Pertanyaannya hanya satu, apa ukuran bahagia?
Ketika mata yang
selamanya hanya mampu menatap, melihat apa yang sedang terjadi. Ketika mulut
yang bisa berucap tapi kadang ragu dengan suara yang ia keluarkan, apakah
sumbang? Apakah salah? Apakah bisa dipercaya? Ketika telinga yang selamanya
hanya mampu mendengarkan, tapi juga ragu akan suaranya, apakah benar? Apakah
baik? Syukurlah ada hati, yang memiliki mata yang melihat dengan benar,
memiliki mulut yang selalu nyaring bunyinya, ada telinga yang akan mengambil
kebenaran dari semua suara yang terdengar.
Itulah gambaran
manusia, banyak manusia yang memandang kita kemudian mengatakan semua hal
tentang kita dari segi pandangannya entah itu baik, entah itu buruk, benar atau
salah, ia juga mendengarkan komentar dari manusia lainnya yang mungkin juga
memandang kita. Diantara itu semua ada hati, yaitu manusia yang layak dipanggil
teman baik. Yang memandang kita cukup lama, mengenal kita sangat baik, tidak
pernah menyalahkan namun mengingatkan dan mampu memaafkan, karena teman baik
tahu hal yang sebenarnya dari kita, sebaik apapun kita menyimpan hal itu,
sebaik apapun kita membuang bagian itu. Karena teman baik mengenal lekat
gerak-gerik kita, hingga kita tidak ada lagi tempat untuk berkilah menghindari
tatapan matanya atau pertanyaan dari mulutnya, hingga ia benar-benar mendengar
jawaban yang sebenarnya dari kita.
Bersyukurlah ketika
menemukan manusia semacam itu, tidak banyak manusia manusia yang mujur bisa
bertemu dengan manusia semacam itu. Dan menerutku, itulah bahagia di dunia,
menemukan manusia lain tanpa ikatan darah tapi sudah seperti sedarah.
Komentar
Posting Komentar