Aku sudah lupa bagaimana kita bertemu.
Aku sudah lupa percakapan apa yang membuat kita semakin dekat.
Aku tidak tahu bagaimana awalnya kita lebih dekat lagi.
Yang tidak pernah ku lupa dan pasti aku ketahui adalah hatiku yang terus saja menunggu kau datangi, kau ajak berjalan bersama menyusuri bumi hingga mati.
***
Ini sudah tahun ke-6 setelah kami lulus dari bangku menengah akhir. Masa dimana hal-hal rumit mulai berdatangan, banyaknya pilihan, perdebatan dengan batin sendiri. Masa dimana perasaan ke lawan jenis semakin kuat dan mengikat.
Begitu juga denganku, Dika namanya. Aku jatuh hati kepadanya sejak kelas 2 SMA. Tapi aku tidak pernah mau mengungkapkannya.
Kami dekat, hanya saja mungkin aku hanya seorang teman baginya. Parasnya yang tampan membuat semua perempuan ingin dekat dengannya. Singkat cerita ia akhirnya berpacaran dengan salah satu kakak kelas kami. Namun setelah ia lulus hubungan mereka berakhir. Dan setelah itu dia tidak lagi berpacaran.
"Kayaknya jomblo itu lebih nyenengin," ucapnya kepadaku disela-sela kami mengerjakan tugas kelompok.
Aku mengangguk paham, tapi ada yang perlu ia ketahui juga bahwa semua hal itu pasti ada senang dan susahnya. Sendiripun kadang juga menyebalkan, tapi hanya untuk beberapa situasi saja.
Dia adalah siswa laki laki yang paling dekat denganku. Kami sering sekali menjadi 1 kelompok. Seingatku tiba tiba kita bisa bercanda begitu saja. Kemudian saling bertukar pandangan, membahas suatu hal dan bercerita.
Aku senang sekali saat itu, bisa mendengarkan ceritanya. Menjadi orang yang dicari untuk membicarakan suatu hal. Hanya saja hal itu yang justru membutakan aku bahwa itu sebatas teman, hingga akhirnya aku benar benar dalam menyukainya.
Pernah suatu hari, waktu itu aku mendapat pernyataan cinta dari siswa kelas lain dan aku jelas menolaknya.
Dia bertanya, "Kenapa lo nolak dia? Menurut gue dia cocok sama lo," ujarnya. Saat itu kami dalam perjalanan menuju parkiran sekolah.
"Karena nggak suka, perasaan nggak bisa dipaksa, kan?" jawabku.
"Kayaknya selera lo tinggi juga," ucapnya.
"Hahaha, ini bukan soal selera. Soal hati. Gue udah ada pilihan sendiri tahu," kataku.
"Serius? Siapa?" tanyanya begitu antusias.
Aku hanya menjawab dalam hati, bahwa itu dia sendiri. Sedangkan dihadapannya aku hanya tersenyum dan terus berjalan untuk mengambil sepedaku.
Ditingkat akhir, kami semakin dekat. Awalnya kami tidak pernah ada percakapan di dunia maya. Tapi sejak kelas 3 kami sering berkirim pesan karena waktu di sekolah telah habis untuk membahas soal dan tugas tugas lain.
Pernah saat itu aku mencoba menanyakan apakah ada seseorang yang ia sukai.
"Kalau ada kenapa, kalau nggak kenapa?" tanyanya membalas pertanyaanku.
"Pertanyaan itu dijawab pake pernyataan bukan pertanyaan balik." balasku.
"Hahaha, gue ragu sama perasaan gue saat ini. Jadi anggep aja nggak ada." balasnya.
**
Hingga akhirnya kami lulus, kami memilih jalan masing masing. Jarak rumah yang begitu jauh juga membuat kami jarang bertemu. Berkirim pesanpun kadang kadang.
Hingga aku masuk ke perguruan tinggi. Hingga aku menyelesaikan studi tersebut. Aku hanya bisa memantau dika dari akun sosial medianya. Bukan apa-apa, aku ragu untuk memulai mengirim pesan kepadanya. Aku takut kalau ternyata dia sudah menemukan orang yang mengisi hatinya.
Dan itu terbukti, 2 tahun yang lalu. Aku rasa dia sudah menjalin hubungan dengan seseorang pilihannya, yang aku ketahui namanya Amelia.
Benar. Disini hanya aku yang mencintai dia begitu lama. Bahkan setelah bertahun tahun kami tidak bertemu, tidak pernah ada komunikasi. Disini hanya aku yang jatuh cinta, sedangkan dia mencintai orang lain yang juga mencintainya.
Sungguh nasibku, dimana setiap kali melihat timeline sosmed muncul postingannya bersama kekasihnya. Begitu menyedihkan, tapi aku tetap menyukainya. Bahkan untuk menghapus satu buah foto yang pernah kami abadikan saja aku tidak mampu. Terlalu banyak kenangan tak kasat mata yang pernah kami alami. Itulah sebabnya aku belum bisa melupakan dirinya beserta perasaan perasaan untuknya.
***
23 tahun, aku bekerja disebuah kantor dibagian Humas. Dimana aku dituntut untuk membuat semacam desain untuk promosi, iklan, dan sebagainya.
Aku menyukai pekerjaan itu, walaupun kadang kalau permintaan atasan yang terlalu riwil pasti membuatku malas meladeninya.
Karena itu aku sering lembur di kantor yang akan tutup pukul 09.00. Karena itu aku kehilangan banyak waktu untuk beristirahat atau sekedar menonton televisi. Karena itu pula aku sering lupa waktu makan sampai akhirnya berujung sakit.
Daffa, laki laki yang dekat denganku di kantor ini. Dia yang sering mengingatkan aku untuk makan. Atau sesekali dia menungguku hingga pulang lembur. Aku tidak tahu itu bermaksud kasihan sesama rekan kerja atau ada maksud lain. Maka dari itu, sesekali ketika dia mengajak pulang bersama atau makan siang bersama aku menolaknya. Aku takut apabila terlalu sering bersamanya justru akan membuat dia salah paham dengan sikapku sendiri. Aku menganggap daffa sebatas teman kerja dan teman baik di kantor.
Kembali tentang dika.
Aku masih sempat melihat postingan dika. Itu yang tidak akan aku lupakan sesibuk apapun pekerjaanku. Hingga pada akhirnya dia menghubungiku lebih dulu menanyakan kabarku.
Jangan tanya sebahagia apa saat itu, bahkan pekerjaan yang awalnya membuat mood ku berantakan bisa sebegitu mudahnya aku kerjakan.
Sejak itu kami kembali menjalin komunikasi. Aku juga mengenal kekasihnya, sesekali dia juga menghubungiku. Menceritakan kisah mereka, awal mereka bertemu, atau mengadukan sikap dika yang membuat dirinya sebal.
Aku senang, tapi hanya bohong. Aku begitu cemburu dan malas meladeninya. Untung saja aku masih bisa mengontrol emosi jadi tidak pernah kelepasan marah kepadanya.
Sekarang siapa cowok lo? tanya dika disebuah pesan singkat sore hari. Waktu itu sepedaku sedang di bengkel dan aku memutuskan untuk menaiki bus.
Gue nggak punya cowok, balasku.
Serius? Baru putus? tanyanya.
Nggak, emang nggak pernah pacaran. Balasku.
Wahhh, bisa bisanya lo nggak pacaran. Apa jangan jangan ini soal cowok yang lo taksir waktu sma itu ya?
Iya, balasku.
Gila lo, kalau gitu kenapa lo nggak omong duluan aja sih sama dia.
Gue nggak mau ngerusak kebahagiaannya saat ini. Setahu gue dia udah punya pacar. kataku.
Bisa bisanya lo suka sama orang selama itu.
Aku hanya tersenyum dan tidak membalas lagi pesannya. Kadang disituasi seperti itu, aku banyak banyak merapalkan doa agar hubungannya dengan Amelia segera berakhir. Aku rasa tidak hanya aku, perempuan perempuan lain mungkin juga akan melakukan hal yang sama.
Tidak disangka, sebuah pertemuan akhirnya terjadi diantara kami. Kami bertemu di sebuah restaurant dekat kantor, tempat yang sering aku kunjungi ketika makan siang. Dia datang sendirian begitu juga denganku.
Aku tidak begitu menyadari awalnya. Dia menghubungiku lebih dulu untuk memastikan, katanya. Barulah aku menemukan sosoknya yang duduk beberapa meja dari tempatku.
