Masih ingat kejadian kala hujan?! Sekarang
hujan sudah jarang turun lagi. Jalanan lebih sering kering dan bersih dari
genangan air yang menyebalkan. Sama, sama seperti hatiku yang juga kering tanpa
melihatnya beberapa bulan ini. Biasa saja, aku sudah terbiasa seperti ini.
Tapi memang kadang ada sedikit rindu yang diikuti pertanyaan pertanyaan seputar
dirinya ketika ada waktu kosong yang sering aku sebut night terrors.
Sedikit penjelasannya, serangan serangan
tak terduga di malam hari, terutama di jam jam kita sudah siap untuk tidur. Dimana
kita telah selesai dari minum susu, gosok gigi, cuci kaki, membersihkan tempat
tidur kemudian berbaring di atasnya, menarik selimut dan memeluk guling. Mulailah
didetik selanjutnya, ketika kita belum bisa tidur night terrors bermunculan.
Waktu waktu itulah yang tiba tiba
memunculkan pertanyaan tentangnya hingga rasa seperti rindu yang harusnya tidak
usah aku rasakan, karena sekali lagi aku dan dia hanya sering beradu pandang
bukan obrolan. Tapi berbeda dengan saat ini. Sebuah night
terrors paling mendebarkan yang pernah aku alami. Tanpa ada pertanda dari Yang
Kuasa tiba tiba ponselku berbunyi, mendapat pesan darinya.
Hey! Jangan tanya lagi bagaimana rasanya!
Tentu saja bahagia setengah mati hingga rasanya ingin berteriak bahagia. Jangan
tanya juga berapa kali jantungku berdetak per-menitnya! Tentu saja seperti
setelah lari marathon 60 km, hingga membuat seluruh tubuhku bergetar hebat menahan
bahagia yang harusnya aku ledakkan. Membuat bibirku melengkung penuh sesuai
standar ukuran di 5S, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun. Membuat jari jari
tanganku kerap melihat pemberitahuan pesan dan untuk pertama kalinya mengubah
arti kata "menunggu" menjadi sebuah hal yang menyenangkan bukan lagi
membosankan seperti biasanya. Sebelum akhirnya satu kalimat yang membuat
semua itu runtuh, rata dengan dasaran. Ada udang dibalik batu, mungkin itu yang
pas atau bisa juga terlalu jahat.
Hey! Jangan tanya bagaimana perasaanku,
tiba tiba saja aku melemah dengan getaran yang masih ada. Dia menanyakan orang
lain kepadaku, yang sepertinya orang yang sedang ia dekati. Kecewa, yah ada-sedikit. Sepertinya juga
wajar aku merasakan itu, karena harapan yang aku susun terlalu tinggi. Sedih, sebuah
kepastian yang untung saja masih aku terima dengan akal sehatku. Kembali lagi,
mengingat kami sama sekali belum pernah berbicara. Hanya sebatas pandangan dan
mungkin sekedar tahu sebatas nama.
Aku berharap saat itu juga, semoga ini
hanya mimpi. Semoga ini sebagian dari caranya mendekatiku. Semoga saja...semoga
saja...hingga aku lelah sendiri berharap yang tidak tidak. Tapi aku tetap bahagia, ketika ada banyak
orang lain yang bisa menjadi tempat ia bertanya dia justru memilih menghubungiku.
Bahkan masih juga menghubungiku di pagi harinya, dimana matahari saja belum
berani membangunkanku.
Mungkin itu yang dinamakan sedih dan senang
diwaktu yang sama. Aku senang dia menghubungiku untuk pertama kalinya dan mengenalkanku
tentang beberapa hal yang menjadi pertama kali dalam usiaku. Dan semoga saja ini
menjadi pertama yang berakhir bahagia untukku. Dimana apa yang aku semogakan
bisa terjadi walaupun harus menunggu untuk beberapa waktu.
Komentar
Posting Komentar