Langsung ke konten utama

kembali....



Ibarat air aku membiarkan semuanya mengalir, ibarat angin aku membiarkan semuanya terbawa bersama hembusannya, ibarat matahari aku membiarkan semuanya ikut tenggelam tanpa tersisa sedikit pun. 

Aku masih duduk termenung melihat aksi matahari bercampur warna langit, aku berharap melihat magic hour seperti yang dikatakan pada novel Magic Hour karya Tisa TS dan temannya. Mungkin aku salah tempat atau memang aku tidak mujur bisa melihat magic hour itu. sesekali aku melempari air laut dengan pasir yang tersebar di sekitarku, tapi yang ada pasir-pasir itu terbang terbawa angin dan jatuh kembali. 

Ombak sore ini tidak terlalu tinggi dan angin yang berhembus tidak membawa hawa dingin yang aku takutkan. Warung makan dekat pantai masih saja diramaikan oleh pengunjung, baik dari manca hingga lokal atau hanya antar pulau. Tapi bagi kami para peribumi merasa biasa saja, apalagi warung pinggir pantai itu milik keluargaku.

Suara ombak masih terdengar dan sangat-sangat menyenangkan, walaupun aku peribumi di sini tapi suara ombak, suasana pantai itu tetap hal yang paling aku sukai dan aku kagumi. Makanan buatan amak mungkin sangat enak bagi pengunjung tapi itu terasa membosankan bagi lidahku. Tapi rasa sayangnya itu adalah hal yang luar biasa bagiku dan mungkin tak akan aku lupakan sampai nanti aku menemukan jodohku.

Sama halnya dengan perasaanku pada seorang laki-laki 4 tahun yang lalu, yang sampai sekarang masih tertata rapi di dalam hati. Aku telah mencoba mati-matian untuk merusak semua kenangan tentangnya dengan cara mencari orang baru di Kota ini. tapi ternyata cara itu tetap saja gagal membuat rusak kenangan yang ada, justru malah membuat semakin lekat.

***

Laki-laki itu, ahh sulit rasanya menyebutkan namanya, rasanya ketika menyebut namanya seperti mengundang semua kenangan-kenangan yang sejenak terlupakan. Tapi apa boleh buat aku harus menyebut namanya, Andi.

Dia adalah laki-laki yang aku kenal ketika menempuh pendidikan tinggi di kota sebelah. Dia terkenal playboy, tapi entah kenapa pesonanya masih bisa menjerat hatiku bahkan sampai teringat hingga saat ini. 

Aku berhasil menjadi kekasihnya, aku berjuang mati-matian untuk mempertahankan hubungan kami. Dia juga telah berjanji untuk tidak merayu perempuan lainnya lagi. Dia berkata bahwa dia berubah karena dengan adanya aku, dan begitu mudahnya aku percaya dan akhirnya bisa memaafkan segala kesalahannya.

Aku pernah memergokinya berjalan dengan perempuan lain, dia mengakui salah dan bersimpuh meminta maaf. Dia memberi banyak alasan dan meyakinkan bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Aku memaafkan kesalahan itu. tapi ternyata dia benar-benar tidak berubah, dan ternyata banyak sekali perempuan yang menjadi selingkuhannya tanpa sepengetahuanku.

Sampai akhirnya aku tidak tahan dan dia pun akhirnya memutuskan hubungan kami. Aku menangis, aku menyesal karena telah meminta putus. Setengah hati aku tersenyum karena tidak lagi dibohongi tapi setengah hati aku menangis karena masih belum siap ditinggalkannya.

Aku kembali ke kota kelahiranku, membantu bisnis keluarga dan membuka sebuah kios kecil menjual aneka kue. Tapi kesibukanku itu tidak membuat kenangan itu lenyap, hanya sekedar mengendap dan ketika ada sedikit saja senggolan maka semuanya akan menyebar.

***

“hey, ayo bantulah amak melayani turis-turis ini!!!” seru amak.

Aku langsung bergegas naik ke warung kelolaan keluargaku. Memang ramai saat itu, aku yang biasanya dikenal juragan kue sekarang dikenal sebagai pelayan kedai amak. Senyuman dan sapaan ramah aku berikan kepada tamu yang datang atau yang pergi. Cara membawakan dan menyuguhkan pun aku harus bersikap manis walaupun hatiku benar-benar sedang pahit dan kalut.

Hampir pukul 7 malam, suasana pantai benar-benar sepi hanya ada keramaian debur ombak dengan tebing. Warung juga terlihat lengang, hanya ada satu dua pengunjung. 

“selamat malam mas, mau pesan apa?” tanyaku dengan nada sebaik mungkin.

Laki-laki yang ku panggil “mas” itu tenggelam dalam buku menu, namun langsung mengangkat wajahnya dan berkata, “yang spesial di sini aja mbak.” Seketika aku diam, tercengang karena ternyata itu Andi. Aku hanya diam dan berusaha biasa saja.

