Langsung ke konten utama

Membangun Mental dan Mindset Baru di Tahun 2019


Dan setelah sekian lama gue nggak pernah posting diblog, itu rasanya...nano nano dan gue akan menceritakan hal-hal yang gue temui selama berminggu minggu ini.

Hari Senin, setelah hari Minggu dimana gue menjanjikan untuk memposting review terakhir dari Koala Kumal. Tapi sangat disayangkan ketika hari itu gue sedang dilanda penyakit yang memang sering kambuh pas hari Senin, lambung dan diikuti rasa lemas hingga berujung malas kemana-mana. Akhirnya gue memutuskan untuk tidak berangkat kerja waktu itu dan gue juga tidak melakukan aktifitas lain selain gelimpungan di kasur.

Berlanjut dihari hari berikutnya, karena ketidak hadiran di tempat kerja, pekerjaan gue menumpuk dan harus gue selesaikan hari-hari itu juga. Malam hari waktu biasanya gue posting gue dilanda cape dan malas belum lagi kalau ada acara lain. Akhirnya gue memutuskan untuk menunda postingan tersebut hingga waktu yang digariskan, hhahha.

Selama berhari-hari gue bergaul dengan pekerjaan utama gue, bercengkrama dengan temen-temen gue, menghadiri acara-acara kajian, gue menemukan beberapa poin yang akan menjadi pokok bahasan di postingan selanjutnya. gue berusaha membangun sekuat tenaga mood dan niat gue untuk menulis hal hal itu, tapi ternyata nihil juga. Setiap kali gue mau tidur gue selalu mengawang, semacam mereka-reka, memikirkan bagaimana dengan isi topik A nantinya, gue mencoba googling juga, tapi tetep aja ketika mereka berhasil ngumpul, mood dan niat gue yang nggak mau ngumpul-ngumpul.

Memang akhir-akhir ini gue seperti diserang oleh rasa malas yang kelewatan. Dimana yang gue mau Cuma bangun tidur makan, nonton tv, tidur lagi, nonton film, dan melakukan semua kegiatan di rumah aja. Rasanya tuh enak enak jengkelin, tahulah gimana, kalian merasakan nyaman dan enak tapi kalian juga kepikiran sama risiko atas apa yang sedang kalian nikmati saat itu. Pekerjaan utama yang atasannya sama sekali bukan keluarga gue, bukan gue juga, iya, itulah yang menjadi risiko utama ketika gue memutuskan untuk tidak kerja.

Suatu hari, orang tua gue bilang, “untung ya juraganmu itu baik orangnya, coba kalau dia sama kayak juragan juragan kebanyakan di luar sana, udah dipecat kamu,” gue diem denger omongan itu. Kalian tahulah gimana rasanya, kayak semacam lo disuntik, ngagetnya sekali tapi nyut-nyutnya sampai berkali-kali bahkan sampai besok-besoknya lagi. Tapi nggak tahu kenapa sifat egois gue itu (atau keras kepala, gue juga bingung) selalu menang, bahkan pemikiran itu suka gue lupain, walaupun pada akhrinya gue akan menyesal dikemudian harinya.

Makin ke sini makin menjadi-jadi, sudah dipastikan bahwa setiap minggu gue akan terserang penyakit lambung dan akhirnya nggak masuk kerja. Gue juga merasa tidak enak dengan atasan gue. Gue kembali berfikir lagi, apa sih sebenarnya penyakit gue ini, apa ini semacam penyakit yang gue buat sendiri, apa ini memang penyakit yang kumat lagi kumat lagi dihari yang sama, atau gimana?! Dan mulailah sistem pengandaian gue bekerja, mungkin semua ini gue sendiri yang buat. Mindset semacam gue pasti sakit di hari Senin, itu sakit lambung gue, yang membuat semua itu benar terjadi.

Flashback dikit, dulu waktu zaman sekolah gue juga pernah mengalami penyakit seperti ini. Setiap hari Jumat pasti gue absen karena sakit, tapi gue lupa sakit apa. Sampai akhirnya gue memiliki julukan tersendiri yaitu, penyakit hari jumat. Memang di hari itu ada beberapa kegiatan yang memang sengaja gue hindari, karena takut aja ketemu sama orang-orangnya. Tapi setelah gue melalui masa-masa itu dan naik tingkatan, gue nggak sakit lagi, karena gue mencoba menerima dan menikmati hari Jumat itu, alias acara itu udah nggak ada lagi.

