Semarang,
Februari 2016
Telah
lewat 1 bulan dari tahun baru, tapi rasanya sangat-sangatlah masih kemarin
kejadian itu terjadi. Dia, seorang laki-laki yang memang aku inginkan
kedatangannya, seorang laki-laki yang memang aku impikan untuk menjadi milikku.
Tapi ternyata waktu telah merebutnya untuk diberikan kepada Sang Kuasa.
Aku
lupa waktu itu, aku hanya ingat bahwa dia berkata, “aku akan ada untukmu, dan aku benar-benar menyayangimu.” Hanya itu
yang aku ingat, dan kita sama-sama berpegangan tangan melihat kembang api yang
ramai menghiasi langit kota Semarang.
Hanya
terhitung detik, 5 detik mungkin, dia langsung terjatuh tak sadarkan diri. Aku
mencoba berteriak, tapi suaraku terlalu kecil bila didengar diantara kerumunan
banyak orang. Baru sekitar 4-5 kali triakan orang-orang langsung membantuku
membawa dia keluar dari kerumanan itu.
Aku
kebingungan, aku tidak tahu harus menelpon siapa. Aku tak kenal dengan orang
tuanya, bahkan selama kita dekat dia enggan mengenalkanku dengan sosok orang
tuanya. Aku tidak kenal dengan teman-temannya, aku mengenal dia karena ketidak
sengajaan buku yang jatuh di depan perpustakaan daerah.
Aku
hanya duduk menunduk dan menangis, mencoba menghubungi orang lain tapi tanganku
telah kaku ketakutan. Rasanya campur aduk, takut salah, takut kehilangan dia,
takut semuanya. Sampai akhirnya dokter dan asistennya keluar dengan wajah yang
tidak pernah ingin aku lihat. Aku benci adegan ini dalam film, tapi kali ini
aku mengalaminya sendiri, bahwa dia memang telah pergi dan tak terselamatkan
lagi.
Aku
tambah bingung ketika dokter bertanya alamat laki-laki itu, aku hanya
menggeleng dan menangis. Syukurlah ternyata ada salah satu karyawan rumah sakit
yang tahu tentang laki-laki itu. dia menceritakan kepadaku panjang lebar
tentang laki-laki itu, dia hanya tinggal sendirian di kota ini, ayah ibunya
telah meninggal sejak dia kecil, dia awalnya tinggal di Jogja dengan nenek dan
kakeknya, tapi ada kecelakaan di jalan yang akhirnya ikut merenggut nyawa nenek
dan kakeknya. Keputusan pindah kota dia lakukan untuk memperbaiki kehidupannya.
Sampailah dia di Semarang bersama pamannya, tapi karena pamannya memiliki sakit
jantung dia lagi-lagi ditinggalkan. Tinggallah dia sendirian, untuk kesekian
kalinya. Tanpa dia sadari, dia sendiri juga punya penyakit yang serius.
Karyawan itu telah memberitahu kalau dibiarkan maka akan fatal akibatnya. Tapi
dia tetap saja tidak mau berobat dan sampai akhirnya bertemu denganku.
“sore
itu dia langsung datang ke rumahku, dia meminta resep obat untuk penyakitnya,”
kata karyawan itu melanjutkan ceritanya.
“katanya
dia baru saja menemukan sosok keluarga baru yang harus diperjuangkan, dan dia
mau hidup bersama sosok baru itu. aku memberinya resep, tapi aku juga tidak
yakin kalau obat itu akan bekerja maksimal karena waktu berobat yang sudah
sangat-sangat terlambat.”
“apa
tidak ada cara lain waktu itu?! apa tidak bisa dioperasi?” tanyak.
“sebenarnya
bisa, tapi sekali lagi, waktunya terlambat. Penyakit itu berjalan naik sampai
akhirnya masuk ke jantung dan paru-parunya. Ketika kami, seluruh dokter
spesialis di rumah sakit ini mengecek, kami hanya bisa berserah dan terus
memberinya obat yang sama resepnya seperti sebelumnya. Dan hidupnya memang
hanya sampai saat ini, tepat seperti apa yang dia inginkan.”
Aku
menunduk terdiam, aku kehabisan kalimat untuk melanjutkan pembicaraan itu.
“aku
juga sudah mengenal namamu, setiap kali dia berobat dia selalu bercerita
tentangmu. Dan dia juga berpesan agar menyampaikan satu pesan untukmu, bahwa
dia sangat-sangat mencintaimu dan ingin hidup denganmu jika diizinkan. Aku
yakin Tuhan mengizinkan, tapi bukan di sini dan bukan saat ini, siapa tahu
ketika di surga nanti kalian akan bertemu lagi. Selain itu dia juga menitipkan
ini untuk ulang tahunmu besok,”
Kotak
bergambar langit senja, yang berisi foto-foto selama aku dan dia bersama.
Selembar kertas kecil yang bertuliskan selamat
ulang tahun Ine, semoga tambah benar jalannya. Aku hanya tersenyum membaca
ucapan itu, memang selama bersama dia bahkan jauh-jauh sebelum aku bertemu
dengannya aku selalu salah sewaktu berjalan, kadang pohon yang jelas-jelas
kelihatan juga aku tabrak atau batu yang jelas-jelas besar masih saja aku tendang.
Akhirnya,
acara pemakaman itu tiba. Tepat di hari kelahiranku, aku hanya memandanginya
dari luar pemakaman, aku takut menangis lagi di sana. seakan-akan aku melihat
lagi senyumannya di sana, walaupun itu hanya bayangan dan halusinasiku. Dan
sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak akan melupakan dia, tapi aku juga tidak akan terus menyimpan
dia di hatiku, melainkan memberi ruang di otak untuk bisa mengingatnya tanpa
menyimpan semua kenanganya di hati. Hidupku lebih panjang, dan ada yang lebih
baik untuk ku di dunia ini. karena Tuhan selalu begitu, memberikan apa yang
kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.
***
Komentar
Posting Komentar