Langsung ke konten utama

Running for You part 2


Sejak pertemuan itu Raka mulai sering berolah raga. Emak yang biasanya melihat Raka tidur di meja kasir mulai terheran melihat perubahan drastis tersebut. Raka juga mulai serius dengan kuliahnya agar terlihat sebanding dengan Adin.

Sedangkan Adin seperti rutinitasnya, latihan, belajar, dan juara. Hanya saja rute latihannya berubah, Adin sengaja mengubah rutenya agar semakin jauh jaraknya.

Sampai akhirnya Raka sudah merasa siap menemani Adin lari hingga Alun-alun Kota. Sore hari dijam yang sama saat Raka dan Adin bertemu, Raka berlari menuju Alun-alun Kota berharap bisa bertemu dengan Adin. Namun sore itu bukan keberuntungan Raka, dia tidak bertemu dengan Adin, tapi dia terus berusaha mencari hingga mengelilingi Alun-alun. Namun sekali lagi dia tidak melihat sosok Adin di sana. Akhirnya Raka pulang menaiki Bajaj.

Keesokan harinya dia melakukan hal yang sama, berlari dari rumah hingga Alun-alun Kota. Dan lagi-lagi dia tidak bertemu dengan Adin. Terus menerus dia berusaha namun hasilnya tetap sama, Adin tidak terlihat lagi. Hingga akhirnya dia merasa putus asa, dia mulai kembali seperti Raka yang pemalas, kuliah bolos, tidur di meja kasir warung Emaknya.

“O...alah wong enom jaman saiki, turu wae gaweane. (anak muda jama sekarang, tidur aja kerjaannya)” gumam salah satu pelanggan di warung Emaknya.

“Permisi mas, saya mau bayar.” Kata seseorang menyodorkan nota pesanan.

“Oh iya, iya bentar.” Kata Raka sambil mengucek matanya yang masih perih.

Pandangannya masih buram, dia menajamkan pandangannya karena melihat Adin di depannya.

“Ah......nggak mungkin,” gumam Raka menyangkal pikirannya.

“Apanya?” tanya perempuan itu.

Sekali lagi Raka mengucek matanya dan pandangannya telrihat jelas. Benar saja yang di depannya Adin.

Raka tidak bisa berkata-kata selain tidak berhenti-henti tersenyum.

“Lama banget nduk nggak lewat depan rumah. Padahal yang nungguin banyak loh, pada mau minta foto.” Kata Emak  yang sibuk dengan cucian mangkoknya.

“Iya Mak, kemarin ada perlombaan yang kebetulan jaraknya lebih panjang, jadi Adin harus memperpanjang jarak latihannya.” Jawab Adin.

Raka masih menyimak dengan senyuman yang tidak henti-hentinya dia tunjukkan.

“Le, mbok mingkem, garing kui untumu.” Seru Emak yang membuat Adin tertawa kecil. Raka yang tersinggung langsung berhenti tersenyum.

“Terus gimana hasil lombanya?” Tanya Raka.

Adin menghela napas dan raut mukanya berubah seketika. “Belum beruntung,” Jawab Adin.

“Aaaa nggak papa, masih banyak kesempatan. Yang penting latihan terus aja,” Kata Raka.

“Bener itu, jangan putus asa.” Tambah Emak.

“Besok lari yuk,” Ajak Raka kemudian.

“Emang udah kuat?” tanya Adin.

“Udah dong, tiap hari lari ke Alun-alun Kota.”

“Wow... serius?” tanya Adin terkejut.

“Iyalah biar bisa nemenin kamu lari sampai Alun-alun.” Jawab Raka.

“Oke, boleh-boleh. Jam 4 sore ya.”

“Tapi....kita lari di rute sendiri-sendiri. Kita ketemu di Alun-alun, kalau misalnya aku duluan yang nemuin kamu, hadiahnya kita makan berdua tapi kalau misalnya kamu dulu yang nemuin aku berarti kita juga harus makan berdua, tapi kamu yang traktir.” Kata Raka.

Adin hanya bisa tertawa melihat kelakuan Raka. Tapi tak lama kemudian dia mengangguk menerima taruhan kecil itu.

****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...