Langsung ke konten utama

CHAT : -

Pernah nggak sih, kalian merasa bener-bener capek? Kayak ada aja sesuatu hal yang mengganggu perasaan kalian. Terus kalian marah. Baru sedetik kemudian sadar, "Kenapa gue marah? Bukankah itu hal yang bla..bla..bla" intinya nyesel. Tapi situasi udah nggak mungkin dibilang baik-baik aja, orang di sekitar kalian udah tahu kalau kalian lagi marah, mood-nya jelek. Terus, kalian makin marah karena nggak bisa balikin kondisi itu menjadi aman. Yang ada, akhirnya marah sama diri sendiri. Lukain diri sendiri. Nangis.

Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini perasaan gue bener-bener naik-turun. Mungkin PMS? Mungkin, gue juga sempat berpikir seperti itu. Tapi nggak tahu kenapa sampai 1 minggu kemudian masih sama. Mungkin capek? Bisa, karena kerjaan emang lumayan banyak dan sempat numpuk. Tapi, ini pekerjaan yang gue suka, biasanya gue ngerjainnya dengan baik dan happy-happy aja. Gue sampai bertanya berkali-kali kenapa sama diri gue, ada apa dengan perasaan gue. Kenapa semuanya bener-bener kerasa berat dan sesek banget. Perlu waktu sendiri, itu yang pertama kali gue pikirin. Gue nggak buka sosmed, nggak buka whatsapp untuk beberapa jam, selama itu gue merenungkan keadaan gue. Gue sempet nyari hiburan, pergi keluar aja gitu sama abang gue. Bercanda sama abang gue, nyanyi-nyanyi lagu random pas mandi. Lumayan melegakan, karena selama gue berada di rumah, setelah pulang kerja, nggak ada waktu buat gue diem terus inget-inget hal yang menurut gue menjadi masalah.

Paginya gue baik-baik aja. Kerja, gue nikmatin itu, kondisi rame gue masih bisa dalam kendali, yang mana biasanya gue akan gugup dan bingung harus gimana. Gue masih baik-baik aja, bahkan bercanda dengan teman satu kerjaan. Pulang ke rumah, istirahat, bangun buat kerja lagi. Aman. Masih aman, gue masih nyanyi-nyanyi lagu Korea dengan PD-nya padahal ada pelanggan yang dateng. Gue masih bisa bercandain temen kerja gue yang udah capek sama kerjaan. Sampai di titik, di mana gue sadar, apa yang gue lakukan kemarin hingga detik itu benar-benar aneh. Bukan gue. Bercanda waktu kerja, bukan gue. Nyanyi lagu Korea yang lafalnya aja nggak bener, di depan umum, itu bukan gue. Sampai gue bilang ke salah satu pelanggan gue, "Aneh ya gue gini," terus dia bilang, "Nggak kok, gue suka lo yang kayak gini. Daripada lo diem, gue malah takut. Karena gue nggak tahu apa-apa, tapi kena marahnya lo." Gue ketawa. "Tapi, emang bener ya kalau pas seneng berlebihan gini, jangan mikir kalau nanti bakal sedih. Soalnya bisa bikin kita beneran sedih." dia bilang, "Iya." Gue diem sebentar, kemudian tanya, "Wajar nggak sih, kayak gini?" Dia bilang, "Wajar, mungkin karena stress." Gue ketawa aja. Dalam hati, Iya. Nggak tahu apa aja yang gue pikirin tapi gue merasa banyak banget yang ada di kepala gue. Sampai membuat gue bener-bener nggak bisa denger kritikan orang lain, becandaan orang lain yang nggak gue suka. Sampai membuat gue terdengar egois karena nggak mau disakitin, padahal gue nyakitin orang lain dengan perbuatan gue. Sampai gue nggak mau ngalah dan selalu insecure kalau ada orang lain yang lebih dari gue.

Gue diem setelah berakhirnya percakapan itu. Gue sempet marah sama bercandaan temen gue, yang sebenernya itu bisa gue tahan walaupun gue nggak suka. Sampai akhirnya gue sadar reaksi yang gue tunjukkan itu salah. Barulah gue tanya ke salah satu temen gue, "Kelihatan nggak sih? Perubahan mood gue?" dia bilang, "Jelas, kelihatan." - "Gue capek sendiri jadinya. Berasa ngerugiin orang lain, karena sifat kayak gini." Dia cuma ketawa. Mood gue bener-bener ancur saat itu. Gue yang mau pura-pura baik-baik aja udah nggak bisa. Gue mau coba alihin ke kerjaan, juga nggak bisa. Sampai akhirnya gue nangis. Gue marah sama diri gue sendiri. Kenapa omongan gue soal tenang, soal hitung 1, 2, 3 saat mau marah nggak gue terapin lagi? Kenapa gue jadi kehilangan kontrol lagi? Kenapa gue malah makin hobi buat nyakitin diri sendiri lagi?

Gue bahkan sampai tanya, "Bagian mana masalahnya? Bagian mana yang buat lo nggak suka? Kalaupun lo nggak suka bisa ditahan, kan?" Itu bahkan nggak selesai di situ aja. Gue pulang ke rumah juga sambil nangis karena saking bingungnya sama kondisi gue. Barulah, sampai rumah gue bisa pura-pura. Gue ketawa sama abang gue, gue main sama ponakan gue. Gue semangat pas diajak keluar ke warung beli sarimi. Iya, keluar. Itu yang gue butuhkan sekarang. Gue juga pengen keluar dari semua ini. Jauh dari perasaan insecure, jauh dari overthinking, jauh dari negative thinking. Gue pengen baik-baik aja, gue pengen mood gue bagus terus, sekalinya jelek pas PMS aja. Gue pengen punya hati dan hari yang tenang. Karena capek kayak gini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...