Saat itu aku sedang asyik memainkan gitar di
dean kelasku. Kebetulan hari ini jam kosong dan tidak ada tugas dari guru mata
pelajaran. Salah satu temanku ikut bergabung dan bernyanyi mengikuti lagu yang
aku mainkan. Sampai akhirnya padanganku teralih oleh perempuan yang melewati
kami. Petikan gitarku menjadi sembarangan dan akhirnya aku mendapat pukulan
dari temanku.
Sepertinya siswa baru, batinku. Mataku tak
berhenti mengekori langkahnya sampai dia benar-benar menghilang di belokan arah
ruang kepala sekolah. Sudah dipastikan dia pasti siswa baru di sekolah ini.
Hari berikutnya, aku kembali duduk di depan
kelas sambil bermain gitar dan masih memainkan lagu yang sama seperti kemarin.
Pagi ini kelasku sudah diributkan oleh kabar bahwa guru-guru akan mengadakan
rapat dan kelas kami akan kosong lagi. Sungguh sebuah anugerah paling indah
bagi kami pelajar yang sudah mulai malas belajar.
“Permisi, apa kau tahu kelas 2-3?”
Aku menoleh untuk melihat siapa yang bertanya.
Perempuan itu, tidak salah lagi kalau itu adalah perempuan yang lewat di
depanku dan membuatku menjadi gagal fokus. Sungguh suaranya sangat lembut dan
dia terlihat lebih cantik apabila dilihat dari dekat. Aku langsung meletakkan
gitarku dan berdiri sambil merapikan bajuku.
Aku langsung mengulurkan tangan mengajak
bersalaman, “Perkenalkan aku Ryan. Kita akan menjadi teman satu kelas dan
kelasmu ada di sini.” Kataku sambil menunggu sambutan tangannya.
Dengan ragu perempuan itu menyambut uluran
tanganku, “Aku...Ryn. senang bisa berkenalan dengamu.” Katanya dan
langsung masuk ke kelas.
“Kau sungguh bodoh dalam mendekati perempuan,” kata temanku diakhiri dengan menggenjreng
gitarku.
“Aku yakin, perempuan itu berpikiran kau
adalah temannya yang paling aneh di kelas ini.” Tambahnya yang kemudian membawa gitarku masuk
ke kelas.
Yah....aku tersadar, harusnya aku hanya perlu
menjawab pertanyaannya. Ahh....sepertinya perempuan itu berhasil membuatku
bodoh dan salah tingkah.
Aku masuk ke kelas dan tak disangka dia duduk
ditempat yang sangat terlihat olehku. Sebuah pemandangan yang menyenangkan bisa
memandangi wajahnya dengan leluasa. Dia mulai berkenalan dengan teman-teman
yang lain. Sungguh sangat sempurna perempuan itu, senyumnya, rambutnya,
jari-jarinya yang panjang, ahhh tidak lupa telapaknya yang halus.
Tanpa sadar aku menggambar sketsa wajahnya.
Wah....apakah ini rasanya jatuh cinta. Aku yang jarang menggambar tiba-tiba
saja menggambar. Berulang kali aku melihat gambaranku dan mencoba menyamakan
dengan perempuan itu. Tidak terlalu buruk, sepertinya memang dia penuh dengan
aura inspirasi, pikirku.
“Wahhh....gambaranmu bagus juga.” Seru temanku. Secepat mungkin buku tersebut
aku sembunyikan namun masih kalah cepat oleh temanku yang sudah mengambil buku
tersebut.
“Hei....lihatlah. sepertinya ada yang sedang
jatuh cinta di sini.”
Aku langsung berlari mengejarnya sebelum dia
melakukan hal-hal usil lainnya. Alhasil kami seperti anak kecil yang bermain
kejar-kejaran. Mungkin sudah 10 putaran kami berlari dan itu cukup melelahkan
untuk pagi ini.
“Ahh....tunggu sebentar!!” kata temanku sambil memberi isyarat berhenti
kepadaku. Kami terengah-engah dan akupun mulai menyerah. “Sepertinya ini
kau,” lanjutnya sambil menunjukkan gambar tersebut kepadan Ryn.
Sial!!! Runtukku dalam hati. Tapi ini sudah terlambat
karena Ryn sudah melihat buku itu. Aku memanfaatkan situasi saat itu untuk
diam-diam keluar dari kelas berniat kabur dan membolos hari ini. Aku belum siap
menunjukkan wajahku lagi dan mungkin memang sekarang aku harus bersembunyi.
Aku memutuskan untuk masuk ke ruang musik yang
kebetulan kosong. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dia sangat
manis untuk dilewatkan dan temanku sangat kurang ajar untuk diberi ampunan.
“Hanya dirimu, aku bertindak aneh dihadapanmu.
Kau sangat cantik, cantik, cantik. Tapi mengapa aku begini?”
Hei!! Apa yang aku bicarakan? Apa aku baru
saja bernyanyi? Mulailah muncul ide untuk menulis lirik lagu tentang Ryn.
Lagi-lagi hal yang sebelumnya tidak aku lakukan tiba-tiba saja ingin aku
lakukan. Sungguh, apa aku memang jatuh cinta kepadanya?!
Aku mulai mencari-cari kertas dan pulpen
karena sialnya aku juga lupa membawa ponselku. Berjam-jam aku menghasbiskan
waktu untuk menyelesaikan lagu itu. Menahan lapar dan haus karena udara di
ruangan tersebut cukup panas tanpa AC yang menyala. Sungguh hari yang menyebalkan.
Akhirnya lagu itu selesai, aku mencoba
menyanyikannya dengan petikan gitar.
