Setelah hari beranak menjadi minggu yang hampir menjadi bulan, akhirnya review terakhir dari novel Koala Kumal berhasil dipost.
***
Siklus
manusia pada umumnya, bertemu – berkenalan – bercanda – nyaman – suka – jadian
– bosen – marahan – rujuk – marahan – putus dan kembali lagi dari bertemu
dengan orang baru kembali berkenalan satu sama lain, mengobrol santai, timbul
rasa nyaman hingga jadian, begitu terus sampai kita benar-benar bosan dengan
siklus itu.
Tapi
ada juga yang hanya memilih melalui siklus tersebut satu kali, dikesempatan
berkenalan yang kedua kalinya ia memilih untuk tidak mudah menaruh rasa nyaman
dan beranggapan Cuma teman. Ada pula yang sama sekali tidak menemukan orang
baru sampai akhirnya dia menjalani hidupnya dengan sisa-sisa masa lalunya, iya itu gue salah satunya.
Itu
menurut gue, seperti yang gue alami juga setelah gue lulus sekolah gue tidak
banyak bertemu orang baru yang seusia gue. Semua teman kerja gue lebih tua
bahkan sudah menikah dan punya anak. Ada satu tapi perempuan dan satu laki-laki
tapi udah punya pacar. Untungnya gue tidak bosan dengan situasi tersebut, gue
rasa memang lebih baik seperti ini, tidak mengenal orang baru yang suatu saat
bisa saja meninggalkan luka lagi (#eaaa)
Di
novel Koala Kumal, bab terakhir berjudul sama dengan novel ini. Sebelum ke
inti ceritanya, gue akan singgung tentang judul koala kumal ini.
Diterangkan
dalam bab ini juga, bahwa Raditya Dika teringat dengan satu foto dalam situs Huffington Post,
ada seekor koala yang tinggal di New South Wales, Australia yang kemudian
bermigrasi sampai akhirnya beberapa bulan kemudian ia kembali ke hutan tempat
tinggalnya. Namun, ternyata selama dia pergi hutan yang pernah menjadi rumahnya
sudah rata karena adanya penebangan liar. Seperti itu pula yang dirasakan oleh
Raditya Dika di bab terakhir ini. Raditya Dika yang harus kembali bertemu dengan mantannya untuk meminta izin kisahnya di tulis dalam buku ini. Sejak
pertemuan tersebut si mantan ini menjadi sering menghubungi Raditya Dika dan
curhat tentang masalah yang sedang ia hadapi. Hingga akhirnya dia mengajak
Raditya Dika untuk balikan. Tapi Dika tidak mengiyakan hal tersebut karena dia
perempuan yang ada dihadapannya ini nampak asing, tidak seperti perempuan yang
ia kenal sebagai pacarnya dulu.
Sama
seperti kisah koala tadi, hutan (pacar) yang menjadi tempatnya pulang, kemudian
mau tidak mau koala itu harus pergi meninggalkan rumahnya, sampai suatu waktu
ia kembali mendatangi kembali rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya namun
rasanya sudah berbeda, tidak senyaman dulu ketika masih menjadi tempat
tinggalnya.
Intinya
gini, orang yang udah pernah pacaran dengan kita kemudian harus putus dan suatu
hari kita balikan, rasanya aneh, ya gue emang belum pernah tapi gue bisa
membayangkan hal itu. Karena memang aneh, seperti ada banyak hal yang justru
menjadi beban ketika kita memilih kembali ke orang tersebut. Walaupun ada beberapa
juga yang berhasil dengan balikan.
Rangkaian
pengalaman patah hati yang pernah Raditya Dika rasakan terkemas dalam novel
ini, baik patah hati dengan teman, patah hati dengan orang yang kita cintai,
bahkan tanpa sadar telah membuat patah hati orang lain. Patah hati seperti yang
sudah dibahas di ulasan sebelumnya, banyak hal positif yang bisa kita ambil
dari peristiwa patah hati. Disamping efeknya yang mungkin menakutkan, peristiwa
patah hati (harusnya) juga bisa membuat kita menjadi seseorang yang lebih kuat,
lebih dewasa ketika dipertemukan lagi dengan peristiwa patah hati dikemudian
hari. Walaupun kenyataannya banyak orang (termasuk gue) yang justru semakin
galau sehabis menghadapi patah hati. Walaupun patah hati itu tidak enak tapi
mau tidak mau kita harus menerima risiko tersebut kalau masih mau dianggap
normal.
Maka
dari itu, mungkin selesainya membaca novel ini kita bisa merubah cara berpikir
kita tentang patah hati. Buat semuanya menjadi simpel, putus dan sedih itu
wajar tapi jangan lama-lama, kita harus bangkit lagi dan mencoba berusaha
mengalihkan pikiran kita dari masa lalu yang mungkin sering datang tanpa
permisi. Berusaha untuk mencari orang baru, atau kesibukan baru yang bisa
membuat kita terbebas dari masa lalu.
Terima
kasih telah menyimak ulasan novel Koala Kumal dari part 1 hingga part terakhir
ini, walaupun kebanyakan isinya justru curhatan gue. Gue minta maaf apabila ada
kesalahan penafsiran, kesalahan pengetikan yang menyebabkan salah pengertian.
Semoga berbagai ulasan yang akhir-akhir ini gue posting di blog ini cukup
bermanfaat dan menghibur. Sampai ketemu di postingan selanjutnya, semoga gue
dipertemukan kembali dengan buku-buku hebat yang lainnya.
Komentar
Posting Komentar