Langsung ke konten utama

Cukup Tahu

Masih terbayang sesekali, tapi aku berusaha menepisnya agar tidak lagi jatuh dalam cinta sepertimu karena itu sudah cukup menyakitkan.

***

Deretan foto terpajang di dalam ruangan berukuran 3 x 4 meter. Ruang itu semakin terasa sesak setelah ia memasang bingkai besar di salah satu sisi dinding ruangan tersebut.

Senyumnya terkembang memperlihatkan deretan gigi putih miliknya ketika melihat hasil jepretannya terpajang di ruangan tersebut. Ia adalah Kayla, yang kemudian mulai mengamati satu persatu foto-foto dalam ruangan tersebut. Kembali mengingat kenangan-kenangan saat ia mengambil foto itu. Langkahnya berhenti disebut foto bersama teman-teman SMA-nya.

Dengan ragu ia mengambil foto tersebut kemudian meneliti setiap wajah dalam foto itu. Dia menunjuk satu persatu wajah dalam foto tersebut, sambil membatin nama pemilik wajah itu. Sampai berakhir pada wajah seorang laki-laki dalam foto tersebut.

“Razan,” ucapnya lirih.

Kayla menampakkan senyum tipisnya seolah-olah ada layar dihadapannya yang kembali memutar kenangan bersama laki-laki tersebut. Namun itu tak bertahan lama, senyum tersebut segera memudar ketika Kayla mengingat bajwa Razan akan menikah tahun ini.

Kayla mendongak, menahan air matanya yang hampir saja keluar. Dengan perlahan dia mengembalikan foto tersebut dan berjalan keluar dari ruangan itu.

***

Tidak ada seseorangpun yang benar-benar mampu menghapus kenangan tentang masa lalunya. Kebanyakan dari mereka pada akhirnya berserah dan berdoa agar segera dihilangkan perasaan lamanya dan meminta benih baru untuk masa depannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...