Langsung ke konten utama

OTEM : Rasa(kan)

Tahun ini berat ya? 😌
Mau keluar rumah aja persiapannya udah kayak mau perang
Mau keluar jauh harus tes ini tes itu
Ya, walaupun jarang keluar tapi kerasa juga

Itu kerasa banget pas awal-awalnya ada corona
Akhir-akhir ini udah banyak yang terbiasa dan menerima kok
Yang bandel juga banyak
Yang pergi juga banyak
Yang pergi ninggalin kenangan, juga ada
Yang pergi tanpa sempat dimiliki, hemm apalagi
Ada juga, yang pergi tanpa sempat memberi jawaban atas segala pertanyaan ini

Ditambah kemarin ada demo dimana-mana bahas soal cipta kerja
Ngumpul tuh massa, nggak ada tuh jaga jarak
Yang ada malah harus jaga perasaan
Karena banyak cogan keluar dengan pendapat-pendapatnya

Capek ya?! Aku yang nggak ikut demo, aku yang nggak begitu merasakan dampak corona aja ngerasa capek
Iya, capek, karena sesuatu yang tinggal di ruangan sini nggak pernah mau keluar
Huh, sesulit itu melupakanmu dan cerita-cerita kita yang udah kelar

Tapi, Alhamdulillah, tempat kerja aman, nggak ngurangin pegawainya
Alhamdulillah, lingkungan rumah aman, nggak ada tetangga yang kena wabah cobaan Tuhan tahun ini
Alhamdulillah, kondisi keuangan nggak mines-mines amat
Alhamdulillah, jadi makin banyak temennya yang nggak pergi keluar rumah tiap hari
Alhamdulillah, sekarang udah bisa pergi asalkan mematuhi protokol kesehatan

Sebenernya sesimpel itu kalau mau ngerasa happy
Sesimpel itu kalau mau mengikhlaskan sesuatu yang sudah pergi
Sesimpel itu kalau mau jaga kewarasan hati
Iya, simpel kalimatnya, simpel ngomongnya
Tapi nggak sesimpel praktiknya

Saling mengingatkan sajalah,
Ada 2 hal yang bisa terjadi setelah kehilangan
Diganti atau kembali
Dan keduanya tetap saja akan mempertemukan kita dengan perasaan yang asing, canggung, berbeda
Semua sudah menjadi keputusan Tuhan
Berat-ringan, senang-sedih, hanya ngomongin waktu
Karena lama kelamaan kita juga bisa terbiasa dan menerima

Udah ya, capek. Tidur, jangan lupa doa. Semoga besok kita sama-sama bisa main lagi sama hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OTEM: HERAN

Malam ini gue lagi pengen lari dari dunia karena beberapa hal yang cukup ganggu pikiran gue. Udah coba gue tulis, tapi nggak keluar dengan baik. Alakhir, gue memilih untuk baca kembali tulisan-tulisan gue di blog ini. Ada surat terbuka buat temen gue, curhatan gue, kejujuran gue, semua dipenuhi dengan kalimat yang bikin gue heran sendiri, kok bisa ya gue nulis kalimat-kalimat itu, yang menurut gue nggak buruk-buruk amat. Dibandingkan dengan sekarang yang sama sekali tidak produktif (lagi, entah yang keberapa kalinya). Ada perasaan sedih karena gue kehilangan skill menulis, otak gue kayak udah stuck nggak bisa nulis kata-kata yang puitis atau bijak. Bisanya jujur, yang kalau dibaca lagi jadi jijik. Tapi, gue tetap menghargai diri gue yang sekarang, begitu apa adanya (kosong), yang sudah banyak melewati jalanan berpaku dan masih bertahan hidup dengan baik. Level yang makin naik walaupun mode nyicil setengah-setengah. Otaknya yang mulai logis tanpa matiin perasaan. Makin mandiri beneran s...

BKN: Buka Kran Nulis

Wallaaaa Gue kembali datang dengan projek baru. Dih, kebanyakan projek nggak ada yang jalan semua. Betul. Sebelumnya gue udah bikin OTEM, singkatan dari Obrolan Tengah Malam. Yang isinya obrolan di kepala gue, yang bikin gue susah tidur. Gue juga punya OPINI, yang isinya pendapat gue soal topik tertentu, yang menurut gue menarik untuk gue share. Ada juga CHAT, yang isinya curhatan gue. Masih banyak lagi projek-projek yang gue buat tapi pada akhirnya berhenti. Namanya juga anak labil. Terus, BKN itu apa? Alasan gue ngebangun projek ini, karena gue sempat mengalami stuck dalam menulis. Sebelumnya nulis adalah cara gue untuk mengeluarkan stres, tapi saat itu nulis justru menjadi tekanan, karena gue harus memikirkan alur yang gue tulis nyambung atau nggak, gue memikirkan penyusunan katanya. Sampai akhirnya nggak ada satu kalimat pun yang ketulis. Di projek ini, gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, nggak mikirin ini alurnya nyambung nggak, ini susunan katanya bagus nggak, pemilihan ka...

Sepenggal cerita Lana #8

Aku memandangi punggung kecilnya dari belakang. Kami janjian untuk bertemu di cafe langganan. Sejak kejadian terakhir, kami tidak bertemu lagi, karena keesokan harinya aku mendapatkan surat pemindahan kerja. Yang tidak aku bayangkan adalah, Lana menangis terus-terusan mendengar kabar tersebut, bahkan saat mengatarkan ku ke bandara, matanya masih terlihat bengkak. "Kita bakalan asing ya?" tanyanya. "Nggak tahu, tergantung masing-masing." jawabku. "Lo mau kita asing?" tanyanya lagi. "Nggak." jawabku. "Kabarin gue ya, nggak papa tengah malem. Kalau lo nggak ada bahan, kirim aja tanda titik, nanti gue cariin bahan di Pak Samsul." ucapnya. "Hahaha, emang gue mau ngejahit." ucapku. Hening kemudian. "Vin, kalau suatu hari di sana lo ketemu orang lain, bilang sama gue ya." ucapnya kemudian. "Biar apa?" tanyaku. "Ya biar gue tahu aja terus jalan ke mana." jawabnya. "Kalau lo yang ketemu orang lain, ba...