Langsung ke konten utama

Forget Jakarta #6



Di perjalanan, 23 Februari 2016
“pesanku hanya satu,” kataku lalu menatap mata indah perempuan di sampingku. “kalau bisa jaga terus perasanmu dan tunggu aku 1 tahun lagi.” Lanjutku.

Perempuan itu hanya tersenyum dan mengedipkan matanya perlahan mengiyakan. Aku mulai berpamitan dengan remaja-remaja lainnya melalui pidato santai yang singkat itu. 

10 hari aku di kota itu, rasanya ingin tetap di sana, tapi aku masih memiliki tugas di sini baru akan selesai sekitar 1 tahun lagi. Mas Malik yang mengantarkanku untuk sampai ke stasiun dan benar-benar pulang. Perempuan itu hanya memberiku sepucuk surat, yang kira-kira isinya seperti ini :

Semoga selamat sampai tujuan, aman, lancar dan barokah.
Allah selalu melindungimu dan malaikat-malaikat akan mengawalmu wahai laki-laki pemberani.
Semoga ilmu yang kau bagikan dan ilmu yang kau serap bisa bermanfaat.
Terimakasih karena kau mau menerimaku dengan kekuranganku ini. Sekian Larasati.

aku membacanya berulang kali, tak henti-hentinya pula aku tersenyum dan memeluk surat itu. larasati namanya, perempuan yang masih sama wajahnya, menyenangkan. Wajah yang menenangkan jiwa yang marah dan membuat orang lain untuk ikut tersenyum bersamanya.

Tapi kekurangannya yang selalu membuatnya merasa tidak pantas. Selalu saja dia menolak laki-laki yang meminangnya. Dan banyak pula laki-laki yang putus asa atas penolakannya. Berbeda denganku, berulang kali aku mengatakan bahwa aku serius dan berulang kali pula dia menolakku.

Baru, tepat hari terakhirku tinggal di kota itu, dia mau menerimaku dan bersedia menungguku. Memang aku belum pernah mendengar suaranya. Padahal banyak orang yang bilang kalau suaranya sangatlah indah, apalagi ketika melantunkan ayat suci dari Allah. Keteguhan imannya dan cara dia berpakaian membuat semuanya terpikat. 

Kecelakaan itu yang membuat suara Laras hilang. Sejak itulah dia merasa tidak pantas untuk dimiliki apalagi memiliki seorang laki-laki.

Memang terkadang hidup sangat terasa tidak adil, tapi dari situlah kita bisa mlihat hal yang lebih indah di akhirnya. Semoga saja aku memang pantas untuk Lasrasati yang menurutku tanpa kekurangan itu.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...