Langsung ke konten utama

Purpose


Aku berjalan lemah menyusuri sebuah lorong yang sudah akrab denganku. Bau antiseptik, obat-obatan, anyir (darah) semuanya tercampur aduk di sini. Hampir 1 tahun aku berada di sini untuk menjaga orang yang paliang aku cintai. Seseorang yang merelakan dirinya terbaring semakin lemah menggantikan aku.

Tapi entah kenapa, keadaan ini justru membuatku merasa bersalah. Aku merasa putus ada apalagi ketika tahu bahwa kondisinya semakin menurun. Sampai akhirnya, waktu juga menyerah padanya. Tepat 1 tahun lebih 1 hari, Ibuku telah dipanggil oleh Tuhan mendahuluiku. Sungguh, aku telah kehabisan suara untuk kembali mengucapkan terima kasih, mengucapkan bahwa aku sangat-sangat mencintai dan menyayanginya. Aku juga kehabisan air mata untuk menangisi kepergiannya, bahkan hingga di upacara pemakamannya.

Hari itu menjadi hari yang sangat menyedihkan dalam sepanjang hidupku. Rasanya aku ingin menyusulnya. Aku menyesal tidak menanyakan siapa pendonor sumsum tulang belakang yang sekarang ada dalam tubuhku, kenapa juga aku tidak sadar bahwa itu Ibuku sendiri.

Aku merasa tidak berguna lagi, aku memang hidup namun hatiku mati. Aku merasa sendirian hidup di dunia ini. Sungguh, satu-satunya orang yang aku harapkan pelukan hangatnya, senyum yang teduh, kata-katanya yang lembut kini hanya tersisa bayangannya. Seseorang yang setiap kali aku pulang selalu memberikan sapaan dan menanyakan keadaanku.

Dan aku benar-benar dalam ujung putus asa, aku berniatan untuk bunuh diri untuk menghilangkan rasa sakit dalam hatiku dan rasa bersalahku. Tapi Tuhan masih belum mengizinkan itu rupanya. Dia mengirimkan seorang perempuan yang menolongku. Bahkan Tuhan mengirimkan seseorang yang benar-benar mirip dengan Ibuku.

“Apa yang membuatmu melukai tanganmu seperti ini? Padahal kau tahu ini akan berakibat fatal apabila terlambat ditangani.” Kata perempuan itu sambil membalut perban.

Aku hanya diam dan membiarkan perempuan itu mengobati lukaku. Hingga lukaku sembuh, perempuan tersebut dengan telaten merawatku. Dia sering menceritakan tentang pasien-pasien yang pernah ia tangani.

“Pernah, aku memiliki pasien perempuan yang sama halnya denganmu.” Katanya disela-sela mengganti perban lukaku.

“Dia mencoba bunuh diri dengan terjun dari lantai 5, namun sepertinya Tuhan juga masih menyuruhnya untuk hidup. Dia selamat dengan beberapa luka yang wajar. Akulah yang merawatnya hingga dia benar-benar sembuh baik jiwa dan fisiknya.”

Tiba-tiba dia berhenti dan beralih menatapku.

“Aku dengar kau juga seperti itu. Ibumu meninggal karena telah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu. Aku turut berduka atas itu. Sungguh beliau sangat menyayangimu, beliau adalah Ibu yang sangat baik.” Kata perempuan itu.

Matanya mulai berkaca-kaca dan aku tidak mau melihat itu. Sungguh, dia benar-benar sama seperti Ibuku dan aku tidak pernah tega melihatnya menangis.

“Jika kau memang menyayangi Ibumu maka hiduplah. Ibumu rela mati demi kau agar tetap hidup. Dan satu hal yang harus kau tahu, sekuat-kuatnya manusia, sehebat-hebatnya manusia masih ada Tuhan yang paling hebat. Dia-lah yang mengatur hidupmu dan jangan sekali-kali kau mencoba untuk melangkahi-Nya dengan bunuh diri.”

“Dan kau juga harus tahu, bahwa hidup ini sangatlah indah dengan semua masalah itu. Dengannya (masalah) kita menjadi semakin kuat, kita mengenal orang-orang baru, yang mungkin saja menjadi orang terdekat kita.”

Aku menatap perempuan itu yang sudah tertunduk. Ya...apa yang dia katakan memang benar. Belum tentu Ibuku senang melihatku mati dan mungkin dengan hiduplah aku bisa mengucapkan terima kasih dan rasa sayangku kepadanya. Sejak saat itu aku mencoba menerima. Aku kembali hidup seperti keadaan sebelumnya. Tentu saja bersama perempuan itu.

Kehidupanku mulai kembali normal, walaupun sesekali ada rasa kecil hati atau putus asa. Namun, perempuan itu selalu datang untuk kembali menguatkanku. Dia mengajakku ke sebuah taman bermain yang dulu sering dia kunjungi bersama keluarganya. Kami berjalan-jalan sambil menikmati udara yang segar di sana. Melihat tingkah anak-anak yang sedang bermain atau sekedar keluarga yang berkumpul. Kami juga menyewa sepeda untuk berkeliling taman tersebut.

Aku mengajaknya untuk balap sepeda dan aku hampir saja memenangkannya jika saja tidak ada kecelakaan yang menimpaku. Hantaman keras yang membuatku terjatuh dan tak sadarkan diri.
Dia (Aku) mengayuh sepedanya sangat kencang dan tidak melihat kalau ada sebuah mobil yang juga dengan cepat dari sisi kirinya. Tabrakan itu membuatnya koma cukup lama.

