Langsung ke konten utama

Forget Jakarta #2



Jogja, 31 Desember 2015

Genap 5 bulan aku tinggal di Jogja, selama 5 bulan itu aku menjalani kehidupan dengan normal. Masih makan 3 kali sehari, masih kerja dengan baik dan menyenangkan. Tapi kenangan Jakarta masih selalu mengikutiku, kenangan kejahatan Deon dan Naila, kenangan bersama ibu dan Ayah, semuanya. Ingin sekali rasanya mengalami amnesia dan memulai dengan ingatan yang baru.

Sampai akhirnya kantor menugaskanku untuk ikut meliput acara tahun baru di alun-alun Utara bersama Rere rekan kerjaku. Dan ini adalah kedua kalinya aku datang ke alun-alun Utara selama di Jogja, itupun karena terpaksa dan memang waktu itu menjadi pengalaman pertamaku. Deon, sahabatku yang mengajakku datang ke alun-alun Utara bersama pacarku naila. Kebersamaan yang awalnya aku rasakan ternyata berbuntut penghianatan mereka berdua. mereka jadian. Sejak liburan ke Jogja itu, rasanya aku enggan pergi ke Jogja lagi, tapi sayangnya aku dikirim ke sini, tepat 26 Juli 2015 kemarin. 

Kang Adhi yang memberiku hiburan melalui musik yang lembut dan menyentuh. Hanya Rere kawanku selama di Jogja, dia yang mengajaku pergi mencari inspirasi dan refreshing. Dia juga yang berani-beraninya menunggu hingga aku bisa membuka hati untuknya. Padahal aku sudah menerangkan bahwa pengalaman bersama Naila itu membuatku malas untuk memiliki rasa suka dengan orang lain.

Akhirnya aku memberanikan diri, tepat tanggal 31 Desember 2015 aku datang bersama Rere ke alun-alun Utara. Sangat ramai di sana, mulai dari anak kecil hingga yang telah menikah dan mengajak anaknya, dari yang bawa mobil sampai jalan kaki, semua kalangan manusia datang ke sini dengan tujuan yang berbeda-beda tentunya. Ini adalah 31 Desember yang kedua kalinya bagiku untuk melihat kembang api, walaupun sekarang berbeda tujuannya.

Aku mulai muak dengan detik-detik terakhir ketika acara pergantian tahun, karena di situlah rasa pahitnya. Seakan-akan kakiku ingin sekali menjauh dari sini tapi lengan Rere lebih sigap daripada aku. Dia mengatakan serentetan kalimat agara aku masih mau ke sini, dan tepat di waktu yang manusia tunggu-tunggu lagi-lagi Rere mengatakan bahwa dia mau menunggu walaupun itu masih lama.

Sekarang, aku akhirnya paham bahwa manusia itu akan memiliki tujuan yang berbeda walaupun datang ke tempat yang sama. Jangan sampai masa lalu yang kelihatan kelam itu merusak tujuanmu yang baru di masa yang akan datang.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...