Jatuh cinta...itu adalah rasa
yang terkutuk bagiku karena selalu gagal dalam misi jatuh cinta. Kali ini entah
keberapa kalinya aku merasakan jatuh cinta, tapi aku yakin kalau ini adalah
calon cinta yang gagal.
Jatuh cinta level gw kelihatan
cethek, awalannya pasti karena sebuah senyuman yang mampir ke mata dan akhirnay
bener-bener bisa turun ke hati. Padahal beleum tentu orang yang gw suka itu
baik perfect atau apalah. Dan setelah gw tahu atau gw cukup benar menyukai atau
sekedar mengaguminya pasti semuanya bakalan kayak orang gila. Gw akan cari tahu
informasi detail tentang laki-laki itu dan pasti akan mencari kesempatan untuk
mencuri-curi pandang.
Seperti halnya saat ini, saat
dimana gw bener-bener merasakan yang namanya jatuh cinta. Entah kali ini laki-laki
yang gw kagumi akan merasa rugi atau sebaliknya, tapi yang jelas gw merasa
untung karena dia adalah laki-laki yang pintar dan keren, sayangnya dia pendiam
dan sedikit cuek.
Layaknya orang pintar berbekal
penyamaran kaca mata gw masuk ke perpustakaan yang mayoritas anak berkaca mata.
Benar saja, laki-laki itu sedang duduk di sudut perpustakaan membaca sebuah
novel detektif. Gw mengamati dia dari sudut yang lain sesekali mengambil foto
dengan kamera digital pemberian papa tercinta. Sialnya penyelidikan kali ini
sedikit melenceng karena laki-laki itu sedikit curiga dengan gerak-gerik gw.
Takut ketahuan gw langsung mengembalikan buku dan keluar dari perpustakaan.
Airin yang sedang menunggu di
luar langsung mengambil kaca mata yang gw kenakan dia juga buru-buru mengambil
kamera yang gw bawa dan bertanya ini itu.
“Laki-laki itu bernama Dewa, anak
IPS kelas 2. Menurut info yang gw dapat dia adalah laki-laki pecinta musik,
game, olah raga basket dan membaca. Dia paling suka film action atau tentang
detektif, terakhir pacaran yaitu SMP yaitu dengan ketua OSIS jamannya. Hubungan
itu berakhir karena si ketua OSISI diam-diam selingkuh sama sahabat Dewa
sendiri. Gara-gara cinta pertamanya yang menyakitkan itu Dewa jadi memilih
menyibukkan diri dengan hobi-hobinya.” Terang gw kepada Airin yang dari tadi
hanya manggut-manggut.
Penyelidikan tentang Dewa adalah
penyelidikan kedua kalinya yang gw lakukan. Misi penyelidikan ini baru tercetus
ketika SMA dan itupun karena gw dimintai bantuan oleh Airin yang sewaktu itu sedang
menyukai senior. Dan bener aja, Airin bisa jadian dengan senior tapi hanya
sampai 7 bulan dan akhirnya mereka putus.
“Fir, ini udah hari ke 8 loh, loe
masih mau seldiikin? Tahu nggak mata gw nambah min-nya gara-gara kaca matanya
loe ambil muluk.” Keluh Airin sambil memainkan pulpen di tangannya.
“ya maaf, gini deh besok gw beli
kacamata sendiri untuk penyeledikan. Lagian gimana lagi cara gw tahu soal
laki-laki itu.”
“Fir, loe lihat dia di mana sih?”
tanya Airin yang sekarang mulai penasaran.
“seminar sastra, yang gw tunjukin
itu loh. Dia jadi salah satu penulis yang waktu itu menang.” Jawabku.
Hening sejenak, namun bel tanda
masuk sudah berbunyi dan akhirnya gw harus mennggalkan kelas Airin, semuanya
kembali normal hingga akhirnya gw pulang.
***
Penelitian gw masih berlanjut,
kali ini Dewa baru main basket sama teman-temannya. Dia terlihat lebih beda
dengan sosoknya di perpustakaan yang misterius. Gw masih asyik menjepret potret
Dewa dari tingkat atas, sesekali ada juga yang nanya dan gw Cuma jawab,”buat
mading” atau “iseng aja” sambil nyengir kuda.