Balik lagi ke soal penyakit, sekitar tahun 2018 awal kalau nggak salah, gue benar-benar mendapatkan serangan Asam Lambung hebat. Setiap kali gue periksa dokter selalu bilang bahwa yang menjadi pemicu Asam Gue naik itu adalah banyaknya pikiran, selain pola makan yang tidak teratur dan kurang menjaga apa aja yang dimakan. Gue coba periksa ke dokter lain, jawabannya sama gue yang harus mencoba menyalurkan apa yang menjadi beban dipikiran gue. Gue masih nggak ngeh waktu itu, gue rasa gue hidup ini nggak pernah mikir malahan, karena kenyataannya gue bolos bolak-balik gue juga nggak mikir gimana perasaan atasan gue dengan tingkah laku gue ini, gue nggak mikir gimana perasaan nyokap gue lihat kelakuan anaknya yang Naudzubillah ini. Gue juga nggak pernah mikir siapa yang akan jadi presiden selanjutnya.

Sampai akhirnya atasan gue yang justru merekomendasikan dokter baru untuk periksa penyakit gue. Alhamdulillah semua atas izin Allah, gue bisa pulih dari Asam Lambung itu. Pernah sekali sempet kambuh tapi masih bisa teratasi. Dan justru malah menjadi kambuh-kambuhan seperti yang gue katakan di atas-atasnya tadi.

Sampai titik ini, gue bisa menyimpulkan. Sehatnya kita, bahagianya kita, sedihnya kita itu kuncinya ya dikita sendiri. Semua kembali ke bagaimana mindset yang kita terapkan. Selain itu bagaimana hubungan kita dengan sesuatu hal itu (pekerjaan, lingkungan, manusia sekitarnya). Dan satu hal yang sangat penting yaitu rasa Syukur kita kepada Allah atas apa yang telah kita dapatkan dibandingkan orang-orang diluar sana (yang dibawah kita).

Gue sendiri juga akhirnya mulai menerapkan kedisiplinan sendiri, dimana gue harus serius dengan apa yang gue kerjakan, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya lagi. Gue mengubah kembali mindset yang gue gunakan selama ini. Dan semoga aja berhasil agar hidup gue lebih baik. Gue sendiri juga muak sebenarnya menjalankan hidup gini, karena dicoba sakit itu nggak ada enak-enaknya. Hal kecil aja, lo laper tapi lo nggak bisa makan, itu nyiksa sekali teman-teman.

Selain itu perlunya kita menjaga kesehatan pikiran kita, jangan sampai kita setres karena seperti yang gue bilang tadi, penyebab gue sakit lambung itu kemungkinan besar karena banyak pikiran. Dibandingkan dengan pekerjaan gue sebelumnya, gue nggak pernah makan siang dan kerja full jam 9 sampai jam 5 sore, tapi gue sehat-sehat aja karena gue menjalani pekerjaan itu dengan happy tanpa ada pikiran-pikiran berat. Perlunya teman bicara dan terbuka agar pikiran kita benar-benar waras.

Untuk saling mengingatkan aja, diusia 20-an kita harus berpikir lebih, mulai belajar bersyukur, belajar menikmati dan mencintai apa yang sudah kita dapatkan, walaupun kadang disela-selanya ada hal-hal yang tidak kita sukai atau bahkan banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Itu lumrah, wajar saja, memang perlu banyak bersabar juga dalam menghadapi hal-hal semacam itu. Ibarat kita jadi petani, kita harus bersabar menjalani langkah-langkahnya, mulai dari menanam benihnya, memupuk, merawat, hingga berbulan-bulan barulah ketika masa panennya tiba kita baru merasakan nikmatnya hasil tanaman kita.

Terima kasih atas kunjungannya, gue rasa cukup disini aja karena gue yakin semakin banyak yang gue katakan semakin nggak mutu jadinya. Tapi tetap, semoga apa yang gue bagikan ini bermanfaat kembali membuka pikiran, menyegarkan walaupun sedikit, menghilangkan setres walaupun sedikit. Semoga dengan ini pula bisa membantu gue untuk kembali sehat, karena telah membagi sedikit keresahan yang gue rasakan. Sampai bertemu di postingan selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...