"Apa kabar?" Pertanyaan pertama yang ia lontarkan sambil menjabat tanganku erat.
Sungguh, itu adalah jabat tangan yang pertama setelah bertahun tahun kami tidak bertemu. Dan aku kembali merasakan debaran debaran itu lagi.
"Baik," jawabku singkat untuk mengakhiri jabat tangan tersebut.
"Duduk sini aja, gue makan sendirian kok," katanya kemudian. Aku mengangguk dengan senang hati.
Kami melanjutkan obrolan. Walaupun aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk memperhatikan sosok di hadapanku.
"Masih sendiri nih?" Tanyanya membuka topik baru.
"Iya, masih betah." Jawabku.
"Emang siapa sih Fir namanya? Gue kenal nggak? Secara lo suka dari SMA, siapa tahu gue kenal dan bisa bantuin lo." Katanya.
Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Secara ini bukan waktu yang tepat.
"Dia siswa sma lain, dan lo nggak kenal. Kita ketemu di tempat les waktu itu. Seperti yang pernah gue bilang dia udah punya pacar, jadi ya udahlah nggak usah dilanjutin, biarin gue sama perasaan gue ini." Ucapku.
"Kalau gitu ya mendingan lo coba move on aja Fir, daripada lo ngabisin waktu buat nunggu yang jelas jelas nggak pasti." Ucapnya memberi saran.
"Iya," batinku. Memang benar aku membuang waktuku begitu banyak dalam urusan hati. Aku menolak laki laki yang mungkin tulus mencintaiku, tapi sekali lagi perasaan tidak bisa dipaksakan.
"Apa perlu gue cariin, ada temen temen gue yang juga masih jomblo," katanya.
"Nggak usah, gue bisa cari sendiri. Lagian namanya jodoh nggak akan kemana." Balasku.
Tak lama dari obrolan itu, aku memutuskan untuk kembali ke kantor. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih dan harapan agar bisa kembali bertemu.
"Iya, sama sama. Semoga aja kita bisa ketemu lagi. Sebenernya masih banyak hal yang pengen gue ceritain ke lo," katanya.
"Hahaha, kan bisa via DM," balasku.
"Nggak asyik Fir kalau lewat chat, enakan langsung. Lo bisa lihat ekapresi gue gimana, gue juga bisa lihat gimana tanggapan lo." Katanya.
"Hehhe iya sih, ya udah atur rencana aja kalau emang mau ketemu lagi," kataku.
"Siap, hati-hati," ucapnya sambil melambaikan tangan dan aku segera keluar dari restaurant tersebut.
Bahagia? Tentu saja, ternyata selama ini walaupun kami tidak pernah bertemu dia masih membutuhkanku. Tidak apa hanya sebagai teman curhat, karena biasanya teman curhat adalah awal rasa nyaman dan akhir dari takut kehilangan.
***
Senin, 29 Oktober 2018, cafe latte, meja nomor 5 dekat jendela yang langsung memperlihatkan ramainya jalan raya.
Aku berjalan memasuki cafe tersebut. Dari kejauhan aku melihat dika sudah duduk di meja tersebut sambil bermain ponselnya. Aku tersenyum, bukan kepada dika, melainkan dengan diriku sendiri, apa ini sebuah kesempatan? Batinku. Atau justru hari dimana semua akan diputuskan, antara aku harus mundur atau sebaliknya.
"Hai," sapaku kemudian langsung duduk. "Lama ya? Sorry, tadi ada masalah dikit," lanjutku.
"Santai aja, gue juga baru 15 menitan dateng." Jawab dika.
"Mau pesen sekarang?" Tanyanya.
"Boleh," jawabku.
Dia memanggil pelayan, aku sebisa mungkin menahan untuk tidak terlihat begitu terpesona dengan dika.
"Silakan dipilih menunya mbak," kata dika sambil memberikan buku menu.
"Iya mas, terima kasih," balasku yang mendapat tatapan heran dari pelayan cafe tersebut.
Setelah kami selesai memesan, dimulailah obrolan yang sudah aku tunggu-tunggu.
