Adin, seorang atlit lari yang sudah menjuarai berbagai
lomba di berbagai tingkatan. Dia juga seorang siswa teladan yang selalu masuk 3
besar, selain itu paras wajahnya yang cantik dan baik hati. Hal itu yang
membuat Adin memiliki banyak teman tetapi juga banyak yang iri dengannya.
Banyak pula laki-laki yang suka dengan Adin, tapi Adin tidak pernah merasakan
suka kepada mereka dan berakhir hanya berteman.
Berbeda dengan keadaan Raka yang bisa dibilang
sebaliknya. Dia hanya seorang mahasiswa biasa, tidak berprestasi, dan bukan
altlit. Tetapi dia memiliki wajah yang bisa dikatakan ganteng, dia juga dicap
playboy karena hampir semua teman perempuannya pernah digombalin.
Sampai suatu sore Adin melakukan rutinitasnya lari dan
tanpa sengaja dia menabrak Raka yang sedang membawa tumpukan mangkok titipan
Emaknya.
“Wah hancurkan semuanya, ganti rugi...lo,” Katanya
terhenti ketika melihat orang dihadapannya Adin, yang tentu saja sudah terkenal
dengan kemenangannya. Selain itu Raka juga terpesona dengan kecantikannya.
“Aduh, maaf banget ya. Saya nggak lihat, emm gini deh
saya ganti tapi pakai uang aja ya.” Kata Adin yang kemudian mencoba meraba
kantong dicelananya.
Kemudian dia meringis karena ternyata dia tidak membawa
dompetnya.
“Aduh, maaf banget tapi saya nggak bawa uang cash. Gini
deh, kamu kasih nomer rekening aja nanti saya transfer berapa uang ganti
ruginya.”
Raka masih terdiam dan memandang Adin tanpa berkedip.
“Hai,” Seru Adin yang membuat Raka terkejut.
“Eh....tadi gimana?” tanya Raka.
Adin tersenyum simpul, “Saya ganti mangkoknya pakai uang,
kebetulan hari ini saya nggak bawa uang cash makanya saya minta nomer rekening
kamu nanti saya transfer.” Jelas Adin.
“Aduh, rekening saya baru aja mati. Gimana kalau kita
ketemuan lagi aja.” Kata Raka sambil cengengesan.
“Ya udah gini aja, rumah kamu di mana?” tanya Adin.
“Tuh disitu, pinggir jalan, yang ada tulisannya SOTO
BETAWI.” Jawab Raka.
“Kalau gitu besok sore deh, saya ke tempat kamu. Maaf
banget ya,” kata Adin.
“Kamu Adin kan? Atlit lari yang di TV itu.”
“Iya,”
“Saya Raka,” kata Raka sambil mengulurkan tangan
bersalaman.
“Iya, salam kenal.” Kata Adin kemudian.
“Ya udah saya lanjut lari dulu. Sampai ketemu besok
sore,” lanjut Adin.
“Di warung SOTO BETAWI,” tambah Raka.
Adin mengangguk dan kemudian lari lagi. Raka masih
memandang Adin dari belakang, dia tak henti-hentinya tersenyum.
“Hati-hati Din!!” Seru Raka walaupun Adin sudah tidak
mendengarnya.
“Udah lama dek gilanya?” tanya bapak-bapak yang lewat di
sampingnya.
“Belum pak, baru aja.” Jawab Raka sambil tersenyum kepada
bapak-bapak tersebut yang membuat bapak-bapak itu bergidik ketakutan.
Raka menlanjutkan membereskan pecahan mangkok yang masih
berserakan di tanah.
**
Seperti yang telah dijanjikan oleh Adin, dia lari lebih
awal dari biasanya menuju rumah Raka. Begitu juga dengan Raka yang sudah siap
menunggu kedatangan Adin.
“Hai,” Sapa Raka duluan sambil senyam-senyum.
“Hai, udah nunggu apa kebetulan di depan rumah?” tanya
Adin.
“Udah nunggu,” jawab Raka.
