Langsung ke konten utama

Review : Desi Puspitasari dalam Novel Kutemu Dikau dalam Setiap Tahajudku

Novel Kutemu Dikau dalam Setiap Tahajudku yang ditulis oleh perempuan kelahiran Madiun, 7 November 1983, bernama Desi Puspitasari. Untuk kedua kalinya gue membaca novel ini dan baru sadar kalau bahasanya seperti bahasa Melayu, bahkan sebelum gue mencari tahu sosok Desi Puspitasari ini gue berpikir kalau beliau ini asli Malaysia. Ternyata memang novel ini juga diterbitkan  dalam bahasa Melayu pada tahun 2008 dan terdaftar dalam Perpustakaan Negara Malaysia.

Novel islami-romantis, sesuai dengan judulnya yang terdengar manis dan kental dengan nuansa keagamaannya, yang entah kenapa waktu SMP gue bisa-bisanya membaca novel ini dan hebatnya gue juga masih ingat sedikit penggalan ceritanya. Novel yang menceritakan tentang perjuangan seorang laki-laki bernama Agus untuk meminang perempuan idamannya.

Jadi Agus ini pemuda yang pergaulannya bisa dikatakan bebas, dalam artian dia sering meninggalkan kewajiban Shalatnya, dia juga kerap pulang malam, melakukan balapan motor liar bersama teman-temannya hingga berkejar-kejaran dengan polisi, belum lagi aksi tindik telinga yang ia lakukan dengan bantuan temannya bernama Hari. Tapi dibalik perilaku buruk dan penampilan berandalannya ia masih memiliki sopan santun terhadap orang tua. Dari sisi baiknya itulah yang akhirnya mempertemukan Agus dengan perempuan cantik yang bernama Airin, temannya semasa SMU.

Sejak pertemuan itulah baik Agus dan Airin teringat kembali masa-masa di sekolah, dimana Agus yang pernah membantu Airin menyelesaikan hukuman dari gurunya dan Airin yang membantu Agus dengan memberikan jawaban soal ujian, walaupun berakhir ketahuan oleh guru mata pelajaran saat itu. Namun langkah Agus yang berniat mendekati Airin lagi terhalang oleh Dewa, teman kuliah Airin yang juga sedang berusaha mendekati Airin. Keduanya bersaing untuk mendapatkan Airin bahkan hingga terjadi perkelahian.

Pada akhirnya Agus mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya dan langsung mendatangi rumah Airin. Disitulah ia akhirnya bertemu dengan Ayahnya yang menyandang gelar Haji yang sempat heran dengan kehadiran Agus. Namun sayang usahanya untuk bertandang langsung ke rumah Airin hingga bertemu dengan kedua orang tua Airin tidak membuahkan hasil yang baik. Secara halus Airin menolak ungkapan perasaan Agus, dengan alasan ia tidak sedang mencari seorang kekasih.

Agus merasa sakit hati, teman karibnya bernama Adam tidak tega meninggalkan Agus sendirian dalam keadaan kalut seperti itu. Ketika pulang, Ibunya pun nampak khawatir melihat kondisi Agus yang tiba-tiba memeluk dirinya sambil menangis dan berpamitan untuk kembali meninggalkan rumah.

Setelah perjalanan tanpa tujuan tersebut, akhirnya dia beristirahat di sebuah surau kecil dan bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki tersebut menyarankan agar Agus berwudhu, supaya wajahnya nampak segar dan tenang saat merenung. Awalnya Agus tidak begitu menghiraukan ucapan laki-laki tersebut, namun untuk menghormati laki-laki tersebut ia mengambil air wudhu dan baru merasakan efeknya. Ia benar-benar merasa tenang, bahkan tanpa sadar ia sujud dan menangis hingga merasakan kembali kelegaan dalam hatinya. Dari situlah ia sadar dan berniat untuk merubah sikapnya, ia kembali rajin masuk kuliah, menata kembali kehidupan sehari-harinya dan bertaubat memantaskan diri untuk menghadap kedua orang tua Airin dan melamar Airin yang sedang mencari seorang imam, pendamping dalam hidupnya menuju surga.

Sebenarnya gue jarang baca novel yang religi-romantis seperti ini. Kesan pertama gue, walaupun kental dengan unsur keagamaannya tapi nuansa romantisnya tetap terasa, walaupun bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu masih bisalah dikira-kira artinya hanya saja memang kedengaran aneh ketika dibaca begitu saja.

Dari novel ini pelajaran yang perlu kita ambil adalah kita harus patuh dan menghormati orang tua atau orang yang lebih tua dari kita, seburuk apapun perangai kita sebebas apapun pergaulan kita, karena hal tersebut juga menjadi perintah dari Allah SWT. Kita juga harus ingat akan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu melakukan ibadah Shalat 5 waktu sebagai sarana komunikasi kita kepada Sang Pencipta alam semesta. Bahkan ketika kita sedang gundah gulana, galau, hal yang pertama kali kita cari adalah ketenangan bersama Allah, seperti yang dilakukan Agus, berwudhu dan melakukan shalat, berdoa agar mendapat ketenangan dan pencerahan dari permasalahannya. Juga, sangat disarankan untuk membaca kitab Al Quran yang memang diciptakan sebagai obat bagi umat nabi Muhammad SAW selain juga sebagai petunjuk dan pedoman hidup di zaman akhir ini. Selain itu sikap lapang dada yang ditunjukkan oleh Agus ketika mendapat penolakan dari Airin perlu juga kita contoh, jangan sampai karena ditolak akhirnya kita melakukan sesuatu hal yang tidak-tidak seperti bunuh diri misalnya atau melakukan perbuatan berbau syirik seperti berdukun.

Pada dasarnya hasil memang tidak pernah menghianati usaha yang kita lakukan. Niat dan kesungguhan melakukan sesuatu hal itu, apalagi dalam hal baik, pasti akan mendapat pertolongan dari Allah SWT. Seperti firman-Nya dalam surat An Nasyroh ayat 5 dan 6 yang artinya, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Jadi bagi manusia yang mungkin sampai sekarang perasaannya masih bertepuk sebelah hati, bahkan ditinggal nikah sama gebetannya, bersabarlah karena ikan di lautan masih banyak, produsen tempe/tahu masih gampang dicari, nasi masih melimpah ruah dan murah. Bersabarlah, semua ini hanya tentang waktu dan kesungguhan masing-masing diri untuk berusaha merubah nasibnya.

Terima kasih atas kunjungan dan semoga bermanfaat dan menggugah selera untuk membaca novel ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...