Seperti waktu yang sudah dijanjikan, pukul 4 Raka dan
Adin mulai lari di dua rute yang berbeda.
Sesampainya di sana Raka berhenti untuk membeli minuman
sambil melihat kesekelilingnya untuk mencari Adin. Karena belum bertemu dia
memutuskan untuk mengelilingi Alun-alun.
Begitu juga Adin, setibanya di Alun-alun dia langsung
keliling dan tak di sangka mereka bertemu.
Keduanya tertawa dan kemudian duduk di kursi terdekat.
“Yahhh malah barengan ketemunya.” Keluh Raka sambil
melemaskan otot kakinya.
“Berarti nggak ada makan berdua kan?” tanya Adin yang
mulai meneguk minumannya.
“Nggak,” kata Raka lemas. “Tapi...berarti kita jodoh.”
Lanjut Raka yang langsung menghadap Adin.
Adin yang mendengar terkejut hampir tersedak minumannya.
“Aku suka sama kamu.” Kata Raka. “Sejak pertama kita
ketemu, mangkok pecah, terus sorenya kamu mampir, kita lari bareng tapi akunya
yang tepar duluan. Sejak saat itu aku berjanji untuk bisa nemenin kamu lari
sampai alun-alun. Dan kamu juga pernah bilang banyak cowok yang ngelakuin hal
sama kayak aku tapi gagal. Dan sekarang aku buktiin ke kamu kalau aku serius."
Adin hanya tersenyum tersipu, dia mengelap keringatnya
untuk menutup salah tingkahnya.
“Iya sih, gue dicap Playboy, tapi jujur, suwer, baru kali
ini gue ngerasain yang namanya berjuang dapetin cinta.” Tambah Raka berharap
Adin mau menerimanya.
“Aaaa satu lagi, tiap hari aku nyari kamu di sini. Tapi
nggak pernah ketemu, dan baru kemarin aku berhenti nggak nyari kamu, tapi....”
kata Raka yang sengaja tidak dilanjutkan.
“Din, kamu percaya kan?” tanya Raka.
“Iya, percaya. Tapi lebih baik kamu selesain kuliah
dulu.” Kata Adin.
“Terus aku sama kamu bakalan jadi kita?” tanya Raka.
“Nggak tahu, kan udah ada yang ngatur. Kalau jodoh pasti
ketemu.” Jawab Adin.
“Oke!!! Tiap sore kita lari ya, aku anggep sekarang udah
jadi kita. Adin dan Raka, aku sama kamu,” kata Raka.
“Terserah,” kata Adin yang tersenyum tersipu.
Raka memperlihatkan senyumnya kemudian mengajak Adin untuk lari lagi.
****
Komentar
Posting Komentar