Sudah berapa minggu ini? Mana janjinya yang katanya mau konsisten posting konten? Ternyata emang yang namanya 'ngomong' itu lebih gampang daripada praktiknya.
Mohon dimaafkan, karena keterbatasan waktu serta ide untuk konten konten ini. Saya hanya manusia biasa soalnya, hahaha.
Setelah melewati berminggu minggu dan mencoba menepis rasa malas yang nggak karuan, akhirnya akan lahir satu cerita pendek lagi yang sudah lulus editing barusan.
Semoga kedepannya bisa aktif kembali, semoga otak saya mampu menciptakan ide baru yang lebih fresh dan tidak membosankan.
Kalau begitu, langsung saja gue akan menceritakan latar belakang pembuatan cerita pendek kali ini.
Cerita ini dilatarbelakangi oleh lagu milik Barasuara-Mengunci Ingatan yang dinyanyikan oleh Kunto Aji. Lagu versu Barasuara sendiri menurut gue nggak terdengar se-mellow kalau dinyanyiin sama Kunto Aji, mungkin karena efek instrumen yang dipakai juga sih. Bagi yang penasaran bisa langsung cek di Youtube aja baik versi Barasuara maupun Kunto Aji.
Adapun inti ceritanya adalah seseorang yang nggak bisa lupa sama mantanya. Itu gue ambil dari salah satu liriknya yang kurang lebih 'hal yang ingin kau lupa, justru semakin nyata'. Langsung aja deh ini keseluruhan ceritanya.
##
Mengunci Ingatan
Aku memeluknya dengan erat, sungguh tidak ingin lagi aku membiarkannya pergi sekalipun dia menyuruhku untuk pergi. Sekalipun aku tahu bahwa perasaannya masih sama untuk orang lain.
***
Sania, perempuan dengan perawakan tinggi, memiliki tubuh yang bisa dikatakan kurus sertq rambut hitam sebahu yang selalu dia ikat secara asal. Dia seorang pekerja kantoran sekaligus menjadi tetangga di kompleks perumahan yang baru saja aku sewa karena aku dipindah tugaskan ke kota ini untuk beberapa tahun kedepan.
Aku sendiri diberi nama kedua orang tuaku Aldo. Aku memiliki tinggi 180 cm dengan berat badan 45 kg.
Semua berawal dari aku yang dengan kondisi basah karena pipa air rumah ada yang bocor. Aku mendatangi rumah sania waktu itu berniat untuk meminta nomor penanggungjawab kompleks tersebu atau petugas yang bisa membenahi pipa air. Namun justru sania sendiri yang membenahi pipa itu walaupun bersifat sementara.
"Untuk sementara dulu, kalau nunggu petugas lama soalnya, keburu banjir tar." Kata sania setelah selesai memperbaiki pipa tersebut dengan alat seadanya.
Saat itu aku belum begitu tertarik. Sekilas dia terlihat biasa, bisa dikatakan dia perempuan yang tidak semua orang akan mengatakan 'dia cantik'.
Dia adalah perempuan yang supel dan baik. Itu kesan pertama dariku. Karena setiap kali aku membutuhkan bantuan dia selalu bersedia membantu.
"San, boleh nggak kalau gue minta nomor lo? Biar gampang gitu kalau misalnya gue butuh bantuan tapi posisinya di luar rumah," kataku setelah beberapa kali meminta bantuannya hingga kami semakin akrab.
"Ya nggak papa sih, seneng juga bisa bantu." Kata sania sambil menuliskan 12 digit nomor ponselnya di atas kertas dari note kecil yang selalu ia bawa.
Pernah suatu hari aku bertanya tentang note tersebut dan dengan santai dia menjawab, "kadang kalau pergi suka tiba tiba kayak dapet kata kata bagus gitu, jadi biar nggak lupa gue tulis dulu disini. Selain itu juga buat catet catet hal penting aja, maklumlah gue pelupa orangnya."
"Kan ada HP," kataku.
"Emmm kurang greget aja sih, lagian kalau mainan HP yang dibuka bukan aplikasi note tapi medsos hahaha,"
Aku tersenyum, bukan karena mendengar jawabannya. Entah kenapa waktu itu aku langsung tersenyum. Mungkin melihatnya tersenyum juga, atau ada hal lain.
Sejak aku mendapatkan nomornya sesekali aku mengirim chat kepadanya. Atau sesekali iseng mengomentari status-status di story WA-nya.
Ada sisi lain yang aku tahu setelah itu. Dia adalah seseorang yang menyukai hal hal berbau sajak dan tulis menulis. Kata kata yang dia tuliskan dalam statusnya kadang cukup menyentil, menyadarkan suatu hal. Kadang juga menghibur dengan gambar gambar yang dia repost dari postingan lain. Dan satu lagi, dengan cara itulah dia berbagi keresahannya. Walaupun kerap terlihat bahagia, sania juga memiliki masalah yang mungkin memang ia tutupi dari orang lain. Terutama soal hati, kerap sekali ia menuliskan kegelisahan hatinya dan kebimbangan perasaannya.
Sejak saat itu aku mulai tertarik mengenal sania lebih dekat. Sesekali ketika weekend aku mengajak dia untuk lari keliling kompleks. Walaupun kadang lebih tepatnya dia akan jalan santai dan mampir membeli bubur ayam keliling.
Suatu hari anehnya dia yang menghubungiku lebih dulu. Ia mengajakku untuk lari pagi. Waktu itu hari minggu, yang sebenarnya jadwalku untuk pulang ke rumahku. Tapi aku memutuskan untuk menemani sania sebelum pulang.
Kami hanya diam selama lari. Sesekali aku membuka percakapan namun hanya bertahan sebentar dan kembali hening.
"Lo kenapa san? Nggak kayak biasanya, cerewet." Kataku saat kami memutuskan untuk istirahat sejenak.
"Capek aja," jawabnya kemudian meneguk air mineral yang ia bawa.
"Capek kok dari rumah diemnya,"
"Ya karena capeknya nggak cuma karena lari." Katanya.
"Ada masalah?" Tanyaku.
Sania diam, dia malah melihat ke arahku beberapa detik kemudian kembali menatap ke depan.
"Cerita aja kalau emang mau cerita, siapa tahu gue bisa bantu." Kataku.
"Lo pernah pacaran?" Tanya sania.
"Pernah, tapi pas gue masuk kerja yang super sibuk ini cewek gue ngambek dan kami putus. Setelah itu gue nggak pacaran lagi." Jawabku.
"Lo nggak sedih?" Tanyanya.
"Ya...sempet sedih sih. Dia cinta pertama gue soalnya." Jawabku.
"Tapi lo bisa lupa sama perasaan lo ke dia," aku tidak begitu paham apakah itu pertanyaan atau pernyataan.
Dalam hati aku membatin, 'sebenarnya juga tidak mudah melupakan cinta pertama dan sederet kenangan yang menjadi lampiran. Tapi sejak bertemu denganmu, saat itulah aku belajar kembali mengenal seseorang untuk menjadi seseorang yang lebih dari teman atau sekedar tetangga.'
"Gue pernah pacaran, kami putus kurang lebih 3 tahun yang lalu. Tapi sampai sekarang gue masih aja berharap dia bakalan balik ke sini dan meminta gue untuk kembali. Gue udah kehilangan kontaknya dan nggak bisa kasih tahu semua kegelisahan gue ini. Itu kenapa gue capek, sepikun pikunnya gue tetep aja gue nggak bisa lupa soal dia bahkan setelah 3 tahun lebih." Tuturnya, matanya nampak sedikit berkaca namun masih bisa menjaga nada bicaranya untuk tidak getar.
Sebenarnya aku sudah menduga hal itu sejak melihat storynya. Aku tahu ada seseorang di hatinya yang memang sudah terpatri hingga mematikam hatinya bagi orang lain.
"Itu cuma butuh proses aja san, lo merasa orang orang yang lo temui nggak ada yang bisa ngalahin pesona mantan lo itu, makanya lo masih suka." Kataku asal.