Aku terbangun di sebuah tempat yang sangat aneh. Kosong, sama sekali tidak ada orang di sana. Namun, tiba-tiba saja dari salah satu sisinya aku melihat sosok perempuan itu sedang tersenyum ke arahku. Aku membalas senyuman itu dan berniat menghampirinya. Namun, tiba-tiba saja dia menangis. Belum sempat aku melanjutkan langkah perempuan itu menghilang, berganti dengan wajah Ibuku yang juga menangis.

“Apa maksudnya?!”

Aku mencoba memanggil mereka namun tidak ada yang mendengarnya. Setiap kali aku mendekatinya justru mereka semakin menjauh. Dan itu membuatku kembali terpuruk. Cobaan macam apa lagi yang harus aku terima dari Tuhan. Apa semuanya masih belum cukup?

Tiba-tiba saja terdengar suara yang menggema menyuruhku untuk bangun dan kembali. Dan lagi-lagi wajah perempuan itu dan ibuku muncul. Ibuku tersenyum dengan tulus, baru kali ini juga aku melihatnya tersenyum sangat tulus membuatku tergerak untuk memeluknya dan berterima kasih atas segala usahanya dan pengorbanannya. Namun lain dengan wajah perempuan itu, dia menangis sangat pilu membuatku tak tega untuk meninggalkannya sendirian.

Suara itu kembali menggema, kali ini aku diberi dua pilihan antara hidup atau mati. Pilihan itu membuatku kembali menatap kedua orang yang ada dihadapanku. Sungguh, aku belum siap memilih. Aku merindukan Ibu tapi aku sadar bahwa hidupnya ada dalam hidupku. Aku masih memiliki banyak urusan yang harus aku selesaikan. Aku belum mengungkapkan perasaanku kepadanya.

Dan akhirnya aku memilih untuk tetap hidup. Namun, semuanya tetap gelap bahkan hingga aku tersadar. Aku kembali mencium aroma itu namun aku masih tidak bisa melihat seperti apa ini.

Aku tersadar setelah 1 bulan koma. Kedua kakiku mengalami retak dan benturan di kepala yang membuatku buta. Rasanya aku kembali menyesali keputusanku, harusnya aku memilih mati agar tidak merepotkan orang lain lagi.

“Apa aku masih berguna?” tanyaku kepada perempuan itu saat ia merawatku.

“Tuhan memberikan kehidupan dan kematian kepada orang yang Dia kehendaki, dan apapun yang Dia kehendaki pasti sesuatu yang baik walaupun kadang terlihat tidak adil.”

“Apakah aku sangat berdosa dan Tuhan menghukumku? Seberat apa dosaku? Bahkan ketika Dia mengambil Ibuku aku tidak memarahi-Nya.”

“Semua itu hanya Tuhan yang tahu. Kau tenang saja, Tuhan memberikan cobaan yang tentu saja bisa kau lewati. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan menemanimu sampai ada pendonor mata untukmu.”

“Kau sudah banyak berbuat baik kepadaku. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas semuanya?”

“Kalau boleh aku meminta sesuatu darimu...”

“Apa? Apa yang bisa diberikan orang buta dan lumpuh sepertiku?”

“Cinta, kasih sayang yang tulus. Apa kau punya itu dalam hatimu untukku?”

Aku terdiam, terkejut atas permintaannya. Hei!! Dia ini tidak gila bukan?! Tapi kenapa dia meminta itu dariku yang jelas-jelas kacau.

“Apa kau yakin?” tanyaku.

“Sungguh, bukan karena kasihan. Tapi kau memang pantang dicintai apapun dan bagaimanapun keadaanmu.”

“Aku sangat senang jika itu yang kau minta, dan asalkan kau tahu, aku akan memberikan itu kepadamu tanpa kau minta. Karena kau juga yang membuatku kembali. Aku belum mengungkapkan perasaanku kepadamu dan belum menyelesaikan masalah yang lainnya.”

Tidak ada yang berbicara setelah itu. Entah seperti apa ekspresinya, aku tidak bisa melihat itu. Tapi apapun itu aku mencoba untuk tersenyum. Sampai akhirnya aku mendengar suara tangisan.

“Apa itu kau yang menangis?” tanyaku.

“Aku yang menangis.” Jawabnya.

Aku tersenyum, dia memang perempuan yang sebenarnya terlalu baik untukku. Tapi aku bersyukur karena ada orang yang tulus, jujur dalam keadaan seperti ini. Dia mengisi posisi Ibuku yang kosong, membuatku kembali ke jalan yang seharusnya aku lewati. Membuatku percaya bahwa Tuhan itu adil dan menyayangi hamba-Nya. Membuatku kembali menemukan tujuanku.

Kami hidup untuk saling mengisi, saling menyempurnakan, saling menutupi kekurangan satu sama lain. Apapun itu kejadiannya tentu saja semuanya bertujuan dan tujuan itu tentu saja baik dan aku rasa semua akan menjadi lebih baik jika saja kita mau menerima.


-NRM-

Cerita ini gue tulis 22 Agustus 2017 terinspirasi dari lagu yang dicover oleh Jungkook BTS dari penyanyi Justin Bieber. Gue nggak jago nulis yang sedih-sedih amat, jadi mungkin kurang nge-feel juga. Nggak lupa, kritik dan saran selalu gue tunggu agar kualitas menulis gue semakin meningkat. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...