Langsung ke konten utama

Kala Hujan

Hujan, tidak seperti biasanya yang memilih turun sore hari. Harinini sejak pagi buta hujan sudah mengguyur syahdu, menyebarkan tiap tetesnya hingga meresap ke tanah, mengalir di selokan hingga ke sawah, ke sungai sampai lautan entah bagian mana.

Sayang sekali, hujan tidak bisa menjadi alasan untuk tidak pergi ke kampus. Sebenarnya tidak ada masalah juga di kampus, tapi perjalanan menuju kampus itu yang menyebalkan. Berjalan kaki, melewati genangan yang sewaktu waktu bisa menjadi jebakan, terutama ketika genangan itu mulai beradu dengan roda roda besi berjalan yang tidak mau bertanggung jawab. Bisa bisa payungku tidak lagi kupakai untuk menutupi kepala tetapi menutupi bagian samping tubuhku.

Tapi di sisi lain, situasi seperti ini membuatku kembali berhayal tentang laki laki itu. Kita memang tidak satu kelas tapi siapa tahu Tuhan memberikan cerita hari ini dengan mempertemukanku dengan dia di area parkir kampus. Dengan itu aku bisa berbasa basi menawarinya tumpangan payung hingga ke kelasnya yang sebelahan dengan kelasku, membuat obrolan kecil sambil terus berjalan, hingga ucapan terima kasih yang tentu saja akan dia ucapkan nantinya. Atau mungkin tidak akan ada obrolan karena sama sama bingung untuk mengawali hingga ucapan terima kasih yang menjadi kalimat pertama dan terakhir dipertemuan itu, tak lupa sedikit senyuman manis yang ia miliki, yang aku dan mungkin perempuan lainnya kagumi.

Hingga akhirnya tak terasa hayalan itu benar benar membawaku sampai area parkir kampus. Tidak begitu ramai, ada beberapa perempuan yang asyik mengobrol dan satu laki laki yang hanya tampak punggungnya. Aku tersenyum, tapi hanya sebentar, aku sedikit ragu dengan postur tubuhnya, seperti bukan laki laki yang ku maksud, tapi siapa tahu hari ini dia berubah karena guyuran hujan dan Tuhan mengabulkan hayalanku.

Semakin dekat, lebih dekat hingga tepat disampingnya. Tidak, dari arah sisi belakang aku sudah tahu itu bukan laki laki yang ku maksud. Melainkan teman sekelasku.

"Ayo buruan masuk kelas," seruku dengan terus berjalan cepat tanpa menawari tumpangan kepadanya.

Sudahlah, ini semacam hukum alam. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Batinku, mencoba menenangkan diri sendiri dan menganggap ini hal biasa.

Aku masuk ke dalam kelas, bersikap seperti biasanya dan semua seperti hari hari sebelumnya, hanya bisa melihat dia dari kejauhan dan di waktu waktu tertentu. Seperti biasanya, hanya bisa dan untung saja Tuhan masih memberikan hal itu.

---

Terinspirasi dari cerita teman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...