Dan setelah sekian lama gue nggak
pernah posting diblog, itu rasanya...nano nano dan gue akan menceritakan
hal-hal yang gue temui selama berminggu minggu ini.
Hari Senin, setelah hari Minggu
dimana gue menjanjikan untuk memposting review terakhir dari Koala Kumal. Tapi
sangat disayangkan ketika hari itu gue sedang dilanda penyakit yang memang
sering kambuh pas hari Senin, lambung dan diikuti rasa lemas hingga berujung
malas kemana-mana. Akhirnya gue memutuskan untuk tidak berangkat kerja waktu
itu dan gue juga tidak melakukan aktifitas lain selain gelimpungan di kasur.
Berlanjut dihari hari berikutnya,
karena ketidak hadiran di tempat kerja, pekerjaan gue menumpuk dan harus gue
selesaikan hari-hari itu juga. Malam hari waktu biasanya gue posting gue dilanda cape dan
malas belum lagi kalau ada acara lain. Akhirnya gue memutuskan untuk menunda
postingan tersebut hingga waktu yang digariskan, hhahha.
Selama berhari-hari gue bergaul
dengan pekerjaan utama gue, bercengkrama dengan temen-temen gue, menghadiri
acara-acara kajian, gue menemukan beberapa poin yang akan menjadi pokok bahasan
di postingan selanjutnya. gue berusaha membangun sekuat tenaga mood dan niat
gue untuk menulis hal hal itu, tapi ternyata nihil juga. Setiap kali gue mau
tidur gue selalu mengawang, semacam mereka-reka, memikirkan bagaimana dengan
isi topik A nantinya, gue mencoba googling juga, tapi tetep aja ketika mereka
berhasil ngumpul, mood dan niat gue yang nggak mau ngumpul-ngumpul.
Memang akhir-akhir ini gue seperti
diserang oleh rasa malas yang kelewatan. Dimana yang gue mau Cuma bangun tidur
makan, nonton tv, tidur lagi, nonton film, dan melakukan semua kegiatan di
rumah aja. Rasanya tuh enak enak jengkelin, tahulah gimana, kalian merasakan nyaman
dan enak tapi kalian juga kepikiran sama risiko atas apa yang sedang kalian nikmati
saat itu. Pekerjaan utama yang atasannya sama sekali bukan keluarga gue, bukan
gue juga, iya, itulah yang menjadi risiko utama ketika gue memutuskan untuk
tidak kerja.
Suatu hari, orang tua gue bilang,
“untung ya juraganmu itu baik orangnya, coba kalau dia sama kayak juragan
juragan kebanyakan di luar sana, udah dipecat kamu,” gue diem denger omongan
itu. Kalian tahulah gimana rasanya, kayak semacam lo disuntik, ngagetnya sekali
tapi nyut-nyutnya sampai berkali-kali bahkan sampai besok-besoknya lagi. Tapi
nggak tahu kenapa sifat egois gue itu (atau keras kepala, gue juga bingung) selalu menang, bahkan pemikiran itu suka
gue lupain, walaupun pada akhrinya gue akan menyesal dikemudian harinya.
Makin ke sini makin menjadi-jadi,
sudah dipastikan bahwa setiap minggu gue akan terserang penyakit lambung
dan akhirnya nggak masuk kerja. Gue juga merasa tidak enak dengan atasan gue.
Gue kembali berfikir lagi, apa sih sebenarnya penyakit gue ini, apa ini semacam
penyakit yang gue buat sendiri, apa ini memang penyakit yang kumat lagi kumat
lagi dihari yang sama, atau gimana?! Dan mulailah sistem pengandaian gue
bekerja, mungkin semua ini gue sendiri yang buat. Mindset semacam gue
pasti sakit di hari Senin, itu sakit lambung gue, yang membuat semua itu benar
terjadi.
Flashback dikit, dulu
waktu zaman sekolah gue juga pernah mengalami penyakit seperti ini. Setiap hari Jumat
pasti gue absen karena sakit, tapi gue lupa sakit apa. Sampai akhirnya gue
memiliki julukan tersendiri yaitu, penyakit hari jumat. Memang di hari itu ada beberapa kegiatan yang memang sengaja gue hindari, karena
takut aja ketemu sama orang-orangnya. Tapi setelah gue melalui masa-masa itu
dan naik tingkatan, gue nggak sakit lagi, karena gue mencoba menerima dan
menikmati hari Jumat itu, alias acara itu udah nggak ada lagi.
