Langsung ke konten utama

Liburan

Berdasarkan KBBI Online, liburan adalah masa dimana kita bebas dari bekerja atau masuk sekolah (libur). Dan gue rasa cukup dengan tiduran di rumah selama satu hari penuh itu termasuk liburan.

Gue termasuk orang yang pengen kemana-mana tapi terbatas karena gue nggak bisa naik motor sendiri selain itu gue juga nggak ada temen untuk pergi kemana-mana. Dan yang paling penting adalah uang, yang bagi gue cukup berat untuk mendapatkannya dan (baca: apalagi) melepaskannya. Maka dari itu gue berprinsip liburan nggak perlu jalan-jalan jauh, cukup lo merasa happy dan merasa free dimanapun itu sudah termasuk liburan.

Biasanya sih satu bulan di weekend gue selalu pergi sama temen-temen gue, mainlah ke alun-alun kota makan sambil menikmati sore di sana, cerita-cerita seru, ngomongin orang atau hal-hal yang kita lihat di sana. Tapi akhir-akhir ini kita susah nyari waktu luang buat bisa sama-sama. Sekalinya mungkin ada tapi malah dateng rasa mager atau kalau nggak karena nggak ada yang ngajakin dulu jadi males.

Gue sendiri mengaku merasa kurang liburan, seperti yang gue bilang di postingansebelumnya. Gue merasa kayak setres aja, kemudian banyak pikiran, sedikit sensitif dan sebagainya, kemudian berujung sakit. Pernah nih, disituasi yang sama, posisinya gue udah merasa nggak enak badan hari Minggu dan Senin-nya masih kerasa lemesnya, tapi karena gue kepikiran soal pekerjaan, juga kebetulan butuh uang, gue maksain berangkat tapi Cuma bertahan setengah hari. Hari selanjutnya gue masih masuk dan gue merasa baikan, tapi mulailah demam lagi di malam harinya, sampai akhirnya gue memutuskan hari Rabu itu nggak berangkat. Sebenernya udah sejak Senin gue disuruh periksa tapi guenya males, cape aja minum obat terus, belum lagi dorongan untuk suntik dari orang tua, berat sekali.

Hari Kamis-nya gue baru periksa itupun sore hari nungguin abang gue pulang dari kerja. Dan selama gue nunggu nomor antrian waktu itu gue mikir, apa gue ambil sisa hari minggu ini buat libur aja ya, lagian kalau weekend itu kerjaan nggak terlalu banyak, gue rasa orang disana masih bisa ngatasin. Keesokan harinya gue memberanikan bilang ke Ibu untuk izin untuk ambil libur sampai Sabtu, dan untung aja dibolehin. Langsung deh gue Whatsapp atasan gue dengan baik-baik dan lemah lembut, sesopan mungkinlah gue minta izin libur sekaligus merelakan gaji gue minggu itu sebagai pembayaran libur 2 hari yang gue minta itu, untungnya atasan gue pengertian dan mengizinkan gue untuk libur dan masuk kembali hari Senin.

Tapi jangan dikira selama dua hari itu gue happy-happy, pergi main. Nggak! Gue Cuma tiduran di rumah, bangun pagi, sarapan sambil nonton TV, balik ke kasur lagi nonton film di HP, atau kalau nggak tidur lagi. Selain itu juga sebagai sarana pemulihan kesehatan gue juga. Selama itu juga gue nggak pernah keluar rumah kalau nggak penting-penting amat, sampai sampai gue kayak mau kabur gitu pas pertama keluar gara-gara lihat cahaya luar yang kontras banget sama di dalam rumah. Gue juga sempet heran sama tanaman di depan rumah, kalau nggak salah pohon talok, yang kelihatan udah gede banget. Singkatnya gue bener-bener bisa fresh lagi, gue berasa otak gue kembali kosong, tapi bukan berarti gue jadi bego, ngah-ngoh, lebih ke merasa nggak ada beban gitu. Semangat buat kerjanya juga kayak full lagi.

Sejak saat itu gue mempunyai prinsip, ketika lo kerja itu nggak usahlah terlalu keras dalam artian memaksakan diri, kalau cape ya istirahat, gue rasa nggak ada atasan yang saking kejamnya nggak ngebolehin karyawannya istirahat. Kalau sampai sakit nanti yang rugi juga diri kita sendiri, selama masih ringan emang nggak terlalu masalah tapi kalau sampai menyangkut penyakit berbahaya seperti Asam Lambung mungkin dan sebagianya itu mending istirahat dulu sampai sembuh. Kalau tetep di paksa dan akhirnya malah mati keluarga kita yang sedih, pihak kantor bisa aja cari karyawan baru untuk gantiin posisi kita. Soal uang, kalau bahas itu kuncinya Cuma satu, bersyukur, seberapapun dapetnya kalau kita bisa bersyukur gue rasa akan cukup untuk kebutuhan kita selama menunggu gaji berikutnya. Karena manusia itu sifatnya nggak puasan, selalu merasa kurang, dan satu-satunya cara biar kita bisa merasa cukup ya dengan bersyukur tadi.

Terima kasih atas kunjungannya semoga tulisan ini bisa menghibur, lebih-lebih bisa bermanfaat dan bisa membuka pikiran. Sampai bertemu di postingan selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...