Dalam
dunia ini Tuhan menciptakan semua
hal secara berpasangan-pasangan dengan berlawanan (Jadi jangan sedih buat yang masih jomblo, karena
ada waktu lo akan bertemu dengan pasangan lo) seperti panas dan hujan, hidup dan mati, besar dan kecil, panjang
dan pendek, tinggi dan rendah, dingin dan panas, dan masih banyak lagi contoh
lainnya.
Begitu
juga dengan manusia yang mungkin beberapa dari mereka baik dan sisanya jahat.
Mungkin beberapa dari mereka pintar dan sisanya bodoh. Beberapa dari mereka bahagia
dan sisanya memiliki kesedihan. Ada yang suka tapi doi-nya nggak suka (ehh).
Seperti
dalam lagu Fourtwnty juga yang judulnya Hitam Putih. Yang setelah gue pikir, lagu
ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang awalnya baik-baik aja tapi seiring berjalannya
waktu mereka mulai berselisih, satu sama lain merasa ada yang berubah sehingga
hubungan mereka jadi nggak
sehat. Dan di bagian reff-nya “belajar melepaskan dirinya, walau setengahku bersamanya, ku
yakin kitakan terbiasa, walau inti jiwa tak terima”. Mau nggak mau, hubungan itu harus
diakhiri karena memang dirasa udah nggak cocok lagi, sama sama merasa nggak nyaman dan lainnya. Ibarat
langit dan bumi, air dan api, warna hitam dan putih, arah timur dan barat,
keduanya nggak pernah menyatu, beda arah, beda alam, beda nyawa.
Bukan
bermaksud menggurui, karena gue sendiri belum pernah pacaran sampai saat ini.
Bukan pula sok tahu, gue memcoba mempelajari aja dari apa yang pernah gue lihat
atau apa yang pernah gue baca. Yaitu tentang sebuah hubungan, baik itu kekasih,
teman, keluarga, dan hubungan lainnya.
Semua
itu perlu yang namanya komunikasi, seperti yang pernah gue katakan di postingan
sebelumnya. Komunikasi yang baik, dimana ketika salah satu sudah merasa ada
yang ganjil dalam hubungan tersebut maka bicarakan, coba diungkapkan maka kemungkinan
hubungan itu bisa bertahan. Perlunya rasa saling percaya. Waspada, khawatir, curiga itu boleh tapi
dalam skala yang normal jangan sampai berlebihan karena sampai kapanpun yang
namanya berlebihan itu nggak baik, simple-nya berlebihan mencintai/mengharapkan
seseorang maka akan menimbulkan yang namanya susah move on atau gagal move
on. Cintai dan berharaplah secukupnya, sekiranya sudah terasa tidak baik
untuk dilanjutkan silakan berhenti, tapi kalau masih penasaran silakan kembali
berjuang tapi juga perlu diingat apapun risikonya tanggung sendiri, jangan pula
nantinya kita juga menyalahkan orang lain termasuk orang yang kita cintai/harapkan,
karena itu haknya untuk menerima atau menolak. Apalagi menyalahkan orang yang jelas
tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita, jangan sampai! Hal yang tepat ketika ada di posisi
tersebut adalah bercermin, koreksi diri dan mengambil hikmahnya.
Dalam
sebuah hubungan yang terpenting adalah mengesampingkan ego masing masing.
Pentingnya untuk mencoba mendengarkan penjelasan. Berdasarkan apa yang gue
lihat ego manusia itu adalah penyebab retaknya sebuah hubungan.
Hal
yang perlu kita lakukan ketika menjalani hidup bersama manusia manusia lainnya
yang memiliki berbagai macam sifat, pentingnya menjaga perilaku, dengan menerapkan
5S yang sering diajarkan di sekolah sekolah, senyum, sapa, salam, sopan, santun
(kalau nggak salah). Perlunya menjaga perasaan orang lain dengan menjaga ucapan
kita. Perlunya 'memapakan diri', membayangkan bagaimana kalau orang lain
melakukan hal itu (yang negatif, tidak baik) kepada diri kita. Saling
menghargai baik pendapat, usaha, karya, dan sebagainya. Jangan menjadi orang
yang pemilih, dalam artian mengotak-kotakan, hingga membuat orang merasa
didiskriminasikan, merasa dikucilkan, karena akibatnya akan fatal dan bisa berkepanjangan.
Ingat, kita sama sama manusia yang diciptakan oleh Tuhan Semesta Alam dengan kelebihan
dan kekurangan masing masing. Harusnya cukup dari situ kita sudah bisa berpikir
manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, saling melengkapi,
saling tolong menolong, saling peduli, dan saling saling lainnya.
Sama
halnya dengan gue, semua tulisan yang gue tulis, yang mungkin terdengar menggurui,
terdengar bijak, sok pintar, hei! Semua itu gue temukan selama gue berjalan
dalam proses hingga 21 tahun ini. Semuanya bukan mengada ada, karena
kenyataannya pun seperti itu, hanya saja kebanyakan manusia lupa atau pura pura
lupa, kebanyakan manusia acuh tak acuh, kebanyakan manusia masih memiliki keegoisan
yang terlanjur mengontrol diri mereka sendiri, bukan diri mereka yang
mengontrol keegoisan yang mereka punya.
Semua
tulisan ini juga sebagai pengingat bagi gue sendiri dan juga untuk kalian yang
membaca. Di sini tidak ada yang 'lebih', semua sama, semua hebat, semua juga
bisa lemah tak berdaya. Segala hal itu hanya tentang waktu, kapan kita bisa di
atas kapan kita mau tidak mau harus ada
di bawah dan Tuhan-lah yang mengatur semua itu.
Maka
dari itu, sebagai manusia yang sadar, manusia yang sempurna dibandingkan
makhluk makhluk ciptaan Tuhan yang lain, kita harus ingat kepada-Nya. Jangan
hanya ketika kita berada di bawah, barulah kita menangis dihadapan-Nya. Jangan
menunggu sakit barulah kita berdoa. Jangan menunggu rusak barulah kita
bertobat. Pada akhirnya semua sudah terlanjur terjadi dan apa yang sudah terjadi
tidak bisa kita ulang lagi. Yang perlu kita lakukan hanya berusaha untuk
memperbaiki tanpa menyalahkan siapapun.
Tuhan
tidak pernah tidur, Tuhan tahu apa yang kita lakukan dan apa yang ada dalam hati
kita. Jadi mulailah dari sekarang untuk menuju ke jalan yang lebih baik, sadar sekitar,
sadar perilaku. Saling menjaga sesama makhluk Tuhan. Jangan sampai hal yang
dianggap sepele justru menghancurkan kita hingga sangat hancur mengalahkan hal
yang kita anggap luar biasa.
Sekali
lagi ini untuk mengingatkan gue pribadi kemudian gue teruskan kepada kalian
yang membaca. Maaf apabila ada kata yang tidak pantas, tidak berkenan di hati.
Terima kasih atas kesediaanya membaca dan jadilah manusia yang lebih baik di
tahun 2019 ini.
Komentar
Posting Komentar