Balik lagi ke soal penyakit, sekitar
tahun 2018 awal kalau nggak salah, gue benar-benar mendapatkan serangan Asam
Lambung hebat. Setiap kali gue periksa dokter selalu bilang bahwa
yang menjadi pemicu Asam Gue naik itu adalah banyaknya pikiran, selain pola
makan yang tidak teratur dan kurang menjaga apa aja yang dimakan. Gue coba
periksa ke dokter lain, jawabannya sama gue yang harus mencoba menyalurkan apa
yang menjadi beban dipikiran gue. Gue masih nggak ngeh waktu itu, gue rasa
gue hidup ini nggak pernah mikir malahan, karena kenyataannya gue bolos
bolak-balik gue juga nggak mikir gimana perasaan atasan gue dengan tingkah laku
gue ini, gue nggak mikir gimana perasaan nyokap gue lihat kelakuan anaknya yang
Naudzubillah ini. Gue juga nggak pernah mikir siapa yang akan jadi
presiden selanjutnya.
Sampai akhirnya atasan gue yang
justru merekomendasikan dokter baru untuk periksa penyakit gue. Alhamdulillah
semua atas izin Allah, gue bisa pulih dari Asam Lambung itu. Pernah sekali
sempet kambuh tapi masih bisa teratasi. Dan justru malah menjadi
kambuh-kambuhan seperti yang gue katakan di atas-atasnya tadi.
Sampai titik ini, gue bisa
menyimpulkan. Sehatnya kita, bahagianya kita, sedihnya kita itu kuncinya ya
dikita sendiri. Semua kembali ke bagaimana mindset yang kita terapkan.
Selain itu bagaimana hubungan kita dengan sesuatu hal itu (pekerjaan,
lingkungan, manusia sekitarnya). Dan satu hal yang sangat penting yaitu rasa
Syukur kita kepada Allah atas apa yang telah kita dapatkan dibandingkan
orang-orang diluar sana (yang dibawah kita).
Gue sendiri juga akhirnya mulai
menerapkan kedisiplinan sendiri, dimana gue harus serius dengan apa yang gue
kerjakan, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya lagi. Gue mengubah kembali mindset
yang gue gunakan selama ini. Dan semoga aja berhasil agar hidup gue lebih baik.
Gue sendiri juga muak sebenarnya menjalankan hidup gini, karena dicoba sakit
itu nggak ada enak-enaknya. Hal kecil aja, lo laper tapi lo nggak bisa makan,
itu nyiksa sekali teman-teman.
Selain itu perlunya kita menjaga kesehatan pikiran kita, jangan sampai kita setres karena seperti yang gue bilang tadi, penyebab gue sakit lambung itu kemungkinan besar karena banyak pikiran. Dibandingkan dengan pekerjaan gue sebelumnya, gue nggak pernah makan siang dan kerja full jam 9 sampai jam 5 sore, tapi gue sehat-sehat aja karena gue menjalani pekerjaan itu dengan happy tanpa ada pikiran-pikiran berat. Perlunya teman bicara dan terbuka agar pikiran kita benar-benar waras.
Untuk saling mengingatkan aja,
diusia 20-an kita harus berpikir lebih, mulai belajar bersyukur, belajar
menikmati dan mencintai apa yang sudah kita dapatkan, walaupun kadang
disela-selanya ada hal-hal yang tidak kita sukai atau bahkan banyak hal-hal
yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Itu lumrah, wajar saja, memang
perlu banyak bersabar juga dalam menghadapi hal-hal semacam itu. Ibarat kita
jadi petani, kita harus bersabar menjalani langkah-langkahnya, mulai dari menanam benihnya, memupuk, merawat, hingga
berbulan-bulan barulah ketika masa panennya tiba kita baru merasakan nikmatnya
hasil tanaman kita.
Terima kasih atas kunjungannya, gue
rasa cukup disini aja karena gue yakin semakin banyak yang gue katakan semakin
nggak mutu jadinya. Tapi tetap, semoga apa yang gue bagikan ini bermanfaat
kembali membuka pikiran, menyegarkan walaupun sedikit, menghilangkan setres
walaupun sedikit. Semoga dengan ini pula bisa membantu gue untuk kembali sehat,
karena telah membagi sedikit keresahan yang gue rasakan. Sampai bertemu di
postingan selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar