Aku berjalan lemah menyusuri sebuah lorong
yang sudah akrab denganku. Bau antiseptik, obat-obatan, anyir (darah) semuanya
tercampur aduk di sini. Hampir 1 tahun aku berada di sini untuk menjaga orang
yang paliang aku cintai. Seseorang yang merelakan dirinya terbaring semakin
lemah menggantikan aku.
Tapi entah kenapa, keadaan ini justru
membuatku merasa bersalah. Aku merasa putus ada apalagi ketika tahu bahwa
kondisinya semakin menurun. Sampai akhirnya, waktu juga menyerah padanya. Tepat
1 tahun lebih 1 hari, Ibuku telah dipanggil oleh Tuhan mendahuluiku. Sungguh,
aku telah kehabisan suara untuk kembali mengucapkan terima kasih, mengucapkan
bahwa aku sangat-sangat mencintai dan menyayanginya. Aku juga kehabisan air
mata untuk menangisi kepergiannya, bahkan hingga di upacara pemakamannya.
Hari itu menjadi hari yang sangat menyedihkan
dalam sepanjang hidupku. Rasanya aku ingin menyusulnya. Aku menyesal tidak
menanyakan siapa pendonor sumsum tulang belakang yang sekarang ada dalam tubuhku,
kenapa juga aku tidak sadar bahwa itu Ibuku sendiri.
Aku merasa tidak berguna lagi, aku memang
hidup namun hatiku mati. Aku merasa sendirian hidup di dunia ini. Sungguh,
satu-satunya orang yang aku harapkan pelukan hangatnya, senyum yang teduh, kata-katanya
yang lembut kini hanya tersisa bayangannya. Seseorang yang setiap kali aku
pulang selalu memberikan sapaan dan menanyakan keadaanku.
Dan aku benar-benar dalam ujung putus asa, aku
berniatan untuk bunuh diri untuk menghilangkan rasa sakit dalam hatiku dan rasa
bersalahku. Tapi Tuhan masih belum mengizinkan itu rupanya. Dia mengirimkan
seorang perempuan yang menolongku. Bahkan Tuhan mengirimkan seseorang yang
benar-benar mirip dengan Ibuku.
“Apa yang membuatmu melukai tanganmu seperti
ini? Padahal kau tahu ini akan berakibat fatal apabila terlambat ditangani.” Kata perempuan itu sambil membalut perban.
Aku hanya diam dan membiarkan perempuan itu
mengobati lukaku. Hingga lukaku sembuh, perempuan tersebut dengan telaten
merawatku. Dia sering menceritakan tentang pasien-pasien yang pernah ia
tangani.
“Pernah, aku memiliki pasien perempuan yang
sama halnya denganmu.” Katanya disela-sela mengganti perban lukaku.
“Dia mencoba bunuh diri dengan terjun dari
lantai 5, namun sepertinya Tuhan juga masih menyuruhnya untuk hidup. Dia
selamat dengan beberapa luka yang wajar. Akulah yang merawatnya hingga dia
benar-benar sembuh baik jiwa dan fisiknya.”
Tiba-tiba dia berhenti dan beralih menatapku.
“Aku dengar kau juga seperti itu. Ibumu
meninggal karena telah mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu. Aku turut
berduka atas itu. Sungguh beliau sangat menyayangimu, beliau adalah Ibu yang
sangat baik.” Kata perempuan itu.
Matanya mulai berkaca-kaca dan aku tidak mau
melihat itu. Sungguh, dia benar-benar sama seperti Ibuku dan aku tidak pernah
tega melihatnya menangis.
“Jika kau memang menyayangi Ibumu maka
hiduplah. Ibumu rela mati demi kau agar tetap hidup. Dan satu hal yang harus
kau tahu, sekuat-kuatnya manusia, sehebat-hebatnya manusia masih ada Tuhan yang
paling hebat. Dia-lah yang mengatur hidupmu dan jangan sekali-kali kau mencoba
untuk melangkahi-Nya dengan bunuh diri.”
“Dan kau juga harus tahu, bahwa hidup ini
sangatlah indah dengan semua masalah itu. Dengannya (masalah) kita menjadi
semakin kuat, kita mengenal orang-orang baru, yang mungkin saja menjadi orang
terdekat kita.”
Aku menatap perempuan itu yang sudah
tertunduk. Ya...apa yang dia katakan memang benar. Belum tentu Ibuku senang
melihatku mati dan mungkin dengan hiduplah aku bisa mengucapkan terima kasih
dan rasa sayangku kepadanya. Sejak saat itu aku mencoba menerima. Aku kembali
hidup seperti keadaan sebelumnya. Tentu saja bersama perempuan itu.
Kehidupanku mulai kembali normal, walaupun
sesekali ada rasa kecil hati atau putus asa. Namun, perempuan itu selalu datang
untuk kembali menguatkanku. Dia mengajakku ke sebuah taman bermain yang dulu
sering dia kunjungi bersama keluarganya. Kami berjalan-jalan sambil menikmati
udara yang segar di sana. Melihat tingkah anak-anak yang sedang bermain atau
sekedar keluarga yang berkumpul. Kami juga menyewa sepeda untuk berkeliling
taman tersebut.
Aku mengajaknya untuk balap sepeda dan aku
hampir saja memenangkannya jika saja tidak ada kecelakaan yang menimpaku.
Hantaman keras yang membuatku terjatuh dan tak sadarkan diri.
Dia (Aku) mengayuh sepedanya sangat kencang
dan tidak melihat kalau ada sebuah mobil yang juga dengan cepat dari sisi
kirinya. Tabrakan itu membuatnya koma cukup lama.
