Langsung ke konten utama

Detektif Cinta...



Jatuh cinta...itu adalah rasa yang terkutuk bagiku karena selalu gagal dalam misi jatuh cinta. Kali ini entah keberapa kalinya aku merasakan jatuh cinta, tapi aku yakin kalau ini adalah calon cinta yang gagal.

Jatuh cinta level gw kelihatan cethek, awalannya pasti karena sebuah senyuman yang mampir ke mata dan akhirnay bener-bener bisa turun ke hati. Padahal beleum tentu orang yang gw suka itu baik perfect atau apalah. Dan setelah gw tahu atau gw cukup benar menyukai atau sekedar mengaguminya pasti semuanya bakalan kayak orang gila. Gw akan cari tahu informasi detail tentang laki-laki itu dan pasti akan mencari kesempatan untuk mencuri-curi pandang.

Seperti halnya saat ini, saat dimana gw bener-bener merasakan yang namanya jatuh cinta. Entah kali ini laki-laki yang gw kagumi akan merasa rugi atau sebaliknya, tapi yang jelas gw merasa untung karena dia adalah laki-laki yang pintar dan keren, sayangnya dia pendiam dan sedikit cuek.

Layaknya orang pintar berbekal penyamaran kaca mata gw masuk ke perpustakaan yang mayoritas anak berkaca mata. Benar saja, laki-laki itu sedang duduk di sudut perpustakaan membaca sebuah novel detektif. Gw mengamati dia dari sudut yang lain sesekali mengambil foto dengan kamera digital pemberian papa tercinta. Sialnya penyelidikan kali ini sedikit melenceng karena laki-laki itu sedikit curiga dengan gerak-gerik gw. Takut ketahuan gw langsung mengembalikan buku dan keluar dari perpustakaan.

Airin yang sedang menunggu di luar langsung mengambil kaca mata yang gw kenakan dia juga buru-buru mengambil kamera yang gw bawa dan bertanya ini itu. 

“Laki-laki itu bernama Dewa, anak IPS kelas 2. Menurut info yang gw dapat dia adalah laki-laki pecinta musik, game, olah raga basket dan membaca. Dia paling suka film action atau tentang detektif, terakhir pacaran yaitu SMP yaitu dengan ketua OSIS jamannya. Hubungan itu berakhir karena si ketua OSISI diam-diam selingkuh sama sahabat Dewa sendiri. Gara-gara cinta pertamanya yang menyakitkan itu Dewa jadi memilih menyibukkan diri dengan hobi-hobinya.” Terang gw kepada Airin yang dari tadi hanya manggut-manggut.

Penyelidikan tentang Dewa adalah penyelidikan kedua kalinya yang gw lakukan. Misi penyelidikan ini baru tercetus ketika SMA dan itupun karena gw dimintai bantuan oleh Airin yang sewaktu itu sedang menyukai senior. Dan bener aja, Airin bisa jadian dengan senior tapi hanya sampai 7 bulan dan akhirnya mereka putus.
“Fir, ini udah hari ke 8 loh, loe masih mau seldiikin? Tahu nggak mata gw nambah min-nya gara-gara kaca matanya loe ambil muluk.” Keluh Airin sambil memainkan pulpen di tangannya.

“ya maaf, gini deh besok gw beli kacamata sendiri untuk penyeledikan. Lagian gimana lagi cara gw tahu soal laki-laki itu.” 

“Fir, loe lihat dia di mana sih?” tanya Airin yang sekarang mulai penasaran.

“seminar sastra, yang gw tunjukin itu loh. Dia jadi salah satu penulis yang waktu itu menang.” Jawabku.

Hening sejenak, namun bel tanda masuk sudah berbunyi dan akhirnya gw harus mennggalkan kelas Airin, semuanya kembali normal hingga akhirnya gw pulang.

***

Penelitian gw masih berlanjut, kali ini Dewa baru main basket sama teman-temannya. Dia terlihat lebih beda dengan sosoknya di perpustakaan yang misterius. Gw masih asyik menjepret potret Dewa dari tingkat atas, sesekali ada juga yang nanya dan gw Cuma jawab,”buat mading” atau “iseng aja” sambil nyengir kuda.

