Langsung ke konten utama

Dunia Berubah : Sadar Sampah Plastik


Semakin kesini semakin banyak yang berubah, benar dunia mulai berubah karena penghuninya.
Beberapa minggu yang lalu, gue sempat ikut kajian dan saat itu ada satu pembahasan yang menarik untuk gue lanjutkan, yaitu tentang sampah plastik. Minggu-minggu sebelumnya gue juga sempat me-review novel Kekal yang isinya juga tentang alam, pentingnya menjaga kelestarian alam. Gue rasa ini perlu gue ulas karena sama-sama menyangkut tentang alam dan kelestariannya.

Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia dan Badan Pusat Statistik, sampah plastik di Indonesia ini mencapai 64 juta ton/tahunnya, sebanyak 3,2 juta ton merupakam plastik yang dibuang ke laut. Bahkan ada pula yang mengatakan hingga 300 juta ton/tahun, sungguh sangat mengenaskan sekali.

Padahal sampah plastik adalah sampah yang sulit terurai, kurang lebih memerlukan 200 – 1000 tahun agar plastik bisa terurai. Belum lagi munculnya zat kimia setelah terurainya sampah plastik tersebut yang dapat mencemari tanah sehingga berkurangnya tingkat kualitas kesuburan tanah, juga kualitas air tanah yang ikut tercemar, dan kelangsungan hidup hewan-hewan yang ada dalam tanah.

Selain itu, keberadaannya di laut juga sangat mengganggu. Baik dari segi keindahan laut maupun makhluk di dalamnya. Sampah yang ada dalam laut akan terbagi-bagi menjadi microplastics yang ukurannya 0,3 – 5 milimeter dan sangat dimungkinkan plastik tersebut termakan oleh hewan-hewan dalam laut, seperti ikan, penyu, dan sebagainya. Kandungan dalam plastik tersebut dapat melukai saluran pencernaan si hewan tersebut dan bisa saja menjadi salah satu penyebab kasus kematian hewan tersebut.

Sudah bukan hal asing apabila kita mendengar berita tentang terdamparnya paus atau ikan-ikan besar lainnya. Salah satunya adalah ditemukannya Paus Sperma yang terdampar di Wakatobi, yang membuat miris adalah ketika dilakukan pembedahan pada perut paus tersebut terdapat 6 kilogram sampah plastik, seperti rafia, botol air mineral dan masih banyak lagi.

Nggak Cuma sampai situ, nggak Cuma tanah, air tanah, dan hewan-hewan yang terlibat yang merasakan dampak buruk sampah plastik. Lama kelamaan manusia juga akan merasakan dampak tersebut apabila mengkonsumsi air yang ternyata tercemar oleh sampah platsik, mengkonsumsi ikan yang ternyata juga mengandung zat kimia dalam tubuhnya. Selain itu burung-burung yang memangsa ikan dilaut juga bisa terkena dampak dari sampah plastik tersebut.

Sekarang pertanyaannya adalah, apa yang harus kita lakukan saat ini?

Perlu diketahui adanya 3 pilar, yaitu Produsen, Konsumen, dan Pemerintah. Ketiga pihak itu sangat penting dalam upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia ini.
  1. Peranan Produsen : Dengan mengurangi penggunaan barang non-alami terutama plastik dan styrofoam, mengganti barang tersebut dari bahan kayu atau kertas. Misalnya kemasan makanan siap saji yang mungkin awalnya menggunakan styrofoam diganti menjadi kotak makanan dari kertas.
  2. Peranan Konsumen : Melakukan pengelolaan sampah dengan cara 3 R (Reduce, Reuse, Recycle), membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik, membawa tempat minum yang bisa digunakan berulang kali dan terbuat dari bahan ramah lingkungan.
  3. Peranan Pemerintah : Perlunya berkontribus dengan strategi insentif dan pinalti. Pinalti misalnya menerapkan peraturan larangan penggunaan plastik atau membuat harga plastik menjadi mahal. Dari segi Insentif misalnya mengurangi atau membebaskan pajak bagi produsen yang memproduksi produk-pruduk dari bahan alami.

Selain itu perlunya penggalakan Kampanye Sadar Sampah Plastik di masyarakat sekitar dan praktik pengelolaan sampah plastik yang baik sangat membantu dalam mengurangi jumlah sampah plastik di Indonesia.

Terima kasih atas kunjungannya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan bisa menjadi pengingat untuk kita semua. Sampai bertemu di postingan selanjutnya.

Referensi :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...