Masih terbayang sesekali, tapi aku berusaha menepisnya
agar tidak lagi jatuh dalam cinta sepertimu karena itu sudah cukup menyakitkan.
***
Deretan foto terpajang di dalam ruangan
berukuran 3 x 4 meter. Ruang itu semakin terasa sesak setelah ia memasang
bingkai besar di salah satu sisi dinding ruangan tersebut.
Senyumnya terkembang memperlihatkan deretan
gigi putih miliknya ketika melihat hasil jepretannya terpajang di ruangan
tersebut. Ia adalah Kayla, yang kemudian mulai mengamati satu persatu foto-foto
dalam ruangan tersebut. Kembali mengingat kenangan-kenangan saat ia mengambil
foto itu. Langkahnya berhenti disebut foto bersama teman-teman SMA-nya.
Dengan ragu ia mengambil foto tersebut
kemudian meneliti setiap wajah dalam foto itu. Dia menunjuk satu persatu wajah
dalam foto tersebut, sambil membatin nama pemilik wajah itu. Sampai berakhir
pada wajah seorang laki-laki dalam foto tersebut.
“Razan,” ucapnya lirih.
Kayla menampakkan senyum tipisnya seolah-olah ada
layar dihadapannya yang kembali memutar kenangan bersama laki-laki tersebut.
Namun itu tak bertahan lama, senyum tersebut segera memudar ketika Kayla mengingat bajwa Razan akan menikah tahun ini.
Kayla mendongak, menahan air matanya yang hampir saja keluar. Dengan perlahan dia mengembalikan foto tersebut dan berjalan keluar dari ruangan itu.
***
Tidak ada seseorangpun yang benar-benar mampu menghapus kenangan tentang masa lalunya. Kebanyakan dari mereka pada akhirnya berserah dan berdoa agar segera dihilangkan perasaan lamanya dan meminta benih baru untuk masa depannya.
Komentar
Posting Komentar