Ujung Sebuah Keikhlasan.
FYI, gue nemu judul ini, tadi sore, pas hujan-hujan, duduk di teras rumah sambil dengerin lagu Endah n Resha-Melupakanmu. Pas kalimat itu muncul di kepala gue langsung terkesan sendiri. Dalam hati, masih bisa ternyata otak gue diajak kreatif.
Tapi, itu hanya sebatas judul teman-teman sebangsa, setanah abang, setanah air dari mata. Bahasannya nggak akan seserius itu. Yaaa gimana ya, mau serius tapi belum berani, sih. Yhaaa...
Oke. Skip.
Kembali lagi ke topik. Sebenernya apa sih arti ikhlas? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ikhlas berarti :
Dalam hal ini, yang perlu ditekankan adalah ikhlas dalam artian rela, merelakan.
Gue yakin, semua orang pasti pernah mengalami situasi yang mana mau tidak mau, bisa tidak bisa harus merelakan. Entah itu soal barang, entah itu soal perasaan, entah itu soal UNBK, entah itu soal penulis cerita serial Naruto yang memutuskan Naruto mati, dan hal-hal lainnya.
Gue juga sering, bukan sebatas pernah lagi. Dan itu nggak pernah semudah saat gue nulis huruf-huruf kayak gini. Itu nggak semudah pas gue bilang, "eh gue suka sama lo" yang masih aja gagu padahal udah persiapan sejak dini hari.
Dalam kasus yang gue alami, gue perlu waktu bertahun-tahun untuk bisa sadar dan mulai merelakan perasaan gue sejak zamannya dora sampai datengnya kabar bahwa Naruto mati, bahwa perasaan yang gue miliki bertepuk sebelah tangan.
Cuma gue doang yang suka, cuma gue doang yang seneng pas bareng sama dia, cuma gue doang yang seneng pas kita duduknya hadap-hadapan. Nggak cukup itu, cuma gue doang yang seneng kalau kita masuk di kelompok tugas yang sama.
Selama gue masih hidup, 22 tahun ini, jomlo. Untuk pertama kalinya gue menyukai seseorang kurang lebih selama 6 tahun, pas masih SMA. Ini nggak tahu lagi sih, gue buta apa goblok, atau malah dua-duanya.
Pas kelas 1 gue mulai suka dan mulailah ada kedekatan. Naik kelas 2, loh langsung renggang nih, nggak ada komunikasi lagi. Makin nggak jelas juga gimana. Ehh...nggak tahunya dia sedang berusaha memperjelas hubungannya dengan yang lain.
Dari situ udah ketutup dong jalannya. Tapi gue masih yakin aja dia bakal suka sama gue, dengan berbagai alasan sepele yang gue ada-adakan. Sampai akhirnya kelas 3, ada dikit-dikit momen yang menyenangkan tapi ya udah gitu aja. Biasa. Sampai akhirnya lulus dan gue masih tetep suka walaupun udah nggak pernah ketemu nggak pernah komunikasi.
Kemudian, karena perasaan ini bener-bener nggak tahan pengen keluar. Gue bilang ke dia, cuma bilang aja, nggak ngajak gimana-gimana. Tentu saja responnya nggak sesuai apa yang gue bayangkan dan apa yang gue yakini selama itu.
Selesai dari situ, gue pikir, okelah, yang penting lega. Bisalah sekarang biasa aja, kan udah tahu dia gimana ke gue.
Nggak dong, nggak sampai situ doang. Justru gue bener-bener menikmati kesedihan atas hal itu dan terus berharap dia bakalan suka sama gue. Sampai 3 tahun setelah kelulusan. Selama itu, iya, selama itu gue jadi orang yang selalu posting kata-kata bijak, repost kata-kata galau, nulis cerita orang putus melulu, topiknya cinta bertepuk sebelah tangan. Selama 3 tahun setelah penolakan. Bisa aja tuh, temen-temen gue langsung mute pembaruan story dari gue.
Gue yang kembali menceritakan hal ini baru sadar, iya bener-bener bego banget gue. Udah bukan buta lagi, tapi mati fungsi otaknya.
Dan setelah merelakan pertama, gue kembali dihadapkan dengan merelakan dalam urusan lain. Gue pernah cerita juga soal ini tapi lupa di blog atau di media lain.
Kejadiannya sekitar 2019 kemarin. Gue harus merelakan pertemanan gue sejak kecil hilang begitu saja karena keegoisan dan emosi gue yang hilang kendali.
