Di
tempat yang sama, Maret 2016
Perayaan
tahun baru 2 bulan yang lalu, projek lagu perdanaku selesai digarap. Acara
rekaman dan semacamnya juga telah selesai. sampai akhirnya aku memutuskan untuk
pergi dari tempat penginspirasi itu. aku merasa inspirator ku menghilang
bersama keluarnya lagu baruku di web pribadiku. Berjalan bergitu saja, tanpa
sepengetahuanku.
Ingin
sekali aku mencari inspiratorku, tapi aku takut apabila kesalahan sewaktu tahun
baru itu terulang lagi. Kesalahan yang menurutku membuatku menyesal dan tak
pernah mau mengenal manusia itu lagi. Tapi rayuannya yang akhirnya menuntunku
kembali mengenalnya walaupun akhirnya aku kembali kehilangan.
Aku
meninggalkan kota itu, kota yang katanya penuh dengan keindahan tapi apa yang
aku lihat, sebuah kematian rasanya. Aku melanju menuju kota Semarang, dan
akhirnya menemukan inspiratorku. Tepat di hari petama aku menyanyikan lagu
karanganku, dia bertepuk tangan dan benar-bnar menikmati musikku.
Kami
dekat, kami mengenal dan kami berpacaran. 1 bulan aku di Semarang, dan setiap
kali aku bersamanya aku menemukan isnpirasi baru untuk menjadi projek baruku.
Tapi lagi-lagi dia mengecewakanku, menghilang begitu saja tanpa memberi kabar.
Berulang kali aku menghubunginya tapi suara operator yang menjawab mengatakan
bahwa nomor sedang diluar jangkauan.
Tapi,
aku selalu memberikan jadwal tandangku ke dia. siapa tahu dia akan datang dan
mendengar lagu baruku di cafe music. Aku juga berpamitan ketika ingin pergi,
sampai akhirnya jadwal kunjungku yang terakhir di Semarang. Dia membalas
pesanku dengan 2 buah kata, singkat tapi menyakitkan. Kita Putus.
Tanpa
disuruh, tanganku melakukan seperti koordinasi dalam otaku, menghapus pesan,
panggilan dan nomornya. Aku membatalkan jadwal tandang terakhir dan langsung
bertolak kembali ke tempat sebelumnya. Tanpa mencari dia dan meminta keterangan
lanjutnya, aku tidak menangis, aku juga tidak mengeluh bahkan sama sekali tidak
merasa sedih.
Aku hanya tidak mau
menangis seseorang yang belum tentu menyesali perbuatannya, aku juga tidak akan
mengulangi kesalahan yang sama, mencarinya dan membiarkan dia kembali masuk dan
kembali merusak tatanan hatiku. Aku akan melanjutkan kehidupanku walaupun
kembali ke tempat yang sama.
***
Komentar
Posting Komentar