Langsung ke konten utama

Only You

Saat itu aku sedang asyik memainkan gitar di dean kelasku. Kebetulan hari ini jam kosong dan tidak ada tugas dari guru mata pelajaran. Salah satu temanku ikut bergabung dan bernyanyi mengikuti lagu yang aku mainkan. Sampai akhirnya padanganku teralih oleh perempuan yang melewati kami. Petikan gitarku menjadi sembarangan dan akhirnya aku mendapat pukulan dari temanku.

Sepertinya siswa baru, batinku. Mataku tak berhenti mengekori langkahnya sampai dia benar-benar menghilang di belokan arah ruang kepala sekolah. Sudah dipastikan dia pasti siswa baru di sekolah ini.

Hari berikutnya, aku kembali duduk di depan kelas sambil bermain gitar dan masih memainkan lagu yang sama seperti kemarin. Pagi ini kelasku sudah diributkan oleh kabar bahwa guru-guru akan mengadakan rapat dan kelas kami akan kosong lagi. Sungguh sebuah anugerah paling indah bagi kami pelajar yang sudah mulai malas belajar.

“Permisi, apa kau tahu kelas 2-3?”

Aku menoleh untuk melihat siapa yang bertanya. Perempuan itu, tidak salah lagi kalau itu adalah perempuan yang lewat di depanku dan membuatku menjadi gagal fokus. Sungguh suaranya sangat lembut dan dia terlihat lebih cantik apabila dilihat dari dekat. Aku langsung meletakkan gitarku dan berdiri sambil merapikan bajuku.

Aku langsung mengulurkan tangan mengajak bersalaman, “Perkenalkan aku Ryan. Kita akan menjadi teman satu kelas dan kelasmu ada di sini.” Kataku sambil menunggu sambutan tangannya.
Dengan ragu perempuan itu menyambut uluran tanganku, “Aku...Ryn. senang bisa berkenalan dengamu.” Katanya dan langsung masuk ke kelas.

“Kau sungguh bodoh dalam mendekati perempuan,” kata temanku diakhiri dengan menggenjreng gitarku.

“Aku yakin, perempuan itu berpikiran kau adalah temannya yang paling aneh di kelas ini.” Tambahnya yang kemudian membawa gitarku masuk ke kelas.

Yah....aku tersadar, harusnya aku hanya perlu menjawab pertanyaannya. Ahh....sepertinya perempuan itu berhasil membuatku bodoh dan salah tingkah.

Aku masuk ke kelas dan tak disangka dia duduk ditempat yang sangat terlihat olehku. Sebuah pemandangan yang menyenangkan bisa memandangi wajahnya dengan leluasa. Dia mulai berkenalan dengan teman-teman yang lain. Sungguh sangat sempurna perempuan itu, senyumnya, rambutnya, jari-jarinya yang panjang, ahhh tidak lupa telapaknya yang halus.

Tanpa sadar aku menggambar sketsa wajahnya. Wah....apakah ini rasanya jatuh cinta. Aku yang jarang menggambar tiba-tiba saja menggambar. Berulang kali aku melihat gambaranku dan mencoba menyamakan dengan perempuan itu. Tidak terlalu buruk, sepertinya memang dia penuh dengan aura inspirasi, pikirku.

“Wahhh....gambaranmu bagus juga.” Seru temanku. Secepat mungkin buku tersebut aku sembunyikan namun masih kalah cepat oleh temanku yang sudah mengambil buku tersebut.

“Hei....lihatlah. sepertinya ada yang sedang jatuh cinta di sini.”

Aku langsung berlari mengejarnya sebelum dia melakukan hal-hal usil lainnya. Alhasil kami seperti anak kecil yang bermain kejar-kejaran. Mungkin sudah 10 putaran kami berlari dan itu cukup melelahkan untuk pagi ini.

“Ahh....tunggu sebentar!!” kata temanku sambil memberi isyarat berhenti kepadaku. Kami terengah-engah dan akupun mulai menyerah. “Sepertinya ini kau,” lanjutnya sambil menunjukkan gambar tersebut kepadan Ryn.

Sial!!! Runtukku dalam hati. Tapi ini sudah terlambat karena Ryn sudah melihat buku itu. Aku memanfaatkan situasi saat itu untuk diam-diam keluar dari kelas berniat kabur dan membolos hari ini. Aku belum siap menunjukkan wajahku lagi dan mungkin memang sekarang aku harus bersembunyi.
Aku memutuskan untuk masuk ke ruang musik yang kebetulan kosong. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dia sangat manis untuk dilewatkan dan temanku sangat kurang ajar untuk diberi ampunan.

“Hanya dirimu, aku bertindak aneh dihadapanmu. Kau sangat cantik, cantik, cantik. Tapi mengapa aku begini?”

Hei!! Apa yang aku bicarakan? Apa aku baru saja bernyanyi? Mulailah muncul ide untuk menulis lirik lagu tentang Ryn. Lagi-lagi hal yang sebelumnya tidak aku lakukan tiba-tiba saja ingin aku lakukan. Sungguh, apa aku memang jatuh cinta kepadanya?!

Aku mulai mencari-cari kertas dan pulpen karena sialnya aku juga lupa membawa ponselku. Berjam-jam aku menghasbiskan waktu untuk menyelesaikan lagu itu. Menahan lapar dan haus karena udara di ruangan tersebut cukup panas tanpa AC yang menyala. Sungguh hari yang menyebalkan.

Akhirnya lagu itu selesai, aku mencoba menyanyikannya dengan petikan gitar.

