Jogja,
23 Januari 2016
Apa
artinya menjauh kalau sebagian dari kita masih tertinggal di sana. percuma pula
aku menjaga jarak, karena memang sebagian dariku masih tertinggal bersama
pesonanya. Kain kanvas ku juga tidak tercoret satu warna pun, sampai akhirnya
aku melihat wajah itu sedang melintasi depan rumah. Dia masih sama seperti
wajah yang sebelumnya aku lihat, dan sempat aku miliki. Baru akhirnya ide
melukisku keluar, kenapa tidak melukis
wajahnya? Tanpa menunggu waktu menjadi pas, tanganku gesit mencoret-coret
kanvas itu sehingga berwarna kali ini.
Lukisan
tahap akhir jadi sekitar pukul 11 malam, masih banyak lukisan yang harus aku
buat untuk pameran perdanaku minggu depan. Aku tidak mau hanya gara-gara putus
hubunganku dengan Rana menjadi sebab aku malas melukis. Berjalan-jalan, mencari
inspirasi itu yang selalu aku lakukan. Memotret potret sore hari atau ramainya
di terminal. Sampai akhirnya ada ide untuk mengambil salah satu sudut di
terminal sebagai karya terakhirku.
Waktu
juga semakin cepat saja berjalan, sampai akhirnya tiba di hari pameran lukisan
untuk pertama kalinya. Aku telah menyebar sejumlah undangan dan poster agar
penikmat lukisan mau datang ke galeriku. Termasuk Rana, yang akhirnya datang
dengan laki-laki lain. Aku tertegun melihat dia telah bersama yang lain, tapi
aku berusaha tersenyum dan mempersilakan dia masuk menikmati lukisanku.
Lukisan
wajah Rana masih aku tutupi kain putih, aku persembahkan untuk 1 lukisan
terakhir dan sebagai lukisan istimewa bagiku. Ketika sesi wawancara dimulai,
lukisan itu aku buka dan aku tunjukan kepada media. Aku menjelaskan semua
detail-detailnya pembuatan lukisan itu. rana juga mendengarkannya, karena dia
adala salah satu reporter yang ikut meliput di galeri baruku.
Dia
tidak tersenyum, dia juga tidak melihatkan wajah kecewanya, dia bersikap
profesional dan terus menerus melemparkan pertanyaan tentang lukisan itu. aku
juga menjawabnya dengan mantap dan berharap dia mau kembali.
Tapi
sampai acara itu selesai, sampai akhirnya berbulan-bulan kedepannya tidak
pernah aku dengar kabar tentang Rana lagi. Di pos media tempatnya bekerja pun
tidak ada, satu minggu setelah pameran ada kabar bahwa keluarganya tiba-tiba
pindah rumah. Hanya satu amplop yang ditinggalkan di kotak pos depan rumahku.
Surat darinya, yang ternyata pemberitahuan tentang hal-hal yang tidak aku
ketahui.
Sangat
terdengar pahit rasanya, karena hanya gara-gara sakit dia merelakan semuanya.
Dia juga berterimakasih atas lukisan dariku dan pasti akan mengenangnya. Aku
tersenyum dan mulai mendoakan agar Rana selamat di sana.
Aku
tahu sekarang, boleh aku berimajinasi,
menghayalkan sesuatu hal, asalkan aku tidak lupa bahwa ada kenyataan di sini,
yang jelas membawaku ke waktu yang akan datang secara benar tanpa diragukan
lagi.
***
Komentar
Posting Komentar