Darf ketiga 03 Januari 2018 dengan pemberian judul Cinta dalam Diam dan beberapa perubahan lainnya.
-
Terhitung 2 tahun, sebelum akhirnya aku memutuskan
untuk meninggalkan tempat ini. Memilih menghapus paksa kenangan tanpa mendengar
penjelasan. Memilih bungkam walaupun amarah terus berkumandang. Aku akan menceritakan secara singkat waktu itu.
Ketika aku dengan laki laki yang bernama Deril memutuskan untuk berpacaran.
Dia adalah teman satu kelasku di bangku SMA. Laki
laki yang benar benar sempurna dari keluarga yang cukup berada, memiliki
tampang rupawan, dia juga tidak terlalu bodoh dalam hal pelajaran, dia memiliki
skill bermusik dan suara yang mampu meluluhkam hati perempuan yang
mendengarnya.
Aku menyukainya sudah lama, tapi aku juga sadar
perempuan seperti aku tidaklah pantas menjadi pasangannya. Hingga kami lulus
pun aku hanya bisa menyimpan perasaanku ini. Hingga 1 tahun 2 tahun setelah
lulus kami kembali dipertemukan dalam sebuah festival photografi. Belum juga sebuah kebetulan ternyata kakakku cukup kenal dengam Deril di salah satu
komunitas musik. Kebetulan yang menyenangkan buatku, karena saat itupun aku
masih menyimpan rasa kepadanya.
Beberapa kali kami kembali bertemu, dan semakin
dekat dan membuatku lebih mengenal dirinya. Hingga tahu ternyata dia sudah memiliki
perempuan idaman. Dia memang tidak pernah bercerita apapun tentang perempuan
itu, tapi aku dengan sifat dasar perempuan pada umumnya mencoba mencari tahu
sendiri tentang perempuan idamannya yang ternyata temannya sewaktu kuliah,
berprofesi sebagai model. Mereka bahkan sempat bekerja sama yang membuat
hubungan mereka semakin dekat. Aku tahu hal itu dari foto yang perempuan itu
posting di akun media sosialnya.
Beberapa bulan kemudian, kami kembali bertemu di
pameran elektronik. Dia membantu temannya menjaga stand makanan dan minuman.
Akhirnya aku memilih duduk diam untuk sekedar berbincang bincang dengannya.
"Gimana soal band?" Tanyaku.
"Udah lama gue berhenti dan fokus sama jasa
fotografi." Jawabnya sambil sibuk melayani satu dua pembeli.
"Kalau soal pacar? Udah lama juga?"
Tanyaku.
"Hahaha iya udah lama ngejomblonya,"
jawabnya yang sudah kembali duduk sambil mengelap meja raciknya.
"Heh, bohong ilang beneran loh,"
"Kenapa juga harus bohong sama lo, nggak ada
untungnya,"
"Serius? Sorry, kalau gitu,"
"Santai aja,"
Ada rasa tidak enak saat membahas soal itu.
"Kalau lo sendiri?" Tanyanya.
"Gue ma nggak pernah pacaran, nggak tahu kenapa
masih belum move on," jawabku.
"Move on dari gebetan?" Tanyanya.
"Hahaha iya," balasku.
"Berapa lama emang?"
"Satu, dua tahunan kayaknya," jawabku
sambil mengingat ingat.
"Gila!" Serunya.
"Yah, kenapa? Namanya juga suka, ya anggap aja
wajar," Dia hanya menggelengkan kepalanya dan aku hanya
tersenyum.
Sejak saat itu gue semakin dekat dengan Deril.
Walaupun akhirnya gue kembali mengetahui sesuatu yang menyakitkan, bahwa Deril
belum sepenuhnya bisa melupakan mantannya itu. Dia mulai percaya untuk
menceritakan hal hal yang mengganggu pikirannya.
"Gue tahu siapa yang bisa bikin lo move
on," ucapku disela sela ia bercerita.
"Siapa?" Tanyanya.
"Gue, hahaha. Kenyataannya lo bisa begitu bebas
cerita masalah lo sama gue. Setelah ketemu gue lo juga bisa ketawa lagi,"
jawabku dengan mimik bercanda bahkan aku juga tertawa ketika mengatakan hal
tersebut. Tapi tidak dengan Deril yang justru nampak serius
menatap ke arahku.