"Lo tahu nggak sejak lulus sma gue baru pacaran lagi pas kerja. Awalnya gue kenal cewek gue yang sekarang itu pas magang, dia 3 tahun lebih tua dari gue." Kata dika mulai bercerita.
"Serius? Perasaan nggak beda jauh deh kalau dilihat dari fotonya,"
"Dia emang kelihatan muda banget, awalnya gue pikir dia juga anak magang eh ternyata karyawan di sana, walaupun terhitung baru."
"Terus?" Tanyaku.
"Kebetulan setelah selesai kuliah kantor itu butuh karyawan ya udah gue masuk dan bisa kenal sama dia sampai akhirnya jadian." Dika menghela napas. "Awalnya dia ragu sama gue, secara gue lebih muda. Tapi gue yakinin dia untuk ngejalanin dulu, mau deh akhirnya." Lanjutnya.
"Ohh, jadi gitu,"
"Dan setelah itu fir, gue baru percaya sama omongan lo pas sma. Kalau kadang setelah kita pacaran lama kelamaan kita akan tahu sifat sebenarnya atau hal hal yang selama ini nggak kita tahu,"
"Kenapa emang?"
"Dia tuh cemburuan orangnya, selama 2 tahun gue pacaran udah nggak kehitung berapa kali kita marahan sampe pernah putus terus balikan lagi. Gue jadi mikir, lebih kekanak kanakan dia dibanding gue."
"Yah mungkin dia bener bener takut kehilangan lo," kataku.
"Tapi itu udah berlebihan banget loh fir, sekarang aja gue baru ada masalah sama dia." Katanya.
"Wah bahaya dong, kalau dia tahu lo ketemu sama gue. Bisa selesai guenya,"
"Tenang aja, nggak akan, hahaha," kekehnya.
"Oh iya, selama gue nggak ada lo curhat sama siapa?" Tanya dika.
"Nggak kebalik mas? Harusnya gue yang nanya gitu, secara dari dulu banyakan lo yang curhat," kataku.
"Hahaha, iya ya. Selama nggak ada lo gue nggak pernah nemu temen curhat lagi. Makanya kadang kalau ada masalah ya udah gue tinggal ngapain gitu, biar lupa, terus kalau udah fresh lagi baru diselesain."
Aku merasa dika yang sekarang masih sama cerewetnya dan nggak pernah basa basi.
"Kalau gue, masih sama sih kayak dulu. Selama nggak terlalu berat masalah itu gue pendem sendiri," kataku.
Kami sama sama diam.
"Oh iya, sebenernya ada yang pengen gue omongin ke lu sih fir," katanya kemudian.
"Apa?" Tanyaku.
"Dulu setelah gue lulus gue punya nadzar gitu, kalau kita bisa ketemu lagi gue bakal omong ini,"
"Omong ini? Omong pernyataan itu?" Tanyaku.
"Ternyata masih sama juga begonya," kata dika.
"Sialan lo," seruku.
"Ngomong kalau dulu gue pernah suka sama lo. Kayaknya pas gue putus deh, lo bisa aja bikin gue jadi lupa kalau gue nggak punya pacar, hahaha."
"Waktu itu gue juga percaya, bahwa nggak ada yang namanya laki sama perempuan bisa deket banget cuma atas nama temen, pasti salah satu dari mereka ada yang naksir," lanjutnya.
Aku masih diam.
"Awalnya gue mau bilang pas kita masih sekolah, cuma gue sendiri juga ragu pas lo jawab pertanyaan gue soal perpindahan hati yang terlalu cepat. Lo bilang kalau kemungkinan besar itu 'pelampiasan', rasa sesaat kepada orang yang kebetulan dekat dengan kita, memberi kita perhatian,"
Iya aku masih ingat tentang pertanyaan dan jawaban yang gue berikan. Tapi aku masih diam.
"Akhirnya gue memilih nadzar aja." Ucap dika mengakhiri.
Hening sejenak.
"Gue nggak tahu harus omong apa," kataku yang justru mengundang tawa dari dika.
"Gue juga nggak ngarep lu bakalan omong gimana gimana," ucapnya.
"Sekarang pertanyaan buat lo fir, gimana ngebedain temen beneran sama ada yang naksir diantara laki ama perempuan yang deket ngaku temenan?" Tanya dika.
