Kembali
lagi di blog gue...kembali lagi di kolom review novel yang sedang/pernah gue
baca. Semoga hal ini memberi efek positif untuk kembali menghidupkan gemar
membaca buku yang mungkin sudah menurun di zaman milenial ini.
Sesuai
judul postingan review kali ini, yaitu membahas tentang novel ketujuh dari
Raditya Dika yang berjudul Koala Kumal. Seperti novel-novel lainnya, di
novel Koala Kumal ini juga berisi kumpulan cerita pendek pengalaman pribadi
dari Raditya Dika. Terdapat 12 bab cerita pendek yang ia tulis tentunya dengan
nuansa komedi khas darinya. 12 bab cerita tersebut adalah, Ada Jangwe di
Kepalaku, Ingatlah Ini sebelum Bikin Film, Balada Lelaki Tomboi, Panduan Cowok
dalam Menghadapi Penolakan, Kucing Story, LB, Perempuan Tanpa Nama, Menciptakan
Miko, Lebih Seram dari Jurit Malam, Patah Hati Terhebat, Aku Ketemu Orang Lain,
Koala Kumal.
Seperti biasanya, gue akan membahas cerita tersebut tapi nggak
bisa semuanya. Gue akan mengambil 3 atau 4 cerita yang pernah gue alami juga
atau sesuatu hal yang juga menjadi keresahan gue.
Cerita
pertama yang akan gue bahas adalah Lebih Seram dari Jurit Malam. Berdasarkan
penemuan gue di Google Seacrh Engine, Jurit Malam adalah aktivitas yang dilakukan oleh para peserta
Persami. Gunanya untuk melatih kepemimpinan, mengasah keberanian dan memecahkan
masalah dalam waktu yang singkat dan juga berkerjasama. Sungguh mulia sekali tujuannya, namun
kenyataan di lapangan itu lebih mirip dengan penindasan atau ajang balas dendam
senior kepada junior.
Dalam cerita ini Raditya Dika menceritakan
pengalamannya mengikuti kegiatan pelantikan dalam ekstrakurikuler di SMP. Dimana ia dibentak-bentak oleh seniornya, diperintah dengan hal-hal
yang tidak nalar, sedikit-sedikit ada hukuman. Kemudian ketika di kelas tiga
dia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelantikan sebagai senior yang (mungkin) bisa
melakukan balas dendam seperti apa yang seniornya dulu lakukan. Tapi tidak
dengan prinsip yang Raditya Dika pegang yaitu, nggak masalah adik-adik kelas
nggak takut sama gue karena gue sendiri juga nggak pernah ada niat galak ke
mereka. Dan gue sangat setuju! Kalau gue justru lebih ingin mendekat ke
adik-adik kelas, tapi mungkin untuk beberapa orang itu justru dihindari sebelum
akhirnya acara pelantikan itu berjalan dengan mulus.
Dulu gue merasakan era senioritas saat semasa
SMA/SMK. Dimana waktu itu gue masuk ke sekolahan yang menerapkan Masa Orientasi
Siswa (MOS) dengan semi-militer. Barang yang di bawa, Nama dada yang harus di
buat manual dengan ukuran yang pas dan bersih (itupun masih dicariiii aja
kesalahannya), belum lagi hukuman yang dikasih, bentakan yang mereka keluarkan,
panas matahari yang terang-terangan membakar kulit kita (para junior) dan masih
banyak lagi penderitaan penderitaan lainnya. Untung saja MOS waktu itu Cuma 3 hari
bayangkan kalau 1 minggu, mungkin gue nggak jadi sekolah di sana karena udah di
rumah sakit duluan.
Tidak jauh dengan acara MOS, pelantikan di
setiap ekstrakurikuler pasti ada yang semacam itu. Tengah malam dibangunin
dengan suara yang keras, menyentak, kemudian dihitungi untuk segera berkumpul
dan menjalankan ritual-ritual berjalan menuju pos-pos yang sudah mereka
persiapkan. Hal pertama yang gue soroti di sini, membangunkan “anak
manusia” tengah malam dengan suara keras menyentak untuk mereka
semua lolos dari deteksi penyakit serangan jantung, kalau ternyata ada, bisa bahaya. Walaupun memang sebelumnya ada beberapa ekskul yang menolak anggotanya memiliki penyakit yang cukup berisiko, semacam jantung dan asma atau penyakit lainnya
yang sekiranya rentan dengan hal-hal macam itu.