Aku melakukan banyak hal, aku menjadi sebuah
pohon. Mengapa aku menjadi aneh dihadapanmu. Aku bukan anak TK, tapi kenapa
semuanya kekanakan. Lihat mataku! Candaanku tidaklah serius. Mengatakan ini
sungguhlah sulit. Aku menyukaimu. Aku terlalu malu untuk menjadi mataharimu
jadi aku memilih untuk menjadi bulan yang dingin. Only you...only you...aku
bertindak aneh dihadapanmu. Kau sangat cantik, cantik, cantik tapi mengapa aku
begini? Aku tertidur dan menendang selimutku kemanapun. Only you!”
Aku tersenyum karena telah menyelesaikan lagu
ini. Tidak terlalu buruk bukan, untuk seorang pemula sepertiku.
Selang satu jam, bel pulang akhirnya berbunyi.
Aku lega mendengarnya dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Kelasku sudah
sepi hanya barang-barangku yang tersisa masih seperti terakhir aku tinggalkan.
Tapi, tidak!! Buku itu tidak ada di sini. Aku mencoba melihat dalam tasku dan
hasilnya tidak ada.
Sial!! Sepertinya buku itu sudah dibuang oleh Ryn atau
bahkan sudah dibakar.
“ini...”
Aku menoleh ke arah suara tersebut. Ryn...dia
berjalan mendekatiku dan memberikan buku yang aku cari.
“Gambar yang bagus. Terima kasih kalau itu
memang aku.” Katanya yang kemudian berbalik keluar.
“Tunggu!!” seruku membuatnya berhenti.
“Aku...memang tidak pandai membuat lagu. Tapi hari
ini aku berhasil menciptakan sebuah lagu. Apa kau mau mendengarkannya?”
Ryn tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil
kursi dan duduk dihadapanku.
Damn!! Ini melebihi acara audisi. Aku gemetar,
jantungku berdetak tak karuan. Bahkan rasanya aku tidak mampu memegang gitarku
sendiri. Suaraku pun tiba-tiba terdengar aneh. Perasaan apa ini?! Kenapa juga
aku menawarinya.
“Tes...tes...Ehem...” aku mencoba mengatur suaraku agar terlihat
membaik.
Aku mulai mengatur napas dan mengendalikan
detak jantungku. Satu persatu tanganku mulai beradu dengan senar gitar. Dan
mulailah aku menyanyikan lagu tersebut.
Sesekali aku melirik ke arahnya dan aku
melihat dia cukup menikmati lagu itu. Kakinya dan juga badannya ikut bergerak
dan yang tak kalah menyenangkan dia tersenyum sangat manis.
“Bagai...mana?” tanyaku setelah selesai.
“Sangat bagus, aku menyukai lagu itu.” Jawabnya masih tersenyum, lebih manis bahkan.
“Emm...itu...untukmu. ahh...bagaimana aku
mengatakannya. Aku mendapat inspirasi ketika melihatmu. Jadi terima kasih.” Kataku yang kemudian langsung berbalik
mengemasi barangku.
“Terima kasih. Lain kali mungkin harus kau
rekam. Agar aku bisa mendengarkannya setiap hari. Aku pulang dulu!” katanya yang kemudian berlari keluar.
Hatiku meledak, sungguh!! Seperti ada ratusan
petasan di dalamnya yang membuatku benar-benar kualahan mengontrol diriku
sendiri. Urat senyumku tak mau berhenti menegang. Dan sepanjang perjalanan
pulang sepertinya akulah yang paling bahagia. Apa seperti ini rasanya berhasil
mengungkapkan apa yang sempat kita pendam. Apa arti senyuman dan ucapan
perempuan itu? Apa dia tidak masalah jika aku suka padanya? Ahh...bicara apa
aku ini. Atau mungkin dia hanya memujiku atau apa?
Tidak henti-hentinya aku berpikir segala
kemungkinan. Tapi benar-benar perempuan itu membuatku menjadi aneh. Sungguh
rasanya aku ingin bertemu dengannya lagi dan memegang tangannya. Aku ingin mengungkapkan
perasaanku dengan lebih baik dari ini.
“Hei!!! Bangunlah!”
Aku terkejut dan tersadar. Apa?! Aku di dalam
kelas? Tidak, aku dalam perjalanan pulang tadi. Aku kembali melihat
sekelilingku. Iya benar, ini ada di kelas.
“Kalian kedatangan murid baru hari ini.
Silakan perkenalkan dirimu.”
Aku langsung melihat ke depan. Tidak salah
lagi, dia perempuan yang kemarin aku lihat dan tadi masuk ke dalam mimpiku.
“Namaku Ryn, salam kenal, dan mohon
bantuannya.” Kata perempuan itu.
Suaranya, senyumnya, yah...aku sudah tahu itu.
Tapi bagaimana namanya bisa pas.
“Benarkan kataku, namanya Ryn bukan Lyn.” Kata temanku yang duduk di depanku.
“Apa kau tadi membicarakan perempuan itu?” tanyaku.
“Iya, aku sudah tahu kalau akan ada siswa baru
di kelas kita dan namanya Ryn tapi anak-anak yang lain mengatakan kalau dia
Lyn.”
Aku tersenyum, sepertinya nama itu yang
diterima oleh gendang telingaku dan masuk ke dalam mimpiku.
Apa
aku harus melakukan hal yang sama seperti dalam mimpiku agar dia mau tersenyum
manis kepadaku?! Tentu saja aku akan melakukannya dengan lebih baik dari
mimpiku.
***
Cerita ini gue buat tanggal 20 Agustus 2017, terinspirasi dengan lagu BTS lagi yang judulnya Blanket Kick.
Seperti biasa kritik dan saran selalu terbuka untuk memperbaiki kualitas menulis gue. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar