Hujan, tidak seperti biasanya yang memilih turun sore hari. Harinini sejak pagi buta hujan sudah mengguyur syahdu, menyebarkan tiap tetesnya hingga meresap ke tanah, mengalir di selokan hingga ke sawah, ke sungai sampai lautan entah bagian mana.
Sayang sekali, hujan tidak bisa menjadi alasan untuk tidak pergi ke kampus. Sebenarnya tidak ada masalah juga di kampus, tapi perjalanan menuju kampus itu yang menyebalkan. Berjalan kaki, melewati genangan yang sewaktu waktu bisa menjadi jebakan, terutama ketika genangan itu mulai beradu dengan roda roda besi berjalan yang tidak mau bertanggung jawab. Bisa bisa payungku tidak lagi kupakai untuk menutupi kepala tetapi menutupi bagian samping tubuhku.
Tapi di sisi lain, situasi seperti ini membuatku kembali berhayal tentang laki laki itu. Kita memang tidak satu kelas tapi siapa tahu Tuhan memberikan cerita hari ini dengan mempertemukanku dengan dia di area parkir kampus. Dengan itu aku bisa berbasa basi menawarinya tumpangan payung hingga ke kelasnya yang sebelahan dengan kelasku, membuat obrolan kecil sambil terus berjalan, hingga ucapan terima kasih yang tentu saja akan dia ucapkan nantinya. Atau mungkin tidak akan ada obrolan karena sama sama bingung untuk mengawali hingga ucapan terima kasih yang menjadi kalimat pertama dan terakhir dipertemuan itu, tak lupa sedikit senyuman manis yang ia miliki, yang aku dan mungkin perempuan lainnya kagumi.
Hingga akhirnya tak terasa hayalan itu benar benar membawaku sampai area parkir kampus. Tidak begitu ramai, ada beberapa perempuan yang asyik mengobrol dan satu laki laki yang hanya tampak punggungnya. Aku tersenyum, tapi hanya sebentar, aku sedikit ragu dengan postur tubuhnya, seperti bukan laki laki yang ku maksud, tapi siapa tahu hari ini dia berubah karena guyuran hujan dan Tuhan mengabulkan hayalanku.
Semakin dekat, lebih dekat hingga tepat disampingnya. Tidak, dari arah sisi belakang aku sudah tahu itu bukan laki laki yang ku maksud. Melainkan teman sekelasku.
"Ayo buruan masuk kelas," seruku dengan terus berjalan cepat tanpa menawari tumpangan kepadanya.
Sudahlah, ini semacam hukum alam. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Batinku, mencoba menenangkan diri sendiri dan menganggap ini hal biasa.
Aku masuk ke dalam kelas, bersikap seperti biasanya dan semua seperti hari hari sebelumnya, hanya bisa melihat dia dari kejauhan dan di waktu waktu tertentu. Seperti biasanya, hanya bisa dan untung saja Tuhan masih memberikan hal itu.
---
Terinspirasi dari cerita teman
Komentar
Posting Komentar