Sebelum gue memberikan cerita pendek hari ini, gue akan menceritakan sedikit dibalik layar pembuat cerita-cerita pendek yang mungkin beberapa hari kedepan gue post di sini.
Jadi, inspirasi membuat cerita pendek ini berawal dari lagu-lagu yang menarik bagi gue. Kebanyakan ceirta yang udah selesai gue buat itu terinspirasi dari lagu BTS, karena gue sendiri suka sama lagu-lagu mereka dan orangnya, hahaha.
Untuk hari ini gue memberikan cerita pendek yang berjudul "Just One Day" dari BTS juga dan ini murni gue buat sendiri tahun kemarin, 18 Agustus 2017 (itu tertulis di dokumen komputer gue). Langsung saja, ini dia semoga sedikit menghibur dan sangat-sangat mengharap kritik dan saran agar ilmu menulis gue juga bertambah.
Jadi, inspirasi membuat cerita pendek ini berawal dari lagu-lagu yang menarik bagi gue. Kebanyakan ceirta yang udah selesai gue buat itu terinspirasi dari lagu BTS, karena gue sendiri suka sama lagu-lagu mereka dan orangnya, hahaha.
Untuk hari ini gue memberikan cerita pendek yang berjudul "Just One Day" dari BTS juga dan ini murni gue buat sendiri tahun kemarin, 18 Agustus 2017 (itu tertulis di dokumen komputer gue). Langsung saja, ini dia semoga sedikit menghibur dan sangat-sangat mengharap kritik dan saran agar ilmu menulis gue juga bertambah.
Just One Day
Semuanya berawal dari tugas kelompok yang membuat kami akhirnya saling dekat. Secara tiba-tiba dia memberikanku sekotak susu cokelat yang dia lemparkan secara kasar ke arahku. Aku sempat kesal dengan sikapnya, bukannya membantu malah meninggalkanku dan hanya menggantinya dengan sekotak susu. Tapi setelah aku perhatikan dengan baik ada sebuah kertas di salah satu sisinya.
Semuanya berawal dari tugas kelompok yang membuat kami akhirnya saling dekat. Secara tiba-tiba dia memberikanku sekotak susu cokelat yang dia lemparkan secara kasar ke arahku. Aku sempat kesal dengan sikapnya, bukannya membantu malah meninggalkanku dan hanya menggantinya dengan sekotak susu. Tapi setelah aku perhatikan dengan baik ada sebuah kertas di salah satu sisinya.
Hari ini aku sibuk, jadi mohon bantuannya
untuk mengerjakan tugas itu untukku juga.
Entah kenapa, tapi urat disekitar bibirku
secara reflek tertarik dan membentuk sebuah senyuman. Mataku juga akhirnya
memandangi arah dia pergi dan kembali menatap susu kotak pemberiannya.
Di hari berikunya, dengan sengaja aku
meletakkan sekaleng soda yang sering dia minum. Tidak lupa dengan sebuah
tulisan “Semua sudah ku kerjakan dengan baik, lakukan sesuatu untuk ucapan
terima kasihmu!!!” berharap dia akan mengajakku makan siang atau sekedar
pulang bersama.
Sambil menunggu kedatangannya aku menyibukkan
diri dengan mengobrol bersama teman yang lain. Sesekali aku melirik memastikan
apakah dia sudah datang. Sampai akhirnya bel masuk berbunyi namun belum
terlihat sama sekali batang hidungnya.
Terlambat lagi, pikirku. Baru saja 15 menit
pelajaran dimulai, dia membuka pintu dengan kasar sambil terengah-engah karena
lari dari lantai bawah menuju kelas kami yang ada di lantai 3. Aku tergelitik
melihat ekspresi wajahnya begitu juga teman-teman yang lain.
Untung saja, guru mata pelajaran pertama saat
itu murah hati. Dia diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran tanpa hukuman.
Ketika dia sampai di mejanya dan melihat kaleng soda itu dia melirik ke arahku
tepat saat aku juga melihat ke arahnya.
