Sejauh gue membaca
novel baru sekali ini gue mau baca bab Prakata karena isinya menarik sama
halnya isi bab intinya. Novel karya Raditya Dika yang kedelapan setelah Koala
Kumal yang diluncurkan secara serentak pada tanggal 7 Februari 2018. (Wikipedia
Indonesia-Ubur-ubur Lembur)
Novel ini berisikan
kumpulan cerita yang setelah gue hitung ada 14 cerita yang beliau angkat dari
pengalaman pribadinya yaitu, Dua Orang yang Berubah, Pada Sebuah Kebun
Binatang, Mata Ketemu Mata, Balada Minta Foto, Raja di Sekolah, Di Bawah
Mendung yang Sama, Rumah yang Terlewatkan, Tempat Shooting Horor, Percakapan
dengan Seorang Artis, Curhatan soal Instagram Zaman Now, Percakapan dengan
Seorang Anak yang Ingin Jadi Artis, Korban Tak Sampai, Penyesalan itu Nikmat,
Ubur-ubur Lembur.
Nah kali ini gue
akan bahas beberapa bab yang menurut gue menarik dan juga pernah gue rasakan.
Pertama, di bab Dua
orang yang Berubah yang menceritakan tentang orang yang udah berpacaran cukup
lama dan aktif meng-upload aktivitas mereka di media sosial. Namun seiring
berjalannya waktu keduanya merasa ‘pasangannya’ berubah dan berujung putus,
melakukan perang status di media sosial, membuat story-story sedih, posting
foto-foto lama dengan caption menyedihkan. Hingga akhirnya si cewek ini bilang
ke bang Dika tentang alasan kenapa dia mutusin cowoknya yang tak lain temannya
bang Dika sendiri yang kemudian diteruskan kepada si cowok ini dan akhirnya
beberapa minggu kemudian mereka balikan.
Hal yang bisa kita
pelajari dari cerita itu, dalam sebuah hubungan itu perlu komunikasi. Dalam artian
ketika salah satu dari pasangan itu ada yang merasa nggak normal, nggak nyaman
maka jalan satu-satunya ya mencoba untuk bicara jujur, tentu saja dengan
baik-baik bukan malah menyalahkan. Kemudian barulah sama-sama mencari jalan
keluarnya. Yah, walaupun gue belum pernah pacaran tapi gue bisa berpikir
seperti itu, lagian nggak Cuma di hubungan sepasang kekasih, dalam pertemanan
dan kekeluargaanpun perlu yang namanya komunikasi dari hati ke hati.
Kemudian di bab
Pada Sebuah Kebun Binatang, menceritakan tentang pengalaman patah hati yang
bang Dika alami dengan teman perempuannya yang sering curhat kepadanya. Gue juga
pernah mengalamani hal ini, di mana gue begitu cepat mengalami patah hati
kepada teman gue, teman sekelas waktu SMA/SMK. Mungkin kalau frekuensi
pertemuannya sedikit nggak masalah, justru dari situ kita bisa mulai belajar
move on. Tapi kalau yang namanya teman sekelas pasti ketemu dan kita
nggak bisa hindar lagi, kecuali dengan cara keluar dari sekolahan itu.
Hal yang bisa kita
pelajari, keikhlasan, lapang dada untuk menerima kenyataan bahwa perasaan kita
tidak berbalas. Karena bagaimanapun juga itu sudah menjadi salah satu alur
ceritanya yang mungkin bisa mengatarkan kita ke jalan yang lebih baik, lebih
bahagia tentunya.
Selanjutnya, bab
Mata ketemu Mata, dimana nasib kurang mujur (mungkin) bagi bang Dika yang harus
berusaha menghindari pertemuannya dengan pacar baru dari mantan pacarnya (yang
jelas lebih tampan darinya, ahahha) namun tetap saja takdir mempertemukan
mereka disebuah toilet hingga mata mereka saling bertemu. Kalau versi gue
adalah momen dimana mata ketemu mata dengan mantan gebetan yang nantinya gue
sebut Jali. Kejadiannya baru-baru ini sih, waktu itu kebetulan beberapa temen sekolah
gue ngadain ketemuan gitu, awalnya gue nggak tahu kalau Jali juga ikut dan
ternyata ketika sampai di tempat janjian dia udah ada di sana. Awalnya tentu saja
kaget, tapi kemudian biasa aja (karena gue emang udah move on). Kemudian setelah
anak-anak lain dateng kita semua ngobrol-ngobrol dan sebuah kebetulan yang
menurut gue kurang ajar juga sih, tempat duduk kita hadap-hadapan, dan
disitulah kerap mata kita saling ketemu yang membuat gue sedikit risih juga
tapi ya mau gimana lagi.
Dari cerita ini,
gue rasa hal yang terpenting adalah menerima, ya udahlah ya, ketemu ya ketemu
aja, sebisa mungkin kelihatan biasa aja. Dan itu yang sebenernya pengen gue
lihat dari si Jali ini. Karena kesannya dia kadang kayak ngehindar dan
bener-bener cuek sama gue. Bukan apa-apa sih, tapi nggak enaklah rasanya, kayak
lo tuh nggak dianggap ada di situ aja, bahkan mungkin nggak dianggap temen
lagi, hahaha. Tapi nggak, gue positif thinking kalau dia menganggap gue sebagai
temennya tapi masih nggak enak aja, canggung. Anggap aja gitu.
