Langsung ke konten utama

Setelah Sekian Purnama

Mau nyapa segan, nggak nyapa dikira akhlak less.

Haloo, gue kembali. Iya, nggak ada yang nunggu juga sih. Tapi gue merasa perlu aja nyapa terus minta maaf sama diri sendiri karena ingkar janji. Maaf ya.

😒 Sama diri sendiri aja ingkar janji, apalagi sama orang lain.
😅 Bercanda.

Oke. Lanjut.
Alasan kenapa gue kembali main blog lagi adalah ternyata rindu juga nulis sembarangan di ruang terbuka. Iya ruanganya aja yang terbuka, tapi kagak rame juga. Ditambah lagi kekurangan topik pembahasan juga medianya. Emang sih nulis blog di HP bisa, tapi nggak ada gregetnya sama sekali. Tulisannya kelar kagak, mata pegel iya. Nggak luas aja ngeliatnya.

😒 Terus apa nih yang mau dibahas??

Gue akan mengulas, kembali mengingat ingat apa saja yang gue alami selama bulan Mei sampai Oktober ini, secara singkat.

😒 Bilang aja lu banyak lupanya, tutup panci!

Iya. Emang sebenernya banyak lupanya. Ya udah daripada gue ngarang, seingetnya aja. Maaf sebelumnya, apabila bahasanya masih kurang komunikatif.

Setelah melewati bulan yang cukup sulit, proses yang panjang, akhirnya sedikit demi sedikit gue mulai bisa mengenal seperti apa sebenarnya gue ini. Apalagi setelah gue melihat wawancara di channel Menjadi Manusia yang ke 103. Dari prespektif pandu tentang gangguan kecemasan. Lebih lengkapnya bisa langsung cari aja di Youtube.

Yang gue pahami dari tayangan itu adalah kita hanya perlu melampiaskan emosi kita ke hal yang positif. Kalau versi Mas Pandu (cie...mas) adalah dia melampiaskan dengan menggambar. Nah, kalau versi gue sendiri adalah dengan nulis. Kenapa? Ya karena itu kebiasaan gue dari dulu. Juga, gue bisa lebih leluasa aja kalau ngomongnya lewat tulisan. Mulutnya nggak akan capek, paling jarinya doang yang langsung lemes.

Sejak saat itu gue mulai sering cari tahu soal gangguan kecemasan, tentang kesehatan mental. Sampai dititik gue ikut meditasi lewat aplikasi riliv. Mungkin memang tidak sepenuhnya hilang, sebenernya masih sama aja, tapi sedikitlah gue mulai bisa mengontrol diri gue sendiri. Lebih sabar sedikit, lebih nyantai pikirannya. Selain meditasi, gue juga ngisi mood tracker yang bener2 ngebantu soal mantau gimana sih mood gue dari hari ke hari.

Kedengarannya gampang ya. Gue juga baru sadar, perasaan enak banget gue nyritainnya. Berasa cepet banget gitu. Padahal pas ngejalaninnya, capeknya nggak ketulungan. Gimana ya, banyak masalah masalah yang tentu bolak balik kayak martabak telor depan rumah. Ya kalau martabak ma emang harus dibolak balik, biar nggak gosong. Lah kalau masalah yang bolak balik auto bikin masalah lagi.

Gue sampai bikin buku jurnal, ngatur jadwal apa yang harus gue lakukan selama satu hari penuh, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tapi ternyata nggak gampang. Kadang lupa, kadang males, kadang juga gampangin, udah besok aja sekalian. Dalam hati jerit, woyy lu nulis jurnal bukan rangkuman materi buku paket. Emang sesebel sebelnya gue sama orang lain, lebih sebel lagi sama diri gue sendiri yang suka kepikiran kayak gitu.

Setelah membaik, hubungan gue dengan orang-orang mulai membaik. Gue juga mulai mengikhlaskan beberapa hal dan membiasakan untuk biasa biasa saja. Mood gue juga cenderung baik. Bahkan di bulan September kemarin bisa baik terus. Akhir-akhir ini aja yang kayaknya perlu perhatian lagi.

Soal diri sendiri bisa dibilang okelah. Aman. Giliran nih omongan omongan soal nikah. Ini nih, awalnya gue cuma bercanda kalau ngomongin nikah, ehh malah ada yang ngebahasnya pake serius. Auto kicep. Ternyata semenakutkan itu kalau serius ngomongin nikah. Mendinglah kalau ngobrolnya personal ya, lah ini udah sama tim boss. Maaf maaf aja nih, orang yang lebih tua dari gue, yang belum siap, juga bisa kicep kalau ditemuin sama tim. Itu udah serius amat. Padahal amat yang gue kenal aja, kagak seserius ini.

Tapi bukan gue kalau nggak balik becanda lagi. Yah, anggap aja itu tadi iklan ditengah tengah nonton youtube. Kan ada pilihannya tuh, skip ad.

Kelar lagi nih. Ehh masih ada lagi dong masalah lainnya. Ini mau protes kenapa hidup gue banyak masalah, takutnya gue langsung dilobi sama malaikat Izrail. Mending kalau pas hari senin atau kamis, secara pintu surga kebuka semua kan. Lah kalau pas malam minggu gini?! Makin nggak enak aja kalau masuk berita majalah gadis.

Ujungnya sama, Alhamdulillah masih bisa ngerasain punya masalah. Itu tandanya gue masih hidup. Tandanya gue disuruh banyak banyakin doa sama Allah, minta tuh kebaikan dunia akhirat.

Yang jelas apapun itu prinsip gue adalah nikmati dan jalani aja. Gue jalan sama waktu kok, jadi semua juga akan berlalu. Nggak peduli itu semenyenangkan apa atau sesedih apa, semua akan lewat kalau udah ganti hari. Toh, jalanan kayak gitu, nggak cuma gue yang punya. Masih ada orang diluar sana yang sama-sama punya masalah sendiri-sendiri. Yang penting jangan banding-bandingin masalah aja sih. Bukannya apa-apa, nggak lucu ajakan banding-bandingin masalah siapa yang paling berat. Nggak akan ada yang bangga juga punya masalah yang berat. Nggak masuk kategori award juga kalau kita punya masalah yang berat.

Kuncinya, sabar, ikhlas, bersyukur. Hidup kita yang kerasa pahit kemungkinan kurang dikitlah pahitnya. Paling nggak, nggak sampe bikin kita jadi overthinking, overheat, sampai game over.

Oke. Cukuplah. Ini jari gue yang ngetik tapi semua badan ikut capek gara gara pake emosi nulisnya.

Sampai ketemu dipostingan selanjutnya. Semoga gue bisa kembali produktif menghidupkan dairy di internet, yang mungkin udah nggak jaman di era ini.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...