Aku melakukan banyak hal, aku menjadi sebuah pohon. Mengapa aku menjadi aneh dihadapanmu. Aku bukan anak TK, tapi kenapa semuanya kekanakan. Lihat mataku! Candaanku tidaklah serius. Mengatakan ini sungguhlah sulit. Aku menyukaimu. Aku terlalu malu untuk menjadi mataharimu jadi aku memilih untuk menjadi bulan yang dingin. Only you...only you...aku bertindak aneh dihadapanmu. Kau sangat cantik, cantik, cantik tapi mengapa aku begini? Aku tertidur dan menendang selimutku kemanapun. Only you!”

Aku tersenyum karena telah menyelesaikan lagu ini. Tidak terlalu buruk bukan, untuk seorang pemula sepertiku.

Selang satu jam, bel pulang akhirnya berbunyi. Aku lega mendengarnya dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Kelasku sudah sepi hanya barang-barangku yang tersisa masih seperti terakhir aku tinggalkan. Tapi, tidak!! Buku itu tidak ada di sini. Aku mencoba melihat dalam tasku dan hasilnya tidak ada.

Sial!! Sepertinya buku itu sudah dibuang oleh Ryn atau bahkan sudah dibakar.

“ini...”

Aku menoleh ke arah suara tersebut. Ryn...dia berjalan mendekatiku dan memberikan buku yang aku cari.

“Gambar yang bagus. Terima kasih kalau itu memang aku.” Katanya yang kemudian berbalik keluar.
“Tunggu!!” seruku membuatnya berhenti.

“Aku...memang tidak pandai membuat lagu. Tapi hari ini aku berhasil menciptakan sebuah lagu. Apa kau mau mendengarkannya?”

Ryn tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil kursi dan duduk dihadapanku.

Damn!! Ini melebihi acara audisi. Aku gemetar, jantungku berdetak tak karuan. Bahkan rasanya aku tidak mampu memegang gitarku sendiri. Suaraku pun tiba-tiba terdengar aneh. Perasaan apa ini?! Kenapa juga aku menawarinya.

“Tes...tes...Ehem...” aku mencoba mengatur suaraku agar terlihat membaik.

Aku mulai mengatur napas dan mengendalikan detak jantungku. Satu persatu tanganku mulai beradu dengan senar gitar. Dan mulailah aku menyanyikan lagu tersebut.

Sesekali aku melirik ke arahnya dan aku melihat dia cukup menikmati lagu itu. Kakinya dan juga badannya ikut bergerak dan yang tak kalah menyenangkan dia tersenyum sangat manis.
“Bagai...mana?” tanyaku setelah selesai.

“Sangat bagus, aku menyukai lagu itu.” Jawabnya masih tersenyum, lebih manis bahkan.

“Emm...itu...untukmu. ahh...bagaimana aku mengatakannya. Aku mendapat inspirasi ketika melihatmu. Jadi terima kasih.” Kataku yang kemudian langsung berbalik mengemasi barangku.

“Terima kasih. Lain kali mungkin harus kau rekam. Agar aku bisa mendengarkannya setiap hari. Aku pulang dulu!” katanya yang kemudian berlari keluar.

Hatiku meledak, sungguh!! Seperti ada ratusan petasan di dalamnya yang membuatku benar-benar kualahan mengontrol diriku sendiri. Urat senyumku tak mau berhenti menegang. Dan sepanjang perjalanan pulang sepertinya akulah yang paling bahagia. Apa seperti ini rasanya berhasil mengungkapkan apa yang sempat kita pendam. Apa arti senyuman dan ucapan perempuan itu? Apa dia tidak masalah jika aku suka padanya? Ahh...bicara apa aku ini. Atau mungkin dia hanya memujiku atau apa?

Tidak henti-hentinya aku berpikir segala kemungkinan. Tapi benar-benar perempuan itu membuatku menjadi aneh. Sungguh rasanya aku ingin bertemu dengannya lagi dan memegang tangannya. Aku ingin mengungkapkan perasaanku dengan lebih baik dari ini.

“Hei!!! Bangunlah!”

Aku terkejut dan tersadar. Apa?! Aku di dalam kelas? Tidak, aku dalam perjalanan pulang tadi. Aku kembali melihat sekelilingku. Iya benar, ini ada di kelas.

“Kalian kedatangan murid baru hari ini. Silakan perkenalkan dirimu.”

Aku langsung melihat ke depan. Tidak salah lagi, dia perempuan yang kemarin aku lihat dan tadi masuk ke dalam mimpiku.

“Namaku Ryn, salam kenal, dan mohon bantuannya.” Kata perempuan itu.

Suaranya, senyumnya, yah...aku sudah tahu itu. Tapi bagaimana namanya bisa pas.

“Benarkan kataku, namanya Ryn bukan Lyn.” Kata temanku yang duduk di depanku.

“Apa kau tadi membicarakan perempuan itu?” tanyaku.

“Iya, aku sudah tahu kalau akan ada siswa baru di kelas kita dan namanya Ryn tapi anak-anak yang lain mengatakan kalau dia Lyn.”

Aku tersenyum, sepertinya nama itu yang diterima oleh gendang telingaku dan masuk ke dalam mimpiku.

Apa aku harus melakukan hal yang sama seperti dalam mimpiku agar dia mau tersenyum manis kepadaku?! Tentu saja aku akan melakukannya dengan lebih baik dari mimpiku.

***

Cerita ini gue buat tanggal 20 Agustus 2017, terinspirasi dengan lagu BTS lagi yang judulnya Blanket Kick. 

Seperti biasa kritik dan saran selalu terbuka untuk memperbaiki kualitas menulis gue. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...