Tiba-tiba Deon salah satu teman gw di kelas sastra, dia menepuk pundak gw dan memberi selebaran. Ternyata selebaran itu undangan untuk seminar kagi tentang kepenulisan, ini merupakan kesempatan gw untuk ngajak dia. dengan mental seadanya akhirnya gw turun dan menemui Dewa di lapangan basket.

“emmm sorry ganggu boleh nanya? Yang namanya Dewa mana ya?” tanya gw

“gw, kenapa emangnya?” akunya sambil mendekatiku.

“boleh bicara sebentar?” tanyaku lagi.

“oke,”

“maaf nih ganggu latihan, kenalin gw Arfira loe bisa panggil gw Fira,” kataku sambil mengajaknya untuk berjabat tangan.

Dia membalas jabatan tangan gw dan ikut memperkenalkan namanya, “Dewa, ada apa ya?” tanyanya.

“ini gw mau kasih loe selebaran untuk datang ke seminar kepenulisan besok siang, bisa nggak?”

Dia mengambil selebaran dan membacanya singkat. Gw melihat ada senyuman kecil di wajahnya bertanda positif. “undangan yang sama gw terima tadi pagi dari Ine. Jadi udah pasti gw ke sana.” 

Gw hanya bisa membalas dengan senyuman aneh, entah apa namanya. “ohh gitu, ya udah kalau gitu gw langsung pergi aja, thank’s atas waktunya.” Kataku sambil balik badan untuk pergi.

“Fir,” panggilnya tiba-tiba. “loe yang ikut seminar seminggu yang lalu kan?” tanyanya kemudian.

Gw hanya mengangguk dan menunggu ucapan selanjutnya.

“gw suka karya loe,” katanya dan langsung masuk lagi ke lapangan basket. Sedangkan gw diam berdiri di tempat yang sama sambil nahan senyum yang sebentar lagi bakalan bermekaran sesuka hati. Tapi senyuman itu gw tahan hingga akhirnya gw bertemu Airin di kantin.

Gw bener-bener menggigit jari dan mencengkram meja kantin saking senengnya. Airin yang melihat kelakuan gw hanya menggeleng dan kembali sibuk dengan makanannya. Rasanya gw sangat ingin waktu berjalan lebih cepat dan mempertemukan gw kembali dengan Dewa di acara seminar kepenulisan.

***

Sialnya, keesokan harinya gw bangun kesiangan dan terlambat masuk kelas. Hukuman nggak ikut pelajaran mendaratkan gw ke ruang yang hening namun menyenangkan yaitu perpustakaan. Mending kalau Dewa ada di ruangan tersebut tapi jelas saja nggak, ini masih jam pertama dan dia pasti juga pelajaran. Dan soal undangan seminar gw juga nggak bakalan bisa dateng karena undangannya kecuci padahal syarat masuknya peserta harus bawa undangan. Gw mulai bad mood dan akhirnya menyumpal kedua telinga dengan earphone sambil mengerjakan tugas matematika.

Disela kenyamanan di tempat itu, ada yang sengaja nimpuk kepala gw pakek kertas. Dan ketika gw buka ada pesannya, “kok di sini? Tertanda Dewa”. Gw langsung mencari sosok pelempar dan ternyata dia ada di meja seberang. Gw tersenyum melihatnya dan langsung membalas pesannya.

“telat masuk kelas, dan nggak dibolehin masuk. Kedampar deh di sini. Kalau loe?”
“sama, gara-gara ngelembur baca novel jadi kesiangan. Nanti siang berangkat?”
“nggak bisa, undangannya kecuci.”
“ohh, kasian. Mau nitip apa?”
“nitip? Loe kan ke seminar bukan ke pasar.”
“ya siapa tahu loe mau nitip foto atau video atau apa.”
“nggak makasih.”

Hanya sampai itu dan akhirnay dia memilih keluar dari perpustakaan. Gw kembali sibuk dengan tugas matematika. Seneng, tapi tetep aja gw nggak bisa deket sama dia. baru aja gw inget kalau ada nama yang terlupakan, yaitu Ine. Akhirnya gw kembali beraksi untuk menyelidiki sosok Ine.

