Kebanyakan orang lebih suka bertemu daripada ngobrol lewat chat. Kebanyakan orang lebih suka lihat langsung daripada lewat foto. Tapi juga tidak sedikit orang yang lebih nyaman berbicara lewat chat, sangat-sangat bersyukur melihat lewat foto. Mereka memiliki alasan masing-masing yang tentu saja tidak memiliki nilai benar atau salah.
Contohnya gue. Gue bisa leluasa berbicara dengan orang lain lewat chat dan kebanyakan ketika gue mengatakan sesuatu hal dengan jujur juga lewat chat. Kenapa? Gue terlalu takut menghadapi seseorang secara langsung, gue juga tidak bisa mengatakan kalimat dengan baik ketika berbicara langsung dan memenuhi setiap kalimatnya dengan kata "maksudnya". Maka dari itu gue tidak suka pembicaraan serius secara langsung, gue takut kalimat yang gue sampaikan justru malah membuat kesalahpahaman dan menambah masalah. Selain itu, orang yang gue ajak bicara tidak akan melihat ekspresi gue yang sebenarnya. Ini berlaku ketika gue belum mau terbuka kepada orang lain perihal masalah yang gue hadapi. Gue akan mengatakan, "Ya gue baik-baik aja," gue akan bercanda layaknya gue yang baik-baik aja. Ketika gue kecewa atau marah dan yang gue katakan, "Nggak papa," kemudian memaafkan seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang membuat gue kecewa. Dari situ, bisa dikatakan bahwa gue juga lebih menyukai foto daripada bertemu langsung.
Sampai sekarang, kendaraan yang bisa gue kendarai hanya sepeda. Gue nggak bisa naik motor, jadi gue nggak bisa pergi terlalu jauh, setiap saat gue pengen, hanya dengan naik sepeda. Mungkin bisa, tapi gue yang nggak mau, karena pasti bakalan capek kalau sendirian juga gue takut naik sepeda di jalan yang terlalu ramai kendaraan. Dengan foto gue bisa melihat orang itu setiap saat gue mau, gue bisa berbicara dengan membayangkan dia benar-benar ada di sini. Gue juga bisa memanggil hal-hal menyenangkan yang pernah gue lakukan dengan orang itu, setiap saat. Gue akan mengingatnya walaupun daya ingat gue rendah, karena gue memiliki foto yang nantinya akan membantu gue mengingat-ingat kejadian itu.
Gue rasa nggak cuma satu atau dua orang, mereka pernah mengatakan bosan harus mengenal seseorang yang baru, bertemu dengan orang baru. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang sudah sering dibohongi, dikecewakan, dan sebagainya. Awalnya gue juga berpikir seperti itu, ketika gue kehilangan satu orang gue berharap bertemu orang baru, tapi ketika hal tersebut terjadi berulang-ulang gue jadi mikir, "Apa jangan-jangan gue yang nggak bisa bergaul dengan mereka?" maka dari itu gue setuju untuk tidak ingin bertemu kemudian mengenal orang baru. Tapi, beberapa menit sebelum akhirnya gue memutuskan menulis ini, gue berpikir semua pertemuan yang gue alami bukan sesuatu yang buruk. Gue yakin takdir pertemuan dalam hidup gue tidak pernah salah sekalipun berakhir dengan tidak menyenangkan, karena dari setiap pertemuan-pertemuan itu gue banyak belajar dari mereka, tentang manusia, tentang gue sendiri. Memang berat saat itu, tapi gue rasa waktu akan membiasakan perasaan itu, merekatkan luka itu dengan diri kita sampai akhirnya bisa menerima. Mungkin awalnya tidak pernah gampang untuk mengenali satu sama lain, harus menjaga perasaan satu sama lain, tapi semua itu akan berganti dengan terbiasa dan akhirnya akrab.
Semoga, orang-orang yang pernah ketemu sama gue, mereka tidak pernah menyesal, gue juga tidak berharap mereka bersyukur. Gue berharap mereka senang bisa bertemu dengan gue, saling menyapa, tertawa, walaupun akhirnya entah gue atau mereka yang akan pergi. Satu hal lagi, tidak semua kepergian itu akan terasa menyakitkan, semua memiliki alasan yang tentu saja tidak ada nilai benar atau salah.