“minumannya?” tanyaku lagi sambil berpura-pura mencatat dalam daftar menu.
“sama paket spesialnya aja.” Jawabnya sedikit pelan dan masih menatapku.
Aku meninggalkan meja itu dan memberikan tulisan menu itu kepada amak.
“mak, aku ijin skarang ya, badanku udah pegal sekali.” Kataku kepada amak berniat menghindari Andi.
“kamu ini, ya sudah, sana mainlah kau di pantai dan buang semua rasa pegalmu. Nanti kau akan amak panggil dan bantu tutup warung.”
“siap mak,”

Aku melepas celemek dan berjalan keluar menuju dekat pantai. Ada kursi kecil di dekat tebing jauh dari bibir pantai, aku duduk di sana dan bermain dengan pasir. Sesekali aku mendongak memandang langit yang baru cerah-cerahnya.

“hai..”
“eh...hai”
“apa kabar?”
“baik, kamu?”
“sama. Boleh duduk?”
“silakan”

Kami hanya duduk dalam keheningan, aku sendiri hanya sibuk mengatur napas dan detak jantung yang mulai berantakan. Sesekali aku melirik ke arahnya, dan yang dilirik hanya menunduk bermain pasir dengan kaki.

“nggak nyangka bisa ketemu lagi,” katanya kemudian 

“eh...iya,” balasku gelagapan

“maaf ya, soal waktu itu. aku nggak bermaksud kasar.”

“itu udah lama, yang penting kedepannya. Toh, itu juga bisa jadi pelajaran buat kamu dan aku juga.”

“tapi emang bener, semuanya, semuanya yang aku bilang ke kamu itu bener. Kamu yang buat aku akhirnya sadar kalau aku salah nyia-nyiain kamu selama ini. kamu tulus sayang sama aku tapi....” dia terhenti mengucapkan kalimat itu. aku hanya mengangguk-angguk paham atas penyesalannya.

“percuma juga aku menyesal karena pasti lukanya nggak bisa ilang gitu aja.” Lanjutnya.

“jujur Ra, setelah kita putus dan aku mencoba jalan sama yang lain rasanya beda. Nggak ada lagi ketawa kamu yang blak-blakan, ucapan selamat malam yang pasti kamu ucapkan sambil tos. Susah buat lupain kenangan sama kamu, susah Ra.” Katanya lagi sambil menunduk.

“semua yang berlebihan itu emang nggak baik. Kamu yang berlebihan mengarang alasan sekarang kemakan sendiri, aku yang berlebihan sayang sama kamu juga akhirnya nggak bisa lupa. Malah yang ada nyiksa diri sendiri.” Kataku sambil sesekali tertawa kecil.

“nggak ada yang perlu diulang, nggak ada juga yang perlu disesali. Kalau pun masih ada luka atau rasa itu mungkin sedikit cobaan dan kita harus berusaha berdiri, bangkit tanpa kenangan itu. kalau pun ternyata sulit ya kita harus berusaha, memaksa hati kita untuk menerima yang baru, karena semua itu berawal dari kebiasaan. Kamu harus terbiasa dengan seseorang yang benar-benar tulus menyayangi kamu, walaupun saat itu kamu benar-benar belum menyayanginya. Semua itu perlu proses yang nggak sebentar, cinta itu tumbuh secara perlahan, dan itu akan menghasilkan buah cinta sejati yang mungkin akan hidup hingga maut yang memisahkan.” Lanjutku.

“kamu juga harus berusaha belajar untuk setia, menghargai, jangan memainkan perasaan. Kamu juga pasti marah kalau hubungan yang kamu jalin ternyata hanya dimanfaatkan satu sisi. Kalau sekarang kamu masih berharap dan benar-benar mau mengulangi dari awal....aku mohon jangan, buang harapan itu, keinginan itu sama seperti kita membuang sampah yang bau. Jangan sampai ada yang ketinggalan atau terselip karena itu pasti akan mengundang bau yang lainnya.”

“aku pamit masuk, kalau mau pulang hati-hati.”

Aku meninggalkan Andi sendirian, aku berusaha tegar dan melepas semua bisikan hati untuk kembali. Aku takut kalau ternyata sikapnya masih sama, tapi aku juga berharap kalau dia sudah berubah dan mau membuktikan, berjuang meyakinkan aku kembali. 

Amak yang ternyata sedari tadi menguping langsung menyuruhku masuk ke kamar dan melarangku membantunya beres-beres. Aku hanya tersenyum tawar dan mengangguk mengiyakan perintahnya. Di balik jendela aku masih bisa melihat hamparan langit dimalam hari, aku masih bisa melihat tebing tempatku berbicara tadi, aku juga masih bisa melihat Andi yang masih di sana. Aku berusaha membuang semua kenangan dan mengobati luka yang masih tersisa, berharap cepat sembuh dan bisa menemukan sepotong hati yang baru untuk melengkapi kekuranganku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...