Langsung ke konten utama

Produktif pt.1


Pertanyaannya hanya satu, apa ukuran bahagia?

Ketika mata yang selamanya hanya mampu menatap, melihat apa yang sedang terjadi. Ketika mulut yang bisa berucap tapi kadang ragu dengan suara yang ia keluarkan, apakah sumbang? Apakah salah? Apakah bisa dipercaya? Ketika telinga yang selamanya hanya mampu mendengarkan, tapi juga ragu akan suaranya, apakah benar? Apakah baik? Syukurlah ada hati, yang memiliki mata yang melihat dengan benar, memiliki mulut yang selalu nyaring bunyinya, ada telinga yang akan mengambil kebenaran dari semua suara yang terdengar.

Itulah gambaran manusia, banyak manusia yang memandang kita kemudian mengatakan semua hal tentang kita dari segi pandangannya entah itu baik, entah itu buruk, benar atau salah, ia juga mendengarkan komentar dari manusia lainnya yang mungkin juga memandang kita. Diantara itu semua ada hati, yaitu manusia yang layak dipanggil teman baik. Yang memandang kita cukup lama, mengenal kita sangat baik, tidak pernah menyalahkan namun mengingatkan dan mampu memaafkan, karena teman baik tahu hal yang sebenarnya dari kita, sebaik apapun kita menyimpan hal itu, sebaik apapun kita membuang bagian itu. Karena teman baik mengenal lekat gerak-gerik kita, hingga kita tidak ada lagi tempat untuk berkilah menghindari tatapan matanya atau pertanyaan dari mulutnya, hingga ia benar-benar mendengar jawaban yang sebenarnya dari kita.

Bersyukurlah ketika menemukan manusia semacam itu, tidak banyak manusia manusia yang mujur bisa bertemu dengan manusia semacam itu. Dan menerutku, itulah bahagia di dunia, menemukan manusia lain tanpa ikatan darah tapi sudah seperti sedarah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...