Langsung ke konten utama

Edisi Forget Jakarta #1



Jakarta, 26 Juli 2015
Jakarta, di situlah aku dilahirkan, di situlah aku mulai mengenal, di situlah aku mulai bertemu dan bersama-sama, dan di situlah aku berjauhan dan ditinggakan. Terlalu banyak yang aku kenang di Jakarta dan terlalu banyak pula hal-hal yang harus aku lupakan. Kalau aku ceritakan dari awal mungkin akan lebih banyak waktu pula untuk mengatakannya. Dan mengingat itu hanyalah membuatku bersedih.

Di Jakarta, aku lahir tepat tanggal 26 Juli 1992 dari seorang ibu yang belum aku lihat wajahnya. Kata Ayah, ibu sangat cantik dia manis sepertiku, memiliki kulit yang putih dan mata yang sedang dengan tatapan yang menyenangkan. Dan di ulang tahun ke-12 tahunku eyang putri meninggalkanku karena sakit jantungnya. Padahal selama tidak ada ibu eyang putrilah yang mendongengiku dan mengambil alih posisi ibu dalam rumah kami. Di ulang tahunku yang ke-15 tahun aku menemukan cinta yang katanya cinta pertama, yaitu Deon. Di ulang tahunku yang ke-18 tahun kecelakaan pesawat itu mengambil Ayah dariku dan tepat di hari ulang tahunku yang ke-23 tahun Deon meninggalkanku sekaligus merebut sahabatku, mereka berhubungan kali ini.

Aku tidak tahu arah tujuanku, entah kenapa tiket kereta ke Jogja yang aku beli. Padahal di Jogja tak ada satu kerabat pun yang tinggal, aku akan tinggal sendiri tanpa pengalaman ke Jogja satu kali pun. Berbekal tanya jawab dengan temanku yang akrab dengan Jogja akhirnya aku menemukan seorang teman SD-ku yang sekarang tinggal di Jogja, dia berjanji untuk menjemputku di stasiun nanti. Memberiku tumpangan sementara sampai akhirnya nanti ada rumah pengganti.

Tepat pukul 10 pagi, akhirnya kereta itu sampai dan Lina teman SD-ku telah menunggu di salah satu deretan kursi tunggu.
Lina     : ampun deh, kamu beda banget sekarang! Apa kabar?
Aku     : baik kok Na, kamu sendiri?
Lina     : baik, baik banget malah. Ya udah kita langsung ke rumah aja ya, kebetulan mama udah  siapin makanan .
Aku     : maaf ya Na, aku jadi ngerepotin. Tapi aku janji palingan Cuma beberapa hari terus aku pindah, aku usahain.
Lina     : santai aja kali Rin, kamukan dulu juga bantu aku sampai akhirnya sukses gini.
(aku dan Lina berpelukan)

Perjalanan untuk pulang ke rumah Lina membutuhkan setengah jam dengan bus. Memang benar ternyata di rumah Lina telah ramai dengan penyambutan keluarganya. Aku serasa menemukan keluarga lagi setelah pergi dari Jakarta. Ibunya Lina pun memelukku seperti anaknya sendiri, memang aku dan keluarga Lina cukup dekat ketika di Jakarta. Bahkan mereka menyuruhku untuk tinggal di sini selama aku di Jogja, tapi aku menolak hanya sampai aku mendapatkan tempat yang baru di Jogja.

Dengan bekal pertemanan di sosial media, akhirnya ada juga yang menawarkan rumah yang lumayan murah harga kontraknya. Cukup 3 hari aku tinggal di rumah Lina dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah kontrakkan. Uang di tabunganku juga semakin menipis, dan ada lagi teman di sosial media mengajakku bekerja sebagai seorang photografer di kantor majalahnya. Dengan bekal ilmu dan hobi itu aku memang sangat menyukai photograph dan aku berharap bisa memiliki potret magic hour di setiap kota di dunia. Agar suatu saat nanti aku jadi tahu bahwa ada yang indah di tengah kehidupanku ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...