Langsung ke konten utama

Running for You Part 1

Adin, seorang atlit lari yang sudah menjuarai berbagai lomba di berbagai tingkatan. Dia juga seorang siswa teladan yang selalu masuk 3 besar, selain itu paras wajahnya yang cantik dan baik hati. Hal itu yang membuat Adin memiliki banyak teman tetapi juga banyak yang iri dengannya. Banyak pula laki-laki yang suka dengan Adin, tapi Adin tidak pernah merasakan suka kepada mereka dan berakhir hanya berteman.

Berbeda dengan keadaan Raka yang bisa dibilang sebaliknya. Dia hanya seorang mahasiswa biasa, tidak berprestasi, dan bukan altlit. Tetapi dia memiliki wajah yang bisa dikatakan ganteng, dia juga dicap playboy karena hampir semua teman perempuannya pernah digombalin.

Sampai suatu sore Adin melakukan rutinitasnya lari dan tanpa sengaja dia menabrak Raka yang sedang membawa tumpukan mangkok titipan Emaknya.

“Wah hancurkan semuanya, ganti rugi...lo,” Katanya terhenti ketika melihat orang dihadapannya Adin, yang tentu saja sudah terkenal dengan kemenangannya. Selain itu Raka juga terpesona dengan kecantikannya.

“Aduh, maaf banget ya. Saya nggak lihat, emm gini deh saya ganti tapi pakai uang aja ya.” Kata Adin yang kemudian mencoba meraba kantong dicelananya.

Kemudian dia meringis karena ternyata dia tidak membawa dompetnya.

“Aduh, maaf banget tapi saya nggak bawa uang cash. Gini deh, kamu kasih nomer rekening aja nanti saya transfer berapa uang ganti ruginya.”

Raka masih terdiam dan memandang Adin tanpa berkedip.

“Hai,” Seru Adin yang membuat Raka terkejut.

“Eh....tadi gimana?” tanya Raka.

Adin tersenyum simpul, “Saya ganti mangkoknya pakai uang, kebetulan hari ini saya nggak bawa uang cash makanya saya minta nomer rekening kamu nanti saya transfer.” Jelas Adin.

“Aduh, rekening saya baru aja mati. Gimana kalau kita ketemuan lagi aja.” Kata Raka sambil cengengesan.

“Ya udah gini aja, rumah kamu di mana?” tanya Adin.

“Tuh disitu, pinggir jalan, yang ada tulisannya SOTO BETAWI.” Jawab Raka.

“Kalau gitu besok sore deh, saya ke tempat kamu. Maaf banget ya,” kata Adin.

“Kamu Adin kan? Atlit lari yang di TV itu.”

“Iya,”

“Saya Raka,” kata Raka sambil mengulurkan tangan bersalaman.

“Iya, salam kenal.” Kata Adin kemudian.

“Ya udah saya lanjut lari dulu. Sampai ketemu besok sore,” lanjut Adin.

“Di warung SOTO BETAWI,” tambah Raka.

Adin mengangguk dan kemudian lari lagi. Raka masih memandang Adin dari belakang, dia tak henti-hentinya tersenyum.

“Hati-hati Din!!” Seru Raka walaupun Adin sudah tidak mendengarnya.

“Udah lama dek gilanya?” tanya bapak-bapak yang lewat di sampingnya.

“Belum pak, baru aja.” Jawab Raka sambil tersenyum kepada bapak-bapak tersebut yang membuat bapak-bapak itu bergidik ketakutan.

Raka menlanjutkan membereskan pecahan mangkok yang masih berserakan di tanah.

**

Seperti yang telah dijanjikan oleh Adin, dia lari lebih awal dari biasanya menuju rumah Raka. Begitu juga dengan Raka yang sudah siap menunggu kedatangan Adin.

“Hai,” Sapa Raka duluan sambil senyam-senyum.

“Hai, udah nunggu apa kebetulan di depan rumah?” tanya Adin.

