Roda kehidupan, bermain, belajar, bekerja. Apa
aku salah? Coba kita lihat!
Semuanya pasti melewati masa kecil yang penuh
dengan mainan, penuh dengan pujian, penuh dengan sikap dimanjakan.
Kemudian setelah kita beranjak 7 tahun
(sekolah dasar) kita mulai belajar, belajar tentang diri kita sendiri, tentang
keluarga kita, kemudian mulai mengenal sekitar kita hingga seluas dunia.
Usia 13 tahun (sekolah menengah pertama), kita
melanjutkan belajar. Masih dengan materi yang sama hanya saja akan bertambah
luas jangkauannya. Selain itu tugas dan soal yang semakin hari semakin menumpuk
dan terasa rumit. Tidak cukup itu gangguan malas yang semakin lama semakin
kuat, gangguan lawan jenis yang mulai merasuki pikiran dan hati kita. Seperti
berdebar saat saling menatap atau sekedar berpapasan, bayangan yang tiba-tiba
saja melintas dalam lamunan saat diam. Itu sebuah perasaan cinta, katanya.
Usia 16 tahun (sekolah menengah akhir),
semakin berat. Tentu saja kita belajar (lagi). Karena hidup itu ilmu (terus
belajar). Satu lembar kertas HVS yang hanya sepertinya tidak bernilai. Formulir
masa depan yang menanti di ruang Bimbingan. Data diri, impian, cita-cita. usia
menata hidup kita dengan tangan kita sendiri. Satu persatu pilihan bermunculan
dan membuat kita semakin marah kepada diri kita sendiri, kenapa tidak mudah
dalam menentukan pilihan. Apa aku salah?
Usia 18 tahun, usia matang. Usia di mana kita
mendapatkan dua pilihan yang pasti. Bekerja atau kembali bersekolah. Aku rasa
tidak ada yang mudah dari keduanya. Tidak hanya itu, semua yang kita hadapi
tidak akan mulus begitu saja bukan?! Bahkan mati sekalipun. Apa aku salah?
Bekerja, kita juga harus berpikir, kembali
belajar apabila itu menjadi hal baru. Merelakan waktu pagi hingga lupa sarapan.
Kemudian melakukan apa yang telah menjadi kewajiban kita, bertanggung jawab.
Dan menyisakan tenaga ketika sore hari untuk pulang. Belum lagi jika ada
kerjaan yang mendesak, kita harus kembali merelakan waktu malam kita untuk
begadang hingga kembali waktu pagi.
Kembali bersekolah, kembali mengeluarkan
banyak uang. Menjangkau jarak yang semakin jauh bahkan hingga berpisah kota
atau pulau. Makan mulai tidak teratur dan asal-asalan. Terus menerus berpikir
dan terus menerus mengerjakan tugas.
Benar apa yang dibilang, pena (apa yang
kita lakukan; bekerja/sekolah) adalah pedang dan tubuh adalah pistol. Karena
dengan keduanya kita benar-benar bisa hidup dengan baik walaupun semakin banyak
penghalangnya.
Huuh...bagian yang sulit (paragraf sebelumnya;
sulit di mengerti)
Dan ketika kita mulai menyerah, pena itu tidak
akan bekerja, tentu saja dengan pistol seakan kehabisan isiannya. Saat itulah
kita tumbang, namun tidak untuk orang yang masih memiliki hati yang hidup.
“Bangunlah!!!” berontak sang hati.
“Waktumu berjalan terus, percuma saja kau diam
karena menyerah atas penghalang. Karena masalahmu, tugasmu, pekerjaanmu tidak
akan berhenti begitu saja. Justru akan semakin banyak dan semakin
memberatkanmu. Maka ingatlah! Tidak ada yang susah jika kau mau dan memiliki
niat. Semua akan berjalan dengan baik jika kau senang.”
Akan ku hidupkan hidupku, akan ku raih harga
diriku, akan ku pancarkan cahayaku. Bangun!!!
Dan perjalanan itu akan semakin menarik dan
indah jika kita menerima dan berdamai. Sekali lagi, Apa aku salah?
-NRM-
Oke, "Bangun!!!" gue nggak tahu harus menyebut ini cerita pendek atau apa.
Tulisan ini terinspirasi dari lagu BTS (lagi) yang berjudul Wake Up album Jepang. Sebenernya niat hati juga pengen buat cerita tapi akhirnya malah lebih kayak ngasih pendapat tentang "sesuatu hal" dari sudut pandang gue
Tulisan ini gue buat tanggal 23 Agustus 2018 dan ini juga pernah gue share di personal chat sama beberapa temen gue yang waktu itu gue paksa buat ngebaca karya recehan dari gue.
Tidak pernah bosan untuk mengucapkan terima kasih dan sangat-sangat diperlukan kritik dan saran yang membangun untuk ditinggalkan baik di kolom komentar maupun via email di nailaracheliard@gmail.com, atau lewat twitter.
Komentar
Posting Komentar