Langsung ke konten utama

Menjelang 02 November 2018, edisi nunggu ponakan lahir

Sebelum ke bincang bincang inti, gue mau meminta maaf apabila dalam gue menulis curhatan dan sebagainya ada yang typo atau kata kata yang tidak pantas serta kalimat yang salah. Apabila ingin mengoreksi bisa lewat kolom komentar atau DM via sosmed kirim email. Terima kasih.

Yuk!!! Lanjotttt!!!!

Malam ini istri dari abang gue, Awe, udah mau lahiran. Semoga diberi kelancaran dan keduanya sehat. aamiin.

Malam ini juga saudara ipar gue dari istrinya Awe ini juga makin deket. Udah main curhat curhatan soal gebetan ahahaha. Yah apadaya dia yang masih abg yang pasti dilema soal hati, gue pernah seperti itu.

Gue jadi flashback zaman zaman dimana gue (mungkin kalau dilihat dari kacamata usia saat ini) begitu alay namun wajar pada usianya. Gue yang tiap kali ketemu gebetan pasti bawaannya senyam senyum nggak jelas, over(dosis) acting, terus senggal senggol temen sebelah atau mukul mukul manja *ini hanya didramatisir.

Kalau dia udah deket, guenya makin deg degan dan mencoba tenang. Kalau udah lewat depan apalagi sambil senyum guenya serasa pingsan.

Tiap kali lihat gebetan yang lebih akrab sama teman cewek sukanya nethink, jangan jangan suka sama si A-sialan nih si A tau gue suka masih aja diembat-sial nih gue diphpin sama doi dan pikiran pikiran lainnya. Terus kalau udah gitu kita bakalan ngeluh sama temen deket kita kalau doi gini, doi gitu, yang mungkin akan menimbulkan kejenuhan tersendiri bagi pendengarnya kalau tiap hari kita cerita hal yang sama dengan masalah yang sama.

Hingga akhirnya gue melewati masa masa seperti itu, dengan akhir yang tidak bisa dikatakan baik.
Gue tersadar, perasaan galau itu ya gue sendiri yang menciptakan, dengan bahan dasar praduga yang diragukan kebenarannya, pikiran pikiran cenderung negatif itu yang akhirnya membuat gue galau sendiri.

Mungkin kalau gue bisa lebih berpikir positif, biasa aja, gue nggak akan begitu galau saat itu. Tapi namanya juga berproses (walaupun terkesan telat) jadi jangan disalahkan begitu saja. Masih mending pada akhirnya gue sadar walaupun setelah itu gue ulangi kembali hahahha.

Karena namanya perasaan, jelas nggak bisa dipungkiri. Kalau hati masih suka ya kita tetep nggak bisa nolak. Makanya setelah lulus gue masih aja stalking akun sosmed dia, gue hampir aja mau menanyakan perasaan dia (lagi), gue yang pengen terus terusan chatting sama dia (padahal nggak ada bahan).

Sampai akhirnya, membutuhkan waktu kurang lebih 1 tahun lebih setelah lulus gue mulai belajar untuk mengikhlaskan dan membiarkan dia pergi. Walhasil gue bahagia hahaha, semoga aja ini juga berlaku ketika gue ketemu langsung ama si doi. Gue udah biasa aja, nggak begitu setertarik dulu, dan biasa aja. Ya mungkin ketika storynya lewat ya gue mampir, sekiranya menarik gue komen (walaupun dingin balesnya). Setidaknya gue nggak sefanatik dulu.

Gue lebih bahagia kayak gini, nggak ada perasaan suka sama orang. Walaupun kadang suka sok sokan ada yang gue suka gitu. Suka baper baperan, padahal itu basa basi semata.

Gue bisa lebih fokus sama diri gue sendiri. Dimana gue punya badan yang juga harus dipikirkan kesehatannya, gue masih punya jiwa yang harus dipastikan kewarasannya, gue juga punya batin yang perlu dijaga kebahagiaannya.

Jodoh udah ada yang ngatur, kita usahani, tapi untuk gue bukan saat ini. Gue perlu banyak berbenah diri dulu sebelum bertemu jodoh gue kedepannya, biar kita kelihatan imbang.

Gue lebih suka seperti ini, produktif nulis (tapi basa basi doang). Produktif kerja (kalau lagi nggak males), produktif bantuin nyokap (kalau nggak capek), produktif dalam segala hal ibadah (ini insyaallah akan berjalan setiap harinya mengingat mati nggak pake permisi).

Gue lebih suka seperti ini, menjadi adik kecil selamanya dimata abang abang dan para istrinya hahahaha, agar bisa dapet jajan gratis.

Gue lebih suka seperti ini, walaupun ada masalah bisa bawa santai aja. Tinggal tidur paginya balik lagi, aamiin.

Gue lebih suka seperti ini, tapi bingung mau nutupnya gimana. Hahaha semoga saja semuanya akan berjalan sesuai harapan, gue yang bisa kembali ke jalan yang benar, berbenah diri dengan lancar tanpa cobaan berat. Keempat abang beserta istri yang semoga segera diberikan momongan yang menggemaskan dan membanggakan umat manusia. Kesehatan untuk orang tua tercinta, tersayang, tak tergantikan. Kucing gue yang bisa gede banget kayak kucing ras maincoon (gue asal nulis), blog gue yang ada pembacanya dan mau komentar. Thankyou and i love you all.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...