Langsung ke konten utama

Running for You part 3 (END)


Seperti waktu yang sudah dijanjikan, pukul 4 Raka dan Adin mulai lari di dua rute yang berbeda.

Sesampainya di sana Raka berhenti untuk membeli minuman sambil melihat kesekelilingnya untuk mencari Adin. Karena belum bertemu dia memutuskan untuk mengelilingi Alun-alun.

Begitu juga Adin, setibanya di Alun-alun dia langsung keliling dan tak di sangka mereka bertemu.
Keduanya tertawa dan kemudian duduk di kursi terdekat.

“Yahhh malah barengan ketemunya.” Keluh Raka sambil melemaskan otot kakinya.

“Berarti nggak ada makan berdua kan?” tanya Adin yang mulai meneguk minumannya.

“Nggak,” kata Raka lemas. “Tapi...berarti kita jodoh.” Lanjut Raka yang langsung menghadap Adin.
Adin yang mendengar terkejut hampir tersedak minumannya.

“Aku suka sama kamu.” Kata Raka. “Sejak pertama kita ketemu, mangkok pecah, terus sorenya kamu mampir, kita lari bareng tapi akunya yang tepar duluan. Sejak saat itu aku berjanji untuk bisa nemenin kamu lari sampai alun-alun. Dan kamu juga pernah bilang banyak cowok yang ngelakuin hal sama kayak aku tapi gagal. Dan sekarang aku buktiin ke kamu kalau aku serius."

Adin hanya tersenyum tersipu, dia mengelap keringatnya untuk menutup salah tingkahnya.

“Iya sih, gue dicap Playboy, tapi jujur, suwer, baru kali ini gue ngerasain yang namanya berjuang dapetin cinta.” Tambah Raka berharap Adin mau menerimanya.

“Aaaa satu lagi, tiap hari aku nyari kamu di sini. Tapi nggak pernah ketemu, dan baru kemarin aku berhenti nggak nyari kamu, tapi....” kata Raka yang sengaja tidak dilanjutkan.

“Din, kamu percaya kan?” tanya Raka.

“Iya, percaya. Tapi lebih baik kamu selesain kuliah dulu.” Kata Adin.

“Terus aku sama kamu bakalan jadi kita?” tanya Raka.

“Nggak tahu, kan udah ada yang ngatur. Kalau jodoh pasti ketemu.” Jawab Adin.

“Oke!!! Tiap sore kita lari ya, aku anggep sekarang udah jadi kita. Adin dan Raka, aku sama kamu,” kata Raka.

“Terserah,” kata Adin yang tersenyum tersipu.

Raka memperlihatkan senyumnya kemudian mengajak Adin untuk lari lagi.


****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...