Langsung ke konten utama

Asal muasal NRM

Ibarat siaran, ini live hahaha

Jadi kali ini gue bakalan menceritakan asal muasal blog ini.
Seperti yang kalian ketahui, gue membuat blog ini kurang lebih pas SMA. Nah zaman-zaman itu tuh gue lagi pengen-pengennya punya akun media sosial tapi malu kalau nanti ketemu sama abang-abang gue yang kebetulan juga pake sosial media itu. Sampai akhirnya gue membuat fake name yaitu Naila Rachelia yang akhirnya malah menyebar sampai ke blog juga.

Sebenernya gue juga ada blog dengan real name cuma udah lama banget nggak aktif dan gue rasa gue udah terlanjur nyaman sama blog ini. Waktu itu gue juga pakai twitter dengan nama itu dan followers-nya lumayan sih, tapi sampai sekarang juga masih belum nyape 100 (poor naila). Mungkin karena gue juga nggak terlalu aktif di media sosial dan berinteraksi dengan pengguna lain selain itu terlalu banyak artis yang gue follow dan tentu saja mereka nggak akan follow back gue.

Kebiasaan menggunakan nama Naila itu akhirnya membuat gue bosan juga dan akhirnya gue melupakan nama itu beserta akun media sosial, email, blog, cukup lama. Seperti yang dilihat dipostingan terakhir yaitu Februari 2017. Gue akhirnya memberanikan diri muncul dengan nama asli gue, dan berinteraksi bebas dengan temen-temen gue yang lain.

Nah, sampai akhirnya gue mulai mempunyai ide untuk membagikan gambar dengan kutipan kata-kata gitu, bisa dicek di halaman Koleksi. Waktu itu gue post di akun Instagram gue yang asli dengan credit name NRM.

NRM itu apa? Itu bukan nama bus yang kerap lewat rumah gue bukan. Bukan juga nama rumah makan, melainkan singkatan dari Ny. Rap Monster. Maklumilah, gue mengidolakan seorang leader BTS itu jadi kecintaan dengan dia gue abadikan dengan membentuk singkatan tersebut yang akhirnya gue jadikan credit name buat gambar-gambar yang gue edit dan post di instagram. Adapun apabila ada tag lain seperti BTS, Vante, Vectorstock atau yang lain itu adalah asal muasal gambar yang gue unduh.

Awalnya gue juga nggak kepikiran terus mau balik ke blog ini lagi. Tapi waktu itu nggak tahu ada hidayah macam apa merasuki gue dan akhirnya membuat gue kembali membuka blog ini.

Ibarat zaman, ini adalah masa penataan kembali, di mana gue memperbaiki konten yang gue share mulai membuat jadwal dan memutuskan untuk konsisten dalam hal memposting tulisan. Ini semacam seperti pekerjaan-hobi dan meraih kepuasan untuk diri gue sendiri yang mungkin penat sama pekerjaan gue sendiri.

Mungkin cara penyampaian gue ketika bercerita juga bakalan beda sama yang dulu, kalau dulu mungkin lebih leluasa/asal dan alay, tapi di zaman penataan ini mungkin postingan bercerita seperti ini nggak akan sebanyak dulu dan lebih biasa aja.

Jujur aja, ketika gue kembali membaca postingan gue yang lama, dari pertama kali gue menerbitkan sebuah tulisan di blog ini gue heran kenapa bisa "gue" diusia SMA itu begitu alay dan menemukan kata-kata yang menurut gue nggak kebayang diotak gue sekarang. Mungkin dulu pengaruh micin juga bisa sih atau karena saking tergila-gila sama Raditya Dika jadinya omongannya nggak jauh beda sama dia. Tapi itu bagus, gue cukup salut sama gaya omong gue dulu di blog.

Soal penayangan sekarang, jujur aja gue nggak tahu apakah ada manusia yang membaca postingan gue yang kurang lebih 80-an ini. Karena gue sendiri nggak pasang iklan di mesin pencarian karena itu bayar, sedangkan gue males kalau berurusan dengan bayar membayar. Gue hanya melakukan promosi blog di akun twitter yang sudah gue bilang hanya ada 82 orang follower dan itu gue juga nggak kenal semua. Tapi itu nggak papa, gue akan berusaha promot lagi di Facebook Naila, siapa tahu bakalan ada yang datang atau ada manusia yang kesasar ke sini dan pada akhirnya tertarik.

Nah, diakhir kata. Pertama gue meminta maaf atas menggunakan fake name ini untuk keperluan blog dan media sosial dan yang kedua kalaupun ada manusia yang membaca postingan gue ini, bahkan mungkin menyempatkan meng-klik tautan yang gue share (mungkin) gue ucapkan terima kasih.

Untuk real name, bisa dilihat di halaman about, di sana gue tambahkan akun sosial media gue yang asli dan name gue yang asli. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...