“Uang ganti ruginya berapa?” tanya Adin yang siap mengeluarkan
uang yang dia persiapkan.
“Nah, soal itu mending gini aja, ganti ruginya diganti
saya nemenin kamu lari, gimana?” tawar Raka.
Adin sedikit terkejut namun senyumnya mulai terlihat.
“Janganlah, saya ganti rugi pakai uang aja. Kalau soal
nemenin ya itu terserah, lagian saya udah biasa sendiri.” Kata Adin.
“Itu juga boleh,” kata Raka kemudian.
“Kalau gitu masuk dulu deh soalnya yang tahu Emak.”
Adin dan Raka kemudian masuk menemui orang tua Raka.
“Bentar-bentar, perasaan Emak pernah lihat,” kata Emak ketika
melihat Adin. “Artis ya?” tanya Emak.
“Bukan Mak, dia ini atlit Indonesia, kerjaannya
jalan-jalan dapet medali emas, bawa harum nama Indonesia.” Jawab Raka, Adin
hanya tersenyum simpul.
“Gini....”
“Panggil aja Emak,” Sela Raka.
“Oh, gini Mak saya kemarin yang mecahin mangkok milik
Emak makanya saya mau ganti rugi mangkok itu. Kira-kira berapa ya Mak?” tanya
Adin.
“Ahh kalau itu nggak usah dipikirin, emang dasar
mangkoknya udah tua.” Jawab Emak.
“Tapi Mak, nggak enak juga kan itu banyak.”
“Nggak papa, tapi kita foto dulu, selain itu nak Adin
juga harus foto sendiri, besok Emak pajang noh di sana, biar menarik banyak
pelanggan lagi.”
“Ide bagus Mak, fotonya sama Raka juga kan?”
“Noh foto sama kambing.” Seru Emak yang kemudian
mengambil kamera digital untuk berfoto.
Setelah itu Adin dan Raka keluar.
“Kalau gitu saya lanjut lari ya, sampai ketemu lain
waktu.” Kata Adin yang sudah bersiap lari.
“Eh bentar,” cegah Raka. “Saya boleh ikut kan?” tanya
Raka.
“Silakan,” jawab Adin.
“Kalau gitu tunggu sebentar, pakai sepatu dulu.”
Adin hanya tersenyum. Tak lama kemudian Raka keluar siap
dengan sepatu yang baru saja dia beli untuk lari.
“Tujuan larinya ke mana nih?” tanya Raka sok-sokan.
“Kita ke alun-alun kota,” jawab Adin santai.
Muka Raka langsung berubah menjadi masam, secara jarak
alun-alun kota dan rumahnya cukup jauh.
“Kenapa?” tanya Adin.
“Nggak papa, Cuma kaget dikit. Emang nggak capek?”
“Saya udah sering lari sampai sana, kalau misalnya kamu
nggak kuat nanti berhenti aja.” Kata Adin.
Benar saja baru beberapa meter dari rumahnya, napas Raka
tidak beraturan. Sampai akhirnya dia menyerah.
Adin hanya tersenyum melihat Raka kelelahan. Dia
mengulurkan satu botol minuman yang selalu dia bawa.
“Minum dulu, kakinya dilurusin.” Kata Adin.
Raka mengikuti instruksi Adin.
“Kamu itu udah orang yang entah keberapa kalinya
sok-sokan kuat lari sampai alun-alun kota.” Kata Adin.
“Lain kali kalau lari semampunya dulu, bukannya
meremehkan, tapi kalau dipaksa bukannya sehat malah sakit.” Lanjutnya.
“Iya deh,” balas Raka masih kelelahan.
“Kalau gitu saya lari lagi ya, sampai ketemu lain waktu.”
Kata Adin kemudian melanjutkan lari.
“Din, hati-hati!” seru Raka. Adin tersenyum dan
mengangguk.
“Lo beda Din, gue bener-bener berhenti di lo.” Gumam Raka
yang masih mengamati Adin yang semakin jauh.
**
Komentar
Posting Komentar