Kurang lebih samalah, saat gue berani mengatakan, udah, mendingan kita jaga jarak aja, gue bisa lega. Karena dalam pikiran gue itu satu-satunya cara agar gue berhenti menyakiti orang disekitar gue dengan sifat egois yang gue miliki. Tapi ternyata nggak, setelah ganti hari gue nggak pernah lega. Setiap hari gue nangis, karena ternyata gue nggak sekuat itu tanpa mereka.
Adalah, kurang lebih 3 atau 4 bulan hubungan gue dengan mereka akhirnya membaik. Dengan gue yang memberanikan diri untuk minta maaf ke mereka satu persatu. Kemudian mereka yang bantu agar situasinya juga kembali biasa. Alhamdulillah sampai sekarang kami masih baik-baik saja, walaupun mungkin tidak sebebas sebelum tragedi itu terjadi.
Dan yang masih anget. Bulan kemarin, gue harus merelakan orang yang sempat gue harapan bersama dengan orang lain. Padahal nggak kenal, tukeran pesan aja nggak pernah. Kenalan aja lewat temen. Tapi bisa-bisanya setelah dikenalin gue langsung berharap lebih. Pas akhirnya gue sama dia sepakat nanya ke Allah (sholat istikoroh), dan jawabannya iya. Iya, dia sama yang lain bukan sama gue. Alias kita nggak jodo.
Dari kejadian itu gue baru bisa merelakan setelah 2-3 minggu kemudian.
Gue menceritakan semua itu, sebagai contoh bukan curhat. Dari 3 cerita itu, waktu yang gue butuhkan untuk merelakan semakin sedikit. Karena apa?
Karena gue mulai belajar tentang alasan kenapa bisa seperti ini akhirnya (harus merelakan) dengan lebih mengenal tentang diri gue sendiri secara lebih. Gue belajar untuk berhenti menyalahkan diri gue sendiri atas kesalahan yang gue perbuat dan berhenti mengatakan seharusnya kepada diri gue sendiri.
Selain itu, dukungan dari orang di sekitar gue. Keluarga, temen, semua yang memberi dukungan, yang terus mengingatkan bahwa dari merelakan gue akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi.
Tanpa kita sadari, perihal merelakan sebenarnya cukup erat dalam kehidupan kita. Misalnya, Orang yang baru lulus sekolah memilih bekerja siang sampai malam, harus merelakan waktu main sama temen-temen seumurannya yang biasa nongkrong. Orang yang bener-bener ngencengin ikat pinggangnya merelakan barang-barang promo di mall lewat gitu aja. Begitu juga kondisi sebaliknya, orang yang bener-bener butuh sesuatu harus merelakan uangnya yang sudah dikumpulkan berminggu-minggu.
Semua itu terasa gampang karena kita sama-sama tahu akhirnya akan seperti apa. Yang rajin kerjanya, bakal cukup uang, yang semangat nabung, bakal kaya, yang mau ngeluarin duit, kebutuhannya terpenuhi.
Sadar akan tujuan/akhir dari merelakan, yakin akan hal itu, akan membuat kita semakin mudah melalui proses merelakan.
Gue yang merelakan orang yang gue suka, akhirnya gue bisa hidup normal, nggak galau melulu. Variasi cerita yang gue buat juga makin banyak, nggak sedig terus. Gue yang merelakan kejadian dimasa lalu dengan teman gue, akhirnya gue bisa hidup baik-baik saja tanpa bayangan rasa bersalah.
Memaafkan diri sendiri, memaafkan orang lain, itu juga menjadi penting dalam proses merelakan. Karena diri kita sendiri yang memegang kendali penuh atas apa kelanjutan cerita dalam hidup kita.
Jadi, ujung dari sebuah keikhlasan bisa disimpulkan dengan hidup yang lebih tenang.
Lo mau ketawa juga bisa leluasa, kalaupun mau nangis juga ujungnya lega dan nggak akan lama. Karena nggak ada keresahan dan rasa khawatir lagi.
Huh, capek juga ternyata.
Kayaknya sih gitu ya. Mungkin nggak semuanya setuju, itu sekilas pandangan gue berdasarkan apa yang pernah gue alami. Kalaupun ternyata berbeda, ya wajar, karena hidup setiap orang juga nggak sama, masalah yang dialami juga nggak sama. Ukuran berat-ringannya masalah juga nggak sama.
Yang jelas, mengenal diri sendiri itu menjadi kunci pertama agar kita bisa menyelesaikan masalah kita dengan mudah. Karena cuma diri kita sendiri yang tahu, cara yang pas untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Terima kasih, maaf apabila ada kalimat yang tidak mengenakkan atau menyinggung. Karena semua itu tidak saya sengaja.
Komentar
Posting Komentar