Sejak pertemuan itu Raka mulai sering berolah raga. Emak
yang biasanya melihat Raka tidur di meja kasir mulai terheran melihat perubahan
drastis tersebut. Raka juga mulai serius dengan kuliahnya agar terlihat
sebanding dengan Adin.
Sedangkan Adin seperti rutinitasnya, latihan, belajar,
dan juara. Hanya saja rute latihannya berubah, Adin sengaja mengubah rutenya
agar semakin jauh jaraknya.
Sampai akhirnya Raka sudah merasa siap menemani Adin lari
hingga Alun-alun Kota. Sore hari dijam yang sama saat Raka dan Adin bertemu,
Raka berlari menuju Alun-alun Kota berharap bisa bertemu dengan Adin. Namun
sore itu bukan keberuntungan Raka, dia tidak bertemu dengan Adin, tapi dia
terus berusaha mencari hingga mengelilingi Alun-alun. Namun sekali lagi dia
tidak melihat sosok Adin di sana. Akhirnya Raka pulang menaiki Bajaj.
Keesokan harinya dia melakukan hal yang sama, berlari
dari rumah hingga Alun-alun Kota. Dan lagi-lagi dia tidak bertemu dengan Adin.
Terus menerus dia berusaha namun hasilnya tetap sama, Adin tidak terlihat lagi.
Hingga akhirnya dia merasa putus asa, dia mulai kembali seperti Raka yang
pemalas, kuliah bolos, tidur di meja kasir warung Emaknya.
“O...alah wong enom jaman saiki, turu wae gaweane. (anak muda jama sekarang, tidur aja
kerjaannya)” gumam salah satu pelanggan di warung Emaknya.
“Permisi mas, saya mau bayar.” Kata seseorang menyodorkan
nota pesanan.
“Oh iya, iya bentar.” Kata Raka sambil mengucek matanya
yang masih perih.
Pandangannya masih buram, dia menajamkan pandangannya
karena melihat Adin di depannya.
“Ah......nggak mungkin,” gumam Raka menyangkal
pikirannya.
“Apanya?” tanya perempuan itu.
Sekali lagi Raka mengucek matanya dan pandangannya
telrihat jelas. Benar saja yang di depannya Adin.
Raka tidak bisa berkata-kata selain tidak berhenti-henti
tersenyum.
“Lama banget nduk nggak lewat depan rumah. Padahal yang
nungguin banyak loh, pada mau minta foto.” Kata Emak yang sibuk dengan cucian mangkoknya.
“Iya Mak, kemarin ada perlombaan yang kebetulan jaraknya
lebih panjang, jadi Adin harus memperpanjang jarak latihannya.” Jawab Adin.
Raka masih menyimak dengan senyuman yang tidak
henti-hentinya dia tunjukkan.
“Le, mbok mingkem, garing kui untumu.” Seru Emak yang
membuat Adin tertawa kecil. Raka yang tersinggung langsung berhenti tersenyum.
“Terus gimana hasil lombanya?” Tanya Raka.
Adin menghela napas dan raut mukanya berubah seketika.
“Belum beruntung,” Jawab Adin.
“Aaaa nggak papa, masih banyak kesempatan. Yang penting
latihan terus aja,” Kata Raka.
“Bener itu, jangan putus asa.” Tambah Emak.
“Besok lari yuk,” Ajak Raka kemudian.
“Emang udah kuat?” tanya Adin.
“Udah dong, tiap hari lari ke Alun-alun Kota.”
“Wow... serius?” tanya Adin terkejut.
“Iyalah biar bisa nemenin kamu lari sampai Alun-alun.”
Jawab Raka.
“Oke, boleh-boleh. Jam 4 sore ya.”
“Tapi....kita lari di rute sendiri-sendiri. Kita ketemu
di Alun-alun, kalau misalnya aku duluan yang nemuin kamu, hadiahnya kita makan
berdua tapi kalau misalnya kamu dulu yang nemuin aku berarti kita juga harus
makan berdua, tapi kamu yang traktir.” Kata Raka.
Adin hanya bisa tertawa melihat kelakuan Raka. Tapi tak
lama kemudian dia mengangguk menerima taruhan kecil itu.
****
Komentar
Posting Komentar