Tiba-tiba Deon salah satu teman
gw di kelas sastra, dia menepuk pundak gw dan memberi selebaran. Ternyata
selebaran itu undangan untuk seminar kagi tentang kepenulisan, ini merupakan
kesempatan gw untuk ngajak dia. dengan mental seadanya akhirnya gw turun dan
menemui Dewa di lapangan basket.
“emmm sorry ganggu boleh nanya?
Yang namanya Dewa mana ya?” tanya gw
“gw, kenapa emangnya?” akunya
sambil mendekatiku.
“boleh bicara sebentar?” tanyaku
lagi.
“oke,”
“maaf nih ganggu latihan, kenalin
gw Arfira loe bisa panggil gw Fira,” kataku sambil mengajaknya untuk berjabat
tangan.
Dia membalas jabatan tangan gw
dan ikut memperkenalkan namanya, “Dewa, ada apa ya?” tanyanya.
“ini gw mau kasih loe selebaran
untuk datang ke seminar kepenulisan besok siang, bisa nggak?”
Dia mengambil selebaran dan
membacanya singkat. Gw melihat ada senyuman kecil di wajahnya bertanda positif.
“undangan yang sama gw terima tadi pagi dari Ine. Jadi udah pasti gw ke sana.”
Gw hanya bisa membalas dengan
senyuman aneh, entah apa namanya. “ohh gitu, ya udah kalau gitu gw langsung
pergi aja, thank’s atas waktunya.” Kataku sambil balik badan untuk pergi.
“Fir,” panggilnya tiba-tiba. “loe
yang ikut seminar seminggu yang lalu kan?” tanyanya kemudian.
Gw hanya mengangguk dan menunggu
ucapan selanjutnya.
“gw suka karya loe,” katanya dan
langsung masuk lagi ke lapangan basket. Sedangkan gw diam berdiri di tempat
yang sama sambil nahan senyum yang sebentar lagi bakalan bermekaran sesuka
hati. Tapi senyuman itu gw tahan hingga akhirnya gw bertemu Airin di kantin.
Gw bener-bener menggigit jari dan
mencengkram meja kantin saking senengnya. Airin yang melihat kelakuan gw hanya
menggeleng dan kembali sibuk dengan makanannya. Rasanya gw sangat ingin waktu
berjalan lebih cepat dan mempertemukan gw kembali dengan Dewa di acara seminar
kepenulisan.
***
Sialnya, keesokan harinya gw
bangun kesiangan dan terlambat masuk kelas. Hukuman nggak ikut pelajaran
mendaratkan gw ke ruang yang hening namun menyenangkan yaitu perpustakaan.
Mending kalau Dewa ada di ruangan tersebut tapi jelas saja nggak, ini masih jam
pertama dan dia pasti juga pelajaran. Dan soal undangan seminar gw juga nggak
bakalan bisa dateng karena undangannya kecuci padahal syarat masuknya peserta
harus bawa undangan. Gw mulai bad mood dan akhirnya menyumpal kedua telinga
dengan earphone sambil mengerjakan tugas matematika.
Disela kenyamanan di tempat itu,
ada yang sengaja nimpuk kepala gw pakek kertas. Dan ketika gw buka ada
pesannya, “kok di sini? Tertanda Dewa”. Gw langsung mencari sosok pelempar dan
ternyata dia ada di meja seberang. Gw tersenyum melihatnya dan langsung
membalas pesannya.
“telat masuk kelas, dan nggak
dibolehin masuk. Kedampar deh di sini. Kalau loe?”
“sama, gara-gara ngelembur baca
novel jadi kesiangan. Nanti siang berangkat?”
“nggak bisa, undangannya kecuci.”
“ohh, kasian. Mau nitip apa?”
“nitip? Loe kan ke seminar bukan
ke pasar.”
“ya siapa tahu loe mau nitip foto
atau video atau apa.”
“nggak makasih.”
Hanya sampai itu dan akhirnay dia
memilih keluar dari perpustakaan. Gw kembali sibuk dengan tugas matematika.
Seneng, tapi tetep aja gw nggak bisa deket sama dia. baru aja gw inget kalau
ada nama yang terlupakan, yaitu Ine. Akhirnya gw kembali beraksi untuk
menyelidiki sosok Ine.