"Ya....ya mana gue tahu. Gue aja belum pernah." Aku berbohong. "Gue rasa diantara 2 orang tersebut hanya dia sendiri yang tahu, selama nggak ada gerak gerik mencurigakan, orang yang jatuh cinta sama temennya itu nggak akan ketahuan." Lanjutku.
"Emmm kalau lo dulu suka sama siapa sih? Sebelum sama anak beda sekolah ini," tanya dika.
"Sama siapa ya?! Lo kalik hahahha," ucapku.
"Serius? Wahh..."
"Hahaha, emang kenapa kalau gue suka sama lo?" Tanyaku.
"Ya...kalau iya pasti dulu lo sakit hati banget, secara gue pasti udah jadian sama claudia kan?!" Jawabnya.
Aku hanya tersenyum.
"Berarti kita sebenernya pernah sama sama suka ya fir, cuma beda waktu." Katanya.
"Yahh, itu yang namanya belum jodoh." Ucapku. "Kalau misalnya gue beneran suka sama lo gimana?" Tanyaku tiba tiba, entah aku sendiri juga bingung setelah menanyakan hal itu.
"Misal...dengan posisi gue yang udah punya pacar walaupun baru marahan, mungkin gue akan menjalin pacar kontrak sama lo selama gue marahan sama amel hahahah," jawabnya.
"Kejam amat lo, hahha."
"Janganlah, tar kalau lo suka sama gue bisa sakit hati dua kali. Selain itu gue bakal kehilangan temen curhat,"
Aku tersenyum, benar, gue ini cuma temen curhatnya. Kenapa begitu sulit melupakan perasaan gue ke dika walaupun gue sudah benar benar sadar kalau sampai saat ini gue hanya temannya.
Kami masih melanjutkan obrolan sambil memakan pesanan kami. Hingga tak terasa sudah lebih dari 1 jam kami duduk di caffe tersebut.
"Rencananya besok gue pergi pindah kantor lagi. Gue bersyukur banget sih bisa ketemu lo sekarang, thank you sekali," ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Sama sama, gue juga berterima kasih karena udah ditraktir dan masih lo anggep temen," balasku.
"Pokoknya lo bakalan jadi temen curhat gue hahaha, makanya jangan sampai salah satu dari kita ada perasaan suka, bisa rusak pertemanan suci ini, hahahha" ucapnya. Aku hanya terkekeh dan mengangguk.
Dia sudah masuk ke dalam mobilnya, aku masih berdiri, mematung melihat mobil silver itu keluar dari area parkir cafe.
Ini berakhir. Tanpa aku mengakui. Tanpa sempat berucap bahwa apa yang aku misalkan tadi adalah benar adanya. Tapi ini ada baiknya, setidaknya aku tahu bahwa dia tidak pernah memiliki rasa lebih selain teman curhat. Bahwa kesempatanku sudah hilang dan harus benar benar melupakan saat ini.
Aku pergi. Pergi meninggalkan cafe itu, melanjutkan perjalananku untuk menghabiskan sisa waktu di hari itu. Aku pergi dengan bus yang juga sempat mengantarkanku atas kebahagiaan. Kali ini ia mengantarkanku atas kepedihan.
Aku tidak bohong, ini cukup melukai hatiku. Aku kecewa, tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya terus menerus meruntuki diri sendiri dan menyesali semuanya.
Seketika aku menginginkan hujan deras datang agar aku bisa menangis sepuasnya tanpa diperhatikan oleh orang lain. Hanya saja itu tidak mungkin karena sekarang bukan musim penghujan.
***
"Fir," panggil Daffa sambil menepuk lembut pundak Fira.
"Kerjaan lo udah selesai kan? Makan siang dulu yuk," ajaknya.
"Iya ayo fir, sekalian, jarang jarang kan kita makan bareng," kata desi rekan kerjanya yang lain.
"Boleh," jawab Fira kemudian beranjak dari duduknya.
***
Aku pernah menyesal menyimpan rasa begitu lama kepadamu.
Aku pernah menyesal tidak mengungkapkan perasaanku kepadamu lebih awal.
Aku pernah menyesal membuatmu nyaman bertukar cerita denganku yang akhirnya justru aku sendiri yang jatuh hati kepadamu, sendirian.
Komentar
Posting Komentar