"Lihat gue, gue bisa lupa perasaan gue ke mantan gue karena gue nemu seseorang yang menurut hati gue lebih dari dia, walaupun mungkin secara pandangan, mantan gue masih unggul daripada orang baru ini." Tambahku.
"Lo ma tinggal ngomong, gue yang nglakuin nggak bakal segampang itu," kata sania. Dia menyeka sedikit air matanya yang lolos dari pelupuk matanya.
Beberapa hari setelah hari itu, sania kembali nampak ceria seperti biasanya. Bahkan ia mulai mempertanyakan tentang perempuan yang aku singgung waktu itu.
"Kalau udah waktunya pasti lo tahu," kataku.
"Dia pasti cantik, secara lo tinggi, ganteng, kayak model." Kata sania.
"Makasih pujiannya, nggak nyangka lo ngakuin gue ganteng."
"Gue ma apa adanya, lo emang ganteng."
Iya, tapi percuma kalau lo nggak suka sama gue, batinku.
"Oh iya, kemarin mantan gue kirim email. Dia bakalan pulang dan mau ketemu sama gue. Kira kira dia mau ngomong apa ya, Do?"
Aku hanya tersenyum.
"Kalau misal dia ngajak balikan gue terima nggak bagusnya?"
"Terserah lo, lagian bukannya itu ya yang lo pengen dari dulu."
"Tapi malu,"
"Kalau cinta ya nggak usah malu, lagian dia juga yang ngajak,"
Sania terus mengembangkan senyumnya. Kala itu senja yang nampak dari halaman kompleks kami. Memang benar kalimat 'senja itu semakin menyakitkan bagi orang yang sedang patah hati' sama halnya dengan seperti ini, berada di dekat sania itu menyenangkan namun perlahan bisq mematahkan hati.
Sejak sore itu, kami belum lagi bertemu. Dia pergi bekerja lebih pagi dan setelah pulang dia terus mengurung di rumahnya.
Hingga cuaca yang mulai tak menentu, kadang pagi cerah tapi siang sehabis Dzuhur tiba tiba mendung dan turun hujan.
Cuaca seperti itu kadang membuat penyakit flu, termasuk aku, yang akhirnya memutuskan tidak masuk kerja.
Hari itu, lagi lagi cuaca berjalan seperti yang aku katakan. Sepeda motorku yang masih terparkir di halaman setelah aku pakai untuk mencari obat juga sepatu yang masih menggantung bebas di luar semua basah terkena guyuran hujan.
Aku terbangun untuk memasukkan sepeda motor ke garasi. Namun belum selesai aku memasukkan sepeda motor tersebut, aku melihat sania terduduk di depan pagar rumahnya sambil menangis. Refleks aku berlari menghampirinya hingga lupa tidak mengenakan sandal atau mengambil payung lebih dulu.
"San, lo kenapa?" Tanyaku panik.
Sania hanya terus menangis meringkuk. Aku memaksanya untuk berdiri dan aku ajak meneduh di teras rumahku. Aku menyuruhnya untuk duduk. Kemudian aku mengambilkan handuk serta teh hangat untuknya.
"San, lo kenapa?" Hanya itu pertanyaan yang sedari tadi aku lontarkan. Sania juga masih diam dia masih menangis hingga sesenggukan.
"Minum dulu." Kataku sambil menggenggamkan gelas teh hangat itu ke tangan sania. Tangannya sudah nampak keriput dan terasa dingin.
Perlahan dia mulai tenang dan mau meminum teh tersebut. Dia berhenti menangis hanya menyisakan sesenggukan yang membuatnya nampak semakin menyedihkan.
"Kenapa?" Tanyaku lagi. Entah itu pertanyaan yang tepat atau bukan tapi aku sangat penasaran atas alasannya menangis hingga begitu hebat.
"Dia mau nikah do," katanya yang kembali mengeluarkan air mata.
Aku terdiam, ingin mendengarkan cerita selanjutnya.
"Dia minta gue untuk ngelupain dia mulai sekarang." Tambahnya yang akhirnya membuatnya kembali menangis.
