibuannya dia membututiku menuju dapur.



Gw mengambil posisi duduk yang nyaman namun tatapan gw masih kosong, gelasnya pun akhirnya Cuma gw buat mainan. Nyokap akhirnya ikutan duduk di samping gw.



“kamu laper? Mau nasi goreng? Apa ayam goreng? Atau mau ke resto depan aja?” nyokap gw bertanya dengan nada tenang.



Gw hanya menggeleng dan melanjutkan bermain gelas di meja makan. Melihat keadaan gw yang nggak normal nyokap bertanya lagi, “kamu kenapa? Ada masalah di band kamu? Itu sih biasa Dik, lagian kalian kan masih anak SMA.”



“nggak ma, bukan band.”

“terus? Pacar? Bentar, baru 3 bulan inikan? Kamu putus?”

“iya ma,”



Terciptalah hening panjang diantara gw dan nyokap, hanya terdengar suara pertarungan harimau dan triakan asisten nyokap yang  memanggil-manggil nyokap gw. Akhirnya nyokap menyuruh diam si asisten itu dan merapatkan kursinya kedekat gw, menepuk-nepuk pundak sebelah kanan gw dan menasehati gw dengan kalimatnya.



Tapi....problemnya



“pantesan aja kamu tadi matanya sembap gitu, jadi kamu tadi mimpi putus sama si Lala. Nggaklah Dik, dia kan anaknya baik dan dia juga setia kok, mana mungkin dia putusin kamu. Udah jangan dipikirin soal mimpi itu.” kata nyokap dengan santainya.



Gw menoleh ke arahnya, “ma...bukan mimpi, ini beneran, nyata.” Kataku dan mulai menjelaskan perkara sebenarnya. Nyokap gw hanya diam ketika mendengar penjelasan dari gw dan akhirnya dia berdiri di belakang gw.



“kamu yang sabar ya, kayaknya kamu emang butuh waktu buat sendiri deh. Nanti kalau kamu butuh apa-apa panggil mama aja ya.” Kata nyokap dan langsung pergi ke ruang keluarga.



Akhirnya gw kembali masuk ke kamar dan masih sama hawa yang ditimbulkan adalah hawa-hawa menyedihkan berkaitan dengan Lala. Gw memutuskan untuk turun lagi menemui mama.



“ma, ada kardus nggak?” tanyaku

“ada tapi di gudang belakang. Di kamar kamu juga ada kok, kemarin mama taruh di belakang almari kamu.”

“oh, makasih ya ma.”

“iya sama-sama.”



Gw naik dan mengambil kardus cokelat yang dimaksud mama, dan akhirnya satu-persatu benda-benda dari Lala maupun tentang Lala gw taruh dengan rapi ke dalam kardus tersebut dan menyimpannya di gudang belakang. Hanya saja, ada satu hal yang masih enggan masuk ke dalam kardus itu, yaitu rasa sayang yang gw kasih buat Lala. Diam-diam perasaan itu menyelinap ke dalam kamar dan entah bersinggah kemana.

3.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...