Langsung ke konten utama

Review Koala Kumal Pt. 2-Patah Hati Terhebat

Bab yang membuat gue kembali berpikir, pernah belum ya, gue merasakan patah hati semacam itu?

Sebelum menuju ke pembahasan bab ini, gue beri pengertian secara bahasa tentang apa itu Patah Hati. Berdasarkan Wikipedia Indonesia, Patah hati adalah suatu metafora umum yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai, melalui kematianperceraianputus hubungan, terpisah secara fisik atau penolakan cinta.

Bab tentang Patah Hati Terhebat dalam novel ini menceritakan tentang kisah patah hati terhebat yang dialami oleh teman dari Raditya Dika. Jadi ceritanya dia adalah tipe orang yang susah untuk jatuh cinta dan sekalinya jatuh cinta ia menemukan seseorang yang benar-benar bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik. Bahkan efek patah hati yang ia rasakan sampai-sampai membuat dia tidak bisa pacaran lagi, patah hati yang bisa merubah cara pandangnya tentang pacaran atau jatuh cinta. Memang sih seberapa rasa patah hati yang pernah kita rasakan pasti sedikit-banyak akan merubah cara pandang kita tentang mencari orang baru untuk hidup kita, seperti lebih pemilih, lebih berhati-hati lagi, dan lain sebagainya.

Gue sendiri jadi ikut berpikir selama 21 tahun gue ada di bumi ini, gue belum pernah pacaran (dan mungkin tidak akan), tapi jangan berpikir gue mengalami penyakit kelainan atau gimana, dari kecil gue memang sudah diberi wejangan untuk menjauhi yang namanya pacaran, untuk menjaga diri aja, karena kadang cinta memang bisa membuat kita benar-benar buta, makanya sampai ada kejadian hamil diluar nikah, dan contoh lainnya.

Selama itu hal yang sering gue lakukan adalah menyukai seseorang secara diam-diam. Mungkin bagi kalian yang udah baca postingan gue yang dulu akan menemukan cerita singkat tentang pengalaman jatuh cinta diam-diam yang gue alami. Dari rasa itu pula gue juga merasakan patah hati karena sebuah kenyataan kalau cinta gue tidak pernah berbalas. Satu pengalaman jatuh cinta terlama sekaligus patah hati yang pernah gue alami, yaitu ketika gue mengalami jatuh cinta diam-diam kepada teman satu sekolah gue. Yang tiap harinya Cuma bisa gue lihat secara curi-curi pandang, setiap harinya ketika pulang sekolah Cuma bisa gue lihat bagian punggungnya aja. Seseorang yang Cuma bisa gue nikmati senyumnya yang ia bagi kepada orang lain.

Singkatnya, gue menyukai orang itu, sebut saja Upin, sejak kelas 1 SMA di semester kedua. Selama berjalannya waktu gue sempat dekat sekali dengan Upin, sehingga gue berpikiran bahwa Upin ini juga memiliki perasaan yang sama dengan gue. Bahkan ada beberapa kali dia sedikit lebih perhatian kepada gue hingga semakin memperkuat bahwa dia memiliki perasaan yang sama. Sampai akhirnya pada suatu waktu banyak rumor tersebar diantara temen cewek gue, disitulah kadang gue suka jengkel dan emosi tidak terkontrol, padahal jelas bahwa Upin belum menjadi siapa-siapa gue selain sebatas teman. Waktu berjalan terus hingga kami kelas 2, disaat itulah banyak pula kebetulan-kebetulan yang membuat gue harus bertahan hidup, terus bernapas saat di dekatnya. Karena ada beberapa pelajaran yang mengharuskan membuat kelompok dan kebanyakan gue satu kelompok dengan dia. Tapi hal itu masih saja menjauhkan hubungan pertemanan kami, gue nggak pernah bisa bicara leluasa dengan dia, bahkan bisa dikatakan kami tidak pernah berbicara. Gue yang biasanya cerewet ketika dalam kelas bisa menjadi sosok pendiam bahkan mungkin menjelma menjadi patung ketika ada didekatnya.

Tidak ada hal spesial di masa-masa itu, kebanyakan yang terjadi adalah kedekatan dan lagi-lagi kabar yang kurang jelas dan kurang enak di telinga gue. Ketika kelas 3 kembalilah ada beberapa masa di mana gue dengan Upin kembali akrab, hanya saja keakraban itu datang diwaktu akhir-akhir semester dimana kemudian kita disibukan dengan latihan ujian dan sebagainya dan kami tidak bisa lagi bertemu.

Masa-masa itu dimana perasaan gue kembali bergejolak, dalam hati, ayolah coba usaha lagi, coba deketin lagi, tapi mana mungkin waktu itu gue yang terkenal jaga jarak dengan laki-laki kemudian mendekati dia lebih dulu (walaupun gue pengen). Bahkan sesekali gue kepikiran untuk menanyakan langsung tentang perasaannya tapi jelas itu bukan waktu yang tepat. Hingga setelah luluspun gue nggak bisa menanyakan hal itu, bahkan diupacara perpisahan/pelepasan siswa kelas 3 gue nggak bisa bertegur sapa dengan dia, saking banyaknya manusia, saking takutnya gue untuk tidak melihat dia dalam waktu yang sangat lama.