Contohnya gue. Gue bisa leluasa berbicara dengan orang lain lewat chat dan kebanyakan ketika gue mengatakan sesuatu hal dengan jujur juga lewat chat. Kenapa? Gue terlalu takut menghadapi seseorang secara langsung, gue juga tidak bisa mengatakan kalimat dengan baik ketika berbicara langsung dan memenuhi setiap kalimatnya dengan kata "maksudnya". Maka dari itu gue tidak suka pembicaraan serius secara langsung, gue takut kalimat yang gue sampaikan justru malah membuat kesalahpahaman dan menambah masalah. Selain itu, orang yang gue ajak bicara tidak akan melihat ekspresi gue yang sebenarnya. Ini berlaku ketika gue belum mau terbuka kepada orang lain perihal masalah yang gue hadapi. Gue akan mengatakan, "Ya gue baik-baik aja," gue akan bercanda layaknya gue yang baik-baik aja. Ketika gue kecewa atau marah dan yang gue katakan, "Nggak papa," kemudian memaafkan seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang membuat gue kecewa. Dari situ, bisa dikatakan bahwa gue juga lebih menyukai foto daripada bertemu langsung.
Sampai sekarang, kendaraan yang bisa gue kendarai hanya sepeda. Gue nggak bisa naik motor, jadi gue nggak bisa pergi terlalu jauh, setiap saat gue pengen, hanya dengan naik sepeda. Mungkin bisa, tapi gue yang nggak mau, karena pasti bakalan capek kalau sendirian juga gue takut naik sepeda di jalan yang terlalu ramai kendaraan. Dengan foto gue bisa melihat orang itu setiap saat gue mau, gue bisa berbicara dengan membayangkan dia benar-benar ada di sini. Gue juga bisa memanggil hal-hal menyenangkan yang pernah gue lakukan dengan orang itu, setiap saat. Gue akan mengingatnya walaupun daya ingat gue rendah, karena gue memiliki foto yang nantinya akan membantu gue mengingat-ingat kejadian itu.
Gue rasa nggak cuma satu atau dua orang, mereka pernah mengatakan bosan harus mengenal seseorang yang baru, bertemu dengan orang baru. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang sudah sering dibohongi, dikecewakan, dan sebagainya. Awalnya gue juga berpikir seperti itu, ketika gue kehilangan satu orang gue berharap bertemu orang baru, tapi ketika hal tersebut terjadi berulang-ulang gue jadi mikir, "Apa jangan-jangan gue yang nggak bisa bergaul dengan mereka?" maka dari itu gue setuju untuk tidak ingin bertemu kemudian mengenal orang baru. Tapi, beberapa menit sebelum akhirnya gue memutuskan menulis ini, gue berpikir semua pertemuan yang gue alami bukan sesuatu yang buruk. Gue yakin takdir pertemuan dalam hidup gue tidak pernah salah sekalipun berakhir dengan tidak menyenangkan, karena dari setiap pertemuan-pertemuan itu gue banyak belajar dari mereka, tentang manusia, tentang gue sendiri. Memang berat saat itu, tapi gue rasa waktu akan membiasakan perasaan itu, merekatkan luka itu dengan diri kita sampai akhirnya bisa menerima. Mungkin awalnya tidak pernah gampang untuk mengenali satu sama lain, harus menjaga perasaan satu sama lain, tapi semua itu akan berganti dengan terbiasa dan akhirnya akrab.
Semoga, orang-orang yang pernah ketemu sama gue, mereka tidak pernah menyesal, gue juga tidak berharap mereka bersyukur. Gue berharap mereka senang bisa bertemu dengan gue, saling menyapa, tertawa, walaupun akhirnya entah gue atau mereka yang akan pergi. Satu hal lagi, tidak semua kepergian itu akan terasa menyakitkan, semua memiliki alasan yang tentu saja tidak ada nilai benar atau salah.
Komentar
Posting Komentar