Sebenarnya kegiatan pelantikan seperti itu sudah
menjadi konsumsi umum, bukan sebuah rahasia lagi kalau acara pelantikan itu
pasti ada malam uji mentalnya atau jurit malam. Tapi bagi gue hal itu tetap aja
menakutkan dan gue nggak mau untuk melakukan hal itu. Gue pernah sampai pergi
ke tempat saudara gue karena menghindari jemputan dari kakak kelas yang
mengajak gue untuk ikut pelantikan. Dan setelah gue menjadi seniorpun, gue
nggak pernah mau memarahi junior-junior gue, gue nggak pernah di tempatkan di
pos yang isinya senior galak, seperti Raditya Dika ketika menjadi senior, dia
ditempatkan di pos bayangan, atau pos yang dikenal dengan pos cemen. Gue lebih
seneng seperti itu, karena kerjaannya nggak berat, gue juga nggak harus
menghabiskan tenaga untuk memarahi mereka. Gue nggak mau image gue sebagai
kakak kelas itu buruk atau terkenal galak, karena emang gue nggak bisa galak.
Gue lebih suka kalau adik kelas suka bahkan tidak segan untuk cerita banyak hal
kepada gue sebagai kakak kelas mereka. Kembali lagi seperti yang gue katakan
dipostingan sebelumnya, ‘memapakan diri’, kalau kita nggak mau dicubit ya
jangan nyubit orang lain, kalau kita nggak mau dimarahi jangan marahi orang
lain. Hal seperti itu yang membuat gue bisa kalem dan masih dihargai oleh
adik-adik kelas gue (gue nggak yakin soal ini).
Tapi untuk tahun pelajaran setelah gue, hal-hal
semacam itu mulai dikurangi, MOS-nya pun nggak sekejam MOS yang gue alami.
Jarang sekali ada hukuman push up di tengah lapangan beraspal di mana
matahari lagi panas-panasnya. Pelantikanpun juga seperti itu, udah nggak ada
senior bisa sepuasnya mengerjai juniornya dengan hukuman berat. Palingan Cuma
bentakan dan push up. Pernah setelah lulus gue mengikuti acara pelantikan
dan datang sebagai demisioner (demisioner adalah sebuah keadaan dimana
seseorang tidak memiliki kekuasaan
lagi. Arti lain demisioner adalah keadaan seseorang yang
telah mengembalikan tugasnya dengan menjalankan rutinitasnya namun tetap
menunggu dirinya untuk ditugaskan kembali dengan tugas yang lain) yang biasanya
tugasnya hanya lihat dan (kalau disuruh) ngebantuin di jam-jam jurit malam itu. Tapi tidak untuk gue,
tujuan gue datang adalah untuk bertemu kembali dengan teman-teman seperjuangan
dalam organisasi tersebut. Karena itu lebih penting daripada ngurusin anak
orang yang tidak kita kenal dan mereka juga tidak mengenal kita (kecuali
sebatas demisioner organisasi tersebut) yang mungkin juga masih polos, kan
kasihan.
Tapi bukan berarti dengan tidak menerapkan
sistem semi-militer sekolahan gue jadi isinya lemah-lemah semua. Pihak sekolah
memberikan pelajaran pendidikan karakter yang langsung dibimbing oleh Polisi
atau TNI, dengan alasan pertama jelas jadinya, kedua nggak ada unsur balas dendam di
sana dan yang pasti semuanya dalam pengawasan dan ada yang menjamin akan
keselamatan siswanya. Masih ada duga kira ketika melakukan sebuah perintah atau memberikan hukuman.
Dibalik kebencian gue dengan acara MOS maupun
pelantikan gue juga berterima kasih, karena balik lagi ke arti pada dasarnya,
sebuah kegiatan yang bertujuan melatih sifat kepemimpinan, mengasah keberanian. Untuk beberapa orang pelatihan itu bisa saja berhasil, dari situ pula kita bisa belajar untuk saling bekerja sama dalam tim, saling tolong menolong,
dengan adanya soal dan sebagainya.
Semua hal itu baik ketika kita bisa mengambil
hal positif di dalamnya. Kesal itu biasa, dongkol itu juga lumrah, tapi
biasanya dari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan itu kita juga
menemukan cerita-cerita menarik di dalamnya.
Tambahan, mungkin ada yang bertanya apa yang menjadi pembanding dengan Jurit Malam sampai-sampai hal tersebut mengalahkan keseraman situasi ketika Jurit malam, tunggu jawabannya di postingan yang akan datang.
Tambahan, mungkin ada yang bertanya apa yang menjadi pembanding dengan Jurit Malam sampai-sampai hal tersebut mengalahkan keseraman situasi ketika Jurit malam, tunggu jawabannya di postingan yang akan datang.
Komentar
Posting Komentar