Langsung ke konten utama

Edisi Kawah Putih....nemu nih



Kawah Putih, 12 Desember 2000

Naif-Senang Bersamamu

Acara study tour ketika SMA kelas 2. Dan gara-gara acara itu akhirnya aku dan dia bisa tambah dekat. Berawal karena dia takjub dengan pemandangan Kawah Putih dan meminta aku untuk mengambil potretnya dengan latar belakang danau Kawah Putih. 

Aku hanya tertawa melihat dia tersenyum kagum dan menyenangkan, tapi sayang sekali dia juga meminta untuk difoto bersama perempuan terdekatnya. Tapi aku tetap tersenyum dan berusaha untuk profesional sebagai TEMAN BIASA.

Sampai akhirnya rombongan SMA kami harus pulang ke kota asal. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta, aku tersenyum sendirian mengingat kejadian di Kawah Putih. Dan sesekali melihat foto-fotonya. Tiba-tiba saja dia muncul dan memaksa teman satu kursiku untuk pindah kekursinya. Awalnya aku juga keheranan, tapi ternyata dia pengen melihat foto-foto tadi.

Mungkin Tuhan sedang berpihak kepadaku, hingga kota tujuan dia duduk sekursi denganku. Bahkan dia juga sesekali mengambil gambar suasana di bus. Sampai akhirnya malam hari semua tertidur kelelahan. Aku juga tertidur nyenyak, tapi tiba-tiba aku merasakan ada benda yang menimpa bahuku, dan ketika aku menoleh dia terlelap di bahuku.

Rasanya aku ingin sekali berteriak dan tertawa keras, tapi aku tidak mau membangunkan dia dan aku juga tidak mau waktu segera sampai ke kota tujuan. Sampai pagi, aku masih terjaga dan ketika dia bangun aku pura-pura tertidur. 

Hari-hari setelah itu, keadaannya kembali seperti pada awalnya. Tanpa keakraban seperti perjalanan Study Tour. Tapi terkadang sesekali dia berbicara denganku dan ketika bertemu juga tegur sapa walaupun sebatas “lambaian tangan”.

Semua hal itu akhirnya terbawa hingga kelulusan dan aku pun tak sempat mengutarakan perasaanku padahal ketika prom night waktu itu sangat pas. Karena lagi-lagi aku dekat dengannya, bahkan dia juga sempat mengajakku berfoto. Tapi ternyata memang belum saatnya untuk mengungkapkan perasaan itu.

Akhirnya aku pun pulang sekaligus menggelar penutupan kotak yang berisi foto-foto dan kenangan tentangnya dan menaruhnya di kolong tempat tidur. Berharap keesokkan harinya ada kotak baru yang perlu diisi dengan kenangan yang baru pula.

***

Kawah Putih 4 tahun kemudian

Masih dengan latar musik yang sama, yang menjadi kenangan sewaktu SMA, Naif-Senang Bersamamu. Kunjungan karena profesiku sebagai photografer sebuah majalah.

Tidak ada yang berubah di tempat ini, hanya saja sekarang tidak bersama dia dan tidak ada lagi duduk satu kursi dalam bus rombongan atau berfoto bersama. Tapi rasanya ketika kembali ketempat tersebut membuat kenangan itu terlihat kembali.

Tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang, aku pun menoleh mencari sumber panggilan itu. tidak disangka bahwa ternyata dia juga ada di tempat ini, di tanggal yang sama dan bulan yang sama pula. Aku melambaikan tangan membalas panggilannya. Dan lagi-lagi aku mengambil potretnya, dia sendirian pada awalnya namun tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan panggilan sayang. Ternyata dia sekarang telah memiliki kekasih.

Aku berjabat tangan dengan perempuan tersebut dan berkenalan. Kami sempat berbicara banyak, membicarakan soal kelakuan laki-lakinya sewaktu SMA. Sedikit ada rasa nyeri di hati tapi aku bahagia bertemu lagi dengannya. Perempuan itu memang benar-benar cocok dengannya dan benar saja tebakkanku mereka memilih tempat Kawah Putih ini sebagai tempat Pre-wed-nya. 

Setelah tugasku selesai aku pulang dengan rasa yang tercampur aduk dan entah harus bagaimana menanggapi semua situasi itu. bahkan waktu 4 tahun tak bisa juga menghapuskan kenanganku bersamanya. Tapi mungkin kenyataan tentang pernikahan itu bisa membantuku untuk melupakannya dan benar-benar menyembunyikan kotak kenangan SMA-ku. dan sampai saat itu pun kotak baruku masih kosong, belum ada kenangan yang sempat aku masukkan. Tapi aku langsung tahu apa yang perlu aku masukkan ke kotak yaitu rasa sukaku pada laki-laki itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...