Pernah nggak sih, kalian merasa bener-bener capek? Kayak ada aja sesuatu hal yang mengganggu perasaan kalian. Terus kalian marah. Baru sedetik kemudian sadar, "Kenapa gue marah? Bukankah itu hal yang bla..bla..bla" intinya nyesel. Tapi situasi udah nggak mungkin dibilang baik-baik aja, orang di sekitar kalian udah tahu kalau kalian lagi marah, mood-nya jelek. Terus, kalian makin marah karena nggak bisa balikin kondisi itu menjadi aman. Yang ada, akhirnya marah sama diri sendiri. Lukain diri sendiri. Nangis.
Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini perasaan gue bener-bener naik-turun. Mungkin PMS? Mungkin, gue juga sempat berpikir seperti itu. Tapi nggak tahu kenapa sampai 1 minggu kemudian masih sama. Mungkin capek? Bisa, karena kerjaan emang lumayan banyak dan sempat numpuk. Tapi, ini pekerjaan yang gue suka, biasanya gue ngerjainnya dengan baik dan happy-happy aja. Gue sampai bertanya berkali-kali kenapa sama diri gue, ada apa dengan perasaan gue. Kenapa semuanya bener-bener kerasa berat dan sesek banget. Perlu waktu sendiri, itu yang pertama kali gue pikirin. Gue nggak buka sosmed, nggak buka whatsapp untuk beberapa jam, selama itu gue merenungkan keadaan gue. Gue sempet nyari hiburan, pergi keluar aja gitu sama abang gue. Bercanda sama abang gue, nyanyi-nyanyi lagu random pas mandi. Lumayan melegakan, karena selama gue berada di rumah, setelah pulang kerja, nggak ada waktu buat gue diem terus inget-inget hal yang menurut gue menjadi masalah.
Paginya gue baik-baik aja. Kerja, gue nikmatin itu, kondisi rame gue masih bisa dalam kendali, yang mana biasanya gue akan gugup dan bingung harus gimana. Gue masih baik-baik aja, bahkan bercanda dengan teman satu kerjaan. Pulang ke rumah, istirahat, bangun buat kerja lagi. Aman. Masih aman, gue masih nyanyi-nyanyi lagu Korea dengan PD-nya padahal ada pelanggan yang dateng. Gue masih bisa bercandain temen kerja gue yang udah capek sama kerjaan. Sampai di titik, di mana gue sadar, apa yang gue lakukan kemarin hingga detik itu benar-benar aneh. Bukan gue. Bercanda waktu kerja, bukan gue. Nyanyi lagu Korea yang lafalnya aja nggak bener, di depan umum, itu bukan gue. Sampai gue bilang ke salah satu pelanggan gue, "Aneh ya gue gini," terus dia bilang, "Nggak kok, gue suka lo yang kayak gini. Daripada lo diem, gue malah takut. Karena gue nggak tahu apa-apa, tapi kena marahnya lo." Gue ketawa. "Tapi, emang bener ya kalau pas seneng berlebihan gini, jangan mikir kalau nanti bakal sedih. Soalnya bisa bikin kita beneran sedih." dia bilang, "Iya." Gue diem sebentar, kemudian tanya, "Wajar nggak sih, kayak gini?" Dia bilang, "Wajar, mungkin karena stress." Gue ketawa aja. Dalam hati, Iya. Nggak tahu apa aja yang gue pikirin tapi gue merasa banyak banget yang ada di kepala gue. Sampai membuat gue bener-bener nggak bisa denger kritikan orang lain, becandaan orang lain yang nggak gue suka. Sampai membuat gue terdengar egois karena nggak mau disakitin, padahal gue nyakitin orang lain dengan perbuatan gue. Sampai gue nggak mau ngalah dan selalu insecure kalau ada orang lain yang lebih dari gue.
Gue diem setelah berakhirnya percakapan itu. Gue sempet marah sama bercandaan temen gue, yang sebenernya itu bisa gue tahan walaupun gue nggak suka. Sampai akhirnya gue sadar reaksi yang gue tunjukkan itu salah. Barulah gue tanya ke salah satu temen gue, "Kelihatan nggak sih? Perubahan mood gue?" dia bilang, "Jelas, kelihatan." - "Gue capek sendiri jadinya. Berasa ngerugiin orang lain, karena sifat kayak gini." Dia cuma ketawa. Mood gue bener-bener ancur saat itu. Gue yang mau pura-pura baik-baik aja udah nggak bisa. Gue mau coba alihin ke kerjaan, juga nggak bisa. Sampai akhirnya gue nangis. Gue marah sama diri gue sendiri. Kenapa omongan gue soal tenang, soal hitung 1, 2, 3 saat mau marah nggak gue terapin lagi? Kenapa gue jadi kehilangan kontrol lagi? Kenapa gue malah makin hobi buat nyakitin diri sendiri lagi?
Gue bahkan sampai tanya, "Bagian mana masalahnya? Bagian mana yang buat lo nggak suka? Kalaupun lo nggak suka bisa ditahan, kan?" Itu bahkan nggak selesai di situ aja. Gue pulang ke rumah juga sambil nangis karena saking bingungnya sama kondisi gue. Barulah, sampai rumah gue bisa pura-pura. Gue ketawa sama abang gue, gue main sama ponakan gue. Gue semangat pas diajak keluar ke warung beli sarimi. Iya, keluar. Itu yang gue butuhkan sekarang. Gue juga pengen keluar dari semua ini. Jauh dari perasaan insecure, jauh dari overthinking, jauh dari negative thinking. Gue pengen baik-baik aja, gue pengen mood gue bagus terus, sekalinya jelek pas PMS aja. Gue pengen punya hati dan hari yang tenang. Karena capek kayak gini.
Komentar
Posting Komentar