Langsung ke konten utama

Trilogi Kala Hujan

Masih ingat kejadian kala hujan?! Sekarang hujan sudah jarang turun lagi. Jalanan lebih sering kering dan bersih dari genangan air yang menyebalkan. Sama, sama seperti hatiku yang juga kering tanpa melihatnya beberapa bulan ini. Biasa saja, aku sudah terbiasa seperti ini. Tapi memang kadang ada sedikit rindu yang diikuti pertanyaan pertanyaan seputar dirinya ketika ada waktu kosong yang sering aku sebut night terrors.

Sedikit penjelasannya, serangan serangan tak terduga di malam hari, terutama di jam jam kita sudah siap untuk tidur. Dimana kita telah selesai dari minum susu, gosok gigi, cuci kaki, membersihkan tempat tidur kemudian berbaring di atasnya, menarik selimut dan memeluk guling. Mulailah didetik selanjutnya, ketika kita belum bisa tidur night terrors bermunculan.

Waktu waktu itulah yang tiba tiba memunculkan pertanyaan tentangnya hingga rasa seperti rindu yang harusnya tidak usah aku rasakan, karena sekali lagi aku dan dia hanya sering beradu pandang bukan obrolan. Tapi berbeda dengan saat ini. Sebuah night terrors paling mendebarkan yang pernah aku alami. Tanpa ada pertanda dari Yang Kuasa tiba tiba ponselku berbunyi, mendapat pesan darinya.

Hey! Jangan tanya lagi bagaimana rasanya! Tentu saja bahagia setengah mati hingga rasanya ingin berteriak bahagia. Jangan tanya juga berapa kali jantungku berdetak per-menitnya! Tentu saja seperti setelah lari marathon 60 km, hingga membuat seluruh tubuhku bergetar hebat menahan bahagia yang harusnya aku ledakkan. Membuat bibirku melengkung penuh sesuai standar ukuran di 5S, Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun. Membuat jari jari tanganku kerap melihat pemberitahuan pesan dan untuk pertama kalinya mengubah arti kata "menunggu" menjadi sebuah hal yang menyenangkan bukan lagi membosankan seperti biasanya. Sebelum akhirnya satu kalimat yang membuat semua itu runtuh, rata dengan dasaran. Ada udang dibalik batu, mungkin itu yang pas atau bisa juga terlalu jahat.

Hey! Jangan tanya bagaimana perasaanku, tiba tiba saja aku melemah dengan getaran yang masih ada. Dia menanyakan orang lain kepadaku, yang sepertinya orang yang sedang ia dekati. Kecewa, yah ada-sedikit. Sepertinya juga wajar aku merasakan itu, karena harapan yang aku susun terlalu tinggi. Sedih, sebuah kepastian yang untung saja masih aku terima dengan akal sehatku. Kembali lagi, mengingat kami sama sekali belum pernah berbicara. Hanya sebatas pandangan dan mungkin sekedar tahu sebatas nama.

Aku berharap saat itu juga, semoga ini hanya mimpi. Semoga ini sebagian dari caranya mendekatiku. Semoga saja...semoga saja...hingga aku lelah sendiri berharap yang tidak tidak. Tapi aku tetap bahagia, ketika ada banyak orang lain yang bisa menjadi tempat ia bertanya dia justru memilih menghubungiku. Bahkan masih juga menghubungiku di pagi harinya, dimana matahari saja belum berani membangunkanku.

Mungkin itu yang dinamakan sedih dan senang diwaktu yang sama. Aku senang dia menghubungiku untuk pertama kalinya dan mengenalkanku tentang beberapa hal yang menjadi pertama kali dalam usiaku. Dan semoga saja ini menjadi pertama yang berakhir bahagia untukku. Dimana apa yang aku semogakan bisa terjadi walaupun harus menunggu untuk beberapa waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...