Terhitung hingga kelulusan, gue menyukai Upin kurang lebih 2 tahun. Gue pikir setelah gue lulus dan tidak pernah bertemu dengan Upin gue akan move on, tapi tetap saja bahkan setelah 1 tahun kelulusan gue masih suka sama dia. Saat itu gue meluapkan keresahan gue, semua kegalauan gue ke temen temen deket gue dan salah satu dari mereka menyarankan untuk coba mengungkapkan lebih dulu. Jujur saja hal itu bukan pertama kalinya, karena dikejadian sebelumnyapun gue juga berakhir demikian. Gue memutuskan untuk mengatakan lebih dulu, dengan tujuan agar apa yang menjadi keresahan gue ini berubah menjadi kelegaan, walaupun gue tahu ada kesalahan di dalamnya. Tapi namanya juga belum jodoh, sebuah akhir yang sama dengan kejadian di SMP, cinta diam-diam yang berujung jatuh cinta sendirian alias bertepuk sebelah tangan.

Di novel Koala Kumal bab Lebih Seram dari Jurit Malam, ada kalimat, tapi itu yang susah sih, kalau jatuh cinta diam-diam, soalnya kita akan selamanya cuman ngebaca tanda-tanda yang nggak jelas. Ujung-ujungnya bisa disangka ge-er. Gue meng-iya-kan kalimat itu, benar, seperti yang gue katakan di atas, mengira-ira dengan sikapnya yang sedikit perhatian, kebetulan-kebetulan yang gue pikir memang jalan Tuhan mengenalkan jodoh gue lebih awal, atau gue pikir dia juga suka dengan gue.

Mungkin memang tidak sedahsyat patah hati seseorang yang sudah sempat menjalani hubungan namun harus berakhir tanpa keinginan keduanya, juga tidak terdengar seperti cerita seseorang yang benar-benar patah hati, tapi mencintai secara sepihak selama kurang lebih 3 tahun itu tidak enak. Dia bahagia dengan hidupnya tapi tidak dengan gue yang masih kebingungan bagaimana keluar dari permasalahan itu. Jujur aja, selama 3 tahun itu, tepatnya setelah gue lulus gue berusaha untuk tidak lagi memikirkan Upin dan mencoba untuk meluruskan diri agar tidak terlalu banyak pikiran dan menimbulkan jerawat-jerawat di area wajah. Namun tetap saja hal itu terus mengitari kehidupan gue bahkan untuk bertemupun gue tidak mau, karena gue takut ketika mata gue dan mata Upin bertemu tanpa sengaja, hati gue yang masih labil ini akan kembali merasakan yang namanya jatuh cinta sendirian.

Tapi tidak apa-apa, setelah 2 tahun kelulusan, bisa dibilang suka sama Upin atau obrolan seputar itu hanya sebagai bahan becandaan. Dengan seringnya gue membahas hal ini, menertawakan hal ini, maka gue mulai terbiasa dan lama-lama akan lupa sendiri. Mungkin memang belum bisa sebaik dan serapi teman-teman yang lain dalam hal ngobrol asyik, tapi dengan cara gue berani berada di hadapannya, tidak lagi menghidari dia lagi, itu sudah kemajuan luar biasa menurut gue.

Dari sini, kita bisa ambil positifnya. Peristiwa patah hati yang awalnya memang menyakitkan tapi memiliki efek yang lebih untuk perjalanan kita selanjutnya. Seperti yang dikatakan oleh teman Raditya Dika, bahwa seseorang yang pernah mengalami patah hati (terhebat) pasti akan berubah. Kita jadi lebih waspada lagi, lebih berhati-hati ketika sedang dekat dengan seseorang yang baru. Apalagi ketika usia kita sudah dianggap matang untuk memikirkan masa depan (jenjang pernikahan). Yang kita cari bukan lagi sebatas pacar yang suatu saat bisa saja pergi meninggalkan kita, melainkan seseorang yang benar-benar bisa dipegang ucapannya, memiliki keseriusan yang sama dan pemikiran yang sama pula dengan kita tentang masa depan. Itu juga yang menjadi prinsip keluarga gue sebagai dasar melarang gue berpacaran. Selain itu disatu waktu ketika gue menceritakan salah satu kisah temen gue yang putus ke nyokap, dia bilang, “untung aja kamu nggak pacaran, kan jadi nggak galau galau gitu” gue tersenyum meng-iya-kan. Memang benar, gue tidak segalau itu walaupun ditolak secara diam-diam oleh orang yang gue suka secara diam-diam. Gue masih bisa menerima, walaupun kadang ada waktunya gue bisa menangis sendirian karena merasa tidak kuat memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting itu.

Patah Hati, dua kata yang bisa merusak segalanya, meruntuhkan nyali seseorang sekalipun ia orang pemberani. Dua kata yang memang lebih menyeramkan dari pengalaman jurit malam manapun yang pernah kita lewati. Dua kata yang suaranya sama bisingnya dengan pesawat besar, yang sedang lewat di atas kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...