Aku terbangun di sebuah tempat yang sangat
aneh. Kosong, sama sekali tidak ada orang di sana. Namun, tiba-tiba saja dari
salah satu sisinya aku melihat sosok perempuan itu sedang tersenyum ke arahku.
Aku membalas senyuman itu dan berniat menghampirinya. Namun, tiba-tiba saja dia
menangis. Belum sempat aku melanjutkan langkah perempuan itu menghilang,
berganti dengan wajah Ibuku yang juga menangis.
“Apa maksudnya?!”
Aku mencoba memanggil mereka namun tidak ada
yang mendengarnya. Setiap kali aku mendekatinya justru mereka semakin menjauh.
Dan itu membuatku kembali terpuruk. Cobaan macam apa lagi yang harus aku terima
dari Tuhan. Apa semuanya masih belum cukup?
Tiba-tiba saja terdengar suara yang menggema
menyuruhku untuk bangun dan kembali. Dan lagi-lagi wajah perempuan itu dan
ibuku muncul. Ibuku tersenyum dengan tulus, baru kali ini juga aku melihatnya
tersenyum sangat tulus membuatku tergerak untuk memeluknya dan berterima kasih
atas segala usahanya dan pengorbanannya. Namun lain dengan wajah perempuan itu,
dia menangis sangat pilu membuatku tak tega untuk meninggalkannya sendirian.
Suara itu kembali menggema, kali ini aku
diberi dua pilihan antara hidup atau mati. Pilihan itu membuatku kembali
menatap kedua orang yang ada dihadapanku. Sungguh, aku belum siap memilih. Aku
merindukan Ibu tapi aku sadar bahwa hidupnya ada dalam hidupku. Aku masih
memiliki banyak urusan yang harus aku selesaikan. Aku belum mengungkapkan
perasaanku kepadanya.
Dan akhirnya aku memilih untuk tetap hidup.
Namun, semuanya tetap gelap bahkan hingga aku tersadar. Aku kembali mencium
aroma itu namun aku masih tidak bisa melihat seperti apa ini.
Aku tersadar setelah 1 bulan koma. Kedua
kakiku mengalami retak dan benturan di kepala yang membuatku buta. Rasanya aku
kembali menyesali keputusanku, harusnya aku memilih mati agar tidak merepotkan
orang lain lagi.
“Apa aku masih berguna?” tanyaku kepada perempuan itu saat ia
merawatku.
“Tuhan memberikan kehidupan dan kematian
kepada orang yang Dia kehendaki, dan apapun yang Dia kehendaki pasti sesuatu
yang baik walaupun kadang terlihat tidak adil.”
“Apakah aku sangat berdosa dan Tuhan
menghukumku? Seberat apa dosaku? Bahkan ketika Dia mengambil Ibuku aku tidak memarahi-Nya.”
“Semua itu hanya Tuhan yang tahu. Kau tenang saja, Tuhan
memberikan cobaan yang tentu saja bisa kau lewati. Aku tidak akan
meninggalkanmu, aku akan menemanimu sampai ada pendonor mata untukmu.”
“Kau sudah banyak berbuat baik kepadaku. Apa yang harus
aku lakukan untuk membalas semuanya?”
“Kalau boleh aku meminta sesuatu darimu...”
“Apa? Apa yang bisa diberikan orang buta dan lumpuh
sepertiku?”
“Cinta, kasih sayang yang tulus. Apa kau punya itu dalam
hatimu untukku?”
Aku terdiam,
terkejut atas permintaannya. Hei!! Dia ini tidak gila bukan?! Tapi kenapa dia
meminta itu dariku yang jelas-jelas kacau.
“Apa kau yakin?” tanyaku.
“Sungguh, bukan karena kasihan. Tapi kau memang pantang
dicintai apapun dan bagaimanapun keadaanmu.”
“Aku sangat senang jika itu yang kau minta, dan asalkan
kau tahu, aku akan memberikan itu kepadamu tanpa kau minta. Karena kau juga
yang membuatku kembali. Aku belum mengungkapkan perasaanku kepadamu dan belum
menyelesaikan masalah yang lainnya.”
Tidak ada yang
berbicara setelah itu. Entah seperti apa ekspresinya, aku tidak bisa melihat
itu. Tapi apapun itu aku mencoba untuk tersenyum. Sampai akhirnya aku mendengar
suara tangisan.
“Apa itu kau yang menangis?” tanyaku.
“Aku yang menangis.” Jawabnya.
Aku tersenyum, dia
memang perempuan yang sebenarnya terlalu baik untukku. Tapi aku bersyukur
karena ada orang yang tulus, jujur dalam keadaan seperti ini. Dia mengisi
posisi Ibuku yang kosong, membuatku kembali ke jalan yang seharusnya aku
lewati. Membuatku percaya bahwa Tuhan itu adil dan menyayangi hamba-Nya.
Membuatku kembali menemukan tujuanku.
Kami hidup untuk
saling mengisi, saling menyempurnakan, saling menutupi kekurangan satu sama
lain. Apapun itu kejadiannya tentu saja semuanya bertujuan dan tujuan itu tentu
saja baik dan aku rasa semua akan menjadi lebih baik jika saja kita mau
menerima.
-NRM-
Cerita ini gue tulis 22 Agustus 2017 terinspirasi dari lagu yang dicover oleh Jungkook BTS dari penyanyi Justin Bieber. Gue nggak jago nulis yang sedih-sedih amat, jadi mungkin kurang nge-feel juga. Nggak lupa, kritik dan saran selalu gue tunggu agar kualitas menulis gue semakin meningkat. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar