Langsung ke konten utama

Beropini : Ngobrol Sama Diri Sendiri

FYI, selama gue nulis bagian ini, gue dengerin lagu milik Keshi-Us. Sedih-sedih nenangin gimana...gitu.
Dan juga ini salah satu tulisan terlama bisa gue selesain. Gue nulis 25 Oktober 2020, hari itu emang belum selesai, habis itu gue perlu mengumpulkan mood untuk menyelesaikan. Nggak cukup 1 hari atau 2 hari, tiap kali buka cuma ganti kata-kata doang nggak nambah.

🤔 Lu nggak niat kali ngebahasnya?!

Bukan karena nggak niat. Justru ini topik yang pengen gue bahas udah lama. Tapi setiap kali gue nulis, rasanya nggak selepas gue nulis postingan-postingan sebelumnya. Nggak bisa santai, bawaannya serius mulu. 

Jadi gini, gue bakal bahas soal berbicara sama diri sendiri. Tapi gue juga akan bahas dikit soal berbicara sendiri, karena pas gue nyari referensi soal berbicara dengan diri sendiri, banyak artikel yang pakai kalimat berbicara sendiri, yang mana menurut gue keduanya beda. Nah, langsung aja...

Apa sih maksud dari bicara dengan diri sendiri?
Menurut gue berbicara dengan diri sendiri yaitu kegiatan ngobrol yang dilakukan secara sendirian dan ditujukan kepada diri sendiri.
Hal ini bisa dilakukan dengan bersuara layaknya berbicara dengan teman atau dalam bentuk ekspresi yang lebih abstrak (vice.com).
Sedangkan berbicara sendiri menurut gue adalah kegiatan ngobrol sendiri dan yang dituju bukanlah diri kita sendiri tapi orang lain. Seolah-olah memang ada orang lain yang kita ajak ngobrol.

Kedua hal itu memang ada, walaupun kedengarannya aneh. Gue baca dari laman alodokter.com soal bicara sendiri 
Ada pertanyaan dari orang yang berusia 18 tahun. Dia memiliki kepribadian tertutup tapi masih bisa bersosialisasi dengan baik.
Dia mengatakan sejak kecil memiliki kebiasaan mengkhayal. Seiring bertambahnya usia, kebiasaan itu juga dibarengi dengan sering tiba-tiba berbicara sendiri di depan cermin seolah-olah seperti sedang curhat dengan temannya.
Dari cerita tersebut, dr. Atika Dafri menanggapi  bahwa kebiasaan mengkhayal atau melamun (daydreaming) merupakan sebuah bentuk mekanisme pertahanan tubuh bagi orang yang memiliki kepribadian tertutup atau juga salah satu bentuk kebiasaan karena kenyataan hidup tidak sesuai dengan keinginan.
Hal tersebut (berbicara sendiri) bisa dikategorikan sebagai gangguan apabila berlebihan sampai mengganggu hubungan sosialisasi dengan orang lain.
Dari laman lain disebutkan berbicara sendiri menjadi sebuah gangguan apabila dilakukan dengan dibarengi halusinasi, dia melihat ada orang lain dihadapannya, dilakukan di tempat umum, misalnya di jalanan.

Gue sendiri sebenarnya juga setipe dengan orang tersebut. Mungkin karena dari kecil gue main sendiri, jadi gue punya kebiasaan berbicara sendiri waktu main boneka, dan itu berlanjut sampai sekarang. Tapi tenang aja, gue nggak gila. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa ada 2 kemungkinan, bisa menjadi gangguan bisa juga tidak. Gue termasuk yang tidak.

Emang udah periksa? Belum, sih. Tapi gue yakin aja. Karena gue sadar bahwa gue sendirian dan gue hanya melakukan hal itu di kamar mandi ketika lagi banyak pikiran. Dengan cara itu gue akan merasa beban yang gue tanggung sedikit berkurang.

Jadi, apabila ada orang di luar sana, yang juga memiliki kebiasaan seperti itu (dengan syarat), nggak papa. Nggak salah, karena...ya sudah menjadi kebiasaan dan mungkin memang akan lebih nyaman seperti itu.

Nah, kalau berbicara dengan diri sendiri sebenarnya hal yang wajar dan setiap orang pasti pernah melakukan hal itu. Walaupun tetap saja kelihatannya aneh. Apalagi kalau lihatnya dari jauh, udah fix orang ngira gila karena ngomong sama angin atau kalau nggak sama komputer.

Tapi jangan salah, walaupun kelihatan aneh, berbicara dengan diri sendiri banyak banget manfaatnya.

Dikutip dari New York Time, ketika kita berbicara kepada diri sendiri, itu berarti kita mencoba untuk melihat segala sesuatu lebih objektif. (Klikdokter.com)
Apa maksudnya?
Jadi orang yang melihat segala sesuatu lebih objektif adalah orang yang melihat dengan mempertimbangkan banyak hal sehingga tidak akan menimbulkan diskriminasi sosial. (Kompasiana.com)
Dengan mempertimbangkan banyak hal itu juga membuat seseorang akan lebih berhati-hati saat mengambil keputusan, saat menilai sesuatu, sehingga bisa meminimalisir kesalahpahaman.

Berbicara dengan diri sendiri bisa membantu kita mengembalikan semangat, karena ketika melakukan kesalahan atau dalam kondisi gagal/down, secara otomatis kita akan mengatakan kalimat penyemangat untuk diri sendiri. Misal,
Nggak papa, kita bisa nyoba lagi!
Semangat yokk, kita bisa!

Berbicara sendiri bisa juga membantu kita menyelesaikan masalah lebih cepat, karena kita akan mencoba mengingat atau merunut kembali langkah-langkah sebelumnya sekaligus mengkoreksinya.
Dari pengalaman gue pas kerja, mengingat step by step yang gue lakukan itu akan lebih puas kalau disuarakan nggak cuma dibatin, sambil nunjuk-nunjuk layar komputer. Kadang malah gue tulis segala.

Selain itu, yang bener-bener gue rasakan manfaat dari berbicara sendiri adalah mengurangi stress.
Gue adalah orang yang tipenya gampang kepikiran. Ada omongan nggak enak dikit langsung kepikiran. Buat kesalahan yang sebenernya lumrah tapi bisa bikin gue kepikiran, bahkan sampai nangis. Gue juga sering overthinking, sedikit-sedikit nyalahin diri sendiri, dan itu bener-bener bikin gue stress.

Setelah gue menyadari bahwa itulah penyebabnya, gue langsung googling gimana solusinya. Jelas datang ke psikolog itu saran pertama, apabila semua itu sampai mengganggu aktivitas kita sehari-hari.
Bisa juga melakukan meditasi, mencoba untuk fokus mengenal diri sendiri. Cara tersebut yang gue lakukan. Gue dengerin cerita-cerita orang yang mengalami cidera mental dan cara mereka mengatasinya.
Poin mengenal diri sendiri memang menjadi paling penting sebelum melakukan hal lainnya. Sesekali pas gue sendirian gue suka nanya apa yang gue mau, apa yang gue rasakan, apa kelebihan dan kekurangan gue. Semua jawabannya gue tulis dan gue baca terus. Kadang pas mood gue sedang tidak baik, gue akan nanya di depan cermin, "heh lu kenapa? Apa coba yang jadi alesan lu kayak gini?"
Dan memang metode ini manjur banget, karena kembali lagi, gue akan merunut pelan-pelan apa yang terjadi sebelum gue mengalami keruskan pada mood.

Selain itu semua, dikutip dari klikdokter.com berbicara dengan diri sendiri bisa mengatasi kesepian, membuat hidup lebih teratur, juga bisa meningkatkan kecerdasan.

Huh, akhirnya selesai juga. Semoga ada manfaatnya beropini kali ini. Terima kasih atas perhatiannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...