Dan yang menurut
gue paling mengena adalah bab Di bawah Mendung yang Sama, menceritakan
pertemanan bang Dika dengan Kathu, temennya dari India. Mereka bertemu ketika
usia kelas lima SD, hubungan pertemanan mereka sangat dekat. Namun Kathu harus
segera kembali ke India dan melanjutkan pendidikannya di sana. Barulah dua
puluh tahun kemudian mereka bertemu kembali masih dengan perasaan yang sama,
mereka masih bisa akrab walaupun sempat terputus juga komunikasinya. Gue juga
berharapnya gitu sama temen-temen sekolah gue, walaupun jarang bahkan nggak
pernah ketemu masih bisa akrab kayak dulu pas masih sekolah. Apalagi di zaman
sekarang, dimana teknologi sudah sangat maju, kita bisa lihat wajah mereka
melalui video call, skype. Jadi buat temen-temen gue yang mungkin membaca
tulisan ini, ingatlah gue, ingat temen-temen kita yang lain, dan kapan-kapan
kita bisa ketemu seperti dulu lagi.
Bab terakhir dari
novel ini, yang benar-benar gue rasakan. Sesuai dengan judul novel tersebut,
Ubur-ubur lembur. Di bab ini gue juga sempat merasakan keresahan yang sama,
masa-masa dimana menjelang lulus SMA/SMK, pertanyaan pengen jadi apa?
Atau semacam mau lanjut ke mana? Kerja atau kuliah? Kuliah jurusan apa?
Terlalu banyak pilihan, dimana ketika kita sudah memilih jawaban pada pertanyaan
pertama maka akan muncul lagi pertanyan kedua, ketiga, keempat, keseratus,
seakan-akan hal itu semacam amoeba yang bisa berkembang hingga ratusan dalam
waktu yang singkat.
Waktu itu, setelah lulus SMA/SMK gue memutuskan untuk langsung
kerja, dengan alasan pertama soal ekonomi yang gue rasa terlalu membebani orang
tua gue, kedua gue juga nggak minat untuk kuliah, karena balik lagi kecerdasan
yang pas-pasan membuat gue malas mikir pelajaran, maka dari itu gue memilih
untuk mengembangkan ketrampilan aja dibandingkan mencoba menggali pengetahuan
yang mungkin bisa membunuh gue kalau gue nggak tahan. Satu tahun di sana, gue
udah melewati ujian berat di usia tanpa pengalaman kerja sebelumnya, waktu itu
ada kesalahan dalam penyusunan buku, jadi semuanya harus bongkar lagi, padahal
ada kurang lebih 50 buku, di mana pihak sana nggak mau ganti rugi kecuali biaya
penjilidan, isinya sepenuhnya tempat gue kerja yang nanggung. Untung aja, gue
masih diberi ampunan waktu itu, bahkan atasan gue Cuma diem. Iya diem aja,
nggak tahu dalam hatinya. Gue sempet kepikiran untuk keluar waktu itu tapi gue
tahu itu nggak akan nyelesain masalah, justru akan menambah masalah baik di
tempat kerja maupun gue sendiri. Untung saja setelah 1 tahun di sana gue
mendapat tawaran di tempat yang jauh lebih dekat dengan penghasilan yang
lumayan daripada sebelumnya. Dan tepat di bulan Agustus gue keluar dan langsung
kerja di tempat yang pekerjaan kurang lebih sama namun lebih dekat dan orangnya
lebih friendly.
Di tempat yang baru
awalnya gue juga merasa nggak nyaman, bahkan sempat kepikiran untuk balik ke
toko sebelumnya karena mendapat tawaran lagi sama atasan gue. Tapi ketika orang
tua gue meyakinkan gue untuk tetap di sana, gue nurut. Sampai sekarang gue masih
bekerja di sana, kurang lebih sudah 1 tahun 4 bulan.
Satu kalimat yang
manjur dari bab ini, just do what you do best, and money will come by itself,
kita cukup melakukan/mengerjakan sesuatu hal atau bisa juga diartikan pekerjaan
dengan baik, berkualitas, maka uang akan datang dengan sendirinya. Kita harus
belajar mencintai apa yang sudah menjadi pilihan kita, menekuni pekerjaan
tersebut maka lama kelamaan kita akan terbiasa dan nyaman di tempat tersebut. Tapi
bagi kalian yang mungkin mengalami hal yang sama dan memiliki modal nekat dan
kepercayaan diri serta modal secara material kalian bisa membuat usaha
kecil-kecilan dan sebagainya, karena pekerjaan yang paling menyenangkan adalah
ketika kita bisa mengontrol pekerjaan tersebut, bukan dikontrol untuk
mengerjakan pekerjaan tersebut.
Ubur-ubur Lembur, novel
komedi yang menurut gue tidak hanya menyuguhkan hiburan namun juga memberi
sebuah pelajaran. Sikap dimana kita harus lapang dada menerima kekalahan, kenyataan dalam hidup kita,
bersabar mendapat sebuah ujian, menjaga sebuah hubungan pertemanan, pantang
menyerah dan belajar untuk lebih mengenal diri sendiri agar kita benar-benar
tahu apa yang sebenarnya kita cari dan apa yang sebenarnya kita butuhkan, bukan
semata-mata karena uang yang memang penting bahkan sangat penting untuk bisa
bertahan hidup di bumi ini. Gue rasa tanpa gue kasih tahu bahwa ini sangat
direkomendasikan untuk dibaca, kalian semua udah baca lebih dulu. Jujur, novel
karya Raditya Dika ini nggak pernah membosankan, walaupun kemasannya komedi,
tapi banyak hal yang bisa kita ambil dari pengalaman (baik menyenangkan atau
tidak) yang pernah dialami oleh beliau.
Terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat dan
bisa membuat penasaran kalian untuk membaca novel ini.
Komentar
Posting Komentar