Akhirnya gw memutuskan untuk
mengikutinya saat itu juga dan berharap dia keluar menemui Ine. Tapi sialnya
dia terlalu cepat menghilang, baru gw tinggal ngobrol sama salah satu kenalan
gw dia udah ilang. Gw mencoba mencari di belokkan terdekat tahu-tahu dia
berdiri di belakang gw.
“nyari siapa?” tanyanya dengan
senyuman meledek.
Akhirnya kita memilih duduk-duduk
di taman milik sekolah, jam pelajaran masih lama selesainya.
“ine siapa sih?” tanyaku to the
point.
“ohh dia tuh dulu temen SMP dan
kebetulan juga suka sastra.” Jawabnya
“ohh, kelas apa sih dia?” tanyaku
lagi sambil memakan es krim pemberiannya.
“IPA 2. Anaknya pinter,” jawabnya
berlebihan.
“hhe nggak nanya soal pinter apa
nggak.” Balasku nyengir kuda.
“sialan” gerutunya.
Cukup lama gw berbicara dengan
Dewa, mulai dari bahas soal karya gw dan karyanya atau topik-topik lain. Sampai
akhrinay jam pelajaran kedua selesai dan itu artinya gw harus kembali ke kelas.
Gw buru-buru mengirim pesan ke Airin perihal kejadian ini dan berharap ini
merupakan titik terang perjuangan cinta gw.
***
Ipod kesayangan gw memainkan lagu
milik Abdul Bahagia itu Sederhana, sambil mengkayuh sepeda tercinta gw pergi
untuk membeli keperluan rumah yang disuruh oleh mama, maklum di rumah nggak ada
pembantu jadi gw-lah yang menggantikan pembantu.
3 hari kedepan baklanlibur karena
ada try out untuk kakak kelas 3 dan itu menjadi waktu terkutuk bagi gw karena
nggak bisa lihat Dewa. Namun pertemuan dan obrolan riangan selama pertemuan
terakhir membuat gw jadi senyam senyum sendiri ternyata kalau memang usahanya
kenceng hasil kenceng juga.
Baru dibayangin, di super market
Dewa muncul. Dia juga sedang belanja di sana, hanya dengan senyuman sebagai
sapaan dan akhrinay kami sibuk dengan kepentingan masing-masing. Gw diam-diam
mencuri pandang dan melihat dia keluar dari super market. Ternyata memang
kebetulan sedang berpihak ke gw kali ini. ketika selesai gw langusng
menghampiri meja kasir dan membayar semua belanjaan. Si tukang kasir ngasih
strok sama kertas.
“ada titipan mbak. Terimakasih
atas kunjungannya.” Kata si kasir
“sama-sama.” Balasku
Aku membuka kertas kecil itu,
“bawa sepeda kan? Nebeng yak, gw males jalan kaki, uang abis buat belanja.
Tertanda Dewa.” Gw tersenyum menatap keluar dan melihat dia nongkrong di atas
sepada gw.
“bawa nih belanjaan,” seruku
sambil memberikan kantong plastik belanjaanku. Dia tersenyum dan siap meluncur kembali
ke rumah. Dan ternyata dia sekompleks sama gw, bodonya gw nggak pernah lihat
dia lewat depan rumah gw. Sedikit menyenangkan dan ternyata ini memang titik
terang. Gw dengan Dewa akhirnya semakin dekat dan berteman lebih dekat.
Kami jadi lebih sering berangkat
sekolah bareng pulangnya bareng dan ketika ada undangan seminar juga pasti
berangkat, dan pasti bareng. Sampai akhirnya gw ajak Dewa untuk ke sebuah
tempat yang paling secret menurut gw, yaitu taman rahasia.
Namun rencana itu gagal karena
Dewa ada kepentingan sama Ine, dan waktu itu menjadi waktu pertama kali gw
melihat Ine.
***
Semakin dekatnya gw dengan Dewa
akhirnya gw melaksanakan misi terakhir dan yang menentukan kisah gw selanjutnya
dengan Dewa. Menurut gw waktu yang pas itu ya saat itu, gw mulai bosen nunggu
lama. Dan akhirnya gw mengungkapkan semua perasaan gw untuk pertama kali dan
secara langsung kepada Dewa.