Aku hanya bisa tersenyum dan kembali
memperhatikan pelajaran. Aku melihat sekilas senyumannya dan itu membuatku
semakin ingin dekat dengannya.
Waktu berjalan seperti biasa sampai akhirnya
jam pulang sekolah. Kebetulan saat itu aku hanya jalan kaki dan tak disangka
aku melihat dia berdiri di depan gerbang dengan sepeda miliknya. Jujur saja aku
berharap dia menungguku dan mengajakku pulang bersama atau setidaknya
mengajakku makan atau berjalan-jalan.
Baru saja aku bersemangat melangkah
mendekatinya namun langkahku langsung terhenti ketika ada seorang perempuan
yang lebih dulu mendekatinya. Aku menelan ludah secara kasar dan terus
mengawasi mereka berdua. Terlihat perempuan itu tersenyum sangat bahagia dan
sesekali membenahi anak rambutnya yang berusaha menutupi wajahnya. Begitu juga
wajahnya yang tidak berhenti tersenyum dan berbicara entah membicarakan apa.
Karena merasa kesal, aku langsung berjalan
secara cepat melewati mereka tanpa melihat bahkan menegur salah satu dari
mereka.
“Oh...Rina!” seru laki-laki itu memanggilku. Secara
mendadak pula aku berhenti dan tersenyum penuh kemenangan.
Aku menoleh ke arahnya dengan wajah yang
sengaja aku buat datar.
“Terima kasih atas sodanya, kau tidak perlu
repot-repot lagi. Ini ucapan terima kasihku jadi kita impas.” Ucapnya sambil melambaikan tangan.
Apa?!! Aku sungguh tidak salah dengar. Dia
mengatakan hal tersebut dan langsung memberi instruksi kepada perempuan yang
sedari tadi bersamanya untuk pulang.
Dengan manisnya perempuan itu tersenyum
kepadaku dan membungkukkan badannya ke arahku. Aku membalasnya dengan terpaksa
dan kembali berjalan.
Sesampainya di rumah, aku masih memikirkan
kalimatnya. Bahkan mengutuk diriku sendiri kenapa harus mengharapkan hal lebih dari
orang seperti dia. Dan setelah aku pikir-pikir sepertinya aku memang tidak
layak berharap lebih dengannya. Aku memutuskan untuk bersikap seperti sebelum
kami mendapatkan tugas satu kelompok, hanya diam, tidak tegur sapa atau
berbicara dengannya. Namun satu hal yang tidak bisa aku tinggalkan yaitu
meminum susu kotak yang pernah dia berikan kepadaku.
Pernah suatu hari aku meminum susu kotak itu
sampai tidak sadar bahwa susu itu sudah habis. Tiba-tiba saja dia kembali
melempar susu kotak ke arahku dengan kasar. Lagi-lagi hal itu mengganggu
pikiranku. Hampir saja aku kembali terjatuh karena ulahnya.
Atau ketika ada seseorang yang juga
memberikanku minuman namun aku tidak menyukai minuman tersebut tapi aku tetap
menerimanya karena tidak enak dengan orang itu. Tiba-tiba saja dia mengambil
minumannya dan menggantinya dengan susu kotak yang sama seperti yang dia
berikan kepadaku sebelumnya.
“Hanya satu hari, jika aku bisa bersamamu.
Hanya satu hari, jika aku bisa memegang tanganmu. Hanya satu hari, jika aku
bisa bersamamu, Just One Day.” Aku bersenandung ketika perjalanan menuju kelas dengan
membayangkan segala kejadian yang berkaitan dengannya hari itu. Hanya sekedar
bersenandung sekaligus mencurahkan segala perasaanku yang cukup mengganggu
belakangan ini.
Ketika aku memasuki kelas aku kembali melihat
susu kotak di atas mejaku.
Datanglah ke atap sepulang sekolah nanti.
Aku mencari keberadaannya di dalam kelas,
apakah ini darinya atau ada seseorang yang juga memberikanku susu kotak yang
sama.
Aku tidak tertarik untuk mendatangi ajakan itu
namun hatiku terus saja memaksa untuk datang walaupun sekedar mengintip untuk
mengetahui siapa pengirimnya.