"Heh, biasanya aja lihatnya," seruku.
"Siapa gebetan lo?" Tanya Deril kemudian.
"1-2 tahun yang lalu kita masih SMA, berarti gue tahu," kata Deril.
"Kenapa jadi gue?" Balasku bertanya.
"Karena lo makin ngaco kalau omong, siapa tahu
itu efek jomblo akut yang lo derita."
"Wah ngelunjak ini anak," seruku sambil
melemparkan kentang goreng ke arahnya.
"Hahaha, nggak nggak, serius kali ini, siapa
sih orang yang bisa bisanya bikin lo gagal move on sampai sekarang?"
Aku mulai berpikir, kenapa gue nggak coba cerita
soal perasaan gue ke Deril yang sebenernya? Dan akhirnya sata itu juga aku yang
mulai bercerita.
"Jangan kaget tapi, dengerin gue sampai selesai
dulu."
"Wah panjang nih kayaknya,"
"Iyalah, 2 tahun lebih," kataku.
"Jadi?"
"Jadi orang itu temen sekelas gue, namanya
Deril Setyawan Riw-q." Ucapku sambil mengaduk minumanku dengan sedotan.
"Yahh, gue sadar aja waktu itu, perasaan gue
nggak akan terbalas dan hanya terpendam. Gue beberapa kali ketemu sama dia yang
akhirnya gue sama dia makin deket. Dan sejak saat itu gue jadi makin sadar lagi
kita cocok temenan dibanding pacaran." Terangku.
"Jadi lo tenang aja, gue udah bisa move on dari
lo," tambahku yang memberanikan diri setengah mati menatapnya.
"Serius?" Tanyanya.
"Iyalah, apa ada tampang bohong kayak
gini?" Tanyaku sambil menunjuk wajahku sendiri.
“Ya udah, kalau gitu kita pacaran aja,” kata Deril
seketika itu juga.
“Ha?! Gila lo,” balasku
“Ya kenapa nggak? Walaupun katanya lo udah move on
dari gue tapi setidaknya masih ada bekasnya kan?” tanya Deril.
“Ya nggak kayak gini juga kali,” kataku.
“Yah gimana? Gue harus nembak lo dengan cara
romantis?” tanya Deril.
“Bukan gitu, soal perasaan lo,” kataku.
“Gue bisa belajar untuk suka sama lo,” ucapnya.
Aku masih diam, tidak habis fikir dengan ucapannya.
“Lo diem, gue anggap setuju, mulai sekarang kita
resmi pacaran.” Kata Deril. Aku hanya tersenyum, walaupun dalam hati banyak
keraguan tentang hal ini.
Sejak saat itu Deril benar-benar menjadi sosok pacar
untukku. Bahkan hingga berjalan 1 tahun dan kami masih baik baik saja. Tidak
lebih tepatnya terlihat baik-baik saja, karena setelah hari jadi kami yang ke 1
tahun, Deril mulai mengakui perasaannya.
“Kemarin aku ketemu sama Nadia,” ucap Deril membuka
topik pembicaraan.
“Oh ya, dimana?” tanyaku.
“Di tempat kerja, dia jadi model.” Jawabnya.
“Cieee...seneng dong bisa ketemu mantan,” balasku.
“Kamu nggak marah?” tanya Deril.
“Kenapa harus marah?” jawabku bertanya.
“Ya...biasanya kalau pasangan kita ketemu mantan
pasti bakalan marah, cemburu gitu,” jawab Deril.
“Kita emang pacaran, tapi selama kita belum nikah,
dunia kamu masih dunia kamu, dan dunia aku juga masih dunia aku. Wajar aja
kalau kamu ketemu Nadia, selama kamu nggak diam diam jadian sama dia aku masih
baik baik aja,” terangku.
Deril tersenyum, “Ini nih bedanya penulis sama orang
biasa, kata-katanya kedengeran bijak,” ucapnya kemudian.
Suasana kembali hening. Diam-diam aku memperhatikan
tingkah laku Deril yang terlihat gelisah. Bahkan berulang kali aku melihat dia
menelan ludahnya.
“Kamu ada masalah?” tanyaku dengan santai.
“Nggak, kenapa?” jawabnya dengan bertanya.
“Hahaha, bilang aja, kelihatan kalau ada yang kamu
sembunyiin.” Kataku sedikit melirik ke arahnya.