Gw menjelaskan semua perasaan gw
dengan memakan es krim banyak-banyak sambil ngilangi gugup dan semua rasa yang
membuatrencana ini jadi gagal. Tapi layaknya orang peramala Dewa langsung
mengenggam tanganku dan berkata, “gw tahu kok, dan gw juga merasakan hal yang
sama. Loe beda, tapi gw juga nggak tahu apa bedanya sama anak-anak lain, loe
kerasa beda aja.” Gw hanya terdiam dan es krim yang gw makan mulai meleleh
sediki demi sedikit.
Tapi gw langusng nhyengir kuda
dan melepaskan genggaman itu, “tapi gw nggak mau kita pacaran atau sebangsanya,
gw Cuma mau ngungkapin perasaan gw dan loe cukup tahu. Gw Cuma pengen kita
temenan kayak biasanya yah walaupun itu pakek rasa lebih dari temen.” Gw masing
nyengir kuda dan melanjutkan makan es krim sambil senyam-senyum.
“ini yang beda dari loe, dan gw
nggak nyangka kalau loe pilih yang ini. selera yang keren.” Pujinya sambil
mengcungkap jempolnya.
Tiba-tiba dari belakang Ine udah
nongol tanpa dosa. Dan akhirnya gw mengalah untuk Dewa bersama Ine. Mereka
seperti sedang membahas sesuatu hal tapi karena gw nggak ada sangkut pautnya
jadi gw memilih pergi. Baru satu langkah gw meninggalkan tempat itu Dewa
memanggil gw dan mengajak gw untuk ikut berdiskusi. Raut wajah Ine langsung
berubah memerah dan ini bukan merah malu tapi merah marah.
Sebisa mungkin gw tersenyum
kepada Ine walaupun balasannya udah ketebak yaitu melengos. Konsep pesta
rupanya, ulang tahun Ine yang ke 17 bakalan diadain pesta untuk teman-teman
yang dikenal olehnya. Gw cukup berperan dalam konsep itu karena gw banyak
menyumbangkan saran tapi tetap saja tatap Ine beda dan malah lebih sering
mandangin Dewa.
28 Maret 2016 pukul 15.00 tepat umur
Ine menjadi 17 tahun, acaranya berjalan sesuai konsep dan lancar. Pada saat itu
Ine berterimakasih ke gw dengan wajahnya yang berseri dan kelihatan tulus. Gw
juga tersenyum lepas kepadanya dan tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun.
Dewa juga hanya bisa tersenyum melihat gw karena gw larang dia untuk mendekat
dengan alasan “loe lebih bagus kalau dilihat dari kejauahan”.
Pembawa acara mulai melancarkan
satu persatu acara, sampai akhirnya acara inte potong kue dan kesan pesan dari
Ine maupun temanlain yang ingin mengucapkan selamat kepada Ine.
“makasih buat kalian sore hari
ini, makasih juga buat Arfira yang udah buat konsep pestanya dan makasih
buat....” oceh Ine menyebutkan orang-orang terbesar atas adanya pesta ini. dan
ucapan terakhir terimakasih kepada Dewa yang membantunya. Dewa hanya
mengacungkan jempol dan tersenyum kepada Ine. Tiba-tiba hawa aneh merasuk ke
tubuh gw, firasat.
Acra berakhir tepat pukul
setengah 6, gw langsung berpamitan meninggalkan Dewa. Tapi aksi kabur gw
berhasil ketahuan oleh Dewa dan akhirnya dia menyuruh gw untuk menunggu
sebentar. Ddi depan rumah Ine gw menunggu, melihat mendung yang semakin
menghitam dan hawa dingin yang menyeruak masuk ke rongga pori. Sekitar 5 menit
gw menunggu dengan hawa dan firasat ini tapi gw tetap diam.
Sampai akhirnya Dewa datang
dengan tatapan redup, dan tersenyum terpaksa menyapaku.
“ayo pulang!” ajaknya dan
langsung memboceng di belakang.
“dari tadi kali gw mau pulang,
gara-gara loe nih gw jadi mausk angin.” Balasku. Tapi Dewa hanya diam, hampir setengah
perjalanan dia diam entah memikirkan apa. Gw juga fokus menyetir kuda spesial
gw dengan hati-hati.