Dan sampailah aku dipintu atap, terik matahari
yang sangat menyengat membuatku semakin malas untuk keluar. Namun mataku menemukan
sesuatu yang menarik dan membawaku lebih dekat dengan tempat itu.
Sebuah tenda yang didalamnya ada 2 buah kursi
dan satu meja lengkap dengan snack dan minuman. Ada susu kotak kesukaanku dan
sekaleng soda yang biasa dia minum.
“Ah...kau sudah datang. Ikutlah!” ajaknya yang muncul dari pintu masuk ke atap.
Aku berjalan mengikuti langkahnya tanpa
berhenti menahan senyum.
“Minumlah, di sini udaranya sangat panas. Dan
ini...” sambil memberikan kotak susu “Bawalah pulang dan minumlah jika kau
mau.” Lanjutnya yang kemudian meminum soda miliknya.
“Ada apa memangnya?” tanyaku tak tahan ingin mendengar alasan dia
mengajakku ke atap dan hanya berdua.
Dia hanya diam dan hanya melirikku. Namun
setelah dia selesai meminum sodanya, dia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya
kemudian ia berikan kepadaku sekaligus memberikan isyarat untuk membacanya.
Aku menerima buku tersebut dan perlahan
membukanya.
Suatu Hari...
Aku melihatmu dengan susah payah mengambil
buku yang berserakan dan sekotak susu yang sudah tumpah kemana-mana.
Itu yang tertulis di halaman pertama. Aku
ingat kejadian itu, sewaktu aku mendapat tugas untuk mengambil buku pelajaran
dari perpustakaan. Saat itu aku juga dari kantin membeli susu kotak. Namun ada
siswa yang tidak sengaja menabrakku dan membuat semua bukunya berserakan dan
susu kotakku tumpah.
Aku kembali membuka halaman selanjutnya.
Suatu hari...
Aku melihatmu menangis disalah satu sudut
gelap lorong menuju kelas. Tidak ada siapa-siapa selain kau dan sebuah ponsel
yang masih menyala, yang tergeletak sembarangan.
Saat itu orang yang aku anggap berharga
tiba-tiba menelpon dan memintaku untuk tidak menghubunginya lagi. Aku melirik
ke arahnya yang hanya diam menatap lurus.
Aku membuka halaman selanjutnya.
Suatu hari...
Aku melihatmu tertawa bersama teman-temanmu.
Padahal itu baru selang 1 hari setelah aku melihatmu menangis. Apakah perempuan
seperti itu?
Aku juga melihatmu bermain basket sepulang
sekolah dan bermain kejar-kejaran dengan temanmu yang lain. Apakah itu yang
membuatmu lupa tentang persoalanmu?
Sampai akhirnya aku mendengar bahwa kita satu
kelompok untuk mengerjakan tugas Fisika.
Aku sangat ingin mengerjakannya, sangat ingin.
Tapi aku tidak bisa karena terlalu canggung bagiku untuk mengerjakan tugas itu
denganmu. Dan aku memilih memberimu sekotak susu dan meninggalkanmu pulang.
Apa kau sudah tahu sekarang?
Aku kembali menatapnya yang kini juga
menatapku. Aku mengusap tengkukku dan kembali membuka halaman selanjutnya.
Kosong. Sama sekali tidak ada tulisan di
halaman tersebut.
“Apa kau masih belum tahu?” tanyanya kemudian.
Aku menggeleng pelan dan tersenyum malu.
“Bukalah halaman paling belakang!” perintahnya. Kemudian beranjak menjauh dari
tenda tempat kami duduk.
Aku langsung membuka halaman tersebut.
Hampir setiap hari aku memperhatikanmu
Apa kau tahu?
Tapi aku bukan tipe orang yang bisa berterus
terang tentang perasaan
Aku hanya bisa mengungkapkannya dengan sebuah
hal kecil
Seperti memberimu sekotak susu setiap hari
Menjagamu walaupun tidak kau ketahui
Sampai akhirnya aku menemukan keberanian untuk
bertemu denganmu seperti ini
Apa kau masih belum paham?