Akhirnya gw memutuskan untuk mengikutinya saat itu juga dan berharap dia keluar menemui Ine. Tapi sialnya dia terlalu cepat menghilang, baru gw tinggal ngobrol sama salah satu kenalan gw dia udah ilang. Gw mencoba mencari di belokkan terdekat tahu-tahu dia berdiri di belakang gw.

“nyari siapa?” tanyanya dengan senyuman meledek.
Akhirnya kita memilih duduk-duduk di taman milik sekolah, jam pelajaran masih lama selesainya.
“ine siapa sih?” tanyaku to the point.
“ohh dia tuh dulu temen SMP dan kebetulan juga suka sastra.” Jawabnya
“ohh, kelas apa sih dia?” tanyaku lagi sambil memakan es krim pemberiannya.
“IPA 2. Anaknya pinter,” jawabnya berlebihan.
“hhe nggak nanya soal pinter apa nggak.” Balasku nyengir kuda.
“sialan” gerutunya.

Cukup lama gw berbicara dengan Dewa, mulai dari bahas soal karya gw dan karyanya atau topik-topik lain. Sampai akhrinay jam pelajaran kedua selesai dan itu artinya gw harus kembali ke kelas. Gw buru-buru mengirim pesan ke Airin perihal kejadian ini dan berharap ini merupakan titik terang perjuangan cinta gw.

***

Ipod kesayangan gw memainkan lagu milik Abdul Bahagia itu Sederhana, sambil mengkayuh sepeda tercinta gw pergi untuk membeli keperluan rumah yang disuruh oleh mama, maklum di rumah nggak ada pembantu jadi gw-lah yang menggantikan pembantu.

3 hari kedepan baklanlibur karena ada try out untuk kakak kelas 3 dan itu menjadi waktu terkutuk bagi gw karena nggak bisa lihat Dewa. Namun pertemuan dan obrolan riangan selama pertemuan terakhir membuat gw jadi senyam senyum sendiri ternyata kalau memang usahanya kenceng hasil kenceng juga.

Baru dibayangin, di super market Dewa muncul. Dia juga sedang belanja di sana, hanya dengan senyuman sebagai sapaan dan akhrinay kami sibuk dengan kepentingan masing-masing. Gw diam-diam mencuri pandang dan melihat dia keluar dari super market. Ternyata memang kebetulan sedang berpihak ke gw kali ini. ketika selesai gw langusng menghampiri meja kasir dan membayar semua belanjaan. Si tukang kasir ngasih strok sama kertas.

“ada titipan mbak. Terimakasih atas kunjungannya.” Kata si kasir
“sama-sama.” Balasku
Aku membuka kertas kecil itu, “bawa sepeda kan? Nebeng yak, gw males jalan kaki, uang abis buat belanja. Tertanda Dewa.” Gw tersenyum menatap keluar dan melihat dia nongkrong di atas sepada gw.
“bawa nih belanjaan,” seruku sambil memberikan kantong plastik belanjaanku. Dia tersenyum dan siap meluncur kembali ke rumah. Dan ternyata dia sekompleks sama gw, bodonya gw nggak pernah lihat dia lewat depan rumah gw. Sedikit menyenangkan dan ternyata ini memang titik terang. Gw dengan Dewa akhirnya semakin dekat dan berteman lebih dekat.
Kami jadi lebih sering berangkat sekolah bareng pulangnya bareng dan ketika ada undangan seminar juga pasti berangkat, dan pasti bareng. Sampai akhirnya gw ajak Dewa untuk ke sebuah tempat yang paling secret menurut gw, yaitu taman rahasia.
Namun rencana itu gagal karena Dewa ada kepentingan sama Ine, dan waktu itu menjadi waktu pertama kali gw melihat Ine. 

***

Semakin dekatnya gw dengan Dewa akhirnya gw melaksanakan misi terakhir dan yang menentukan kisah gw selanjutnya dengan Dewa. Menurut gw waktu yang pas itu ya saat itu, gw mulai bosen nunggu lama. Dan akhirnya gw mengungkapkan semua perasaan gw untuk pertama kali dan secara langsung kepada Dewa.

