Terhitung sudah 9 bulan gue tidak menulis di blog ini. Hehe...memang ucapan gue tidak pernah bisa dipegang. Tapi sepertinya tidak ada juga yang peduli apakah blog ini masih hidup atau tidak. Itu yang ada dalam pikiran gue saat ini.
Yang mengejutkan adalah ketika melihat beberapa postingan gue mendapat jumlah pengunjung yang cukup banyak. Memang tidak menyampai 1.000 atau bahkan 500 orang, hanya saja jumlah yang gue dapat ini tidak pernah gue bayangkan sebelumnya. Terima kasih kepada siapa saja yang membuka, kemudian membacanya baik yang selesai maupun hanya sepotong. Terima kasih juga mungkin bagi kalian yang menganggap blog ini cukup membantu atau menghibur.
Tahun 2020, seperti judul postingan kali ini. Selama 9 bulan gue mengalami banyak hal, mengalami kesedihan juga kebahagiaan. Gue pikir semua itu akan berarti ketika dilihat jauh setelah hal itu terjadi. Gue bisa mengambil positif kejadian itu dan menerimanya. Gue bisa menyimpan kenangan itu dan berdamai. Selama itu pula sebenarnya gue tidak berhenti menulis, hanya saja aku berpindah tempat untuk memposting tulisan gue. Untuk pertama kalinya gue mencoba untuk menulis di wattpad. Ada sekitar 9 judul yang gue tulis di sana. Bagi kalian yang penasaran bisa buka di sini.
Selama 9 bulan itu juga gue mulai menemukan banyak hal dalam diri gue. Gue mulai mendalami arti mencintai diri sendiri dengan memulai mengenal seperti apa sebenarnya gue ini. Memang hal semacam ini juga tidak penting bahkan tidak layak menjadi bahasan di muka umum. Tapi aku hanya bisa melakukan hal ini agar merasa lebih baik. Bukan, setidaknya gue akan merasa lega karena gue hanya bisa meluapkan apa yang ada dalam pikiran gue dengan menulis.
Singkatnya, sejak bulan Juli itu gue mulai merasa ada yang berbeda dengan diri gue. Gue semakin marah kepada banyak orang dengan alasan yang tidak pernah gue pahami juga. Gue sempat menceritakan hal itu kepada salah satu teman gue, dan dia hanya mengatakan untuk mencoba sabar dan membangun mood lagi. Dia meminta agar gue merenung sejenak dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada diri gue. Dia juga meminta agar gue mulai menandai, 'hal apa yang membuat gue marah'.
Gue mencoba melakukan hal itu. Nggak juga sih. Saat itu gue hanya mencari rasa lega dengan menceritakan apa yang membuat gue bertanya-tanya dan membuat gue bisa marah seperti itu. Gue kembali menemukan mood yang baik dan menjalani hidup dengan baik. Gue pergi dengan teman-teman gue, gue menikmati sangat menikmati saat-saat itu dan gue pikir perasaan itu tidak muncul dengan parah.
Mungkin sekitar pertengahan Oktober, gue mengalami gejolak yang sama. Bisa dikatakan itu sebuah kesalahpahaman, dimana saat itu kondisi gue yang mungkin sedang sensitif. Ada sedikit perselisihan dan gue gegabah menyimpulkan apa yang ada dalam pikiran gue saat itu. Gue memutuskan untuk pergi walaupun akhirnya gue sendiri yang merasa menderita atas kejadian itu.
Adalah sekitar 3 bulan setelah kejadian itu agar gue bisa terbiasa, agar gue bisa menerima cerita baru yang gue jalani atas pengambilan keputusan itu. Ya, gue rasa pilihan itu sama halnya dengan 2 buah belokan. Dimana gue harus memilih antara A atau B dan gue tidak bisa kembali. Saat itu mungkin gue memilih pilihan yang gue rasa tidak menguntungkan di awalnya. Gue menderita karena pikiran itu, gue hampir merasa gila karena menangis setiap melihat atau mengingat teman-teman gue. Tapi gue sudah memilih itu dan mau tidak mau harus gue jalani.