Aku tersenyum setelah membaca tulisan itu. Dia
menoleh ke arahku dengan menyipitkan matanya yang merasa silau terkena terik
matahari.
Aku menggeleng, agar dia mau mengatakannya
secara langsung.
“Apa kau sebodoh itu?” teriaknya kemudian menghela napas kasar.
“Aku mendengar kau bernyanyi di lorong. Hanya
satu hari, jika aku bisa bersamamu.” Katanya sambil menirukan caraku bernyanyi.
Aku tersenyum karena sungguh suaranya tidak
cocok menyanyikan lagu itu.
“Lagu itu sepertinya juga menggambarkan
perasaanku. Jadi....apakah kau bisa menghabiskan sisa hari ini bersamaku? Walaupun itu tidak penuh satu hari.”
“Ahh...sepertinya akulah yang bodoh karena
mengajak perempuan berkencan secara tidak baik.” Katanya meruntuki dirinya sendiri.
Dia pun langsung berjalan menuju tenda untuk
mengambil tasnya.
“Ayo kita pulang!” serunya sambil mendahuluiku.
“Apa kau tidak mau merubah caramu setelah kau
tahu itu tidak benar?” tanyaku yang akhirnya membuat dia berhenti.
“Aku akan pulang bersama, jika kau mengajakku
dengan cara lebih baik.” Tambahku.
Dia menoleh ke arahku dan kembali menghela
napas.
“Mari, kita pulang bersama.” Ucapnya dengan sangat manis.
Aku menahan tawa dan langsung berlari untuk
menyamakan langkahnya.
Apa ini satu hari yang Tuhan berikan. Kami
yang memutuskan untuk berjalan-jalan dan bermain di taman bermain serta pergi
ke sebuah sungai yang dipenuhi dengan pasangan-pasangan muda sedang
menghabiskan waktu. Sungai itu memiliki cerita bahwa barang siapa yang datang
ke sungai tersebut bersama pasangannya maka hubungan mereka akan berjalan
dengan baik.
Kami benar-benar menghabiskan waktu berdua.
Bahkan tanpa sadar kami banyak bertukar cerita dan sama sekali tidak ada
kecanggungan sampai ketika kami akan berpisah pulang.
“Apa yang biasanya diucapkan seorang laki-laki
ketika mengantarkan teman perempuannya pulang?” tanyanya dengan polos.
“Menyuruh perempuan itu untuk masuk terlebih
dahulu dan melambaikan tangan mengucapkan sampai ketemu besok.” Jawabku.
“Baiklah, seperti itulah yang ingin aku katakan.” Katanya sambil menggaruk kepalanya.
“Apa kau benar laki-laki?” kataku sambil tertawa.
Tiba-tiba dia memegang kepalaku. Perlahan dia
mengusap rambutku dan berkata, “Diamlah, tawamu membuat daun berjatuhan.”
Sambil mengambil daun yang memang jatuh di atas kepalaku dan menunjukkannya
kepadaku.
“Aku akan pulang, kau...masuklah.” katanya kemudian dan berjalan lebih dulu.
“Aku akan menunggumu sampai belokan depan.
Hati-hati....sampai ketemu besok!!!” seruku sambil melambaikan tangan sampai akhirnya dia
sampai di belokan dan tidak terlihat lagi.
Sungguh satu hari yang tidak pernah aku
bayangkan sebelumnya. Hari yang benar-benar membuatku yakin bahwa kami memang
akan bersama dan lebih dekat. Hari yang menjadi awal dari semuanya. Hari yang
tidak akan aku lupakan dan terus aku ingat.
-NRM-
Itu dia ceritanya, mohon maaf apabila ada typo-typo yang masih berceceran di sana dan sekali lagi semoga cerita pendek yang gue bagikan di sini bisa menghibur dan tidak menolak apabila ada yang memberikan kritik dan saran yang tentu saja membangun bukan kritikan hina, hahaha.
Komentar
Posting Komentar