“gw ditembak sama Ine.” Ucapnya
dari belakang. Suaranya tidak terlalu keras tapi bagi gw itu cukup jelas dan
mengagetkan. Gw terus mengkayuh dan memikirkan jawaban yang pas.
“kok loe diem? Nggak sayang sama
gw?” tanya dia seperti anak kecil.
Gw sontak mengerem sepeda itu dan
menoleh ke belakang, sejenak gw memandangi wajah Dewa yang terlihat kecewa. Gw
menggeleng dan kembali fokus kedepan walaupun sepeda tetap saja berhenti.
“Fir...” panggilnya
“sayang..” kataku yang berhasil
keluar. “tapi diantara kita nggak ada hubungan yang mengikat, dan gw juga nggak
bisa ngelarang.” Lanjutku dan kembali menoleh menatapnya. Kali ini dia turun
dari sepeda dan berdiri di hadapanku.
“kita buat ada hubungan, biar gw
nggak diambil Ine.” Kata Dewa yang bisa-bisanya masih tersenyum.
“nggak bisa, gw yang nggak bisa.
Dari dulu gw emang pengen ngrasain pacaran, tapi gw rasa temenan dengan
perasaan lebih itu lebih baik dan menyenangkan.”
“loe nggak bener-bener sayang
sama gw?” tanyanya meyelidik.
“gw nggak tahu ini namanya sayang
atau bukan, tapi semacam rasa yang menggeliat ketika meliht loe sama orang lain
dan itu orang yang juga membuat loe bahagia selain keluarga loe. Mungkin itu
rasa cemburu, dan harusnya gw nggak punya rasa itu kalau gw nggak sayang.”
Jawabku sambil bermain bel sepeda, sehingga ada bunyi kring setiap kali akhir gw berbicara.
Hening menyusul dan mengisi
kekosongan, rintik hujan ikut nimbrung dan mulai meramaikan suasana. “ujan,
pulang yuk.” Ajakku mengambil sikap mengkayuh. Tapi Dewa masih berdiri di
hadapan gw tanpa enyah 1 mili pun.
“ayo pulang, ujan nih entar kalau
gw masuk angin awas ya, atau kalau nggak gw tinggal nih.” Acaman yang gw
katakan pun tak membuatnya pindah dari posisi awalnya, Dewa hanya menatap gw
dengan wajah yang sedikit marah.
“oke!!! Gw tinggal ya, daaaaa”
seruku benar-benar meninggalkan Dewa di sana. Entah apakah dia memanggilku atau
sekedra berbalik badan melihat gw yang semakin menjauh dan benar-benar menjauh.
***
Sampai di rumah akhirnya gw
menghangatkan badan, dan terasa hawa sedih yang menjadi imbasnya. Gw memandang
layar handphone bimbang antara telfon atau nggak. Tapi tiba-tiba ada pesan
masuk dari Dewa, “jangan nyesel karena gw terima hubungan yang dibuat Ine untuk
gw.” Rasanya sedikit menggores jantung yang akhirnya membuat seakan tak
berdetak lagi. Gw duduk memandangi hujan yang semakin deras, dan membayangkan
bahwa dia baru lewat depan rumah gw.
Dengan perasaan kacau gw membalas,
“santai, gw udah tahu dari awal. Selamat, long last. Sekarang terserah loe
maunya gimana, kalau emang masih mau berangkat pulan main bareng boleh, asalkan
Ine nggak keberatan.”
“gw masih berangkat dan pulang
bareng sama loe, jadi jangan sekali-kali loe tinggalin gw kayak tadi.”
Gw tersenyum dan mengiyakan
dengan anggukkan yang mungkin tidak dilihatnya. Gw nggak nangis, entah kenapa
enggak, tapi memang rasanya perih, nyes-nyes nggak enak. Untung saja detak
jantung gw kembali terdengar dan tandanya gw maish hidup.
Pagi harinya dan hari-hari yang
mengikuti masih sama, gw dan Dewa masih pulang dan berangkat bareng hanya saja
selalu diam. Sampai akhirnya dia menawarkan untuk bergantian memboncengkan.