Gw menjelaskan semua perasaan gw dengan memakan es krim banyak-banyak sambil ngilangi gugup dan semua rasa yang membuatrencana ini jadi gagal. Tapi layaknya orang peramala Dewa langsung mengenggam tanganku dan berkata, “gw tahu kok, dan gw juga merasakan hal yang sama. Loe beda, tapi gw juga nggak tahu apa bedanya sama anak-anak lain, loe kerasa beda aja.” Gw hanya terdiam dan es krim yang gw makan mulai meleleh sediki demi sedikit.

Tapi gw langusng nhyengir kuda dan melepaskan genggaman itu, “tapi gw nggak mau kita pacaran atau sebangsanya, gw Cuma mau ngungkapin perasaan gw dan loe cukup tahu. Gw Cuma pengen kita temenan kayak biasanya yah walaupun itu pakek rasa lebih dari temen.” Gw masing nyengir kuda dan melanjutkan makan es krim sambil senyam-senyum.

“ini yang beda dari loe, dan gw nggak nyangka kalau loe pilih yang ini. selera yang keren.” Pujinya sambil mengcungkap jempolnya.

Tiba-tiba dari belakang Ine udah nongol tanpa dosa. Dan akhirnya gw mengalah untuk Dewa bersama Ine. Mereka seperti sedang membahas sesuatu hal tapi karena gw nggak ada sangkut pautnya jadi gw memilih pergi. Baru satu langkah gw meninggalkan tempat itu Dewa memanggil gw dan mengajak gw untuk ikut berdiskusi. Raut wajah Ine langsung berubah memerah dan ini bukan merah malu tapi merah marah.

Sebisa mungkin gw tersenyum kepada Ine walaupun balasannya udah ketebak yaitu melengos. Konsep pesta rupanya, ulang tahun Ine yang ke 17 bakalan diadain pesta untuk teman-teman yang dikenal olehnya. Gw cukup berperan dalam konsep itu karena gw banyak menyumbangkan saran tapi tetap saja tatap Ine beda dan malah lebih sering mandangin Dewa.

28 Maret 2016 pukul 15.00 tepat umur Ine menjadi 17 tahun, acaranya berjalan sesuai konsep dan lancar. Pada saat itu Ine berterimakasih ke gw dengan wajahnya yang berseri dan kelihatan tulus. Gw juga tersenyum lepas kepadanya dan tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun. Dewa juga hanya bisa tersenyum melihat gw karena gw larang dia untuk mendekat dengan alasan “loe lebih bagus kalau dilihat dari kejauahan”.

Pembawa acara mulai melancarkan satu persatu acara, sampai akhirnya acara inte potong kue dan kesan pesan dari Ine maupun temanlain yang ingin mengucapkan selamat kepada Ine.

“makasih buat kalian sore hari ini, makasih juga buat Arfira yang udah buat konsep pestanya dan makasih buat....” oceh Ine menyebutkan orang-orang terbesar atas adanya pesta ini. dan ucapan terakhir terimakasih kepada Dewa yang membantunya. Dewa hanya mengacungkan jempol dan tersenyum kepada Ine. Tiba-tiba hawa aneh merasuk ke tubuh gw, firasat.

Acra berakhir tepat pukul setengah 6, gw langsung berpamitan meninggalkan Dewa. Tapi aksi kabur gw berhasil ketahuan oleh Dewa dan akhirnya dia menyuruh gw untuk menunggu sebentar. Ddi depan rumah Ine gw menunggu, melihat mendung yang semakin menghitam dan hawa dingin yang menyeruak masuk ke rongga pori. Sekitar 5 menit gw menunggu dengan hawa dan firasat ini tapi gw tetap diam.

Sampai akhirnya Dewa datang dengan tatapan redup, dan tersenyum terpaksa menyapaku.
“ayo pulang!” ajaknya dan langsung memboceng di belakang.
“dari tadi kali gw mau pulang, gara-gara loe nih gw jadi mausk angin.” Balasku. Tapi Dewa hanya diam, hampir setengah perjalanan dia diam entah memikirkan apa. Gw juga fokus menyetir kuda spesial gw dengan hati-hati.

