Langsung ke konten utama

Forget Jakarta #5



Semarang, Februari 2016
Telah lewat 1 bulan dari tahun baru, tapi rasanya sangat-sangatlah masih kemarin kejadian itu terjadi. Dia, seorang laki-laki yang memang aku inginkan kedatangannya, seorang laki-laki yang memang aku impikan untuk menjadi milikku. Tapi ternyata waktu telah merebutnya untuk diberikan kepada Sang Kuasa.
Aku lupa waktu itu, aku hanya ingat bahwa dia berkata, “aku akan ada untukmu, dan aku benar-benar menyayangimu.” Hanya itu yang aku ingat, dan kita sama-sama berpegangan tangan melihat kembang api yang ramai menghiasi langit kota Semarang.

Hanya terhitung detik, 5 detik mungkin, dia langsung terjatuh tak sadarkan diri. Aku mencoba berteriak, tapi suaraku terlalu kecil bila didengar diantara kerumunan banyak orang. Baru sekitar 4-5 kali triakan orang-orang langsung membantuku membawa dia keluar dari kerumanan itu.

Aku kebingungan, aku tidak tahu harus menelpon siapa. Aku tak kenal dengan orang tuanya, bahkan selama kita dekat dia enggan mengenalkanku dengan sosok orang tuanya. Aku tidak kenal dengan teman-temannya, aku mengenal dia karena ketidak sengajaan buku yang jatuh di depan perpustakaan daerah.

Aku hanya duduk menunduk dan menangis, mencoba menghubungi orang lain tapi tanganku telah kaku ketakutan. Rasanya campur aduk, takut salah, takut kehilangan dia, takut semuanya. Sampai akhirnya dokter dan asistennya keluar dengan wajah yang tidak pernah ingin aku lihat. Aku benci adegan ini dalam film, tapi kali ini aku mengalaminya sendiri, bahwa dia memang telah pergi dan tak terselamatkan lagi.

Aku tambah bingung ketika dokter bertanya alamat laki-laki itu, aku hanya menggeleng dan menangis. Syukurlah ternyata ada salah satu karyawan rumah sakit yang tahu tentang laki-laki itu. dia menceritakan kepadaku panjang lebar tentang laki-laki itu, dia hanya tinggal sendirian di kota ini, ayah ibunya telah meninggal sejak dia kecil, dia awalnya tinggal di Jogja dengan nenek dan kakeknya, tapi ada kecelakaan di jalan yang akhirnya ikut merenggut nyawa nenek dan kakeknya. Keputusan pindah kota dia lakukan untuk memperbaiki kehidupannya. Sampailah dia di Semarang bersama pamannya, tapi karena pamannya memiliki sakit jantung dia lagi-lagi ditinggalkan. Tinggallah dia sendirian, untuk kesekian kalinya. Tanpa dia sadari, dia sendiri juga punya penyakit yang serius. Karyawan itu telah memberitahu kalau dibiarkan maka akan fatal akibatnya. Tapi dia tetap saja tidak mau berobat dan sampai akhirnya bertemu denganku.

“sore itu dia langsung datang ke rumahku, dia meminta resep obat untuk penyakitnya,” kata karyawan itu melanjutkan ceritanya.

“katanya dia baru saja menemukan sosok keluarga baru yang harus diperjuangkan, dan dia mau hidup bersama sosok baru itu. aku memberinya resep, tapi aku juga tidak yakin kalau obat itu akan bekerja maksimal karena waktu berobat yang sudah sangat-sangat terlambat.”

“apa tidak ada cara lain waktu itu?! apa tidak bisa dioperasi?” tanyak.

“sebenarnya bisa, tapi sekali lagi, waktunya terlambat. Penyakit itu berjalan naik sampai akhirnya masuk ke jantung dan paru-parunya. Ketika kami, seluruh dokter spesialis di rumah sakit ini mengecek, kami hanya bisa berserah dan terus memberinya obat yang sama resepnya seperti sebelumnya. Dan hidupnya memang hanya sampai saat ini, tepat seperti apa yang dia inginkan.”

Aku menunduk terdiam, aku kehabisan kalimat untuk melanjutkan pembicaraan itu. 

“aku juga sudah mengenal namamu, setiap kali dia berobat dia selalu bercerita tentangmu. Dan dia juga berpesan agar menyampaikan satu pesan untukmu, bahwa dia sangat-sangat mencintaimu dan ingin hidup denganmu jika diizinkan. Aku yakin Tuhan mengizinkan, tapi bukan di sini dan bukan saat ini, siapa tahu ketika di surga nanti kalian akan bertemu lagi. Selain itu dia juga menitipkan ini untuk ulang tahunmu besok,” 

Kotak bergambar langit senja, yang berisi foto-foto selama aku dan dia bersama. Selembar kertas kecil yang bertuliskan selamat ulang tahun Ine, semoga tambah benar jalannya. Aku hanya tersenyum membaca ucapan itu, memang selama bersama dia bahkan jauh-jauh sebelum aku bertemu dengannya aku selalu salah sewaktu berjalan, kadang pohon yang jelas-jelas kelihatan juga aku tabrak atau batu yang jelas-jelas besar masih saja aku tendang.

Akhirnya, acara pemakaman itu tiba. Tepat di hari kelahiranku, aku hanya memandanginya dari luar pemakaman, aku takut menangis lagi di sana. seakan-akan aku melihat lagi senyumannya di sana, walaupun itu hanya bayangan dan halusinasiku. Dan sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak akan melupakan dia, tapi aku juga tidak akan terus menyimpan dia di hatiku, melainkan memberi ruang di otak untuk bisa mengingatnya tanpa menyimpan semua kenanganya di hati. Hidupku lebih panjang, dan ada yang lebih baik untuk ku di dunia ini. karena Tuhan selalu begitu, memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...