Vero
Anindia Setia, yah nama lelaki yang selalu gw ingat-ingat senyumannya. Senyuman
yang mungkin sekarang jarang gw lihat, atau lebih tepatnya nggak pernah lihat
lagi. Bukan karena dia udah meninggal tapi sekarang gw sendiri nggak tahu
dimana dia.
Vero
adalah cinta pertama gw di bangku SMA, dia mengenalkan gw tentang cinta yang mungkin
dalam pengertian cinta tidak harus
memiliki. Iya memang rasanya nggak adil tapi justru kita bisa belajar
untuk bersabar dan ikhlas dalam menghadapi ketidak adilan atau ketidak pasan
dengan apa yang kita inginkan. Gw juga seperti itu, awalnya gw sangat-sangat
nggak terima karena yahh setelah lama dekat ternyata dia bukan orang yang gw
maksud, dia telah memilih yang lain tapi lama-kelamaan gw jadi sadar dan tahu
tanpa dia pun gw masih bisa mencari yang lebih baik.
Gw
satu kelas sewaktu SMA hingga kelas 2, tahun pertama kita kurang akrab tahun
kedua kita mulai akrab dan tahun ketiga adalah final gw untuk belajar mencintai
seorang Vero, ketua tim basket di SMA gw. Dulu gw selalu nemenin dia untuk
latihan, bawain dia minum sekalian
belajar main basket.
Pernah
suatu sore gw melewatkan senja bersama dia di lapangan basket sekolah. Sambil
menghilangkan rasa lelah menghadapi kehidupan seharian kita duduk-duduk
menikmati hangatnya mentari senja yang semakin lama semakin redup dan hanya
membuat silau tanpa rasa hangat lagi. Gw mengeluh tentang nilai permainan dasar
basket gw jeblok di kelas dan guru olah raganya akan mengambil penilaian khusus
untuk gw minggu depannya. Dan tanpa gw suruh dia langsung meraih kedua tangan
gw dan mengajari gw teknik dasar permainan basket terutama bahan untuk
penilaian minggu depan.
Yahh
memang waktu itu udah sangat sore, makanya latihannya di tunda hingga esok
sorenya. Kita udah janjian untuk ketemuan di lapangan lagi pukul 15:00 WIB. Dan
memang moment saat itulah yang gw rindukan hingga sekarang, gw pengen lagi bisa
latihan bareng sama dia. Waktu itu gw sangat-sangat dekat dengan dia, bahkan
pernah juga dia mengeluh ke gw curhat masalah yang dia alami waktu itu. Dia
bela-belain untuk datang ke rumah gw hanya untuk cerita tentang masalahnya itu.
Gw ingat betul waktu itu malam minggu di bulan November, sekitar pukul 19:00
WIB dia udah nangkring di taman samping rumah gw sambil menatap langit yang
memang saat itu penuh dengan bintang. Ketika gw deketin dia langsung bilang, “gw lelah Cha,” yang kemudian langsung
memaksaku untuk duduk di sampingnya. Gw kira gw disuruh dengerin keluhannya
tapi ternyata dia pinjem bahu gw untuk bersandaran.
Tuhan....seakan-akan
gw ingin malam itu menjadi malam yang memang bener-bener panjang. Dan rasanya
gw pengen membuat dia tertawa malam itu. Tapi sayang dia hanya menyandarkan
kepalanya sebentar dan memilih duduk bersandar menerawang langit-langit. Begitu
juga dengan gw, dan menyembunyikan rasa malu serta deg-degan yang yang gw
rasakan.
“emang loe
kenapa? Tumben juga malam-malam gini datang ke rumah, sendiri lagi,” kata ku kemudian mencoba
mengisi kesunyian, lalu dia bercerita tentang semua masalahnya. Dan malam itu
diakhiri dengan senyuman masamnya yang jarang sekali diperlihatkan ke banyak
orang.
Pernah
juga waktu itu, ketika gw sama temen-temen satu organisasi menginap di
sekolahan, entah sengaja atau tidak tapi malam itu dia datang ke sekolah bawa
banyak makanan dan minuman yang membuat temen seorganisasi gw jadi seneng. Yahh
dia juga ngajak gw buat lihat bintang di lapangan yang waktu itu ramain dengan
pekerja anak teater dekorasi panggung. Dia sempet bilang, “indah ya Cha, kita udah dua kali lihat bintang bareng dan pas banget
momentnya...romantis,” kata terakhir yang benar-benar gw cermati romantis tentu saja gw sangat senang
pula. Gw hanya membalas dengan ketawa yang pada akhirnya membuat kita hanyut
dengan tertawa. Sekedar mnertawakan pekerja yang mayoritas anak kelas 1. Ada
yang dikerjain ada juga yang memang bener-bener serius.
Semakin
malam hawa juga semakin dingin hingga menusuk ke tulang. Vero yang tahu bahwa
gw masih saja kedinginan memberikan jaketnya ke gw dan menyuruh untuk
memakainya. Belum selesai gw pakai dia udah nyela, “pakai selamanya ya, buat kenang-kenangan,” sambil tersenyum. Gw
yang kaget dengan perkataannya itu langsung menatapnya dan membalas, “serius? Ini dikasih ke gw?” dan hanya
balasan anggukan yang gw terima dan senyum yang selalu membuat gw tertawa.
Dan
sampai skarang jaketnya masih gw simpen, kadang gw pakai ketika cuacanya
mendukung atau ketika gw pergi jauh dan akan merindukan sosok Vero. Gw selalu
bernostalgia dengan lagu-lagu Tulus atau band-band lain. Tapi untuk kali ini
lagu yang pas memang milik tulus with 1000 tahun lamanya.
Jujur
sampai sekarang gw masih memendam rasa cinta sejak SMA, gw masih merindukan dia
yang selalu mengirimi pesan setiap malam, memberi ucapan selamat tidur dan
membuat gw tertawa sendirian. Tuhan memang pintar, memberikan banyak kejutan
untuk gw. Memberi gw seseorang yang istimewa menurut gw. Tuhan tahu bahwa gw
suka sama Vero tapi Tuhan lebih senang melihat gw cukup dekat dengannya.
Sekali
lagi , walaupun terlihat menyakitkan tapi gw menikmati jalan kehidupan ini. Gw
tahu mungkin pertemuan gw dengan Vero juga akan jarang terjadi, karena kabar
terakhir yang gw dapat Vero pergi ke Jerman untuk belajar. Dan apabila Tuhan
masih memberi gw umur gw akan menunggu dia datang dan kembali tersenyum dengan
senyumannya yang dulu, senyuman yang selalu gw nantikan ketika melihat dia dari
kejauhan. Senyuman yang akan selalu gw rindukan.
Komentar
Posting Komentar