Langsung ke konten utama

Review Koala Kumal Pt.4

Setelah hari beranak menjadi minggu yang hampir menjadi bulan, akhirnya review terakhir dari novel Koala Kumal berhasil dipost.

***

Siklus manusia pada umumnya, bertemu – berkenalan – bercanda – nyaman – suka – jadian – bosen – marahan – rujuk – marahan – putus dan kembali lagi dari bertemu dengan orang baru kembali berkenalan satu sama lain, mengobrol santai, timbul rasa nyaman hingga jadian, begitu terus sampai kita benar-benar bosan dengan siklus itu.

Tapi ada juga yang hanya memilih melalui siklus tersebut satu kali, dikesempatan berkenalan yang kedua kalinya ia memilih untuk tidak mudah menaruh rasa nyaman dan beranggapan Cuma teman. Ada pula yang sama sekali tidak menemukan orang baru sampai akhirnya dia menjalani hidupnya dengan sisa-sisa masa lalunya, iya itu gue salah satunya.

Itu menurut gue, seperti yang gue alami juga setelah gue lulus sekolah gue tidak banyak bertemu orang baru yang seusia gue. Semua teman kerja gue lebih tua bahkan sudah menikah dan punya anak. Ada satu tapi perempuan dan satu laki-laki tapi udah punya pacar. Untungnya gue tidak bosan dengan situasi tersebut, gue rasa memang lebih baik seperti ini, tidak mengenal orang baru yang suatu saat bisa saja meninggalkan luka lagi (#eaaa)

Di novel Koala Kumal, bab terakhir berjudul sama dengan novel ini. Sebelum ke inti ceritanya, gue akan singgung tentang judul koala kumal ini.

Diterangkan dalam bab ini juga, bahwa Raditya Dika teringat dengan satu foto dalam situs Huffington Post, ada seekor koala yang tinggal di New South Wales, Australia yang kemudian bermigrasi sampai akhirnya beberapa bulan kemudian ia kembali ke hutan tempat tinggalnya. Namun, ternyata selama dia pergi hutan yang pernah menjadi rumahnya sudah rata karena adanya penebangan liar. Seperti itu pula yang dirasakan oleh Raditya Dika di bab terakhir ini. Raditya Dika yang harus kembali bertemu dengan mantannya untuk meminta izin kisahnya di tulis dalam buku ini. Sejak pertemuan tersebut si mantan ini menjadi sering menghubungi Raditya Dika dan curhat tentang masalah yang sedang ia hadapi. Hingga akhirnya dia mengajak Raditya Dika untuk balikan. Tapi Dika tidak mengiyakan hal tersebut karena dia perempuan yang ada dihadapannya ini nampak asing, tidak seperti perempuan yang ia kenal sebagai pacarnya dulu.

Sama seperti kisah koala tadi, hutan (pacar) yang menjadi tempatnya pulang, kemudian mau tidak mau koala itu harus pergi meninggalkan rumahnya, sampai suatu waktu ia kembali mendatangi kembali rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya namun rasanya sudah berbeda, tidak senyaman dulu ketika masih menjadi tempat tinggalnya.

Intinya gini, orang yang udah pernah pacaran dengan kita kemudian harus putus dan suatu hari kita balikan, rasanya aneh, ya gue emang belum pernah tapi gue bisa membayangkan hal itu. Karena memang aneh, seperti ada banyak hal yang justru menjadi beban ketika kita memilih kembali ke orang tersebut. Walaupun ada beberapa juga yang berhasil dengan balikan.

Rangkaian pengalaman patah hati yang pernah Raditya Dika rasakan terkemas dalam novel ini, baik patah hati dengan teman, patah hati dengan orang yang kita cintai, bahkan tanpa sadar telah membuat patah hati orang lain. Patah hati seperti yang sudah dibahas di ulasan sebelumnya, banyak hal positif yang bisa kita ambil dari peristiwa patah hati. Disamping efeknya yang mungkin menakutkan, peristiwa patah hati (harusnya) juga bisa membuat kita menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih dewasa ketika dipertemukan lagi dengan peristiwa patah hati dikemudian hari. Walaupun kenyataannya banyak orang (termasuk gue) yang justru semakin galau sehabis menghadapi patah hati. Walaupun patah hati itu tidak enak tapi mau tidak mau kita harus menerima risiko tersebut kalau masih mau dianggap normal.

Maka dari itu, mungkin selesainya membaca novel ini kita bisa merubah cara berpikir kita tentang patah hati. Buat semuanya menjadi simpel, putus dan sedih itu wajar tapi jangan lama-lama, kita harus bangkit lagi dan mencoba berusaha mengalihkan pikiran kita dari masa lalu yang mungkin sering datang tanpa permisi. Berusaha untuk mencari orang baru, atau kesibukan baru yang bisa membuat kita terbebas dari masa lalu.

Terima kasih telah menyimak ulasan novel Koala Kumal dari part 1 hingga part terakhir ini, walaupun kebanyakan isinya justru curhatan gue. Gue minta maaf apabila ada kesalahan penafsiran, kesalahan pengetikan yang menyebabkan salah pengertian. Semoga berbagai ulasan yang akhir-akhir ini gue posting di blog ini cukup bermanfaat dan menghibur. Sampai ketemu di postingan selanjutnya, semoga gue dipertemukan kembali dengan buku-buku hebat yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...