Deril membalas menatapku. Aku juga menatapnya,
memberi isyarat agar ia segera bercerita.
“Aku nggak tahu,” ucapnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kita,” ucapnya yang kemudian membenarkan posisi
duduknya. “Kita udah 1 tahun pacaran, tapi nggak tahu kenapa aku rasa kita
nggak pacaran,” lanjutnya. Aku masih diam, memberi kesempatan untuk dia mengucapkan
semua pikirannya.
“Jujur, aku masih suka sama Nadia. Waktu aku ketemu
sama dia kemarin rasanya masih sama, Ra.” Ucapnya.
Aku tersenyum, “Ya...berarti kamu emang masih suka
sama Nadia,” ucapku.
“Kamu nggak marah?” tanya Deril.
“Ya buat apa?” tanyaku. “Kalaupun aku marah, kamu
juga bakal pergi kan?” tanyaku lagi. Aku mencoba menahan agar tidak menangis di hadapan
Deril.
“Kamu beneran suka sama aku Ra?” tanya Deril.
“Iya, aku suka sama kamu.” Jawabku.
“Kenapa kamu nggak pernah marah setiap kali aku ngomongin
orang lain?”
“Karena itu bukan solusinya,” jawabku aku menghapus
air mata yang sempat keluar. “Solusinya Cuma kayak gini, kita duduk berdua,
bilang apa yang kita rasain dari hati tanpa takut nyakitin perasaan pasangan
kita.” Tambahku.
“Bahkan kalau aku minta kita selesai?” tanyanya
lagi.
“Ya, karena aku nggak ada hak untuk marah atas
keputusan kamu,” jawabku mantap sambil terus menatap matanya.
Entah seperti apa wajahku saat itu, yang jelas
mungkin mataku sudah banjir dan semua memerah.
Deril meraih kedua tanganku, “Aku minta maaf,”
ucapnya.
“Iya,” balasku yang langsung melepas gegamannya
untuk menghapus air mataku.
“Kamu...harus jaga diri baik-baik. Mungkin setelah
ini kita susah ketemunya, aku pikir kamu tahu apa alasannya. Aku juga Cuma
manusia biasa yang sedih kalau diputusin, tapi aku nggak akan marah, hahaha”
ucapku.
“Makasih, Ra.” Kata Deril.
Aku masih ingat setiap detail peristiwa itu. Rasanya
masih sama baik saat itu maupun sekarang. Walaupun setelah pertemuan itu kami
sama sekali tidak ada komunikasi. Walaupun aku tahu Deril kembali kepada Nadia. Aku tahu, cepat atau lambat Deril akan mengatakan hal tersebut, karena cinta yang dibuat, hati yang terlihat mudah berbelok, itu hanya sementara. Cinta yang terasa buru-buru hanya akan membunuh secara perlahan, menusuk kita dari belakang dengan bekas sayatan yang panjang.
Aku yang saat itu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota penuh kenangan tersebut sekaligus kota tempat kelahiranku. Dengan kedok berlibur aku menghabiskan waktu kurang lebih 3 tahun dan aktif menjadi penulis di sana. Entah apakah ada niatan untuk pulang, karena sampai detik ini akupun masih takut kalau kenangan itu ikut pulang ke pikiranku, merasuk kembali ke dalam bilik rindu hingga merusak tatanan baru selama aku pergi menjauh.
***
Sajian setelah lama tertidur. Sekilas tentang pembuatan cerita ini.
Sebenarnya konsep awal cerita ini adalah si tokoh Aku ini akan balik menemui Deril, tapi berhubung gue mendadak kehilangan oksigen dan bulir bulir ide gue memutuskan untuk menghentikan cerita ini seperti di atas, dimana Aku memilih tetap bertahan di tempat "liburan"-nya dan menata kembali hatinya di sana. Tapi hal itu tidak menutup kemungkinan akan ada kelanjutannya.
Banyak lagu lagu pendukung dalam pembuatan cerita ini, yang jelas lagunya pasti galau semua.
Terima kasih untuk semua pembaca yang masih merelakan waktunya untuk membaca isi blog ini. Semoga sajian di malam hari di tahun baru 2019 ini bisa menjadi awal yang baik untuk kelangsungan hidup NRM.
Komentar
Posting Komentar