Langsung ke konten utama

Surat Kepada Teman

Tahun ini aku akan berusia 22 tahun. Mungkin pikiranku belum sesuai dengan layaknya orang berusia 20-an tahun. Bahkan sangat jauh. Maaf atas kesalahan itu, karena aku tidak bisa membantumu, tidak bisa mengimbangimu, tidak bisa menjadi seseorang yang kau andalkan. Terima kasih kepada kalian yang sudah berteman denganku selama itu, terima kasih karena telah menerima keberadaanku dengan semua kekuranganku. Terima kasih karena kau tetap bersikap baik ketika aku bersikap kurang ajar terhadapmu.

Maaf selama ini telah berpikir bahwa kau bukanlah orang yang aku cari. Maaf karena telah bersikap seperti itu. Maaf karena aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu, bahkan lebih sering menyalahkanmu atas kesalahanku. Maaf karena aku tidak pernah memegang ucapanku sendiri, aku tidak pernah mengatakan hal yang jujur. Aku tahu aku memang bukan teman yang baik untukmu bahkan akulah yang sebenarnya tidak diharapkan. Maaf aku telah banyak melukaimu, bahkan membuatmu menjadi orang yang serba salah.

Aku hanya orang yang mungkin meminta perhatian dari banyak orang. Aku ingin merasakan bagaimana dicintai, merasakan memiliki banyak orang yang membutuhkanku. Tapi aku sadar semua itu hanya membuatku menjadi seseorang yang tidak baik untukmu dan untuk diriku sendiri. Selama itu aku tidak pernah memperlihatkan bagian mana yang tidak aku senangi, aku tidak pernah mengatakan bagian mana yang salah, aku tidak pernah mengatakan apa yang aku inginkan, sehingga aku mengikuti apa maumu, apa keinginanamu, apa yang kau rasakan. Tapi itu juga bukan salahmu, aku yang memilih untuk menjadi seseorang yang seperti itu. Terlalu tertutup tentang diriku sendiri.

Aku sadar, tidak ada manusia yang tidak membutuhkan manusia lainnya. Sebodoh-bodohnya diriku, begitu kekanak-kanakannya diriku, aku akan tetap diterima dan dibutuhkan orang lain. Karena dibalik itu aku memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain walaupun hanya 1. Aku juga sadar bahwa aku akan selalu merasakan kehilangan terhadap orang lain sekalipun kita hanya berkenalan secara singkat.

Sangat melegakan bisa mengatakan hal ini. Aku senang mengalami naik-turun dalam kehidupanku. Aku senang pernah memiliki kenangan bersamamu-bersama kalian. Aku senang ketika diberikan sebuah kesempatan, didengarkan setiap ucapanku, diterima dengan segala kekuranganku. Terima kasih banyak dan maafkan aku.

AN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...