Langsung ke konten utama

Titik Terendah


Pernah waktu itu gue kepikiran buat cerita atau sekedar berkata-kata soal titik terendah, tapi waktu itu gue nggak dapet banget feel-nya, jadi cuma gue tulis beberapa kata terus ilang, berasa kata kata itu nggak ada rasanya dan sekarang saatnya gue akan membagikan Titik Terendah menurut gue.

Apa definisi titik terendah?

Titik terendah menurut gue adalah sebuah titik dimana kita benar-benar merasa kalah. Titik di mana kita akhirnya mengeluarkan air mata yang sempat tertahan.

Tepatnya gue lupa sih, tapi yang jelas keadaan gue waktu itu masih dalam mode aman, dalam artian gue masih bisa mengatasi problem tersebut tapi ada sekilas pikiran, 'gimana kalau gue kalah, apa gue akan mengalami hal yang sama seperti sebelumnya? Atau bahkan semakin menggila lagi?' dan makin ke sana gue menyimpulkan, 'oke, gue rasa setiap manusia memiliki titik dimana dia benar benar membutuhkan orang lain untuk membangkitkan dirinya sendiri,' yang awalnya gue sebut titik terdalam, cuma aneh aja semakin gue pikir. Sampai akhirnya gue ketemu sama kata terendah itu untuk menggantikan terdalam.

Beberapa waktu yang lalu (2-3 bulan yang lalu) gue sempet mengalami hal itu. Mungkin. Tapi gue sendiri nggak yakin apakah ini karena gue depresi atau cuma efek PMS, hahaha. Satu waktu gue sempet merasa kehilangan semua kepercayaan diri gue, satu hal yang keliru misalnya, itu semakin membuat gue jadi nggak PD, juga gue kehilangan fokus dan semakin berpikir negatif. Adalah kalau nggak salah 3 hari, gue diemin semua orang rumah, gue nangis setiap istirahat kerja. Akhirnya gue sempet ngobrol gitu sama salah satu temen gue, dan 'BAMMM!!' barulah gue merasa, 'oke gue bisa bangkit sekarang,' dan itu juga menjadi pelajaran buat gue sih, karena pada akhirnya gue menemukan titik masalahnya yang dalam hal itu memang harusnya gue bicarakan tapi justru gue pendem dan berujung meledak nggak karuan.

Itu adalah pertama kalinya gue merasakan benar-benar hilang akal untuk membuat gue baik baik aja, untungnya bulan-bulan sesudah itu gue udah merasa bisa mengontrol diri gue sendiri, dalam artian gue masih bisa memposisikan diri gue.

Pelajaran yang bisa gue ambil dari kejadian itu yang mungkin sebenarnya bisa efek PMS tapi bercampur dengan problem-problem terpendam, yang perlu kita lakukan adalah bicara dengan orang yang memang cocok sama kita, sahabat misalnya. 

Seperti yang pernah dikatakan oleh Vidi Aldiano di Podcast Raditya Dika, yang intinya, ketika kita memiliki kecemasan, sebuah masalah, kita harus berani untuk ngomong, kita utarakan apa yang kita cemaskan, apa yang mengganggu benak kita. Gue juga merasa itu langkah pertama yang benar, karena dimana-mana yang namanya ngomong-ngobrol-sharing itu penting banget, apalagi untuk kesehatan batin. Dan tentunya kepada orang yang tepat ya, bagus lagi kalau kita punya temen yang tahu soal psikis atau kuliahnya di konseling, karena itu bakal membantu banget. Gue contoh nyatanya. Selain itu adanya keluarga sangat penting. Keluarga yang bisa support kita, yang lebih tahu bagaimana menyikapi diri kita ketika berada di titik terendah.

Jadi, sekali lagi, ketika kita punya masalah pertama jelas jangan dipendem, sekecil atau sesepele apapun masalah tersebut. Karena lama-lama masalah tersebut bisa saja menjadi bom waktu yang jelas berdampak buruk pada kesehatan diri kita.

-NRM-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...