Sejak kejadian besar itu, gue mulai belajar mengenal diri gue sendiri. Ya, tidak selamanya gue akan hidup dengan orang lain. Ada waktunya dimana mereka memiliki waktu mereka sendiri begitu juga dengan gue. Hanya diri gue sendiri yang tahu persis tentang gue, bagaimana sifat gue, bagaimana perasaan gue yang sebenarnya. Hanya gue sendiri yang bisa menolong gue yang mungkin dalam keadaan terpuruk, hanya gue sendiri yang bisa memeluk semuanya, baik itu kenangan pahit-manis, kelebihan-kekurangan yang ada dalam diri gue setiap saat. Dari situ gue mulai mencoba mencari tahu bagaimana mencintai diri sendiri, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana dengan mood yang bermasalah. Syukurlah, perlahan langkah awal itu cukup membantu membuka pikiran gue dan menerima keadaan gue yang sebenarnya sangat mengganggu.
Tapi, disaat yang sama gue berpikir untuk tidak mempercayai orang lain lagi. Gue takut gue akan mengulangi kesalahan itu ketika gue sudah mendapatkan sebuah kepercayaan dari orang lain. Gue takut ucapan, keputusan yang gue keluarkan hanya akan melukai orang lain yang memang sudah percaya dengan gue. Gue takut untuk kehilangan lagi, karena gue percaya setiap pertemuan-memiliki pasti akan ada waktu perpisahan-kehilangan.
Sampai sekarang, gue masih mengingat kejadian itu. Gue masih ingat pertanyaan mereka dan jawaban gue yang benar-benar tidak menjawab. Gue seperti mendengar betapa marahnya mereka karena sikap gue yang mendadak. Gue masih menangis setiap kali mengingat kejadian itu, gue masih marah setiap melihat teman-teman gue. Itu juga bisa diartikan gue belum baik-baik saja, karena gue masih menggunakan emosi untuk melakukan sesuatu, menunjukkan sesuatu kepada orang dihadapan gue.
Saat itu benar-benar berat bagi gue. Walaupun mungkin untuk sebagian orang itu hanya hal sepele yang gue besar-besarkan. Setiap orang memiliki batasan masing-masing, dan gue rasa ini batasan gue. Gue benar-benar merasa jatuh dan sengsara ketika harus dihadapan dengan masalah ini. Gue tidak pernah siap mendengar kalimat cacian makian yang menurut gue kasar. Hati gue terlalu payah untuk mendengarkan kritikan pedas secara langsung. Pendidikan mental di sekolah kejuruan gue memang nggak berhasil untuk gue sendiri. Karena gue selalu menghindar. Gue selalu lari karena menurut gue itu cara yang tepat agar gue aman.
Terima kasih untuk semuanya, mungkin gue akan selalu mengingat semua ini. Gue rasa pilihan apapun yang gue pilih semua akan berakhir baik-baik saja dan aku akan mendapat pelajaran dari sana. Gue rasa suatu hari nanti gue bisa memecahkan ketakutkan gue, memeluk bayangan gue, melampauinya lebih tinggi, sehingga gue tidak akan takut lagi.
Selama 9 bulan itu juga gue mulai menemukan banyak hal dalam diri gue. Gue mulai mendalami arti mencintai diri sendiri dengan memulai mengenal seperti apa sebenarnya gue ini. Memang hal semacam ini juga tidak penting bahkan tidak layak menjadi bahasan di muka umum. Tapi aku hanya bisa melakukan hal ini agar merasa lebih baik. Bukan, setidaknya gue akan merasa lega karena gue hanya bisa meluapkan apa yang ada dalam pikiran gue dengan menulis.
Singkatnya, sejak bulan Juli itu gue mulai merasa ada yang berbeda dengan diri gue. Gue semakin marah kepada banyak orang dengan alasan yang tidak pernah gue pahami juga. Gue sempat menceritakan hal itu kepada salah satu teman gue, dan dia hanya mengatakan untuk mencoba sabar dan membangun mood lagi. Dia meminta agar gue merenung sejenak dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada diri gue. Dia juga meminta agar gue mulai menandai, 'hal apa yang membuat gue marah'.
Gue mencoba melakukan hal itu. Nggak juga sih. Saat itu gue hanya mencari rasa lega dengan menceritakan apa yang membuat gue bertanya-tanya dan membuat gue bisa marah seperti itu. Gue kembali menemukan mood yang baik dan menjalani hidup dengan baik. Gue pergi dengan teman-teman gue, gue menikmati sangat menikmati saat-saat itu dan gue pikir perasaan itu tidak muncul dengan parah.
