Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

Forget Jakarta #7

Di tempat yang sama, Maret 2016 Perayaan tahun baru 2 bulan yang lalu, projek lagu perdanaku selesai digarap. Acara rekaman dan semacamnya juga telah selesai. sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari tempat penginspirasi itu. aku merasa inspirator ku menghilang bersama keluarnya lagu baruku di web pribadiku. Berjalan bergitu saja, tanpa sepengetahuanku. Ingin sekali aku mencari inspiratorku, tapi aku takut apabila kesalahan sewaktu tahun baru itu terulang lagi. Kesalahan yang menurutku membuatku menyesal dan tak pernah mau mengenal manusia itu lagi. Tapi rayuannya yang akhirnya menuntunku kembali mengenalnya walaupun akhirnya aku kembali kehilangan. Aku meninggalkan kota itu, kota yang katanya penuh dengan keindahan tapi apa yang aku lihat, sebuah kematian rasanya. Aku melanju menuju kota Semarang, dan akhirnya menemukan inspiratorku. Tepat di hari petama aku menyanyikan lagu karanganku, dia bertepuk tangan dan benar-bnar menikmati musikku.  Kami dekat,...

Forget Jakarta #6

Di perjalanan, 23 Februari 2016 “pesanku hanya satu,” kataku lalu menatap mata indah perempuan di sampingku. “kalau bisa jaga terus perasanmu dan tunggu aku 1 tahun lagi.” Lanjutku. Perempuan itu hanya tersenyum dan mengedipkan matanya perlahan mengiyakan. Aku mulai berpamitan dengan remaja-remaja lainnya melalui pidato santai yang singkat itu.  10 hari aku di kota itu, rasanya ingin tetap di sana, tapi aku masih memiliki tugas di sini baru akan selesai sekitar 1 tahun lagi. Mas Malik yang mengantarkanku untuk sampai ke stasiun dan benar-benar pulang. Perempuan itu hanya memberiku sepucuk surat, yang kira-kira isinya seperti ini : Semoga selamat sampai tujuan, aman, lancar dan barokah. Allah selalu melindungimu dan malaikat-malaikat akan mengawalmu wahai laki-laki pemberani. Semoga ilmu yang kau bagikan dan ilmu yang kau serap bisa bermanfaat. Terimakasih karena kau mau menerimaku dengan kekuranganku ini. Sekian Larasati. aku membacanya berulang kali, ...

Forget Jakarta #5

Semarang, Februari 2016 Telah lewat 1 bulan dari tahun baru, tapi rasanya sangat-sangatlah masih kemarin kejadian itu terjadi. Dia, seorang laki-laki yang memang aku inginkan kedatangannya, seorang laki-laki yang memang aku impikan untuk menjadi milikku. Tapi ternyata waktu telah merebutnya untuk diberikan kepada Sang Kuasa. Aku lupa waktu itu, aku hanya ingat bahwa dia berkata, “aku akan ada untukmu, dan aku benar-benar menyayangimu.” Hanya itu yang aku ingat, dan kita sama-sama berpegangan tangan melihat kembang api yang ramai menghiasi langit kota Semarang. Hanya terhitung detik, 5 detik mungkin, dia langsung terjatuh tak sadarkan diri. Aku mencoba berteriak, tapi suaraku terlalu kecil bila didengar diantara kerumunan banyak orang. Baru sekitar 4-5 kali triakan orang-orang langsung membantuku membawa dia keluar dari kerumanan itu. Aku kebingungan, aku tidak tahu harus menelpon siapa. Aku tak kenal dengan orang tuanya, bahkan selama kita dekat dia enggan mengenalka...

Forget Jakarta #4

Jogja, 23 Januari 2016 Apa artinya menjauh kalau sebagian dari kita masih tertinggal di sana. percuma pula aku menjaga jarak, karena memang sebagian dariku masih tertinggal bersama pesonanya. Kain kanvas ku juga tidak tercoret satu warna pun, sampai akhirnya aku melihat wajah itu sedang melintasi depan rumah. Dia masih sama seperti wajah yang sebelumnya aku lihat, dan sempat aku miliki. Baru akhirnya ide melukisku keluar, kenapa tidak melukis wajahnya? Tanpa menunggu waktu menjadi pas, tanganku gesit mencoret-coret kanvas itu sehingga berwarna kali ini. Lukisan tahap akhir jadi sekitar pukul 11 malam, masih banyak lukisan yang harus aku buat untuk pameran perdanaku minggu depan. Aku tidak mau hanya gara-gara putus hubunganku dengan Rana menjadi sebab aku malas melukis. Berjalan-jalan, mencari inspirasi itu yang selalu aku lakukan. Memotret potret sore hari atau ramainya di terminal. Sampai akhirnya ada ide untuk mengambil salah satu sudut di terminal sebagai karya terakhir...

Forget Jakarta #3

Perjalanan ke Jogja, 1 Januari 2016 Hari ini, adalah hari pergantian tahun. islam mengatakan bahwa tahun ini akan semakin jelek daripada tahun lalu. Aku percaya, karena semakin bertambah hari semua itu ikut berkembang dan melahirkan dampak yang berbeda-beda pula. Tapi kali ini aku berharap, bahwa tahun yang aku pijak malam-malam ini menjadi lebih baik karena pilihanku meninggalkan semua penat di Jakarta. Misa, perempuan yang aku cintai sekarang berubah. Dia mulai memaksa dan mengatur kehidupanku dan itu membuatku bosan dengan hubunganku sendiri. Kembang api yang menghiasi langit malam ini membantu bintang membuat manusia-manusia tersenyum dan melahirkan wajah dengan harapan baru. Tapi sayangnya tidak untukku, dalam bus antar kota ini diam-diam aku mulai menggaruk kenangan-kenangan lama baik yang menyenangkan maupun sebaliknya. Tapi pemberhentian sementara di salah satu pom bensin akhirnya menyuruhku keluar sekedar mengintip kemeriahan kota yang aku lewati. Banyak pesa...