“Udah nunggu,” jawab Raka.

“Uang ganti ruginya berapa?” tanya Adin yang siap mengeluarkan uang yang dia persiapkan.

“Nah, soal itu mending gini aja, ganti ruginya diganti saya nemenin kamu lari, gimana?” tawar Raka.

Adin sedikit terkejut namun senyumnya mulai terlihat.

“Janganlah, saya ganti rugi pakai uang aja. Kalau soal nemenin ya itu terserah, lagian saya udah biasa sendiri.” Kata Adin.

“Itu juga boleh,” kata Raka kemudian.

“Kalau gitu masuk dulu deh soalnya yang tahu Emak.”

Adin dan Raka kemudian masuk menemui orang tua Raka.

“Bentar-bentar, perasaan Emak pernah lihat,” kata Emak ketika melihat Adin. “Artis ya?” tanya Emak.

“Bukan Mak, dia ini atlit Indonesia, kerjaannya jalan-jalan dapet medali emas, bawa harum nama Indonesia.” Jawab Raka, Adin hanya tersenyum simpul.

“Gini....”

“Panggil aja Emak,” Sela Raka.

“Oh, gini Mak saya kemarin yang mecahin mangkok milik Emak makanya saya mau ganti rugi mangkok itu. Kira-kira berapa ya Mak?” tanya Adin.

“Ahh kalau itu nggak usah dipikirin, emang dasar mangkoknya udah tua.” Jawab Emak.

“Tapi Mak, nggak enak juga kan itu banyak.”

“Nggak papa, tapi kita foto dulu, selain itu nak Adin juga harus foto sendiri, besok Emak pajang noh di sana, biar menarik banyak pelanggan lagi.”

“Ide bagus Mak, fotonya sama Raka juga kan?”

“Noh foto sama kambing.” Seru Emak yang kemudian mengambil kamera digital untuk berfoto.
Setelah itu Adin dan Raka keluar.

“Kalau gitu saya lanjut lari ya, sampai ketemu lain waktu.” Kata Adin yang sudah bersiap lari.

“Eh bentar,” cegah Raka. “Saya boleh ikut kan?” tanya Raka.

“Silakan,” jawab Adin.

“Kalau gitu tunggu sebentar, pakai sepatu dulu.”

Adin hanya tersenyum. Tak lama kemudian Raka keluar siap dengan sepatu yang baru saja dia beli untuk lari.

“Tujuan larinya ke mana nih?” tanya Raka sok-sokan.

“Kita ke alun-alun kota,” jawab Adin santai.

Muka Raka langsung berubah menjadi masam, secara jarak alun-alun kota dan rumahnya cukup jauh.

“Kenapa?” tanya Adin.

“Nggak papa, Cuma kaget dikit. Emang nggak capek?”

“Saya udah sering lari sampai sana, kalau misalnya kamu nggak kuat nanti berhenti aja.” Kata Adin.

Benar saja baru beberapa meter dari rumahnya, napas Raka tidak beraturan. Sampai akhirnya dia menyerah.

Adin hanya tersenyum melihat Raka kelelahan. Dia mengulurkan satu botol minuman yang selalu dia bawa.

“Minum dulu, kakinya dilurusin.” Kata Adin.

Raka mengikuti instruksi Adin.

“Kamu itu udah orang yang entah keberapa kalinya sok-sokan kuat lari sampai alun-alun kota.” Kata Adin.

“Lain kali kalau lari semampunya dulu, bukannya meremehkan, tapi kalau dipaksa bukannya sehat malah sakit.” Lanjutnya.

“Iya deh,” balas Raka masih kelelahan.

“Kalau gitu saya lari lagi ya, sampai ketemu lain waktu.” Kata Adin kemudian melanjutkan lari.
“Din, hati-hati!” seru Raka. Adin tersenyum dan mengangguk.

“Lo beda Din, gue bener-bener berhenti di lo.” Gumam Raka yang masih mengamati Adin yang semakin jauh.


**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...