Mungkin sekitar pertengahan Oktober, gue mengalami gejolak yang sama. Bisa dikatakan itu sebuah kesalahpahaman, dimana saat itu kondisi gue yang mungkin sedang sensitif. Ada sedikit perselisihan dan gue gegabah menyimpulkan apa yang ada dalam pikiran gue saat itu. Gue memutuskan untuk pergi walaupun akhirnya gue sendiri yang merasa menderita atas kejadian itu.
Adalah sekitar 3 bulan setelah kejadian itu agar gue bisa terbiasa, agar gue bisa menerima cerita baru yang gue jalani atas pengambilan keputusan itu. Ya, gue rasa pilihan itu sama halnya dengan 2 buah belokan. Dimana gue harus memilih antara A atau B dan gue tidak bisa kembali. Saat itu mungkin gue memilih pilihan yang gue rasa tidak menguntungkan di awalnya. Gue menderita karena pikiran itu, gue hampir merasa gila karena menangis setiap melihat atau mengingat teman-teman gue. Tapi gue sudah memilih itu dan mau tidak mau harus gue jalani.
Sejak kejadian besar itu, gue mulai belajar mengenal diri gue sendiri. Ya, tidak selamanya gue akan hidup dengan orang lain. Ada waktunya dimana mereka memiliki waktu mereka sendiri begitu juga dengan gue. Hanya diri gue sendiri yang tahu persis tentang gue, bagaimana sifat gue, bagaimana perasaan gue yang sebenarnya. Hanya gue sendiri yang bisa menolong gue yang mungkin dalam keadaan terpuruk, hanya gue sendiri yang bisa memeluk semuanya, baik itu kenangan pahit-manis, kelebihan-kekurangan yang ada dalam diri gue setiap saat. Dari situ gue mulai mencoba mencari tahu bagaimana mencintai diri sendiri, bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana dengan mood yang bermasalah. Syukurlah, perlahan langkah awal itu cukup membantu membuka pikiran gue dan menerima keadaan gue yang sebenarnya sangat mengganggu.
Tapi, disaat yang sama gue berpikir untuk tidak mempercayai orang lain lagi. Gue takut gue akan mengulangi kesalahan itu ketika gue sudah mendapatkan sebuah kepercayaan dari orang lain. Gue takut ucapan, keputusan yang gue keluarkan hanya akan melukai orang lain yang memang sudah percaya dengan gue. Gue takut untuk kehilangan lagi, karena gue percaya setiap pertemuan-memiliki pasti akan ada waktu perpisahan-kehilangan.
Sampai sekarang, gue masih mengingat kejadian itu. Gue masih ingat pertanyaan mereka dan jawaban gue yang benar-benar tidak menjawab. Gue seperti mendengar betapa marahnya mereka karena sikap gue yang mendadak. Gue masih menangis setiap kali mengingat kejadian itu, gue masih marah setiap melihat teman-teman gue. Itu juga bisa diartikan gue belum baik-baik saja, karena gue masih menggunakan emosi untuk melakukan sesuatu, menunjukkan sesuatu kepada orang dihadapan gue.
Saat itu benar-benar berat bagi gue. Walaupun mungkin untuk sebagian orang itu hanya hal sepele yang gue besar-besarkan. Setiap orang memiliki batasan masing-masing, dan gue rasa ini batasan gue. Gue benar-benar merasa jatuh dan sengsara ketika harus dihadapan dengan masalah ini. Gue tidak pernah siap mendengar kalimat cacian makian yang menurut gue kasar. Hati gue terlalu payah untuk mendengarkan kritikan pedas secara langsung. Pendidikan mental di sekolah kejuruan gue memang nggak berhasil untuk gue sendiri. Karena gue selalu menghindar. Gue selalu lari karena menurut gue itu cara yang tepat agar gue aman.
Terima kasih untuk semuanya, mungkin gue akan selalu mengingat semua ini. Gue rasa pilihan apapun yang gue pilih semua akan berakhir baik-baik saja dan aku akan mendapat pelajaran dari sana. Gue rasa suatu hari nanti gue bisa memecahkan ketakutkan gue, memeluk bayangan gue, melampauinya lebih tinggi, sehingga gue tidak akan takut lagi.
Komentar
Posting Komentar