“gw ditembak sama Ine.” Ucapnya dari belakang. Suaranya tidak terlalu keras tapi bagi gw itu cukup jelas dan mengagetkan. Gw terus mengkayuh dan memikirkan jawaban yang pas.
“kok loe diem? Nggak sayang sama gw?” tanya dia seperti anak kecil.

Gw sontak mengerem sepeda itu dan menoleh ke belakang, sejenak gw memandangi wajah Dewa yang terlihat kecewa. Gw menggeleng dan kembali fokus kedepan walaupun sepeda tetap saja berhenti.

“Fir...” panggilnya
“sayang..” kataku yang berhasil keluar. “tapi diantara kita nggak ada hubungan yang mengikat, dan gw juga nggak bisa ngelarang.” Lanjutku dan kembali menoleh menatapnya. Kali ini dia turun dari sepeda dan berdiri di hadapanku.

“kita buat ada hubungan, biar gw nggak diambil Ine.” Kata Dewa yang bisa-bisanya masih tersenyum.
“nggak bisa, gw yang nggak bisa. Dari dulu gw emang pengen ngrasain pacaran, tapi gw rasa temenan dengan perasaan lebih itu lebih baik dan menyenangkan.” 

“loe nggak bener-bener sayang sama gw?” tanyanya meyelidik.
“gw nggak tahu ini namanya sayang atau bukan, tapi semacam rasa yang menggeliat ketika meliht loe sama orang lain dan itu orang yang juga membuat loe bahagia selain keluarga loe. Mungkin itu rasa cemburu, dan harusnya gw nggak punya rasa itu kalau gw nggak sayang.” Jawabku sambil bermain bel sepeda, sehingga ada bunyi kring setiap kali akhir gw berbicara.

Hening menyusul dan mengisi kekosongan, rintik hujan ikut nimbrung dan mulai meramaikan suasana. “ujan, pulang yuk.” Ajakku mengambil sikap mengkayuh. Tapi Dewa masih berdiri di hadapan gw tanpa enyah 1 mili pun.

“ayo pulang, ujan nih entar kalau gw masuk angin awas ya, atau kalau nggak gw tinggal nih.” Acaman yang gw katakan pun tak membuatnya pindah dari posisi awalnya, Dewa hanya menatap gw dengan wajah yang sedikit marah.
“oke!!! Gw tinggal ya, daaaaa” seruku benar-benar meninggalkan Dewa di sana. Entah apakah dia memanggilku atau sekedra berbalik badan melihat gw yang semakin menjauh dan benar-benar menjauh.

***

Sampai di rumah akhirnya gw menghangatkan badan, dan terasa hawa sedih yang menjadi imbasnya. Gw memandang layar handphone bimbang antara telfon atau nggak. Tapi tiba-tiba ada pesan masuk dari Dewa, “jangan nyesel karena gw terima hubungan yang dibuat Ine untuk gw.” Rasanya sedikit menggores jantung yang akhirnya membuat seakan tak berdetak lagi. Gw duduk memandangi hujan yang semakin deras, dan membayangkan bahwa dia baru lewat depan rumah gw. 

Dengan perasaan kacau gw membalas, “santai, gw udah tahu dari awal. Selamat, long last. Sekarang terserah loe maunya gimana, kalau emang masih mau berangkat pulan main bareng boleh, asalkan Ine nggak keberatan.” 

“gw masih berangkat dan pulang bareng sama loe, jadi jangan sekali-kali loe tinggalin gw kayak tadi.”
Gw tersenyum dan mengiyakan dengan anggukkan yang mungkin tidak dilihatnya. Gw nggak nangis, entah kenapa enggak, tapi memang rasanya perih, nyes-nyes nggak enak. Untung saja detak jantung gw kembali terdengar dan tandanya gw maish hidup.

Pagi harinya dan hari-hari yang mengikuti masih sama, gw dan Dewa masih pulang dan berangkat bareng hanya saja selalu diam. Sampai akhirnya dia menawarkan untuk bergantian memboncengkan. Tapi tetap saja diam, sampai akhirnya dia mengerem sepeda mendadak.

“Fir....” panggilnya sedikit menyentak.
“apa?”
“kerasa beda tahu. Nggak enak kalau diem-dieman gini.” Keluhnya dengan nada sedikit jengkel.
“ya gimana? Nggak ada topik sih.” Jawabku santai.
“loe cemburu? Loe marah sama keputusan gw? Sampai akhirnya....”
“gw sama sekali nggak marah, kalau cemburu emang iya. Lagian udah resiko Wa, ya udah sini biar gw yang boncengin loe lagi.” Kataku
“Fir...gw juga sayang sama loe.” Ucapnya menahan gw mengambil sepeda.
“iya, tapi ternyata adayang lebih sayang ke loe daripada gw.” Balasku sambil keluar dari tahanan dewa.
“Ine...” lanjutku. “loe harus pertahanin dan belajarsayang sama dia.” tambahku sambil mendorongnya keluar dari tumpangan sepeda.
“mau pulang nggak? Gw tinggal lagi nih kalau nggak naik!”
“tinggal aja, gw bisa pulang sendiri.”
“behhh dasar kunyuk satu ini, kayak cewek banget sih ngambekkan. Gw aja yang cewek biasa aja. Dewa wahai temanku yang aku cintai lebih dari teman loe tuh hidup Cuma sekali dan jalannya maju bukan mundur atau sekedar menoleh pun nggak boleh takut nabrak palang pintu noh! Nyesel, kecewa dan serentetan kawan-kawannya itu udah paketan. Loe nggak boleh nolak jalan cerita, gw tahu loe nggak suka sama jalannya tapi loe udah terlanjur nyoba lewat kan? Ya teriama resiko dong!” 

“bentar lagi ujan, pulang nggak?” tanyaku sekali lagi. Tanpa menjawab dia langsung naik ke boncengan.
Gw tersenyum dan mengkayuh sepeda untuk pulang ke rumah. Sejak saat itu akhirnya Dewa memilih untuk berangkat dan pulang sendiri. Dia juga mengatakan untuk tidak menyapanya ketika bertemu, jangan sampai gw senyum ngelihat dia karena senyuman gw yang membuat dia berubah pikiran. Gw hanya tersenyum mendengar pesannya tapi gw juga ikut setuju dengan pesan itu.

Mulai saat itu gw selalu membiarkan dia berjalan sendirian, dan ketika gw melihat dia di perpustakaan pun gw nggak nyapa atau senyum. Gw kembali ke gw yang dulu untuk berhenti mencari tahu atau berlagak menjadi detektif. Gw mencari teman di sini, teman yang sekaligus memberi cinta yang lebih dan akan terus ada walaupun kepisah.

Airin yang sempat menghilang karena pergi ke London kaget mendengar ceritaku dan akhirnya dia memeluk dan berkata, “gw akan menjadi teman perempuan loe yang sekaligus bakalan ngasih kasih sayang dan cinta yang lebih buat loe tapi sukup sebatas teman.” Gw dan Airin tertawa dan melakukan tos.

Ine dan dewa hubungan mereka kelihatan baik sampai akhirnya lulus SMA. Dan setelah lulus gw nggak tahu gimana kabar masing-masing orang. Airin yang akhirnya pergi lagi ke London dan gw mengambil sekolah di ilmu sastra. Dewa akhirnya juga pindah dari kompleks dan pergi ke luar negeri, tapi ternyata keputusan pergi keluar negeri juga memutus hubungannya dengan Ine. 

Soal Ine, gw nggak tahu karena emang nggak pernah gw cari tahu soal dia. terakhir dia mengajak gw berfoto dan mengucapkan banyak terimakasih, gw hanya tersenyum dan mengangguk walaupun gw juga nggak tahu makasih buat apa.

Tapi akhir dari cerita ini bukan berarti akhir dari misi detektif cinta gw, gw terus mencari teman dan cinta yang paling gw tunggu. Dan selalu tersenyum jelas nggak lupa buat bahagia. :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...