Tapi tetap saja diam, sampai akhirnya dia mengerem sepeda mendadak.
“Fir....” panggilnya sedikit
menyentak.
“apa?”
“kerasa beda tahu. Nggak enak
kalau diem-dieman gini.” Keluhnya dengan nada sedikit jengkel.
“ya gimana? Nggak ada topik sih.”
Jawabku santai.
“loe cemburu? Loe marah sama
keputusan gw? Sampai akhirnya....”
“gw sama sekali nggak marah,
kalau cemburu emang iya. Lagian udah resiko Wa, ya udah sini biar gw yang
boncengin loe lagi.” Kataku
“Fir...gw juga sayang sama loe.”
Ucapnya menahan gw mengambil sepeda.
“iya, tapi ternyata adayang lebih
sayang ke loe daripada gw.” Balasku sambil keluar dari tahanan dewa.
“Ine...” lanjutku. “loe harus
pertahanin dan belajarsayang sama dia.” tambahku sambil mendorongnya keluar
dari tumpangan sepeda.
“mau pulang nggak? Gw tinggal
lagi nih kalau nggak naik!”
“tinggal aja, gw bisa pulang
sendiri.”
“behhh dasar kunyuk satu ini,
kayak cewek banget sih ngambekkan. Gw aja yang cewek biasa aja. Dewa wahai
temanku yang aku cintai lebih dari teman loe tuh hidup Cuma sekali dan jalannya
maju bukan mundur atau sekedar menoleh pun nggak boleh takut nabrak palang
pintu noh! Nyesel, kecewa dan serentetan kawan-kawannya itu udah paketan. Loe
nggak boleh nolak jalan cerita, gw tahu loe nggak suka sama jalannya tapi loe
udah terlanjur nyoba lewat kan? Ya teriama resiko dong!”
“bentar lagi ujan, pulang nggak?”
tanyaku sekali lagi. Tanpa menjawab dia langsung naik ke boncengan.
Gw tersenyum dan mengkayuh sepeda
untuk pulang ke rumah. Sejak saat itu akhirnya Dewa memilih untuk berangkat dan
pulang sendiri. Dia juga mengatakan untuk tidak menyapanya ketika bertemu,
jangan sampai gw senyum ngelihat dia karena senyuman gw yang membuat dia
berubah pikiran. Gw hanya tersenyum mendengar pesannya tapi gw juga ikut setuju
dengan pesan itu.
Mulai saat itu gw selalu
membiarkan dia berjalan sendirian, dan ketika gw melihat dia di perpustakaan
pun gw nggak nyapa atau senyum. Gw kembali ke gw yang dulu untuk berhenti
mencari tahu atau berlagak menjadi detektif. Gw mencari teman di sini, teman
yang sekaligus memberi cinta yang lebih dan akan terus ada walaupun kepisah.
Airin yang sempat menghilang
karena pergi ke London kaget mendengar ceritaku dan akhirnya dia memeluk dan
berkata, “gw akan menjadi teman perempuan loe yang sekaligus bakalan ngasih
kasih sayang dan cinta yang lebih buat loe tapi sukup sebatas teman.” Gw dan
Airin tertawa dan melakukan tos.
Ine dan dewa hubungan mereka
kelihatan baik sampai akhirnya lulus SMA. Dan setelah lulus gw nggak tahu
gimana kabar masing-masing orang. Airin yang akhirnya pergi lagi ke London dan
gw mengambil sekolah di ilmu sastra. Dewa akhirnya juga pindah dari kompleks
dan pergi ke luar negeri, tapi ternyata keputusan pergi keluar negeri juga
memutus hubungannya dengan Ine.
Soal Ine, gw nggak tahu karena
emang nggak pernah gw cari tahu soal dia. terakhir dia mengajak gw berfoto dan
mengucapkan banyak terimakasih, gw hanya tersenyum dan mengangguk walaupun gw
juga nggak tahu makasih buat apa.
Tapi akhir dari cerita ini bukan
berarti akhir dari misi detektif cinta gw, gw terus mencari teman dan cinta
yang paling gw tunggu. Dan selalu tersenyum jelas nggak lupa buat bahagia. :D
Komentar
Posting Komentar