Aku langsung memeluknya. Aku tidak tahan lagi melihat ia menangis.
"Udah, tenang dulu. Jangan nangis lagi, percuma lo nangis, itu nggak akan ngerubah keputusan dia, san." Kataku.
Aku memeluknya dengan erat, sungguh tidak ingin lagi aku membiarkannya pergi sekalipun dia menyuruhku untuk pergi. Sekalipun aku tahu bahwa perasaannya masih sama untuk orang lain.
"San," panggilku masih memeluknya.
"Udah waktunya lo belajar melepaskan dan mengikhlaskan. Udah waktunya lo kembali membuka hati lo, mengosongkannya dan mengisi kembali dengan hal yang baru." Kataku.
"Gue juga pernah ada diposisi lo, gue hampir putus asa karena bisa bisanya hanya karena kerjaan dia mengakhiri sebuah hubungan. Tapi gue mencoba ikhlas dan pelan pelan gue bisa biasa aja, walaupun sesekali perasaan itu muncul lagi." Lanjutku sambil terus menepuk lembut punggungnya.
"Dan akhirnya gue bertemu seseorang yang menurut gue tepat dan diwaktu yang tepat. Gue benar benar lupa soal perasaan lama itu,"
Aku menarik napas panjang. "Gue ketemu perempuan yang nggak cantik secara fisik, tapi semakin gue mengenal dia lebih dekat gue tahu justru dialah yang paling cantik karena hatinya yang baik." Kataku.
Sania nampak tenang. Aku memberanikan diri menyatakan perasaanku saat itu. Walaupun mungkin terlihat tidak tepat.
"Perempuan itu lo, San. Perempuan yang bisa merubah perasaan gue." Kataku, aku melepaskan pelukanku dan duduk berlutut menghadapnya.
"Walaupun gue tahu kalau masih ada orang lain dalam hati lo, walaupun gue tahu susah buat lo untuk suka sama gue. Tapi gue tetap menyimpan perasaan itu,"
Sania menatapku terkejut.
"Gue nggak minta jawaban apa apa dari lo sekarang. Gue cuma minta lo jangan sedih mikirin masa lalu lo sampai berlarut larut. Gue tahu itu sulit, tapi lo tahu nggak ada hasil yang menghianati usaha."
"Gue cuma pengen lo bisa ceria lagi seperti biasanya. Lo nggak perlu mikirin soal perasaan gue tadi, gue tahu kondisi lo saat ini. Gue juga pasrah sama perasaan gue sendiri, membiarkan bertahan sampai benar benar lelah sendiri."
Sania tertunduk dan kembali menangis. Aku mengambil gelas dalam genggamannya dan menggenggam tangannya erat.
"Biarin gue tetap ada di dekat lo walaupun lo belum bisa suka sama gue." Kataku lagi.
Sania semakin menangis di tengah riuhnya suara hujan yang semakin deras mengguyur. Hingga akhirnya sania perlahan melepaskan genggamanku dan beranjak untuk pulang tanpa mengatakan satu kata pun. Hingga akhirnya aku yang merelakannya pergi dengan ruangannya, aku yang akan kembali menunggu semampuku untuk mendapat perasaannya.
_end_
Ini seperti posisi dimana aldo yang menyanyikan lagu ini menceritakan sosok sania yang belum bisa lepas akan bayang bayang sang mantan.
Kurang lebih gitu sih, hahaha.
Adapun mungkin ada yang mau juga bikin cerita yang dilatarbelakangi lagu ini dan pengen share bisa langsung kirim ke email nailaracheliard@gmail.com atau ariskanurvinahari02@gmail.com
Jangan lupa untuk menyertakan biodata penulis dan apabila membuat sendiri harus original. Apabila me-repost harus dicantumkan sumbernya.
Selain itu juga bisa kirim karya kalian baik puisi atau cerita pendek tema bebas asal tidak mengandung SARA ke email di atas dengan format yang sama.
Sekian untuk malam ini.
Komentar
Posting Komentar